Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 168


__ADS_3

“Kamu semangat banget bantuin ibu sama bibi masak?” Rayan menyangka dagunya menggunakan tangan yang bertumpu diatas meja makan menatap Alana yang tampak begitu semangat menata hidangan untuk makan malam.


Alana tertawa mendengar pertanyaan suaminya. Kebetulan hari ini Rayan pulang menjelang sore. Dan sedari tadi Rayan benar benar seperti anak kecil yang terus memperhatikan Alana, Sari, bibi dan yang lain-nya memasak. Padahal biasanya Rayan selalu sibuk dengan laptopnya.


“Emangnya harus begitu ya? Kan yang dateng Luky sama Juita.”


Alana menghela napas kemudian mendekat pada Rayan yang langsung menyambutnya dengan memeluk mesra perut Alana.


“Kan yang mengundang Juita aku. Jadi aku harus mengistimewakan tamu aku dong.” Ujar Alana membuat Rayan menatapnya dengan alis terangkat.


“Kamu sudah tidak salah sangka lagi sama Juita?” Tanya Rayan lagi membuat Alana tersenyum.


Alana menangkup kedua pipi tirus Rayan dan sedikit menekan-nya membuat bibir tipis Rayan mengerucut karna tekanan kedua tangan-nya.


“Seperti yang kamu bilang. Aku kemarin hanya salah paham.” Jawab Alana.


Tanpa Rayan dan Alana sadari, Fina melihat adegan mesra mereka. Fina tersenyum menatap keduanya yang tampak sangat serasi dan romantis.


Fina menghela napas. Di usianya yang hampir menginjak 21 tahun belum ada satupun pria yang mendekatinya. Fina juga tidak pernah sempat memikirkan-nya. Yang Fina pikirkan hanya bekerja dan bekerja saja. Tapi melihat kemesraan Rayan dan Alana tiba tiba Fina memikirkan apa yang tidak pernah Fina pikirkan sebelumnya.


“Nyonya orang yang sangat baik. Tuan juga. Tuhan mempertemukan dan menyatukan mereka itu benar benar sangat luar biasa.” Gumam Fina.


“Lalu bagaimana denganku? Apakah aku kurang baik sehingga bahkan tidak ada satupun laki laki yang mau melirik ku?” Ekspresi Fina langsung berubah. Senyuman dibibirnya sirna mengingat nasib asmaranya yang memang tidak ada cerita manis sampai sekarang.


“Tuhan... Kapan tuhan mempertemukan aku dengan jodohku? Kenapa sepertinya jauh sekali gerbang kebahagiaan itu?”


Tanpa Fina sadari Roky dan Robin mendengar gumaman-nya. Mereka berusaha menahan tawanya mendengar keluhan Fina. Keduanya memang tidak pernah bisa akur dengan Fina.


“Apa aku bisa bahagia seperti nyonya Alana? Apa ada laki laki yang seperti tuan Rayan yang mau menerima semua kekuranganku?”


Robin dan Roky tidak bisa lagi menahan tawanya. Kedua langsung berlari bahkan Roky tidak sengaja menabrak bahu Fina membuat Fina langsung terkesiap. Ketika hendak berteriak pada Roky dan Robin, Fina langsung sadar. Fina menatap lagi pada Rayan dan Alana yang masih mengobrol dan berpelukan mesra. Tidak mau mengganggu kedua majikan-nya Fina pun berlari menyusul Roky dan Robin yang membuatnya moodnya semakin buruk malam ini.

__ADS_1


“Awas kalian berdua.” Gumam Fina sambil berlari mengejar Roky dan Robin keluar dari rumah.


-----


Waktu yang ditunggu tunggu akhirnya tiba. Juita dan Luky datang dengan sambutan hangat dari Alana. Rayan yang melihat itu hanya bisa tersenyum saja. Sementara Juita, sepertinya Juita mulai mengenal Alana dengan baik sehingga keduanya terlihat begitu sangat akrab.


“Bagaimana rasanya? Apa kamu suka?” Tanya Alana pada Juita saat mereka sedang menyantap makan malam bersama dimeja makan.


Sari yang sedang mengunyah makanan dalam mulutnya sesaat berhenti. Sari menatap Alana yang memang tampak sangat antusias dari awal. Sari sempat bingung begitu melihat Alana yang bisa langsung akrab dengan Juita apa lagi setelah Sari tau bahwa Juita adalah wanita yang sempat dijodohkan dengan Rayan oleh Caterine.


“Enak. Apa ini kamu yang memasak?” Jawab Juita kemudian bertanya balik pada Alana yang duduk diseberangnya.


“Ibuku dan bibi yang masak. Aku hanya bantu bantu sedikit.” Jawab Alana tersenyum.


“Ayo nambah lagi.”


“Tenang saja Alana. Aku akan menghabiskan semuanya nanti.” Balas Juita disertai tawanya.


Selesai makan malam Alana mengajak Juita ketaman samping rumahnya untuk duduk berdua dikursi yang menjadi tempat favorit Alana setiap hari jika sedang sendiri ataupun bersama dengan Rayan.


“Kenapa kamu menolak dijodohkan dengan Rayan?” Tanya Alana dengan tatapan lurus kedepan. Saat menemui Caterine, Juita memang sudah mengatakan alasan-nya juga kedua orang tuanya membatalkan perjodohan. Tapi Alana merasa kurang puas. Alana ingin mendengar lebih panjang alasan Juita tidak mau dijodohkan dengan Rayan, suaminya.


Juita menghela napas. Juita menoleh dan menatap sebentar pada Alana yang duduk disampingnya kemudian mendongak menatap langit berhiaskan bintang.


“Aku tidak bisa munafik Alana. Rayanza memang laki laki yang menarik bahkan nyaris sempurna. Tapi aku juga bukan wanita gila yang mau menjadi istri kedua. Sedangkan kedua orang tuaku, mereka juga berpikiran sama sepertiku. Mereka juga tidak mau mempunyai besan seperti mommy Caterine.”


Alana tersenyum.


“Dengan kata lain kamu sebenarnya tertarik pada suamiku?” Tanya Alana lagi.


“Jujur iya. Bahkan sampai sekarang. Tapi lagi lagi aku juga tidak mau kecewa. Aku masih yakin ada laki laki yang mungkin jauh lebih baik dari Rayan untukku. Mungkin dia kekasihku yang sekarang.” Senyum Juita mengedikkan kedua bahunya.

__ADS_1


“Aku masih waras Alana.” Tambahnya lagi.


Alana menoleh menatap Juita yang terus menatap kearah langit. Alana sangat menyukai sikap terbuka Juita. Dan Alana tau apa yang Juita katakan memang jujur apa adanya. Itu sebabnya Alana merasa cocok dengan Juita. Meskipun awalnya Alana sangat geram karna Juita sempat menggandeng Rayan didepan matanya malam itu.


“Oh iya, soal kemarin malam aku minta maaf. Aku pikir kamu bukan wanita yang pencemburu. Aku tidak bermaksud buruk. Hanya mungkin memang aku yang terlalu mengakrabi Rayan. Maklum, kami sudah mengenal lama.”


Alana tertawa. Ucapan maaf Juita mengingatkan Alana pada sikap konyolnya yang bahkan sampai memasukan baju bajunya kedalam koper. Alana bahkan menangis terisak dalam pelukan Rayan malam itu.


“Itu sangat konyol.” Katanya.


Juita ikut tertawa. Juita merasa sangat cocok dengan Alana yang begitu tenang meskipun menurutnya Alana juga sedikit cerewet.


“Kapan kamu balik ke amerika?” Tanya Alana kemudian.


“Besok siang. Apa kamu mau mengantarku?” Jawab Juita menoleh menatap Alana yang juga menatapnya. Juita juga balik bertanya pada Alana yang sempat terdiam.


“Yah.. Aku harap kita bisa menjadi teman baik Alana.” Senyum Juita.


Alana ikut tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.


“Aku coba tanyakan nanti pada Rayan. Maaf, aku tidak di izinkan mengendarai mobil sendiri sejak hamil. Jadi harus pengawalan dari suami.”


Juita tertawa pelan. Juita mengangguk anggukkan kepalanya mengerti.


“Yah.. Aku mengerti. Sepertinya aku harus banyak belajar dari kamu sebelum aku memutuskan untuk.. Yah.. menikah mungkin.”


“Aku tidak sebaik itu Juita. Jangan berlebihan.”


“Sudahlah, jangan sampai aku berprasangka buruk padamu Alana.”


Alana tertawa mendengarnya. Ini kali kedua Alana merasa cocok berteman dengan seseorang selain Michelle. Alana berharap Juita tidak seperti Michelle yang ternyata hanya baik didepan-nya.

__ADS_1


__ADS_2