
“Berhenti pak.” Ujar Alana pada pak Lim.
Pak Lim menurut. Pria yang sudah tidak lagi muda itu menghentikan mobilnya tepat didepan sebuah gerbang tinggi menjulang kediaman baru Michelle dan Dion.
Alana melepas kaca hitam yang dikenakanya. Wanita dengan dress merah maroon selutut itu tersenyum menatap kediaman mewah Dion dan Michelle. Alana tidak akan takut lagi. Ada Rayan di belakangnya, tempatnya berlindung jika Dion dan Michelle bermaksud membalas apa yang akan di perbuatnya.
“Nyonya, maaf sebelumnya. Nyonya Sari berpesan pada saya untuk menjaga nyonya dan mengingatkan nyonya jika nyonya salah melangkah.”
Senyuman Alana langsung memudar. Alana menghela napas. Itulah ibunya. Ibunya terlalu baik sehingga banyak orang yang meremehkan dan menginjak injak harga dirinya. Mungkin salah satunya juga Rayan.
“Pak Lim, saya hanya ingin membuat mereka juga merasakan apa yang saya rasakan. Apa itu salah.”
Pak Lim tersenyum. Sebelumnya pak Lim sudah mengenal Alana karna Alana sering datang untuk menjenguk ibunya memastikan bahwa wanita yang sangat berjasa dalam hidupnya itu baik baik saja.
“Biarkan tuhan yang membalas nyonya.”
Alana berdecak. Alana percaya tuhan memang tidak akan membiarkan orang yang berhianat bahagia begitu saja. Tapi sekarang Alana punya kesempatan. Dan Alana tidak mau menyianyiakan kesempatan itu.
“Pak Lim, saya melakukanya atas izin suami saya.”
“Tapi suami anda bukan tuhan nyonya. Tuan Rayan juga manusia biasa. Memang tuan Rayan punya segalanya tapi..”
“Pak Lim, saya tidak akan berbuat terlalu jauh. Saya hanya ingin mereka berdua merasakan bagaimana sakitnya di hianati. Itu saja.” Sela Alana membuat pak Lim bungkam.
Pak Lim mengangguk pelan. Tugasnya sebagai orang yang lebih tua hanya mengingatkan. Di dengar atau tidak, yang terpenting sudah mengingatkan.
“Ya nyonya.” Katanya pelan.
Alana kembali menatap kediaman mewah Dion dan Michelle. Saat itu juga Dion dan Michelle keluar. Mereka berdua berjalan beriringan menuju mobil milik Dion. Mobil yang dulu juga Dion gunakan untuk mengantar jemput Alana saat mencari pekerjaan.
“Kita pergi sekarang pak. Ke rumah ibu saja.”
__ADS_1
“Baik nyonya.”
Pak Lim segera melajukan mobil mewah milik Rayan sebelum Dion dan Michelle melihat.
Saat dalam perjalanan menuju kediaman ibunya, Alana kembali mengingat kebersamaanya bersama Dion dan Michelle. Alana tidak pernah sekalipun curiga dengan hubungan mereka. Mereka berdua selalu kompak saat memberikan kejutan ulang tahun untuknya. Meski memang kadang Alana merasa aneh sendiri karna Michelle selalu menguntitnya dan Dion tapi Alana tidak pernah berpikir macam macam. Alana percaya keduanya memang sahabat sejak kecil. Apa lagi Michelle juga yang membantunya bersatu dengan Dion saat mereka masih berada di universitas.
Alana menundukkan kepalanya menatap sepasang sepatu mahal yang di kenakanya. Dress mewah juga tas yang harganya Alana tau tidak murah. Semua itu Rayan yang menyiapkan. Alana tidak pernah meminta.
“Pak Lim..”
“Ya nyonya..” Saut pak Lim melirik Alana dari kaca mobil.
Alana diam sesaat. Alana tidak pernah mengenal Rayan sebelumnya. Yang Alana tau Rayan hanya majikan ibunya. Majikan yang kata ibunya adalah seorang yang baik dan murah hati. Tapi pada kenyataanya yang Alana temui lain. Rayan kejam dan pemaksa.
“Sudah sampai nyonya.” Beritahu pak Lim.
Lamunan Alana buyar. Alana menurunkan kaca mobil dan tersenyum ketika menyadari dirinya sudah berada di sekitar rumah ibunya.
“Saya akan turun.” Katanya pada pak Lim.
“Saya bisa buka pintu mobil sendiri pak.” Senyum Alana kemudian segera turun dan berlari masuk ke dalam kediaman baru ibunya.
Pak Lim, pria tua itu hanya mengangguk saja kemudian ikut turun dan bergabung dengan satpam yang berada di pos samping pintu gerbang rumah Sari. Pak Lim tidak menyangka bahwa rekan kerjanya Sari kini menjadi seorang majikan hanya karna Alana yang begitu mirip dengan Sakura.
---------
Sementara itu di lain tempat, Rayan sedang berdiri bersama Luky di sampingnya. Mereka berdiri berjajar di depan makam Sakura.
“Dia sangat mirip bahkan benar benar sama dengan Sakura.” Lirih Rayan.
Luky hanya menghela napas. Luky tau siapa yang sedang Rayan maksud.
__ADS_1
“Tapi mereka berbeda. Kepribadian mereka tidak sama.” Lanjut Rayan.
Luky tidak bisa berkata apa apa. Luky hanya berusaha untuk menjadi pendengar yang baik. Luky tau Rayan tidak butuh solusi. Rayan hanya perlu di dengarkan.
“Kamu tau Luky.. Dulu saya pikir setelah kepergian Sakura saya tidak akan bisa merasakan apa apa lagi. Tapi saat melihat Alana berdiri di depan gerbang hari itu saya merasa Sakura seakan hidup kembali. Sakura kembali untuk saya.”
Rayan menelan ludahnya membuat jakun-nya bergerak naik kemudian turun lagi.
“Tapi sekarang saya sadar, semirip dan sesama apapun mereka berdua Alana tetaplah Alana. Dia bukan Sakura. Dia berbeda, sangat berbeda.”
Rayan menatap nisan tepat pada nama panjang Sakura. Bayangan senyuman manis Sakura langsung membayanginya namun hanya beberapa detik karna bayangan itu langsung menghilang begitu saja.
Luky menatap sebentar pada Rayan kemudian menatap pada nisan Sakura.
“Tuan.. Saya minta maaf karna tidak bisa memberi solusi apa apa. Tapi tuan, nyonya Alana dan nyonya Sakura memang berbeda. Mereka tidak sama tuan.”
Rayan menganggukan kepalanya pelan. Solusi memang sedang Rayan butuhkan. Tapi sudah ada yang mendengarkan kegundahanya saja Rayan sudah merasa senang.
“Sakura.. Saya merasa bersalah pada dia Luky. Tapi saya juga tidak mungkin terus berharap rasa pada orang yang sudah meninggal. Sedangkan sekarang Alana sudah menjadi istri saya. Pasti akan sangat menyakitkan jika saya terus terusan menganggap Alana adalah pengganti Sakura. Bukan begitu Luky?”
Luky menelan ludahnya. Apa yang Rayan katakan memang benar. Tapi dari awal Rayan menikahi Alana adalah karna Rayan menganggap Alana sebagai pengganti Sakura.
“Tuan kalau boleh saya tau, bagaimana perasaan anda pada nyonya Alana?” Tanya Luky pelan.
Rayan tampak berpikir. Jika dibandingkan perasaanya pada Sakura dan Alana jelas berbeda. Mungkin karna pembawaan keduanya yang juga berbeda.
“Sakura, dia selalu berhasil membuat saya merasa istimewa. Tapi Alana.. Dia unik dan bisa membuat saya merasa tertantang. Tadi pagi dia mencium pipi saya. Dan hati saya merasa sangat berdebar debar hanya karna itu.”
Rayan tertawa di akhir katanya. Untuk pertama kalinya Rayan begitu terbuka pada Luky, asisten pribadi sekaligus sahabat baginya.
“Kalau kamu ingin tertawa, tertawa saja. Saya tidak akan marah. Kali ini saya memang bodoh. Saya akui itu.”
__ADS_1
Luky tersenyum tipis kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Luky tidak pernah merasakan apa yang Rayan rasakan. Dicintai dan mencintai masih hal tabu bagi Luky.
“Tuan, terkadang apa yang menurut kita baik belum tentu menurut tuhan juga baik. Jadi saya pikir menjalani apa yang sudah ada adalah pilihan yang tepat. Tuhan tidak pernah tidur tuan. Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untuk setiap hambanya.”