
Begitu sampai dirumah, Alana langsung mengganti dressnya, membersihkan make up diwajahnya kemudian tidur. Alana tidak tau harus bagaimana bersikap didepan Rayan malam ini sehingga Alana memilih untuk menghindar dengan tidur lebih dulu.
Sedangkan Rayan, pria itu bersikap seperti biasanya. Rayan tidak terlalu memikirkan apa yang Sandi katakan tadi. Toh menurut Rayan juga setelah Sakura meninggal hubunganya dan Sandi sudah biasa saja tidak seerat saat masih ada Sakura.
“Kamu sudah tidur?”
Alana berpura pura sudah terlelap dengan memejamkan kedua matanya tenang. Alana juga mengatur napasnya setenang mungkin untuk meyakinkan Rayan bahwa dirinya memang sudah benar benar terlelap.
Rayan tersenyum simpul. Pria itu tau Alana sedang berbohong.
Rayan menghela napas kemudian membaringkan tubuhnya menghadap Alana yang memunggunginya. Dengan mesra Rayan melingkarkan satu tanganya di perut Alana, mengusapnya lembut tepat di bagian bawah perut wanita itu.
“I love you.” Bisiknya kemudian ikut memejamkan kedua matanya.
“Alana !!”
Alana membuka kedua matanya saat mendengar seseorang menyerukan namanya. Alana bingung tidak tau berada dimana dirinya sekarang. Padahal Alana masih ingat tadi berada dikamar mengelabuhi Rayan dengan pura pura tidur. Tapi sekarang Alana berada di taman bunga dengan padang rumput hijau yang begitu indah. Dan juga, ranjang mewahnya menjadi batu besar yang sekarang dia tempati untuk berbaring.
“Aku dimana?” Alana mulai bertanya tanya. Dengan pelan Alana bangkit dan terduduk di tepi batu besar tersebut. Tempat indah itu benar benar sangat asing bagi Alana.
“Alana !!”
Seruan itu terdengar lagi membuat Alana kembali mengedarkan pandanganya kesegala arah.
“Suara siapa itu? Rayan.. Dimana dia?” Alana mulai panik.
Alana terus mengedarkan pandanganya mencoba mencari sosok dari seseorang yang menyerukan namanya.
“Aku disini !! Ayo kesini !!”
Alana menoleh cepat kesamping kanan dan saat itu juga Alana mendapati sosok cantik bergaun putih yang begitu sangat mirip denganya. Hanya saja sosok itu berponi dan berbandana sedang dirinya tidak.
“Apa itu Sakura?” Alana bertanya tanya dalam hati.
Sosok cantik imut bergaun putih itu tersenyum manis pada Alana yang masih kebingungan. Tanganya melambai menyuruh Alana agar mendekat padanya yang duduk diantara hamparan bunga berwarna warni dan bermekaran.
“Rayan ada bersamaku. Kemarilah.” Katanya lagi.
Seketika Alana langsung bangkit. Seperti terhipnotis begitu mendengar nama Rayan disebut oleh sosok cantik bergaun putih tersebut.
Sosok itu adalah Sakura, wanita yang pernah sangat mencintai Rayan.
“Kamu..” Alana menelan ludahnya setelah mendekat. Sosok itu membohonginya. Tidak ada Rayan disana.
“Hahahahah.. Maaf, aku hanya bercanda. Duduklah.” Tawa Sakura sambil menepuk pelan tempat disampingnya.
Alana menatap Sakura yang juga sedang menatapnya. Sakura sangat cantik dan terlihat berkilau. Sekitarnya bahkan seperti memancarkan cahaya karna sosok cantiknya.
“Kamu Sakura..”
__ADS_1
“Ya.. Aku Sakura. Ayo duduklah, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu. Ini tentang Rayan.”
Alana diam sesaat. Setahunya Sakura sudah meninggal. Tapi sekarang sosok cantiknya begitu nyata didepanya. Sakura duduk ditengah hamparan bunga bermekaran didepanya.
“Ayolah Alana..” Sakura memaksa dengan lembut namun Alana tetap diam berdiri dengan tatapan yang tidak tau harus bagaimana.
“Aku tidak seperti papaku, percayalah.” Senyum Sakura mencoba meyakinkan Alana.
Alana menghela napas. Semuanya terasa sangat nyata. Tapi jika dipikir lagi rasanya sangat mustahil. Sakura sudah mati tapi sekarang berada didepanya bahkan sedang memaksanya agar duduk bersamanya.
“Aku mungkin mencintai Rayan.” Kata Alana kemudian.
Sakura tersenyum semakin lebar.
“Duduk dulu Alana.. Obrolan kita akan semakin asik kalau kamu mau duduk denganku.”
Alana menatap Sakura. Tidak ada gurat kemarahan diwajah cantik Sakura meskipun Alana mengatakan “mungkin mencintai Rayan”.
“Oke..” Angguk Alana mengalah.
Alana duduk tepat disamping Sakura di tengah hamparan bunga. Begitu mereka berjajar, mereka seperti saudara kembar.
“Kamu tidak marah aku mencintai Rayan?” Tanya Alana tanpa menatap Sakura yang berada disampingnya.
Sakura terkekeh.
Alana menoleh menatap Sakura yang tampak sangat santai saat berkata.
“Tapi kamu..”
“Aku dan Rayan tidak ditakdirkan bersama Alana. Dunia kami berbeda. Mungkin tuhan memang mempertemukan kami dulu, tapi tuhan tidak menentukan takdir kami untuk bersama. Rayan milik kamu sekarang.”
Alana menelan ludahnya. Sakura wanita anggun yang sangat baik menurutnya.
“Untuk papaku, tolong kamu maklum yah. Maaf kalau dia keterlaluan. Tapi Alana, papaku orang yang sangat baik. Dia pahlawan untukku.”
Alana mengangguk. Seorang anak perempuan memang selalu membanggakan dan meng elu elukan sosok ayah. Alana bahkan selalu mengingat bagaimana teman teman sekelasnya saat sekolah dasar bercerita tentang rasa bangganya pada ayah mereka.
“Aku sangat mencintai Rayan Alana. Tapi itu dulu. Sekarang aku sudah tidak mencintainya lagi.”
Alana mengeryit dan kembali menatap Sakura.
“Kenapa?” Tanya Alana bingung.
“Tentu saja karna takdir Alana. Aku ikhlas dengan takdirku.”
Alana tidak mengerti bagaimana mungkin dirinya bisa mengobrol dengan Sakura yang sebenarnya sudah mati.
“Dimana ini sebenarnya?”
__ADS_1
Sakura tertawa mendengar pertanyaan yang dilontarkan Alana. Namun bukan karna pertanyaan itu Sakura tertawa melainkan karna ekspresi wajah Alana yang menurut Sakura sangat lucu.
“Kamu berada ditempatku Alana. Bagaimana? Kamu suka?”
Alana menggeleng. Alana menatap kesegala arah. Tempat itu memang sangat indah juga sejuk. Tapi Alana merasa tidak nyaman berada disana.
“Alana..”
Sakura meraih tangan Alana menggenggamnya dengan lembut.
“Kita bukan saudara sedarah tapi tuhan menakdirkan kita mempunyai rupa yang sama. Kita juga mencintai laki laki yang sama. Tapi kamu jauh lebih beruntung karna bisa bersama Rayan.”
Alana menatap tanganya yang di genggam Sakura. Tangan lembut itu begitu sangat nyata menggenggam tanganya.
“Berbahagialah kamu dengan Rayan Alana. Dia akan sangat mencintai dan menjagamu. Percaya padaku.” Lanjut Sakura.
“Tapi kamu bagaimana?”
Sakura tertawa lagi.
“Sudah aku bilang duniaku dan Rayan berbeda. Tuhan tidak mengizinkan kami bersama. Kamulah jodoh Rayan.”
“Sakura aku..”
“Alana.. Rayan memang sedikit menyebalkan. Tapi dia laki laki yang setia dan pastinya juga baik. Percayakan hati kamu pada Rayan.”
Alana tidak tau harus berkata apa. Sakura sangat penuh dengan kelembutan juga kesabaran.
“Alana.”
Suara berat Rayan membuat Alana tersentak. Wanita itu mengedarkan lagi pandanganya kesegala arah mencari sosok tampan Rayan yang memanggilnya bukan Sakura.
“Rayan..” Gumam Alana lirih.
Sakura tersenyum manis. Dengan pelan Sakura melepaskan tangan Alana.
“Pergilah, Rayan sudah menunggumu. Senang bisa mengobrol denganmu Alana. Meskipun hanya sebentar.”
“Aku..”
“Aku menganggap-mu teman Alana. Pergilah, Rayan menunggumu.” Sela Sakura dengan senyuman yang terus terukir dibibirnya.
“Alana..” Suara Rayan kembali terdengar. Detik itu juga Alana membuka kedua matanya. Alana mendelik menatap wajah Rayan yang begitu dekat dengan wajahnya.
“Rayan..”
“Hey.. Kamu kenapa?” Rayan menepuk pelan pipi Alana yang terus menatapnya dengan kedua mata melebar. Pria itu merasa heran karna Alana terlihat seperti orang bodoh begitu terbangun dari tidur gelisahnya.
“Aku bertemu dengan Sakura.”
__ADS_1