
Pagi ini Rayan dan Alana berziarah ke makam Sakura. Alana menaburi bunga diatas pusara Sakura yang begitu terawat. Senyum Alana mengembang menatap nisan Sakura. Alana masih merasa sangat nyata pada sosok cantik Sakura yang dia temui dalam mimpi.
Alana melirik Rayan yang tampak tenang duduk disampingnya. Pria itu sempat menolak saat Alana mengajaknya ziarah ke makam Sakura.
“Rayan..” Panggil Alana.
“Tentang perasaan kamu pada Sakura sekarang, bagaimana?”
Rayan melepas kaca mata hitam yang dikenakanya. Sakura adalah sosok yang berhasil membuat Rayan merasa sempurna juga istimewa. Sosoknya yang anggun juga penyabar membuat Rayan selalu merasa tenang saat didekatnya dulu.
“Aku tidak akan melupakan perasaan itu pada kamu Sakura. Kamu hal hebat yang pernah aku miliki.”
Alana menundukan kepalanya. Alana merasa tidak berhak marah apa lagi cemburu. Pada kenyataanya Sakura memang sosok yang lebih dulu hadir dihati juga hidup Rayan. Sedangkan Alana, Alana hanya sosok mirip Sakura yang kebetulan terlihat dipandangan Rayan dan langsung dipaksa masuk tanpa persetujuan lebih dulu dari Alana sendiri.
Sentuhan dan genggaman lembut tangan besar Rayan di tangan Alana membuat Alana kembali mengangkat kepalanya. Rayan menggenggam tanganya begitu erat dan lembut dengan tatapan yang terus tertuju pada nisan Sakura seperti sedang menunjukan sesuatu pada Sakura.
“Kami bertemu secara tidak disengaja Sakura. Jangan anggap dia sebagai perebut hatiku. Karna.. Karna aku yang memaksanya untuk tetap stay disampingku. Aku menikahinya secara paksa.”
Alana diam. Rayan sedang mengakui perbuatan tidak terpujinya didepan pusara Sakura.
“Mungkin aku menganggap dia sebagai kamu diawal pernikahan kami. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Dia istriku, benar benar istriku. Wanita yang sampai kapanpun selama napasku masih berhembus akan selalu aku jaga dengan sepenuh jiwa juga ragaku.”
Alana benar benar tidak menyangka. Rayan mengakui semuanya.
“Rayan.. Kamu..”
Rayan menoleh mendengar suara lirih Alana. Perlahan Rayan mendekatkan wajahnya pada wajah Alana hingga akhirnya sebuah kecupan lembut dan singkat mendarat di kening Alana.
“Kita akan selamanya bersama, Alana.” Bisik Rayan.
Alana merasakan hatinya menghangat. Alana pikir Rayan tidak akan berani mengakui hal seperti itu didepan makam Sakura. Alana pikir juga Rayan akan sangat menjaga perasaan mendiang kekasihnya itu meskipun memang sudah tiada.
“Sakura, Terimakasih untuk semuanya.”
Sekitar 30 menit mereka berada didepan makam Sakura, Rayan mengajak Alana untuk pulang. Apa lagi Rayan juga harus berangkat ke perusahaan-nya.
“Rayan, boleh tidak aku kerumah ibu nanti siang?”
Rayan mengeryit. Tidak langsung menjawab Rayan tampak berpikir.
__ADS_1
“Aku.. Rasanya sudah lama sekali tidak bertemu ibu. Aku ingin melihatnya, memastikanya selalu baik baik saja.” Tambah Alana.
“Apa tidak bisa lewat telpon saja atau mungkin suruh pak Lim untuk menjemputnya kesini.”
Kali ini Alana yang mengeryit. Alana merasa Rayan seperti sedang tidak mempercayainya.
“Kamu meragukan aku?”
Rayan terhenyak.
“Bukan, bukan begitu maksudku.”
“Em?” Alana menatap Rayan penuh tanda tanya.
“Ya sudah kamu hati hati nanti dijalan. Nanti aku akan minta tolong pada pak Lim untuk mengantar kamu.”
Alana menggelengkan kepalanya.
“Aku bisa menyetir.” Katanya.
Rayan menghela napas kemudian menganggukan kepalanya. Tidak ada salahnya mempercayakan sesuatu pada istrinya sendiri.
“Kabari aku terus.” Senyumnya mengusap lembut bahu Alana.
“Aku berangkat.”
Rayan kemudian masuk kedalam mobilnya. Pria itu langsung menyuruh pak Lim untuk segera mengemudikan mobilnya karna memang Rayan sudah sedikit kesiangan pergi ke perusahaan.
Dalam perjalanan menuju perusahaan, Rayan menghubungi Luky. Pria itu meminta agar Luky segera menyiapkan semua keperluan untuk pertemuanya dengan Client-nya pagi ini.
Siangnya.
Alana menghentikan mobil yang dikemudikanya sendiri tepat di depan gerbang kediaman ibunya. Alana terdiam sesaat. Tidak hanya hidupnya yang berubah. Tapi juga kehidupan ibunya. Sari memiliki apa yang memang dibutuhkanya tanpa harus bekerja lagi.
Alana menghela napas kemudian segera membunyikan klakson membuat pak satpam penjaga gerbang langsung dengan sigap membukakan pintu gerbang.
“Siang nyonya..” Sapa satpam itu saat Alana menurunkan kaca mobilnya.
“Ya, siang pak. Oh iya pak, ibu ada dirumahkan?”
__ADS_1
“Ada nyonya, Nyonya Sari ada dirumah.” Jawab satpam itu.
“Ya sudah, makasih ya pak.”
“Sama sama nyonya.”
Alana kembali melajukan mobilnya memasuki pekarang rumah ibunya. Dengan segera Alana turun dan bergegas masuk untuk menemui ibunya yang memang sedang sangat dirindukanya itu. Alana memang tidak memberitahu akan datang. Alana ingin mengejutkan ibunya yang mungkin juga sedang merindukanya.
“Dion mengadu seperti itu pada ibu? Lalu ibu percaya begitu?”
Alana benar benar sangat terkejut. Dion mengadukan apa yang dilakukanya kemarin pada Sari. Alana sangat tidak menyangka Dion bahkan sampai menurunkan harga dirinya sebagai pria tanpa sadar dengan mengadu dan menambahkan apa yang sebenarnya tidak Alana ucapkan.
“Bu.. Aku punya alasan kenapa aku melakukan itu. Aku kesal sama dia bu.. Dia sudah menyakitiku. Dia menikah dengan Michelle.” Alana menjelaskan.
Sari tersenyum. Alana memang tidak akan melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas.
“Nak..” Sari meraih tangan Alana dan menggenggamnya lembut.
Saat ini mereka berdua sedang duduk dikursi panjang di belakang rumah Sari yang memang terdapat kebun kecil yang dijadikan ladang berbagai sayuran sehingga tampak hijau sejuk dipandang mata.
“Apa kamu masih mencintai Dion?” Tanyanya pelan.
Alana diam menatap ibunya. Sari tersenyum dengan lembut padanya.
“Tidak bu. Aku membencinya sekarang.” Jawab Alana yakin.
Sekali lagi Sari menghela napas. Sari tau bagaimana perjalanan kisah cinta Alana dan Dion. Mereka berdua memang cukup lama menjalin hubungan yang begitu manis menurut Sari dimasanya. Dion sering menjemput Alana jika Alana hendak kuliah ataupun bekerja.
“Jujur, ibu pernah berharap lebih pada Dion dulu. Ibu pikir Dion akan menjadi pasangan hidup yang baik untuk kamu nak. Tapi ternyata tuhan berkata lain. Kamu bertemu dengan tuan Rayan dan langsung dinikahi tanpa persetujuan kamu... Ibu..”
“Bukankah ibu yang menyetujui?” Potong Alana bertanya dengan pelan menatap wajah menua ibunya.
Sari menundukkan sebentar kepalanya kemudian menggeleng. Sari tidak pernah mengiyakan. Sari bahkan siang malam tidak bisa berhenti memikirkan nasib Alana saat itu. Alana sangat keras kepala jika dipaksa. Sedang Rayan, pria itu bisa menjadi sangat bengis jika sudah marah.
“Ibu tidak pernah menyetujuinya nak. Tapi tuan Rayan, dia tiba tiba memberikan sertifikat tanah dan rumah atas nama ibu. Dia bahkan menyegel rumah kita.”
“Apa?” Kedua mata Alana melebar mendengar itu. Rayan tidak hanya memaksanya tapi juga memaksa ibunya.
“Ibu minta maaf karna tidak bisa melindungi kamu dari tuan Rayan. Tapi nak.. Ibu bersungguh sungguh tuan Rayan adalah orang baik. Bukan karna dia kaya ibu berkata seperti ini. Tapi karna ibu sudah mengikutinya sejak lama. Bahkan sejak kamu berada dibangku sekolah dasar ibu sudah bekerja padanya.”
__ADS_1
Alana diam mendengarkan. Setelah hubunganya dan Rayan membaik memang semua hal baik tentang Rayan mulai terlihat. Meski memang pria itu sering memaksa dengan sikap kakunya tapi Rayan tidak menyakitinya.
“Apa itu artinya ibu juga tau semua tentang Sakura?”