
Malam itu menjadi malam yang sangat menyakitkan bagi Rayan. Menyaksikan sendiri mommy nya dibawa paksa oleh polisi bahkan Rayan sendiri yang meminta Luky untuk membawa polisi dan menangkap Caterine. Semua itu Rayan lakukan bukan tanpa alasan. Rayan tidak tau harus bagaimana lagi menyikapi Caterine yang sudah mencoba meracuni istrinya yang sedang hamil. Semua itu benar benar sudah sangat diluar batas. Caterine tidak lagi pantas disebut seorang ibu, tapi lebih pantas disebut penjahat.
Alana yang menyaksikan sendiri bagaimana rapuhnya seorang Rayan untuk yang kedua kalinya hanya bisa memeluknya sembari berbisik menguatkan suaminya itu. Alana sendiri tidak menyangka dengan apa yang Rayan lakukan. Rayan melaporkan sendiri mommy ke pihak yang berwajib. Suatu keputusan yang memang sangat tidak mudah mengingat siapa Caterine bagi Rayan.
Sampai menjelang pagi baik Rayan, Alana maupun Sechil dan Ramon mereka tidak bisa memejamkan kedua matanya. Mereka berempat duduk diruang keluarga dengan suasana hening yang menyelimuti.
Sari yang memang hanya memperhatikan dari jauh apa yang terjadi tadi hanya bisa menghela napas. Sari tau patah hati yang Rayan rasakan tidak akan mudah untuk disembuhkan. Apa lagi ini adalah yang kesekian kalinya Caterine menghancurkan perasaan-nya sebagai seorang anak. Sari sendiri bingung dengan sikap Caterine. Seharusnya Caterine melindungi dan menjaga perasaan anak anaknya bukan malah menghancurkan-nya hanya karna harta semata.
“Apa yang harus kita lakukan bu Sari?” Pertanyaan Fina membuat Sari menoleh. Sari sendiri tidak tau apa yang harus dilakukan-nya sekarang.
“Saya juga tidak tau Fina.” Jawab Sari pelan.
Fina menghela napas. Selama pindah dirumah baru itu ini kali pertama Rayan dan Alana diam seperti itu.
“Lebih baik sekarang kamu istirahat saja Fina. Ini biar jadi urusan saya.” Senyum Sari yang langsung diangguki kepala oleh Fina.
Fina bangkit dari duduknya disamping Sari kemudian melangkah berlalu dari ruang keluarga menuju kamarnya yang berada dibelakang untuk istirahat. Fina merasa percuma dirinya disana kalau tidak bisa membantu apa apa.
Setelah Fina berlalu, Sari memanggil pelan Alana dan Ramon. Sari menyuruh keduanya untuk membawa pasangan mereka kekamar. Sari yakin dengan begitu mereka bisa berbicara dan saling menguatkan.
Alana membuka pelan pintu kamarnya kemudian menuntun Rayan untuk masuk. Alana melepaskan jaket yang dikenakan Rayan kemudian menuntun kembali Rayan menuju ranjang mereka. Alana tau suaminya sedang sangat terpukul sekarang.
__ADS_1
Alana mendudukan pelan Rayan ditepi ranjang. Ketika Alana hendak mengambil baju ganti untuk Rayan dilemari baju rayan mencekal pergelangan tangan-nya seperti enggan jika Alana sedikit saja berjarak darinya.
“Jangan pergi.. Aku mohon..” Lirih Rayan.
Alana memejamkan kedua matanya. Alana bisa merasakan kesakitan yang sedang dirasakan oleh suaminya sekarang. Rayan bahkan sepertinya trauma takut kembali ditinggalkan oleh orang yang dicintainya.
Alana menghela napas kemudian membalikan tubuhnya menghadap Rayan. Alana meraih tangan Rayan yang mencekal pergelangan tangan-nya kemudian menggenggam dan menciumnya. Air mata Alana menetes membayangkan bagaimana sakitnya menjadi seorang Rayan. Tapi Alana kemudian mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya dengan cepat. Alana tau untuk menguatkan Rayan dirinya juga harus terlihat kuat.
“Jangan tinggalkan aku.. Aku tidak mau sendiri..” Rayan kembali berucap lirih. Ketakutan jelas terlihat dari sorot matanya yang menatap Alana.
Alana menggelengkan kepalanya. Senyuman manis berusaha Alana ukir ditengah kepiluan hatinya untuk Rayan. Rayan membutuhkan-nya yang kuat bukan yang lemah.
“Aku tidak mau sendiri Alana.. Aku takut sendiri..” Sekarang Rayan benar benar trauma. Berkali kali patah hati oleh Caterine ditambah dengan semua yang Rayan ketahui dari semua yang Caterine rencanakan. Itu benar benar membuatnya sangat terpukul. Lukanya memang tidak berdarah tapi luka itu mampu menghilangkan kepercayaan Rayan pada Caterine, mommy nya sendiri.
Alana melepaskan tangan Rayan kemudian memeluk pria itu dengan penuh kasih sayang. Alana menangis dalam diam dibalik punggung Rayan. Luka yang dirasakan suaminya benar benar menular padanya.
“Jangan seperti ini.. Aku mohon.. Tetaplah kuat dan tangguh Rayan. Aku dan anak kita butuh kamu..” Alana berucap dengan suara bergetar. Alana takut trauma Rayan akan berdampak tidak baik pada perasaan Rayan kedepan-nya.
“Anak kita..” Lirih Rayan seperti orang linglung. Luka dihatinya yang disebabkan oleh Caterine benar benar sangat dalam sehingga membuat Rayan hampir lupa dengan segala yang ada disekitarnya.
Alana melepaskan pelukanya. Wanita itu meraih kedua tangan Rayan dan menaruhnya dengan lembut diperut buncitnya. Saat itu juga ada pergerakan halus yang seakan mengejar tangan besar Rayan. Gerakan itu berhasil membuat bibir Rayan melengkung membentuk sebuah senyuman.
__ADS_1
“Anakku..” Gumam Rayan dengan air mata yang kembali menetes membasahi pipi tirusnya.
Rayan merasakan hatinya yang sempat kosong kembali penuh begitu gerakan halus dari perut Alana mengenai tangan-nya. Rayan mendongak menatap Alana yang berdiri didepan-nya.
“Ya, dia anak kamu.. Anak kita..” Senyum Alana dengan kedua mata berkaca kaca. Ini kali pertama Alana merasakan gerakan halus dari perutnya dan itu karna sentuhan tangan besar Rayan. Gerakan itu seperti pelipur lara bagi Rayan yang sempat bertingkah seperti orang linglung.
Rayan kemudian kembali menatap perut Alana. Satu kecupan lembut Rayan daratkan diperut Alana. Rayan sadar akan ada sosok yang sangat mendambakan kasih sayang dan perlindungan darinya. Anaknya membutuhkan sosoknya. Begitu juga dengan Alana.
“Aku akan sangat menyayangimu nanti. Cepatlah lahir anakku.. Aku tidak sabar ingin mencium dan memelukmu dalam dekapan kuatku..” Ujar Rayan berbisik pada perut Alana.
Alana merasa sangat lega mendengarnya. Suami tangguhnya telah kembali sekarang. Meskipun memang luka hati Rayan karna Caterine tidak akan mudah untuk disembuhkan tapi Alana akan terus berusaha untuk menjadi penawar luka itu. Alana akan terus berada disamping pria itu apapun yang terjadi. Itu janji Alana pada dirinya sendiri.
“Sebentar, aku ambilkan baju ganti untuk kamu..” Senyum Alana berkata saat Rayan kembali mendongak menatapnya.
Ketika Alana hendak berbalik, Rayan langsung memeluk Alana, melingkari perut buncit wanita itu dengan kedua lengan kekarnya.
Rayan tersenyum dan meraih bibir Alana, menciumnya dengan sangat lembut dan mesra. Rayan merasakan semangatnya kembali berkobar. Rayan sadar dirinya sangat dibutuhkan oleh orang orang disekitarnya terutama Alana dan anaknya. Rayan juga sadar dirinya harus selalu tegar dan kuat dalam menghadapi masalah apapun.
Rayan melepaskan bibir Alana, dengan ujung hidung yang masih saling menempel keduanya tersenyum. Lagi dan lagi Alana membuat luka dihati Rayan sembuh seketika. Namun kali ini bukan hanya Alana saja yang berperan sebagai penawar luka hati Rayan, tapi juga janin dalam kandungan-nya yang mulai aktif bergerak dan berhasil membangkitkan Rayan dari keterpurukan.
“Aku bisa mengambil baju gantiku sendiri sayang.” Bisik Rayan tepat didepan bibir Alana.
__ADS_1