
Meski sempat protes karna merasa koleksi gaun dilemarinya masih banyak yang belum terpakai namun akhirnya Alana setuju untuk memilih berbagai gaun yang ada didepan matanya. Tentunya setelah mengingat bentuk tubuhnya yang sekarang yang memang sudah tidak seramping dulu lagi. Gaun gaun itu pasti tidak muat lagi jika Alana kenakan.
“Bagaimana dengan yang ini?” Tanya Alana menunjuk gaun yang berada didepan-nya.
Rayan menatap manekin ramping yang dengan apik dibungkus oleh gaun berbelahan dada rendah itu. Rayan tampak menilai nilai kemudian menatap tepat pada bagian dada Alana yang memang ukuran-nya jauh lebih besar dari sebelumnya. Rayan kemudian membayangkan Alana yang akan begitu sangat cantik jika menggunakan gaun tersebut. Tapi tiba tiba Rayan juga membayangkan banyak pria pria yang akan menatap Alana dengan tatapan penuh nafsu karna belahan dada gaun itu yang terlalu menonjolkan bentuk bulat dada besar Alana.
“Jangan yang itu. Ukuran-nya terlalu kecil untuk kamu sayang..” Jawab Rayan disertai alasan yang membuat Alana berdecak.
“Pasti ada kok ukuran besarnya.” Ujar Alana kemudian menyentuh kain halus yang ditaburi dengan permata cantik itu.
Rayan menghela napas. Rayan tidak mau pria pria diluarsana sampai melihat tubuh Alana. Rayan selalu mengklaim Alana hanya miliknya seorang yang dimana orang lain tidak boleh ada yang mengaguminya. Alana hanya boleh berpenampilan terbuka didepan-nya saja.
Rayan ikut menyentuh kain itu.
“Belahan dadanya terlalu kebawah sayang. Memangnya kamu nggak malu nanti didepan banyak orang berpakaian terbuka seperti ini? Cari yang lain saja ya.. Yang lebih tertutup bagian dadanya.” Ujar Rayan.
Alana melongo mendengarnya. Bagian dada dari gaun itu memang sepertinya terlalu terbuka, namun menurut Alana itu sudah hal yang biasa dikalangan orang orang kaya seperti Rayan. Alana juga yakin Rayan juga sudah tidak lagi asing dengan wanita wanita sexy yang mencoba menarik perhatian-nya.
“Tapi ini bagus Rayan..”
“Tapi aku nggak suka sayang. Aku nggak suka milikku dikagumi orang lain.” Sela Rayan membuat Alana menghela napas.
Enggan terlalu panjang berdebat Alana kemudian mengalah. Alana mencari lagi gaun lain yang mampu menarik perhatian-nya. Beberapa gaun yang Alana pilih tidak mendapat persetujuan dari Rayan dengan alasan yang sama yaitu belahan dada terlalu rendah serta belahan kain bagian bawah yang terlalu tinggi sehingga membuat paha putih Alana pasti akan terlihat.
Merasa kesal akhirnya Alana pun diam. Alana menyuruh untuk Rayan yang memilih gaun untuknya. Dan lagi lagi semua gaun dalam butik itu tidak ada yang cocok dimata Rayan untuk Alana.
“Enggak ada yang cocok. Gaun gaun disini terlalu terbuka sayang..” Kata Rayan.
Alana diam karna malas berdebat. Padahal Rayan tidak biasanya seperti itu. Rayan selalu menyetujui apa yang Alana mau. Dan kali ini adalah pertama kalinya Rayan banyak protes dengan apa yang Alana mau.
__ADS_1
“Permisi tuan, nyonya, ada yang bisa saya bantu?”
Rayan dan Alana menoleh ketika mendengar suara lembut seorang wanita cantik berambut ikal dengan warna hitam pekat.
Rayan tersenyum tipis pada wanita itu kemudian melirik Alana. Rayan tau siapa wanita didepan-nya.
“Saya sedang mencari gaun yang bagus untuk istri saya. Bisa tolong bantu carikan? Emm.. Tapi tolong jangan gaun yang terlalu terbuka.” Ujar Rayan yang membuat wanita itu terlihat sedikit kebingungan.
“Emm.. Baik, saya akan coba pilihkan gaun yang pas dan bagus untuk nyonya. Mari nyonya.”
Alana hanya mengangguk pasrah kemudian melangkah lebih dulu dari wanita tersebut. Sedangkan Rayan, pria itu memilih untuk menunggu. Rayan melangkah pelan menuju sofa yang ada disudut ruangan kemudian mendudukan dirinya disana dengan santai.
Rayan berharap dengan bantuan langsung dari pemilik butik itu Alana bisa mendapatkan gaun yang sesuai juga pantas untuk dikenakan nanti malam.
--------
Tidak jauh berbeda dengan Rayan dan Alana yang sedang mencari gaun untuk dikenakan Alana malam nanti, Ramon juga melakukan hal yang sama. Hanya saja Ramon mencarinya sendiri tanpa memberitahu Sechil yang memang sengaja Ramon tinggal sendirian dirumah sewa mereka. Ramon bahkan berbohong pada Sechil dan mengatakan ada pekerjaan yang mendesak padahal sebelumnya Ramon sudah izin pada bos pemilik bengkel tempat dirinya bekerja untuk cuty satu hari.
Ramon menghela napas sambil menyangkutkan tali paperbag dibagian depan motornya. Pria itu tersenyum karna akhirnya bisa membelikan gaun dengan harga yang menurutnya lumayan mahal. Ramon bahkan memakai uang tabungan juga gajinya bulan ini yang sebenarnya akan Ramon gunakan untuk membayar kuliahnya untuk membeli gaun yang akan dipakai Sechil nanti malam.
“Semoga aja Sechil suka dengan gaun ini..” Gumamnya dengan penuh harapan.
Ramon mengenakan helm-nya menengok kearah kanan dan juga kiri memastikan tidak ada kendaraan lain yang melaju kearahnya. Ketika hendak menaiki motornya pekikan seseorang yang menyerukan namanya membuat Ramon menoleh. Ramon menyipitkan kedua matanya menatap Luna yang turun dari mobilnya kemudian berlarian menghampirinya.
“Luna...” Ramon bergumam bingung menatap Luna.
“Hey Mon..” Sapa Luna setelah sampai didepan Ramon.
“Eh iya.. Hay juga..” Balas Ramon tersenyum kikuk.
__ADS_1
Luna menatap sepeda motor Ramon dimana didepan-nya ada sebuah paperbag berukuran sedang. Luna tersenyum menatap paperbag berwarna pink manis itu.
“Kamu abis belanja ya?” Tanya Luna kembali menatap Ramon. Luna juga melirik bingkisan makanan yang ditenteng Ramon.
Ramon langsung tergagap. Tidak ada satu orang pun yang tau tentang pernikahan rahasianya dengan Sechil. Dan semua itu memang permintaan dari Sechil juga Caterine yang Ramon sendiri sampai sekarang belum tau apa alasan-nya. Ramon yakin Luna juga tidak tau bahwa dirinya dan Sechil adalah pasangan suami istri.
“Emm.. Iya.” Jawab Ramon kebingungan.
Luna menganggukkan kepalanya. Mahasiswi dengan penampilan yang selalu terlihat simpel itu melirik Ramon yang tidak tau harus bagaimana didepan-nya.
Luna mengeryit. Ramon memang tampak beda sekarang. Tepatnya setelah semua orang dikampus mereka tau tentang kehamilan Sechil.
“Oh iya Mon, kemarin kemarin ada Sechil loh. Dia kekampus sama kakaknya. Ada tante Caterine juga, mommy-nya Sechil.” Ujar Luna memberitahu.
“Oh begitu ya?” Ramon hanya menyaut seadanya saja. Karna Ramon sendiri juga sudah tau semua itu. Ramon bahkan juga sudah tau kenapa mereka datang dan menemui Luna tanpa sepengetahuan-nya saat itu.
“Kamu kok...”
Suara deringan hp disaku celana jins Rayan membuat Luna menggantungkan ucapan-nya. Luna menatap Ramon yang langsung buru buru merogoh saku celana jins belelnya kemudian segera mengangkat telpon yang Luna sendiri tidak tau entah dari siapa.
“Iya.. Ini aku udah mau pulang kok.. Nggak sampe 15 juga aku sudah ada didepan pintu.”
Luna mengeryit bingung mendengar percakapan Ramon dengan seseorang diseberang telpon. Luna menyipitkan kedua matanya merasa curiga dengan percakapan bernada lembut yang menurutnya sangat tidak biasa itu.
“Ya sudah ya.. Aku jalan sekarang.” Ramon menutup telepon-nya dan kembali memasukan benda pipih itu kedalam saku celana panjangnya.
Sementara Luna, dia semakin penasaran dan terus membatin bertanya tanya dengan siapa Ramon berbicara.
“Emm.. Luna, aku duluan ya.. Sudah ditungguin soalnya.” Ramon bergegas menaiki motornya kemudian berlalu dengan kecepatan sedang meninggalkan Luna yang semakin merasa penasaran dengan apa yang Ramon katakan sebelum berlalu. Semua dikampus tau Ramon hidup sendiri dijakarta. Ramon juga terkenal dengan kepintaran-nya dikampus. Tidak heran banyak kaum hawa yang diam diam juga memendam rasa padanya termasuk Sechil dan Claudia dulu.
__ADS_1
“Ditungguin sama siapa? Ibunya? ayahnya? atau adiknya?” Luna semakin merasa penasaran. Namun Luna juga enggan untuk terlalu tau sehingga Luna lebih memilih untuk kembali dengan niat awalnya pulang kerumahnya.