Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 170


__ADS_3

Menjelang malam Ramon belum kunjung pulang dari aktivitasnya diluar sana. Hal itu membuat Sechil merasa sangat khawatir. Ramon pulang malam memang sudah bukan lagi hal baru untuk Sechil. Tapi mengingat masalah yang sedang menyerempet hubungan mereka sejak pertanyaan Ramon semalam membuat Sechil merasa sedikit khawatir. Apa lagi pertanyaan Ramon semalam sudah sangat melenceng dari kenyataan-nya.


Sechil tidak pernah malu bersuamikan Ramon yang bukan siapa siapa. Sebaliknya, Sechil justru takut Ramon malu dan diejek oleh semua teman kampusnya karna mau saja bertanggung jawab atas apa yang tidak dilakukan-nya.


“Ini sudah hampir jam makan malam. Kenapa kamu belum juga pulang Ramon..” Gumam Sechil khawatir.


Sechil menilik waktu lewat hp yang berada ditangan-nya. Suara ketukan pintu membuat Sechil langsung berdiri dari duduknya. Sechil buru buru melangkah menuju pintu untuk membukanya. Begitu pintu dia buka Sechil langsung diam. Bukan Ramon yang ada didepan pintu rumah kontrakan-nya tapi Bastian yang tersenyum dengan 2 tenteng paperbag berukuran cukup besar dikedua tangan-nya.


“Hay..” Sapa Bastian tersenyum manis.


Sechil tersenyum tipis dengan anggukan kepalanya. Sechil merasa kecewa karna ternyata bukan Ramon yang pulang, tapi Bastian yang datang.


“Aku cuma mau kasih kamu ini.” Ujar Ramon sambil menyodorkan dua paperbag ditangan-nya pada Sechil.


Sechil diam menatap dua paperbag tersebut. Sechil tau maksud Bastian baik. Tapi jika sampai Cleo tau itu pasti akan menjadi sangat tidak baik. Cleo akan salah paham dan mungkin menganggap Sechil mengakali Bastian.


“Apa Cleo tau tentang ini?” Tanya Sechil membuat senyuman dibibir Bastian perlahan sirna.


“Hey, aku membelinya dengan uangku sendiri bukan dengan uang Cleo.” Ujar Bastian dengan helaan napas.


Sechil diam lagi. Meskipun memang semua yang Bastian berikan padanya adalah bentuk tanggung jawabnya pada janin yang sedang dikandungnya, tapi Sechil tetap merasa ragu jika mengingat sikap Cleo padanya.


“Cleo tidak akan suka jika tau kamu terus memberikan ini itu untuk ku.” Lirih Sechil.


Bastian berdecak. Pria itu meletakkan paperbag yang dibawanya dilantai tepat didepan kedua kaki Sechil.


“Saya memberikan-nya bukan tanpa Alasan nona Sechil. Jika saja anak yang kamu kandung bukan anakku saya, saya tidak mungkin melakukan ini semua.”


Sechil menghela napas. Sechil memahami itu. Tapi Cleo tidak bisa memahami semuanya.

__ADS_1


“Tolong jangan pernah sekalipun nona berpikir memisahkan saya dengan anak saya. Bagaimanapun juga anak itu berhak mendapatkan apa yang memang seharusnya dia dapatkan. Dan tentang Cleo, nona tidak perlu khawatir. Cleo adalah urusan saya.” Lanjut Bastian.


Sechil tetap saja diam. Sechil tidak tau harus menjawab apa. Yang Bastian katakan adalah sebuah kebenaran dan Sechil tidak bisa mengingkari itu.


“Jaga kesehatan nona. Saya permisi.”


Bastian berlalu setelah itu. Pria berpakaian serba hitam itu melangkah menuju mobilnya yang berada ditepi jalan karna memang halaman rumah kontrakan Sechil dan Ramon sangat sempit dan tidak mungkin muat untuk parkir meskipun hanya satu mobil saja.


Ketika hendak membuka pintu mobilnya Bastian menoleh lagi pada Sechil yang masih diam didepan pintu. Bastian tersenyum tipis dan mengangguk pelan kemudian masuk kedalam mobilnya.


Dengan kecepatan sedang mobil mewah Bastian berlalu. Sechil yang melihatnya hanya bisa menghela napas. Posisinya benar benar sangat sulit sekarang.


Tidak lama setelah mobil Bastian berlalu muncul Ramon yang mengendarai motor metiknya. Seperti biasanya, pria itu tidak pernah pulang dengan tangan kosong.


Ramon turun dari motornya dan melepas helmnya. Seulas senyum terukir dibibir tipisnya ketika melihat Sechil yang berdiri didepan pintu.


Ramon melangkah mendekat pada Sechil. Satu kecupan singkat langsung Ramon daratkan dikening Sechil.


“Aku bawain kamu hot dog.” Ujar Ramon menunjukan apa yang dibawanya pada Sechil.


Sechil tertawa pelan. Ramon sepertinya tidak lagi mempermasalahkan tentang hubungan mereka yang sampai sekarang masih belum ada teman kampus yang tau. Tapi Sechil sudah memikirkan semuanya dengan matang. Sechil tidak akan lagi menyembunyikan hubungan mereka dari siapapun.


“Loh, ini apa?” Tanya Ramon saat menundukan kepala dan mendapati 2 paperbag berukuran cukup besar didepan kedua kaki Sechil.


“Tadi Bastian kesini dan memberikan ini.” Jawab Sechil.


Ramon menganggukkan kepalanya. Pria itu meraih 2 paperbag tersebut.


“Ayo masuk. Jangan lagi lagi berdiri didepan pintu. Nggak baik.”

__ADS_1


Sechil tersenyum dan menuruti apa kata Ramon dengan masuk kedalam rumah kontrakan mereka. Sechil kemudian mendudukan dirinya sementara Ramon, pria itu pamit untuk membersihkan dirinya lebih dulu.


Tidak sampai 20 menit Ramon sudah selesai membersihkan diri. Pria itu melangkah menuju ruang tamu dimana Sechil sedang menunggunya. Dan ketika sampai diruang tamu Ramon mengeryit melihat Sechil yang melamun dan belum menyentuh hot dog yang dibelikan-nya.


Ramon menghela napas dan mendekat pada Sechil. Ramon duduk tepat disamping Sechil kemudian meraih dan menggenggam lembut tangan Sechil.


Merasakan genggaman lembut tangan besar Ramon, Sechil pun menolehkan kepalanya menatap Ramon yang tersenyum manis padanya.


“Ada apa?” Tanya Ramon pelan.


Sechil menundukkan kepalanya. Ramon benar benar pria yang sangat baik yang pernah Sechil temui. Ramon begitu sabar dan tenang meskipun sedang berada dalam masalah.


“Aku minta maaf..”


Ramon diam menunggu apa lagi yang akan Sechil katakan padanya.


“Aku tidak mau semua teman teman dikampus tau tentang hubungan kita karna aku nggak mau kamu malu. Aku juga nggak mau kamu diejek sama mereka karna menikahi aku yang hamil dengan Bastian.” Sechil berkata dengan kedua mata memanas serta pandangan yang mengabur karna air mata yang menggenangi kelopak matanya.


“Aku harap kamu ngerti Ramon.” Lanjutnya.


Ramon menghela napas dan tersenyum. Pemikiran-nya ternyata selama ini salah. Sechil melarangnya untuk membeberkan hubungan mereka dikampus karna memikirkan-nya.


Ramon menarik Sechil kedalam pelukan-nya. Ramon juga mengecup beberapa kali rambut Sechil. Ramon tidak menyangka Sechil begitu sangat memikirkan-nya.


“Makasih ya kamu sudah mau mikirin aku sampai begitu jauh. Tapi sayang.. yang perlu kamu tau adalah aku sangat bahagia bisa memiliki kamu. Aku tidak perduli apa kata orang diluar sana. Yang penting kamu bahagia sama aku. Itu sudah cukup. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun tentang aku. Karna kebahagiaan aku itu ada sama kamu.” Bisik Ramon.


Sechil meneteskan air matanya merasa sangat terharu mendengar apa yang Ramon katakan.


“Aku cinta sama kamu Ramon.” Lirih Sechil membuat senyuman dibibir tipis Ramon semakin lebar.

__ADS_1


“Aku juga sangat mencintai kamu sayang. Tolong tetap bahagia bersamaku ya.. Kita hadapi apapun berdua.” Balas Ramon yang langsung mendapat anggukan kepala oleh Sechil.


__ADS_2