
Sebelum pulang, mamah Bastian menyuruh Ramon juga Bastian untuk menurunkan semua barang belanjaan-nya yang diperuntukan pada Sechil dan bayinya. Wanita itu membeli semua perlengkapan bayi yang pasti akan sangat diperlukan nantinya.
“Kalau begitu mamah pulang dulu sayang. Datanglah kerumah bersama suamimu lain kali..” Ujar mamah Bastian sambil membelai lembut pipi Sechil.
“Iya mah.. Kapan kapan kami berdua kesana.”
“Mamah tunggu. Ya sudah mamah pulang yah..”
“Iya mah.. Hati hati.”
Sechil menghela napas setelah kepulangan Bastian dan mamahnya. Sechil merasa semuanya seperti mimpi. Sechil kembali dipertemukan dengan orang baik, yaitu mamah Bastian.
“Sepertinya semua ini tidak akan muat jika kita taruh didalam kamar.”
Sechil menoleh mendengar apa yang Ramon katakan. Sechil melangkah mendekat pada Ramon kemudian memeluk pria tampan itu dari belakang.
Ramon, satu pria yang seperti pintu gerbang kebaikan untuk Sechil. Sejak memutuskan menikah dengan Ramon memang banyak kebaikan yang Sechil dapatkan.
“Kenapa hem?” Tanya Ramon tersenyum karna tiba tiba Sechil memeluknya.
“Aku mencintai kamu, sangat mencintai kamu Ramon suamiku.” Ungkap Sechil membuat Ramon tertawa pelan.
Ramon mengusap lembut tangan Sechil yang melingkari perutnya. Dari pertama kali mereka bertemu dulu Ramon memang sudah jatuh hati pada Sechil hingga akhirnya Ramon tau Sechil juga menyukainya. Ramon memberanikan diri mengungkapkan perasaan-nya pada Sechil yang tanpa disangka ternyata Sechil menerimanya meskipun tau Ramon bukan orang kaya.
“Oh iya, aku mau cerita tentang mamah aliya.” Kata Sechil kemudian melepaskan pelukan-nya.
Ramon memutar tubuhnya. Senyumnya mengembang menatap Sechil yang semakin berisi tubuhnya semakin terlihat cantik menurutnya.
“Sebelum itu ada yang mau aku kasih tau ke kamu.”
Sechil mengeryit menatap Ramon.
“Apa?”
“Ini tentang kematian Claudia.” Jawab Ramon pelan.
Sechil diam menunggu Ramon mengatakan apa yang ingin diberitahunya tentang kematian Claudia.
“Jadi aku sudah tau siapa pelaku yang membunuh Claudia.”
__ADS_1
“Tapi bukan-nya dua preman itu?”
Ramon menggelengkan kepalanya.
“Mereka hanya disuruh.”
“Disuruh? Disuruh siapa?” Tanya Sechil merasa sangat penasaran.
“Mamahnya Claudia.”
Kedua mata Sechil membulat sempurna mendengar jawaban Ramon. Sechil menggeleng pelan merasa sangat tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ramon.
“Tapi bagaimana mungkin? dia terlihat sangat kehilangan bahkan hampir seperti orang gila saat menangis menyalahkan kita. Tidak mungkin dia yang melakukan-nya Ramon. Aku memang tidak mengenal mamahnya Claudia dekat. Tapi aku tau mamahnya Claudia sangat menyayangi Claudia.”
“Aku juga tadinya mau tidak percaya sayang. Tapi dua preman itu yang mengatakan-nya dengan jujur. Bahkan mamahnya Claudia juga sudah mengakui sendiri bahwa dia pelakunya.”
Menurut Sechil itu sangat sulit dipercaya. Orang yang terlihat sangat menyayangi Claudia justru pelaku utama pembunuhan Claudia.
“Mamahnya Claudia ternyata bukan mamah kandung. Dia mamah tiri, istri kedua setelah mamah kandung Claudia meninggal. Dia membunuh Claudia karna tidak rela semua harta warisan dari suaminya jatuh pada Claudia.” Jelas Ramon.
Tanpa sadar Sechil meneteskan air matanya. Ternyata dibalik kisah sulitnya, Rayan, juga Caterine masih ada kisah yang lebih sulit lagi. Dan alasan-nya sama, yaitu karna harta.
“Hey, kenapa menangis?”
“Aku nggak nyangka aja. Harta benar benar bisa membutakan hati manusia. Aku bersyukur karna tuhan menyadarkan aku akan kesalahanku dengan hadirnya anak ini di rahimku.” Lirih Sechil.
Ramon tersenyum. Dengan lembut Ramon memeluk Sechil, mengusap usap punggungnya lembut.
“Itu karna kamu sebenarnya memang orang yang baik. Tuhan tidak mau kamu semakin terjerumus sehingga teguran itu datang dan langsung meluluhkan hati kamu sayang.” Bisik Ramon.
Sechil menganggukan kepalanya dibalik punggung Ramon. Mungkin memang Tuhan masih memberikan kesempatan padanya untuk menjadi orang baik.
Ramon melepaskan pelukan-nya. Pria tampan itu merapikan anak rambut pirang Sechil yang sedikit menutupi kening Sechil.
“Udah ah nggak usah dipikirin. Mending sekarang kamu ceritain kenapa tiba tiba kita punya mamah aliya.”
Sechil tertawa. Sechil kemudian meraih tangan Ramon dan menuntun-nya untuk sama sama duduk dikursi. Dan Sechil mulai menceritakan juga menjelaskan alasan yang memang dilontarkan sendiri oleh mamah Bastian saat meminta padanya untuk menjalin hubungan baik.
-------
__ADS_1
“Aku tadi sempetin masak udang asam manis kesukaan kamu. Aku ambilin yah..”
“Oke..” Angguk Rayan tersenyum.
Alana kemudian mengambilkan piring berisi udang asam manis buatan-nya kemudian mengambilkan dengan sendok dan menaruhnya disamping nasi yang berada dipiring Rayan.
Sari yang menyaksikan keharmonisan hubungan rumah tangga putrinya tersenyum bahagia. Sari bersyukur karna setiap do'a yang dia panjatkan pada Tuhan untuk Alana selalu dikabulkan.
“Aduh...”
“Sayang kamu kenapa?” Rayan langsung khawatir saat Alana mengaduh. Pria itu dengan sigap mengambil alih piring yang dipegang Alana dan menaruhnya ditempatnya semula.
“Awh...” Alana meringis sambil memegangi perutnya yang tiba tiba terasa sakit.
“Alana.. Ya Tuhan..” Sari yang juga ikut panik segera bangkit dari duduknya dan mendekat pada Alana yang terus meringis seperti sedang menahan sakit.
“Sayang kamu kenapa? Mananya yang sakit sayang?”
Takut dan khawatir langsung menyerbu hati Rayan. Pria itu menarik kursi yang diduduki Alana kemudian membopong Alana yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan-nya karna terus meringis sambil memegangi perutnya.
“Rayan apa yang mau kamu lakukan?” Tanya Sari yang bingung melihat Rayan membopong Alana.
“Saya mau bawa Alana kerumah sakit bu.. Saya tidak mau sesuatu terjadi pada Alana.” Jawab Rayan.
“Tapi..”
“Bu.. Alana kesakitan sekarang. Aku nggak mau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Alana dan bayi saya.” Ujar Rayan menyela apa yang ingin dikatakan Sari.
Sari menelan ludahnya. Tatapan-nya beralih pada Alana yang memang terus mengeluh sakit pada perutnya. Padahal kandungan-nya baru genap bulan ke-8.
“Ya sudah kalau memang itu yang terbaik. Ibu ikut.” Kata Sari kemudian.
Rayan mengangguk menyetujui. Dengan cepat Rayan melangkah berlalu dari meja makan. Sedangkan Sari, wanita itu berlari lebih dulu untuk memanggil pak Lim dan menyuruhnya untuk menyiapkan mobil.
“Sakit Rayan... Sshhh..” Keluh Alana mengadu pada Rayan.
“Ya sayang.. Kamu sabar ya.. Kita kerumah sakit sekarang juga..” Rayan mencoba untuk tenang dan tetap tersenyum meski rasa khawatir itu berhasil membuat kedua matanya berkaca kaca. Jika memang benar dugaan Rayan sekarang benar, Rayan siap. Karna kapanpun waktu terbaik untuk Alana melahirkan anaknya memang sudah diatur oleh Tuhan.
“Sakit...”
__ADS_1
“Aku selalu disamping kamu sayang. Lampiaskan rasa sakit itu padaku..” Bisik Rayan dengan suara sedikit bergetar.
Tidak lama mobil yang dikemudikan oleh pak Lim datang. Sari yang memang sudah berada didalam segera turun dan membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Rayan. Malam itu juga mereka membawa Alana kerumah sakit.