
Beberapa hari setelah masuk rumah sakit Dion dinyatakan gila sehingga harus dipindahkan kerumah sakit jiwa. Agatha yang sangat terpukul hanya bisa menangis tidak berdaya melihat putra tampan-nya yang kadang menangis tanpa sebab, berbicara sendiri bahkan marah marah tanpa sebab. Dion juga sering menyebut nyebut nama Alana yang memang masih menjadi pemilik hatinya sampai saat ini.
Karna Dion yang terus saja menyebut nyebut nama Alana bahkan saat didepan pemburu berita, itu membuat berita baru dimana nama Alana terseret bahkan menyebar gosip bahwa Alana diam diam menjalin hubungan dengan Dion dibelakang Rayan.
“Berita macam apa ini?!” Rayan mematikan TV dengan emosi meluap luap. Pria itu langsung menghubungi Luky dan menyuruh orang kepercayaan-nya itu untuk menghubungi seluruh perusahaan pemburu berita.
“Suruh mereka menghentikan berita sialan itu atau saya akan bertindak pada mereka semua.” Begitu kata Rayan pada Luky lewat sambungan telpon.
Rayan menghela napas kesal. Hasil penyelidikan atas Bastian tidak menunjukan apa apa. Bastian memang sering gonta ganti pasangan namun tidak pernah berkenalan dengan Sechil. Dan lagi Bastian dan Sechil tidak pernah bertemu sebelum malam itu.
“Sepertinya memang aku yang perlu turun tangan menanyakan sendiri pada Sechil.” Gumam Rayan.
Rayan memejamkan kedua matanya. Masalah Dion sudah teratasi namun muncul masalah baru yang bahkan sampai menyeret nama Alana, istri tercintanya. Ditambah lagi penyelidikan Robin dan Roky tidak menghasilkan informasi apapun tentang Bastian dan Sechil.
“Rayan...”
Suara Alana membuat Rayan membuka kembali kedua matanya. Pria itu menoleh kearah pintu dan tersenyum pada Alana yang sedang melangkah menghampirinya.
“Kenapa belum tidur?” Tanya Rayan begitu Alana duduk diatas sofa disampingnya.
“Aku belum ngantuk. Ah ya Rayan, ada yang mau aku tanyakan sama kamu. Ini tentang ibu..”
Rayan mengeryit.
“Apa itu?” Tanyanya penasaran.
Alana diam sesaat. Wanita itu memainkan tanganya sendiri dengan kepala tertunduk seperti sedang ragu ingin menanyakan apa yang bersarang dikepala cantiknya.
__ADS_1
“Kenapa dengan ibu Alana?” Tidak sabar, Rayan pun menanyakan perihal apa yang ingin ditanyakan Alana tentang ibunya.
“Eemm.. Disinikan hanya ada bibi dan Fina, nggak ada mommy ataupun Sechil. Boleh tidak kalau ibu tinggal disini saja sama kita?”
Rayan terdiam dengan tatapan terus tertuju pada Alana yang menatapnya dengan penuh harapan. Pria itu juga pernah berpikir seperti itu namun tidak berani menanyakan langsung pada Sari. Rayan berpikir mungkin Sari ingin tenang tinggal sendiri tanpa tau masalah apapun yang dihadapi anaknya.
“Memangnya ibu Sari mau?” Tanya Rayan balik membuat seulas senyum perlahan mulai terukir dibibir Alana.
“Tentu saja, ibu pasti akan sangat senang jika selalu dekat denganku. Begitu juga dengan aku. Aku sangat senang ibu disini.” Jawab Alana antusias.
Rayan tampak berpikir. Mungkin memang jika ada Sari disitu Rayan juga bisa merasa sedikit tenang. Disamping Sari bisa menemani Alana saat Rayan tidak ada dirumah, Sari juga bisa membantu Rayan menjaga Alana. Tapi jika melihat bagaimana Alana kemarin saat ada Sari dirumahnya Rayan menjadi bimbang.
“Rayan, Bagaimana?” Tanya Alana dengan wajah sendunya karna Rayan yang terus saja diam.
“Kayanya nggak usah deh Alana.. Kamu kan disini ada Fina dan bibi. Mereka juga bisa menemani kamu kan?”
Alana merengut mendengarnya. Fina dan bibi memang biasa menemani, membantu, bahkan menjadi pendengar yang baik saat Alana sedang ingin mengobrol. Tapi menurut Alana keberadaan Sari disitu sangat membuatnya bahagia dan merasa lebih lengkap. Alana merasa terlindungi berada diantara suami dan juga ibu tercintanya.
Alana mengeryit.
“Ayolah Rayan.. kemarin itu karna aku udah lama banget nggak bareng bareng sama ibu.. Kalau ibu setiap hari disini ya aku nggak bakal begitu lah.. Aku juga nggak mungkin setiap malam mau dipeluk sama ibu..” Jelas Alana tidak ingin jika sampai suaminya salah paham.
“Beneran?” Tanya Rayan merasa ragu. Tidur sendirian tanpa Alana dalam pelukan-nya membuat Rayan merasa sangat sulit untuk memejamkan kedua matanya.
Alana menganggukan kepala menjawab pertanyaan Rayan. Alana ingin sekali bisa bersama terus dengan Sari seperti saat dirinya kecil dulu.
“Baiklah, asal kamu janji tidak akan menempel sama ibu terus aku akan memikirkan-nya.”
__ADS_1
“He'em.. Aku janji.” Senyum lebar Alana dengan anggukan kepala.
“Ya sudah besok aku akan kerumah ibu dan membicarakan semuanya.” Rayan tersenyum menatap Alana. Baginya sekarang kebahagiaan Alana adalah segalanya.
“Terimakasih..” Ujar Alana kemudian menyusup masuk kedalam dekapan hangat Rayan.
“Sama sama sayang.”
Alana mengeryit mendengar Rayan memanggilnya dengan sebutan yang tidak biasa. Pasalnya Rayan selalu memanggilnya dengan sebutan nama bukan panggilan khusus seperti pria diluaran sana. Rayan memang pernah beberapa kali menyebutnya dengan panggilan sayang yang memang Alana sendiri tidak tau itu kapan. Mungkin saking langkanya sampai Alana tidak bisa mengingatnya kapan.
Alana melepaskan diri dari dekapan Rayan kemudian menatap Rayan dengan sebelah alis terangkat.
“Kamu panggil aku apa tadi? Sayang?” Tanya Alana.
Rayan tertawa. Memanggil Alana dengan sebutan nama memang lebih terasa nyaman menurut Rayan dari pada harus menggunakan panggilan khusus.
“Baiklah.. Jangan menatapku seperti itu. Aku akan memanggilmu dengan sebutan sayang mulai sekarang supaya kamu terbiasa dan tidak merasa asing.” Katanya.
Alana ikut tertawa mendengarnya. Rasanya memang sedikit aneh jika Rayan memanggilnya dengan panggilan itu. Tapi dipanggil dengan panggilan khusus dan mesra oleh Rayan juga membuat Alana merasa sangat spesial.
“Aku suka panggilan itu..” Senyum Alana.
Rayan perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Alana. Hal itu membuat Alana refleks menutup kedua matanya. Alana tau apa yang akan Rayan lakukan jika sudah seperti itu.
Rayan tersenyum saat wajahnya hampir tidak ada lagi jarak dengan wajah istrinya. Menatap dari dekat wajah Alana membuat Rayan merasa semakin terpesona dengan kecantikan alami Alana. Alana memang sangat mirip dengan Sakura bahkan bisa dikatakan mereka seperti orang kembar. Namun jika dilihat dari dekat seperti sekarang, wajah Alana dan Sakura banyak memiliki perbedaan yang tidak bisa Rayan rinci satu persatu. Namun yang jelas jika Alana didandani seperti Sakura kemudian di photo dan photonya disandingkan dengan photo Sakura, Rayan pasti akan tetap bisa mengenalinya dengan gampang mana Alana dan mana Sakura.
Rayan menempelkan bibirnya dibibir Alana mencium dengan lembut dan penuh cinta calon ibu dari anaknya itu. Menemukan Alana didepan gerbang rumahnya dulu hingga akhirnya dapat memilikinya bagi Rayan seperti menemukan harta karun yang sangat berharga. Alana memberinya cinta, kasih sayang, bahkan kehidupan baru yang tidak pernah sekalipun Rayan rasakan selama hidupnya bahkan saat masih menjalin hubungan dengan Sakura sekalipun.
__ADS_1
“Kita kekamar sekarang.” Bisik Rayan tepat dibibir Alana kemudian membopong tubuh Alana dan membawanya berlalu dari ruang keluarga menuju lantai 2 dimana kamar mereka berada.
Rayan seperti amnesia dari segala masalah yang sedang dihadapinya setelah bersama Alana.