
Sampai larut malam Rayan tidak juga bisa memejamkan kedua matanya. Rayan masih memikirkan Caterine yang sampai rela berakting menangis dan bersimpuh dikakinya sore tadi.
“Kamu kenapa?” Alana bertanya dengan suara seraknya. Wanita itu terbangun karna rasa lapar yang tiba tiba dia rasakan.
Rayan menoleh. Seulas senyum Rayan ukir untuk Alana yang menatapnya dengan kedua mata sedikit menyipit. Mungkin karna rasa ngantuknya.
“Aku nggak papa. Hanya sedang tidak bisa tidur saja. Kamu kenapa bangun?”
Alana menghela napas kemudian pelan pelan bangkit terduduk diatas tempat tidur mereka.
“Aku lapar..” Keluhnya.
Rayan tertawa mendengarnya. Wanita hamil mengeluh lapar tengah malam rasanya bukanlah hal yang baru. Rayan memang tidak pernah menghadapinya. Tapi Rayan tau karna dulu Caterine juga sering bangun tengah malam saat hamil Sechil hanya untuk makan. Rayan masih sangat mengingat itu.
“Temenin aku makan yah..” Pinta Alana menatap Rayan penuh harap.
Rayan bangkit dari berbaringnya. Pria itu mengenakan kaos oblong putihnya yang tersampir dinakas samping tempat tidur kemudian turun dari ranjang.
“Ayo...” Ajaknya mengulurkan tanganya pada Alana.
Alana tersenyum. Wanita itu menerima uluran tangan dari Rayan. Pelan pelan Alana turun dari ranjang tentunya dengan Rayan yang menuntun-nya.
“Kamu mau makan apa?” Tanya Rayan sambil melangkah keluar dari kamar mereka dengan Alana yang berada disampingnya.
“Eemmm.. Aku pengin sandwich coklat Nutella aja deh..” Jawab Alana dengan senyuman manis yang terukir dibibirnya.
Rayan mengangguk. Makanan itu bisa dibuat hanya dengan roti tawar dan coklat Nuttela saja. Tentu saja tanpa harus Rayan repot repot keluar tengah malam hanya untuk membeli makanan.
Mereka berdua masuk kedalam lift yang akan membawa mereka kelantai bawah. Dan ketika sampai dilantai bawah, mereka langsung berjalan menuju dapur.
“Sechil?”
Rayan dan Alana berhenti melangkah ketika mendapati Sechil yang sedang sibuk didapur seorang diri. Dan suara Rayan yang sedikit keras menyebut nama Sechil membuat Sechil menoleh padanya.
__ADS_1
“Kakak..”
Sechil berhenti mengaduk makanan yang sedang dia panaskan. Sechil juga langsung mematikan kompor melihat Alana dan Rayan berdiri tidak jauh dari tempatnya.
Alana yang melihat itu hanya diam saja. Bayangan Sechil tersenyum padanya tadi siang membuat Alana menghela napas. Sechil begitu sangat membencinya begitu juga dengan Caterine. Alana tidak mau gegabah dengan mempercayai begitu saja perubahan tiba tiba Sechil.
Rayan menarik lembut tangan Alana untuk menghampiri Sechil. Pria itu mengecek apa yang sedang Sechil panaskan kemudian menatap Sechil yang menundukan kepala layaknya seorang anak kecil yang terdapati sedang berbuat kesalahan.
“Sechil, Apa kamu lapar?” Tanya Rayan pelan.
Sechil mengangguk pelan. Selama hamil Sechil memang sering bangun tengah malam karena kelaparan. Dan sekarang adalah pertama kalinya Sechil menuruti rasa laparnya agar bisa kembali tidur lelap.
Rayan melirik Alana yang hanya diam disampingnya. Istri dan adiknya sama sama sedang mengandung sekarang. Dan karena Sechil hamil tanpa suami, Rayan merasa tanggung jawabnya bertambah. Bukan hanya pada Alana saja tapi juga pada Sechil.
“Ya sudah kamu tunggu saja dimeja makan sana. Biar kakak yang ambilkan makanan buat kamu.” Merasa tidak tega Rayan pun menyuruh agar Sechil berlalu dari dapur dan menunggu saja dimeja makan.
Ucapan Rayan membuat Alana mendelik. Rayan menyuruh Sechil menunggu dimeja makan dan mengatakan akan mengambilkan makanan untuknya.
Rayan mengeryit menatap Alana. Ekspresi Alana terlihat sangat tidak biasa sekarang.
“Kamu tidak menyuruhku untuk menunggu juga dimeja makan?” Tanya Alana lagi.
Rayan tersenyum. Jika hanya untuk menyiapkan roti dan coklat Nuttela saja itu bukan hal susah untuk Rayan.
“Kamu juga tunggu saja dimeja makan Alana. Aku akan bawakan apa yang kamu mau tidak sampai 5 menit.” Jawab Rayan tersenyum manis.
Alana menatap kesal pada Rayan kemudian berlalu dari dapur. Harusnya Rayan menyuruh menunggu padanya terlebih dulu, bukan pada Sechil.
“Kak aku bisa sendiri kok..” Sechil berkata sangat pelan setelah Alana berlalu. Sechil merasa sangat tidak enak hati pada Alana yang jelas sekali terlihat kesal sebelum berlalu dari dapur.
“Sudah nurut saja sama kakak.. Kamu tunggu saja dimeja makan sana.” Perintah Rayan yang kemudian meraih piring untuk menyiapkan makanan yang sudah dipanaskan oleh Sechil.
Sechil menghela napas pelan. Dirinya tidak bisa menolak jika Rayan sang kakak sudah berkata begitu lembut meski dengan nada memerintah.
__ADS_1
“Ya sudah.. Maaf ya kak, Sechil ngerepotin kakak..” katanya pelan kemudian berlalu menyusul Alana menuju meja makan.
Rayan tersenyum. Rayan merasa menemukan sisi lain dari seorang Sechil. Sisi yang meskipun tetap manja tapi terlihat manis dan lembut. Tidak urakan dan selalu ingin kemauan-nya segera dituruti.
Tidak menunggu lama, Rayan menyusul istri juga adiknya dimeja makan dengan 2 hidangan berbeda. Yaitu sepiring nasi lengkap dengan lauk dan sayur, dan sepiring lagi adalah roti tawar dengan setoples coklat Nutella yang di inginkan oleh Alana.
“Makasih kak..” Sechil tersenyum begitu Rayan meletakan makanan didepan-nya.
Sedang Alana, wanita itu terus saja mengerucutkan bibirnya merasa kesal karna merasa Rayan lebih mengutamakan Sechil ketimbang dirinya.
“Aku nggak jadi makan.” Katanya ketus membuat Rayan yang sedang mengoleskan coklat pada roti langsung menoleh padanya.
Rayan menatap Alana dengan kedua mata menyipit merasa sedikit kesal karna Alana terlihat sangat labil sekarang.
Rayan menghela napas. Meski merasa kesal, tapi Rayan mencoba untuk menahan-nya. Tingkah Alana sekarang mungkin adalah pengaruh dari kehamilan-nya.
“Kenapa hem?” Tanya Rayan meletakan sandwich coklat Nuttela yang baru saja selesai dia buat diatas piring.
Alana melipat kedua tanganya dibawah dada. Melihat Rayan yang begitu perhatian pada Sechil membuat Alana merasa sangat kesal bahkan mungkin bisa dikatakan Alana merasa cemburu. Terlebih Rayan menyodorkan makanan pada Sechil lebih dulu, bukan pada dirinya. Hal itu juga membuat Alana merasa Rayan menomor duakan dirinya dan mengutamakan Sechil.
“Yang lagi hamil anaknya dia kan aku, bukan Sechil.” Batin Alana melirik sebal pada Rayan yang terus menunggu jawaban atas pertanyaan-nya.
“Alana...” Panggil Rayan pelan.
Alana menghela napas. Tidak bisa menahan rasa laparnya, Alana kemudian mengambil sepiring roti yang belum diolesi coklat oleh Rayan. Alana juga meraih setoples Nutella kemudian meraih selembar roti tawar dan mengolesinya sendiri dengan coklat dalam diam. Setelah selesai mengolesi roti tersebut dengan coklat Alana langsung melahapnya tanpa berkata apapun pada Rayan.
Rayan yang melihat itu tersenyum diam diam. Rayan kemudian mengambil sandwich buatan-nya yang berada dipiring didepan Alana kemudian menyodorkan sandwich coklat tersebut pada Alana membuat Alana melirik menatap padanya.
“Biar aku suapin.” Senyum Rayan membalas tatapan Alana.
Alana diam sesaat. Tidak mau membuat Rayan tersinggung Alana pun menggigit sedikit sandwich yang Rayan sodorkan didepan-nya.
Sechil yang melihat itu tersenyum merasa lucu dengan tingkah keduanya yang meskipun romantis namun terlihat sedikit konyol menurut Sechil.
__ADS_1