
Keesokan harinya Caterine kembali ceria lagi saat berada dimeja makan. Wanita itu bahkan menyapa ramah pada Alana dan Rayan yang saat itu baru turun dari lantai 3.
“Sechil nggak turun lagi bi?” Tanya Alana pada bibi yang saat itu sedang menuangkan minuman digelas yang ada disamping piring Alana.
“Tadi saya sudah naik dan mengajaknya turun tapi nona Sechil tidak mau nyonya.” Jawab bibi.
“Biar mommy yang keatas.”
Rayan menoleh cepat pada Caterine yang tiba tiba memasang badan. Wanita itu bahkan terus tersenyum pada Rayan juga Alana.
“Mommy sudah menyadari semuanya Rayan. Dan mommy sadar mommy sudah sangat keterlaluan pada Sechil.” Katanya dengan ekspresi sendu.
Rayan dan Alana hanya diam saja. Meskipun merasa bingung dengan perubahan tiba tiba Caterine namun keduanya memilih untuk tidak berbicara apapun. Mereka bahkan tidak berkomentar apapun saat Caterine mengambil nasi, lauk, juga sayur serta segelas air putih dan membawanya berlalu dari meja makan menuju lift.
“Apa ini bukan mimpi?” Tanya Alana setelah Caterine berlalu.
Rayan tertawa pelan mendengarnya begitu juga bibi yang masih berada disitu. Memang cukup aneh kelihatanya mengingat Caterine yang sejak 2 minggu yang lalu terus mendiamkan Sechil tiba tiba kembali perduli begitu saja. Tapi Rayan tidak ingin berprasangka buruk. Sechil adalah putri kesayangan Caterine. Wajar menurutnya jika Caterine tidak bisa lama lama mendiamkan Sechil.
“Semoga saja mommy sudah benar benar bisa menerima kenyataan ini ya..”
Alana mengangguk setuju begitu juga dengan bibi. Mereka berdua setuju karna merasa tidak tega melihat Sechil yang kesepian dan merasa tidak diperdulikan oleh orang yang selama ini sangat menyayanginya.
Rayan dan Alana sarapan berdua saja tanpa Caterine yang memang sedang mengantar sarapan untuk Sechil. Mereka berdua makan dengan tenang tanpa obrolan apapun mengingat Rayan yang sudah hampir kesiangan pagi ini.
Setelah selesai sarapan, Alana mengantar Rayan sampai depan rumah. Satu kecupan lembut Rayan daratkan dikening Alana sebelum masuk kedalam mobilnya.
Alana melambaikan tanganya ketika mobil yang dikemudikan oleh pak Lim berlalu membawa Rayan keluar dari pekarangan luas rumahnya. Alana menghela napas. 2 Minggu tanpa gangguan dari Sechil dan Caterine membuat Alana merasa sangat nyaman berada dirumah itu.
“Ekhem !”
Suara dekheman Caterine membuat Alana mengeryit. Pelan pelan Alana memutar tubuhnya dan menemukan Caterine sudah berdiri diambang pintu dengan kedua tangan dilipat dibawah dada. Disana juga ada Sechil yang berdiri dengan tatapan sendunya.
“Sebentar lagi semuanya akan berubah Alana. Kamu bersiaplah untuk keluar dari rumah ini.” Ujar Caterine dengan sombongnya.
__ADS_1
Alana mengangkat kedua alisnya tidak mengerti dengan apa yang Caterine maksud. Namun menyaut juga tidak ada gunanya. Toh Caterine juga selalu akan merasa benar meski dirinya salah.
“Ayo Sechil.”
Sechil hanya diam saja saat Caterine menggandengnya berlalu. Tapi Sechil sempat tersenyum manis pada Alana yang bertambah bingung.
“Senyuman apa itu?” Gumam Alana bertanya tanya.
Tidak mau ambil pusing dengan apa yang Caterine katakan, Alana pun masuk kedalam rumah. Wanita itu yakin bisa mengatasi Caterine juga Sechil. Apa lagi ada bibi dan pelayan lain yang sudah Rayan tugaskan untuk terus melindunginya.
Dihari menjelang siang Alana memilih untuk bersantai ditaman belakang rumah sambil menikmati sepiring buah juga membaca majalah. Wanita itu duduk antara bunga bunga yang saat itu sedang bermekaran.
“Alana..”
Merasa ada yang memanggil Alana berpaling dari majalah yang sedang dibacanya. Alana mengerjapkan kedua matanya beberapa kali ketika mendapati Sechil sudah berdiri disamping kursi yang Alana duduki.
“Maksud aku.. Kak Alana..” Ulang Sechil kikuk.
Mengerti dengan tatapan bingung Alana, Sechilpun menundukan kepalanya. Gadis itu sadar perbuatanya selama ini pada Alana salah. Sechil membenci tanpa sebab. Sechil bahkan sempat berniat memisahkan Alana dengan Rayan, kakaknya sendiri.
“Aku mau minta maaf sama kakak.. Aku sadar apa yang aku lakukan selama ini salah..” Ujar Sechil pelan.
Alana menyipitkan kedua matanya. Alana kemudian menoleh menatap kearah pintu kaca. Alana merasa curiga dengan perminta maafan tiba tiba Sechil padanya.
“Kakak tenang aja, mommy lagi nggak dirumah kok. Aku minta mommy buat beli rujak supaya aku bisa menemui kakak dan meminta maaf atas semua kesalahan aku..” Lirih Sechil.
Alana menghela napas pelan. Caterine memang tidak terlihat ada disekitar mereka berdua.
“Duduk..” Perintah Alana sembari menggeser tubuhnya memberi tempat untuk Sechil duduk disampingnya.
Sechil menganggukan kepalanya kemudian segera mendudukan dirinya disamping Alana.
“Aku tidak pernah membenci kamu ataupun mommy. Aku hanya heran saja, dimana sebenarnya letak kesalahanku sehingga kalian berdua bisa begitu benci padaku.” Alana mulai berbicara mengutarakan isi hatinya pada Sechil.
__ADS_1
Sechil hanya diam mendengarkan. Apa yang terjadi padanya membuatnya sadar bahwa Alana dan Rayan memang menyayanginya.
“Tapi itu tidak masalah buat aku. Selama aku nggak berbuat kesalahan aku tidak akan mundur. Aku juga nyonya dirumah ini. Aku istri sah Rayan. Dan aku punya hak dirumah ini. Apapun yang akan kalian nanti lakukan aku tidak perduli. Aku akan tetap bertahan dirumah ini untuk Rayan.”
Sechil tersenyum. Dengan pelan Sechil mengangkat kepalanya menoleh menatap pada Alana yang duduk disampingnya.
“Kakak beruntung karna mempunyai kak Alana.” Puji Sechil menatap lurus kedepan.
Alana tersenyum.
“Bagaimana kandunganmu?” Tanya Alana tanpa menatap pada Sechil.
“Sudah lebih baik dari kemarin kak.” Jawab Sechil.
Alana menganggukan kepalanya. Alana ingin sekali bertanya tentang siapa ayah dari janin yang dikandung oleh Sechil sekarang tapi Alana merasa ragu. Alana takut Sechil akan kembali terpuruk dan rapuh seperti kemarin.
“Syukurlah..“ Senyum Alana tipis.
Sechil mengangguk lagi. Sechil melirik Alana yang kembali mulai fokus dengan majalah yang dipegangnya.
“Kak..”
“Ya...” Saut Alana pelan namun tatapan-nya terus tertuju pada majalah yang dipegangnya.
Sechil menelan ludahnya. Entah kenapa Sechil tiba tiba mengingat sosok Sakura yang pernah dia jahati. Sosok yang penyabar dan penuh dengan kelembutan. Sosok yang juga tidak pernah membalas apapun yang Sechil dan Caterine lakukan.
“Sechil !!” Seruan Caterine membuat Sechil tersentak. Sechil buru buru bangkit dari duduknya. Wajahnya terlihat sangat panik begitu melihat Caterine yang sudah berdiri diambang pintu kaca penghubung taman dengan menenteng plastik bening berisi rujak yang Sechil inginkan.
“Eemm.. Kak, aku ke mommy dulu. Terimakasih sudah mau mengobrol..” Katanya kemudian buru buru berlalu menghampiri Caterine.
Alana yang melihat itu hanya diam saja. Alana bahkan sama sekali tidak menoleh pada Sechil yang melangkah menghampiri Caterine yang menyerukan namanya.
Alana menghela napas kemudian menggelengkan kepalanya. Wanita itu kembali membaca majalah ditangan-nya tidak ingin terlalu memikirkan Sechil maupun Caterine.
__ADS_1