
Alana tersenyum saat mendapat ciuman lembut dari Rayan dikeningnya. Seperti biasanya, pagi ini Alana mengantarkan Rayan yang akan berangkat bekerja sampai depan rumahnya.
“Hati hati..” Senyum Alana.
Rayan menganggukan kepalanya kemudian masuk kedalam mobilnya dimana pak Lim sudah menunggu.
Sechil yang menatap dari balkon kamarnya tersenyum. Hubungan Rayan dan Alana begitu manis dan romantis. Mereka berdua terlihat selalu saling mendukung dan saling meyakini satu sama lain. Sechil ingin bisa seperti itu dengan Ramon. Saling mencintai dan melengkapi dalam keadaan apapun.
Ketika menatap mobil Rayan yang mulai keluar dari pekarangan rumah mewah berlantai 3 itu senyuman dibibir Sechil langsung sirna. Sechil melihat sosok Dion yang berdiri tidak jauh diseberang pintu gerbang. Sechil yakin Rayan pasti tidak melihatnya secara langsung tapi Rayan pasti akan melihatnya nanti lewat rekaman CCTV yang dipasang dipintu gerbang.
Sechil tiba tiba mengingat dirinya dan Caterine pernah mempunyai rencana dengan Dion. Tapi Sechil tidak tau lagi apakah rencana itu tetal berjalan atau tidak karna saat itu Sechil langsung ketahuan hamil.
“Apa mommy masih berhubungan sama dia?” Gumam Sechil penasaran.
Sechil tampak berpikir sejenak. Mereka pernah sepakat berencana akan memisahkan Rayan dan Alana. Sechil tau siapa Dion karna Dion pernah bercerita sedikit tentang masa lalunya bersama Alana pada Dirinya juga Caterine.
“Apa aku harus kasih tau kakak?” Sechil menghela napas pelan. Tatapan-nya terus tertuju pada Dion yang sama sekali tidak melakukan pergerakan apapun. Pria itu hanya berdiri disamping mobilnya sambil menatap kearah Alana yang sepertinya tidak menyadari kehadiran Dion saat itu.
Merasa khawatir sesuatu yang buruk menimpa hubungan Alana dan Rayan, Sechil pun segera berlalu dari balkon kamarnya. Sechil berpikir mungkin dengan membantu Alana dan Rayan tetap bersama bisa membayar dosa yang telah dia lakukan dulu.
“Mau kemana?”
Sechil yang sudah menyentuh handle pintu kamarnya langsung menoleh. Sechil menatap Ramon yang sudah rapi dengan ransel dipunggungnya.
“Didepan ada mantan pacar kak Alana. Dia oang jahat, aku harus menegurnya.”
Kedua mata Ramon langsung membulat. Pria itu melangkah cepat menghampiri Sechil yang masih berdiri ditempatnya.
“Apa maksud kamu?” Tanya Ramon yang langsung dihinggapi kekhawatiran.
__ADS_1
“Aku mengenalnya. Namanya Dion. Dia masih mencintai kak Alana dan berniat merebut kembali kak Alana dari kakak. Aku tidak mau itu terjadi. Kak Alana hanya boleh menjadi kakak ku.”
Ramon menggeleng tidak mengerti dengan apa yang Sechil katakan sekarang. Tapi Ramon paham dengan kata “Jahat” juga “Mantan pacar Alana”.
“Jangan macam macam Sechil. Kak Rayan orang yang pintar. Kak Rayan pasti bisa mengatasinya. Kamu sedang hamil sekarang.”
Sechil menatap Ramon dalam diam.
“Aku hanya ingin menebus kesalahanku dimasa lalu pada kak Alana. Mungkin dengan membantunya tetap bersama kakak adalah satu satunya cara.” Sechil terus merasa yakin dengan apa yang akan dilakukan-nya.
“Jadilah adik yang baik. Itu sudah sangat cukup menebus kesalahan kamu yang dulu.” Balas Ramon cepat.
“Tapi Dion..”
“Kak Rayan punya banyak orang kepercayaan dibelakangnya. Cukup beritahu saja semuanya nanti tentang kedatangan Dion. Oke?” Sela Ramon dengan sangat lembut.
“Calon ibu yang pintar. Ayo kita kedepan.” Senyum Ramon meraih tangan Sechil, menggandengnya mesra mengajak Sechil keluar dari kamar mereka.
Setelah mengantar Ramon yang hendak berangkat kuliah juga bekerja, Sechil kembali masuk kedalam rumah. Sechil langsung mencari Alana yang saat itu sedang menghirup udara segar ditaman belakang rumah pagi itu.
“Kakak...”
Suara Sechil membuat Alana menoleh. Wanita itu tersenyum dan langsung menepuk pelan tempat disampingnya menyuruh untuk Sechil duduk disampingnya.
“Ada apa?” Tanya Alana setelah Sechil duduk disampingnya.
Sechil menghela napas pelan. Sechil pernah mendengar sepenggal kisah tentang masa lalu Alana dan Dion dari mulut Dion sendiri.
“Kak tadi aku lihat Dion tidak jauh dari gerbang. Sepertinya dia sedang mengawasi kakak dan kak Rayan.”
__ADS_1
Alana mengeryit. Dion sudah lama tidak muncul. Alana pikir Dion sudah menyerah dan putus asa dalam berusaha menghancurkan hubungan-nya dan Rayan.
“Kalau aku boleh tau kak, bagaimana hubungan kakak dengan Dion dulu? Kenapa sepertinya Dion tidak rela kehilangan kakak. Dion bahkan masih berusaha mendapatkan kakak padahal sudah tau kakak adalah milik kak Rayan. Apa dulu Dion sangat mencintai kakak?”
Alana tersenyum tipis mendengar pertanyaan panjang lebar Sechil. Dulu Alana memang percaya Dion mencintainya. Tapi setelah mendapat undangan pernikahan dari Dion yang dititipkan pada ibunya seketika rasa percaya itu hilang. Alana kecewa bahkan sakit hati.
“Aku tidak mau membahas apapun tentang masa lalu.” Jawab Alana singkat.
Sechil mengangguk mengerti. Masa lalu memang tidak seharusnya diungkit. Apa lagi jika masa lalu itu menyisakan luka yang membuat kecewa.
”Oke, aku mengerti kak.” Senyum Sechil menganggukkan kepalanya menerima jawaban penolakan halus dari Alana.
Hening. Sechil memikirkan kembali apa yang akan dikatakan-nya pada Alana. Dan tiba tiba Sechil kembali memikirkan tentang Ramon yang tidak pernah menyentuhnya.
“Kak, boleh aku tau kenapa kakak bisa jatuh cinta sama kak Rayan dulu? Kalian selalu terlihat kompak dan saling mendukung satu sama lain.”
Alana tersenyum lagi. Mencintai Rayan adalah sesuatu yang Alana anggap mustahil dulu. Karna selain selalu memaksakan kehendak, Rayan juga selalu melakukan hal semaunya sendiri tanpa sedikitpun memikirkan perasaan Alana.
“Aku tidak tau. Tapi aku selalu yakin bahwa Rayan memang adalah jodohku. Rayan laki laki yang baik.” Senyum Alana menjawab.
Sechil tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Wanita itu kemudian menundukkan kepalanya menatap perutnya yang mulai terlihat. Sechil tiba tiba berpikir andai dirinya hamil dengan Ramon mungkin Ramon juga akan sangat menyayanginya. Ramon akan menyentuhnya dengan penuh cinta. Ramon juga tidak akan menjaga jarak dengan-nya. Ramon tidak akan sering tidur disofa.
“Ramon juga laki laki yang baik. Kamu beruntung dicintai oleh laki laki seperti Ramon.”
Sechil tersenyum miris. Ramon memang selalu mengatakan cinta padanya. Ramon selalu memujinya dan memperlakukan-nya dengan penuh kelembutan.
“Ya kak...” Angguk Sechil menahan mati matian rasa ingin mencurahkan segala isi hatinya pada Alana. Sechil sadar tidak seharusnya masalah dalam rumah tangganya diberitahukan kepada orang lain meskipun itu adalah kakaknya sendiri, baik Rayan maupun Alana.
Alana melirik Sechil diam diam. Alana menebak Sechil seperti sedang ingin mengatakan sesuatu padanya tapi Sechil berusaha untuk memendamnya. Alana tersenyum tipis. Alana perduli pada Sechil tapi Alana tidak mau bertanya yang akan membuat Sechil merasa malu padanya karna merasa belum siap mengutarakan apa yang dipikirkan-nya.
__ADS_1