
Rayan mengajak dokter paruh baya makan siang bersama disebuah restoran yang cukup mewah siang itu. Mereka berdua mengobrol hangat yang diselingi tawa seperti dua orang yang sudah lama saling mengenal.
“Ekhem.. Jadi ada masalah apa dengan kondisi mommy saya dok?” Tanya Rayan setelah menyelesaikan makan siangnya.
Dokter baya itu menghela napas. Dokter Frans begitu biasa orang memanggilnya.
“Begini tuan, saya sebenarnya belum memeriksanya secara mendetail. Tapi melihat dari gelagat dan tatapan kosong nyonya Caterine sepertinya anda perlu memeriksakan-nya lebih lanjut ke ahlinya.” Jawab dokter Frans.
Rayan diam. Gelagat Caterine memang terlihat aneh dan janggal.
“Saya hanya bisa menyarankan tuan. Karna saya pikir itu akan lebih baik untuk nyonya Caterine.” Lanjut dokter Frans.
“Maksud dokter mommy saya gila?” Tanya Rayan mengerti kemana arah pembicaraan dokter Frans.
“Semoga saja belum sampai ketahap itu tuan.” Jawab dokter Frans tersenyum.
Rayan menelan ludahnya. Jika memang Caterine mulai terganggu kejiwaan-nya, itu akan sangat membahayakan Alana juga Sari. Apa lagi mengingat ucapan-nya tentang Alana dan Sari tadi pada Rayan.
“Sebaiknya segera ditindak lanjuti tuan sebelum terlambat.” Kata dokter Frans lagi.
Rayan menganggukan kepalanya mengerti. Mungkin memang Caterine harus diperiksa secara intensif agar kondisinya bisa segera ditangani. Karena jika Caterine sampai mengalami kegilaan serius itu akan membuat heboh mengingat siapa Rayan. Disamping itu Rayan juga tidak akan tega melihat Caterine menjadi gila dan berbaur dengan orang orang dengan kondisi yang sama dengan-nya.
Setelah berbicara empat mata dengan dokter Frans, Rayan langsung menuju rumah kontrakan Sechil dan Ramon untuk membicarakan tentang Caterine yang mulai mengkhawatirkan.
Sechil yang saat itu sedang sibuk membereskan dapurnya yang berantakan langsung mengesampingkan aktivitasnya itu karena kedatangan Rayan. Sechil juga tidak lupa membuatkan teh hangat untuk Rayan.
“Minumnya kak..” Senyum Sechil sembari meletakan secangkir teh hangat untuk Rayan.
Rayan tersenyum tipis. Kehidupan adiknya benar benar sangat sederhana namun terlihat sangat damai sekarang. Sechil tidak lagi manja padanya dan bisa dengan sopan menjamu tamu yang bertandang kerumahnya.
“Kamu sudah makan?” Tanya Rayan penuh perhatian.
__ADS_1
“Sudah kak. Hari ini aku masak cah kangkung sama ayam goreng. Kakak mau makan?”
Rayan menggelengkan kepalanya menolak. Rayan kemudian meletakan bingkisan yang dibawanya diatas meja dan mendorongnya pelan pada Sechil.
“Ramon bilang kamu sedang menyukai makanan pedas. Tadi aku membeli telor gulung dijalan. Aku pesan yang pedas untuk kamu..” Katanya.
Sechil tertawa mendengarnya. Sechil meraih bingkisan tersebut kemudian membukanya. Sechil menggeleng takjub melihat banyaknya tusuk telur gulung didalamnya. Dan dari warna orange kemerahan makanan itu Sechil yakin rasanya pasti sangat pedas.
“Makasih banget kak.. Aku memang tadi mau menelpon Ramon untuk meminta dibelikan telur gulung.” Senyumnya Sechil sambil meraih satu tusuk telur gulung itu kemudian memakan-nya.
Rayan hanya tertawa menanggapinya. Rayan kemudian menghela napas. Rayan tidak tau harus mengatakan pada siapa lagi selain pada Sechil. Karna bagaimanapun juga Sechil berhak tau apa yang terjadi pada Caterine.
“Sebenarnya ada yang ingin kakak bicarakan Sechil. Ini tentang mommy..”
Sechil berhenti mengunyah telur gulung pedas dalam mulutnya begitu mendengar apa yang Rayan katakan. Sechil menelan makanan dalam mulutnya dengan pelan dan menatap Rayan dengan tatapan tidak mengerti. Sechil memang sudah lama tidak mengunjungi Caterine dipenjara.
“Mommy? Apa yang terjadi sama mommy kak? Mommy baik baik saja kan? Mommy nggak papa kan?”
Rayan diam. Rayan tau Sechil sangat menyayangi Caterine, sama seperti dirinya. Meskipun memang apa yang Caterine lakukan sudah sangat keterlaluan tapi Rayan tetap tidak bisa memungkiri bahwa Caterine tetap wanita yang pernah sangat berjasa dalam hidupnya. Caterine yang melahirkan-nya ke dunia ini.
“Kak, kenapa diem? Mommy kenapa?” Kali ini suara Sechil mulai bergetar. Kedua matanya mulai meneteskan tetesan bening yang meluncur dengan bebas dikedua pipinya.
Rayan yang melihat itu menghela napas. Rayan mengangkat tangan kanan-nya mengusap lembut air mata yang membasahi pipi Sechil dengan ibu jarinya.
“Jangan panik dulu.. Mommy baik baik saja. Hanya sepertinya mommy perlu pemeriksaan lebih lanjut.” Ujar Rayan dengan suara pelan dan lembut.
Sechil menelan ludahnya. Sechil menunggu apa yang akan Rayan katakan lagi tentang Caterine setelah itu.
“Mommy mulai sedikit memperlihatkan gelagat aneh. Mommy beberapa kali berbicara sendiri bahkan tertawa sendiri juga. Dokter Frans yang menangani mommy juga menyadari itu dan menyarankan agar mommy diperiksa kejiwaan-nya.” Lanjut Rayan menjelaskan.
Sechil menggelengkan kepalanya tidak menyangka dengan apa yang terjadi pada Caterine.
__ADS_1
“Besok kakak jemput kamu ya.. Kita sama sama antar mommy untuk diperiksa pada dokter kejiwaan.” Senyum Rayan terus berusaha untuk tenang.
Air mata Sechil menetes lagi dan Rayan dengan lembut kembali menghapusnya. Rayan tau adiknya meskipun terlihat selalu bahagia dan tersenyum namun memiliki beban yang cukup berat karna permasalahan-nya sendiri.
“Jangan menangis. Percaya sama kakak, ini semua pasti hanya dugaan saja. Mommy baik baik saja.” Rayan mencoba meyakinkan Sechil bahwa semuanya akan baik baik saja.
“Ya kak.. Mommy harus baik baik saja.” Angguk Sechil menyetujui apa yang Rayan katakan.
Rayan tersenyum lebar. Rayan kemudian memeluk Sechil erat. Meskipun pada kenyataan-nya Sechil tidak satu ayah dengan-nya tapi Rayan sangat menyayanginya. Karna Sechil adalah adik Rayan satu satunya.
“Sechil, sepertinya sudah lama kita tidak jalan jalan berdua. Kamu sedang tidak sibuk kan? Bagaimana kalau sekarang kita jalan jalan?”
Sechil melepaskan pelukan Rayan. Sechil tertawa, dulu Rayan memang sering mengajaknya jalan jalan berdua. Meski sikap Sechil sangat buruk namun Rayan tetap memakluminya bahkan memanjakan-nya.
“Ya, kakak memang selalu sibuk pacaran dengan kak Alana sehingga lupa mengajak adik cantiknya ini jalan jalan.” Canda Sechil yang membuat Rayan tertawa.
“Ya sudah sekarang lebih baik kamu siap siap. Kakak akan ajak kamu jalan jalan sore ini. Jangan lupa beritahu Ramon supaya dia tidak khawatir.” Ujar Rayan mencubit pelan pipi chuby Sechil.
Sechil meringis namun tidak protes. Sechil kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah masuk kedalam kamar untuk bersiap siap. Sechil juga tidak lupa memberitahu Ramon seperti apa yang Rayan perintahkan.
Dan sore itu Rayan mengajak Sechil jalan jalan berdua. Sechil kembali menjelma menjadi adik Rayan yang manja. Sechil bahkan tidak sungkan merengek meminta dibelikan ini dan itu pada Rayan yang tentu saja langsung dituruti oleh Rayan tanpa syarat apapun.
“Kak, apa kak Alana tau kita sedang jalan jalan sekarang?” Tanya Sechil sambil menikmati coklat ditangan-nya.
“Tidak, memangnya kenapa?”
Sechil berdecak.
“Kak Alana pasti akan marah nanti sama kakak karna kakak pulang terlambat.”
Rayan tertawa mendengarnya.
__ADS_1
“Tidak akan. Istri kakak adalah wanita paling baik didunia ini yang pernah kakak miliki. Dia akan selalu mengerti dan memahami kakak.” Ujar Rayan bangga.