Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 71


__ADS_3

“Mommy lihat tadi? kakak sangat memanjakan Alana. Kakak bahkan sepertinya sengaja mengabaikan kita berdua. Ini sudah sangat keterlaluan mom.. Alana harus segera kita singkirkan dari rumah ini.”


Sechil terus mengomel sambil mondar mandir didalam kamarnya bersama Caterine. Gadis itu sangat tidak terima dengan sikap Rayan yang mengabaikan-nya dan Caterine saat dimeja makan tadi.


“Kamu bisa tenang tidak Sechil?”


Sechil berhenti mondar mandir kemudian menoleh menatap Caterine yang terlihat sangat tenang duduk ditepi ranjang.


“Tenang? Aku tenang?” Sechil menggeleng menatap tidak percaya pada Caterine.


“Bagaimana mungkin aku bisa tenang setelah apa yang terjadi sama aku mom? Kakak begitu nurut sama Alana. Kalau begini terus terusan kita nggak akan bisa mendapatkan apa apa mom..”


Caterine berdecak kemudian bangkit dari duduknya. Dengan pelan wanita itu mendekat pada Sechil kemudian mengusap bahu putri bungsunya mencoba menyalurkan ketenangan padanya.


“Mommy sudah punya patner untuk kita memisahkan Rayan dan Alana. Kamu nggak perlu begitu gelisah.”


Sechil mengeryit.


“Patner? Siapa?” Tanya Sechil penasaran.


Caterine tersenyum penuh arti. Dengan sangat pelan Caterine merapikan anak rambut pirang Sechil yang sedikit berantakan.


“Namanya Dion. Dia adalah mantan kekasih Alana. Dia masih sangat mengharapkan Alana kembali dan bersedia bekerja sama dengan kita untuk memisahkan Rayan dan Alana.”


Sechil tersenyum mendengarnya meski masih sedikit merasa ragu.


“Mommy seriuskan?” Tanyanya lagi.


“Tentu saja. Memangnya kapan mommy pernah main main? Semua ini harus menjadi milik kita berdua.” Senyum Caterine licik.


Sechil langsung berhambur memeluk Caterine saking bahagianya. Gadis itu merasa sangat senang mendengar apa yang dikatakan oleh mommy-nya.


“Sekarang tinggal urusan kamu Sechil.”


Sechil yang sebelumnya tertawa langsung diam. Sechil melepaskan pelukan tanpa balasan-nya pada Caterine.


“Urusan aku? Maksud mommy apa?” Tanya Sechil bingung.


Caterine menatap Sechil dengan kedua mata menyipit merasa kesal. Putrinya pura pura lupa dengan apa yang Rayan adukan padanya.


“Apa perlu mommy ulangi apa yang kakak kamu katakan? Pesta di klub? Gonta ganti pasangan? kemudian minum alkohol?”


Sechil menghela napas dan berdecak. Gadis itu kemudian berjalan menuju ranjang dan membanting tubuh rampingnya disana dengan posisi tengkurap.


“Ayolah.. Itu hal biasa. Kenapa harus diributkan. Mommy juga tau aku biasa seperti itu di amerika kan?” Sechil berkata dengan sangat enteng.

__ADS_1


Caterine menggelengkan kepalanya.


“Sechil, mommy sudah pernah bilang sama kamu untuk merubah kebiasaan itu. Itu tidak baik Sechil. Kamu tau kan akibat dari gonta ganti pasangan? kamu mau penyakitan?”


Sechil membenamkan wajahnya kekasur enggan mendengarkan apa yang dikatakan oleh sang mommy.


Caterine mendekat kemudian menarik tangan Sechil membuat gadis itu mau tidak mau bangun dari tiduran tengkurapnya.


“Mom.. ini sakit..” Protes Sechil karna cekalan Caterine yang terlalu keras dipergelangan tangan-nya.


Caterine langsung melepaskan cekalan tanganya saat Sechil mengeluhkan sakit. Menyesal sedikit dirasakan oleh Caterine karna sudah menyakiti putrinya sendiri tanpa sadar.


“Sechil dengar mommy.. Kamu harus bisa menjadi wanita yang sukses. Jangan seperti mommy..”


Sechil menatap bingung pada Caterine.


“Apa maksud mommy?”


Caterine diam. Tidak mungkin rasanya jika Caterine jujur pada Sechil bahwa dirinya menyesal pernah menduakan Ricard, daddy Rayan. Penghianatan-nya pada Ricard membuat hidup Caterine berubah total.


Caterine bingung harus menjawab apa sekarang.


“Mom..”


“Mom tapi..”


Deringan hp milik Caterine membuat ucapan Sechil berhenti. Gadis itu berdecak saat Caterine melangkah menuju nakas meraih hp miliknya.


“Sstt.. Dion menelpon.” Bisik Caterine pada Sechil.


Wajah kesal Sechil langsung berubah penuh rasa penasaran. Gadis itu buru buru mendekat pada Caterine untuk mendengar apa yang ingin dibicarakan Dion lewat sambungan telpon.


“Halo..”


“Nyonya Caterine..”


“Eemmm.. Kamu bisa panggil saja saya tante. Biar lebih akrab.” Sela Caterine melirik Sechil yang berdiri disampingnya dengan penuh rasa penasaran.


“Baiklah, Tante, bisa kita bertemu sekarang? Saya sudah berada disekitar kompleks perumahan Rayan. Saya tidak bisa berada didekat rumah Rayan. Penjagaan disana sangat ketat.” Ujar Dion.


“Tentu saja. Tunggu saya disana.” Balas Caterine mantap.


Caterine kemudian segera memutuskan sambungan telpon-nya. Wanita itu tersenyum pada Sechil yang sama sekali tidak mendengar obrolan Caterine dengan Dion.


“Apa katanya?” Tanya Sechil penasaran.

__ADS_1


“Ikut mommy sekarang.” Caterine meraih pergelangan tangan Sechil kemudian menariknya keluar dari kamar untuk bertemu dengan Dion yang sudah menunggunya disekitar kompleks perumahan Rayan.


Tanpa Sechil dan Caterine sadari, Robin mendengar semuanya. Pria tinggi kekar itu memang sudah memasang alat penyadap dikamar Caterine juga Sechil agar mempermudah tugasnya mengawasi mereka berdua. Robin tersenyum kemudian segera bergerak untuk mengikuti Caterine juga Sechil yang keluar tanpa sepengetahuan Rayan juga Alana.


Sementara Caterine dan Sechil, mereka berdua keluar dari gerbang rumah mewah Rayan dengan santai. Mereka tidak tau jika Robin mengetahui semuanya dan bermaksud mengikutinya.


“Loh, mas Robin..”


“Pak, kalau tuan tanya saya kemana bilang saja saya sedang bertugas.” Sela Robin saat satpam penjaga gerbang hendak bertanya.


“Ah iya mas..” Jawab satpam itu sedikit bingung.


“Saya keluar pak.” Robin menepuk pelan bahu satpam itu kemudian melangkah cepat mengikuti Caterine dan Sechil yang sedikit berlari menjauh dari rumah mewah Rayan.


-------


“Jadi Dion kemana Michelle?” Agatha bertanya dengan tatapan serius pada Michelle yang terlihat kebingungan. Michelle tidak menyangka mamah mertuanya akan datang secara tiba tiba.


“Eemm.. Aku nggak tau mah... Dion belum pulang. Mungkin dia lembur.” Jawab Michelle sekenanya.


Agatha menghela napas frustasi. Dion sama sekali tidak takut dengan ancaman-nya. Dion masih bersikap tidak perduli pada Michelle yang jelas jelas sedang mengandung anaknya.


“Pasti ini karna Alana lagi..” Gumam Agatha yang bisa dengan jelas didengar oleh Michelle.


“Alana?” Tanya Michelle menatap bingung pada Agatha.


Agatha menoleh pada Michelle yang duduk disampingnya. Wanita itu kemudian meraih tangan Michelle dan menggenggamnya lembut.


“Mamah sudah bilang sama Dion untuk tidak memperdulikan Alana sayang.. Tapi sepertinya itu tidak mudah. Dion sudah terpengaruh oleh wanita murahan itu.” Kata Agatha menatap melas pada Michelle.


Michelle menggelengkan kepalanya. Michelle tau bagaimana dan siapa Alana. Alana tidak pernah mempengaruhi Dion. Dari awal Dion yang tergila gila pada Alana dan mengejarnya dengan sangat gencar. Dion bahkan tidak perduli saat Alana menolaknya beberapa kali dulu dan terus gencar mengejar sampai akhirnya Alana luluh.


“Mah.. Aku tau bagaimana Alana. Dan juga rasanya tidak mungkin Alana mempengaruhi Dion. Alana sudah menikah dengan Tuan Rayan. Dia sudah bahagia dan tidak mungkin mau dengan Dion.”


Agatha terlihat kaget. Michelle membela Alana.


“Kamu memang wanita yang baik Michelle. Sudah ditikung tapi masih saja membaik baiki dia.”


Michelle semakin bingung. Dari dulu memang Agatha tidak menyukai Alana. Tapi Michelle tidak menyangka jika Agatha bahkan sampai sekarang masih saja menyalahkan Alana.


“Mah.. Alana sangat baik. Jangan menyalahkan dia.”


Agatha tersenyum. Dengan lembut Agatha mengusap kedua bahu Michelle.


“Mamah akan pastikan Dion hanya akan mencintai kamu sayang.” Katanya enggan mendengarkan apa yang Michelle katakan.

__ADS_1


__ADS_2