
Rayan sangat terpukul setelah mendengar pengakuan Sechil. Pria itu sampai melempar dan membanting barang apa saja yang ada didekatnya untuk melampiaskan rasa kesal dan amarahnya. Ruangan-nya sangat berantakan dengan pecahan vas bunga, pecahan guci kecil, lembaran kertas yang berserakan, juga pecahan kaca yang siap menusuk siapa saja yang sembarangan melaluinya. Sementara Rayan, pria itu terluka dibagian tangan membuat darah segar mengalir di telapak dan punggung kedua tangan-nya. Namun karna emosi yang meluap luap Rayan sama sekali tidak perduli dengan lukanya. Bahkan sepertinya Rayan tidak merasakan-nya. Hatinya lebih sakit dari lukanya saat itu.
Setelah puas melampiaskan amarahnya, Rayan pun keluar dari ruangan kerjanya. Pria itu langsung menuju lift untuk naik ke lantai 3 dimana kamar mereka berada. Rayan merasa membutuhkan pelukan nyaman Alana sekarang untuk menenangkan hati juga pikiran-nya.
Begitu sampai dikamarnya, Rayan menemukan Alana yang sudah terlelap diatas ranjang king size mereka sore itu. Rayan langsung mendekat kemudian naik keatas ranjang dan menyelusup masuk kebagian dada Alana. Kedua tanganya memeluk erat pinggang Alana dan tangisan-nya kembali pecah tatakala rasa hangat dan nyaman Rayan rasakan disana.
Alana yang terganggu dengan apa yang Rayan lakukan langsung terbangun. Alana mengeryit ketika merasa bajunya terasa basah.
“Rayan..” Lirih Alana dengan suara purau.
Rayan terus saja diam dalam posisi itu membuat Alana tidak bisa bergerak. Air mata Rayan semakin deras menetes membuat Alana bingung karna tiba tiba suami tangguhnya menangis dan memeluknya.
“Ada apa?” Tanya Alana pelan. Sejujurnya Alana sangat terkejut. Rayan bisa menangis seperti itu tanpa Alana tau kenapa.
Rayan mengangkat kepalanya kemudian mendongak menatap Alana yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada suaminya itu.
Dengan lembut Alana mengusap bagian mata suaminya mengeringkan air mata yang terus saja menetes dan menggenangi kedua kelopak mata Rayan.
“Alana..” Panggilnya dengan suara lirih.
Alana menatap penuh perhatian pada Rayan. Alana tau Rayan sedang sangat membutuhkan perhatian penuh darinya.
“Maukah kamu merangkap lagi status baru untukku?” Tanya Rayan membuat Alana mengeryit.
“Apa maksud kamu Rayan? Dan kenapa kamu menangis? Apa yang terjadi?”
__ADS_1
Air mata Rayan kembali menetes.
“Aku mau kamu juga bisa memposisikan diri sebagai mommy untukku.”
Alana hanya diam. Alana bisa menebak, kesedihan Rayan pasti ada kaitan-nya dengan Caterine.
“Mommy.. Dia tidak menyayangiku.. Dia hanya ingin memiliki harta yang aku punya Alana.. Aku tidak mau punya mommy seperti itu..”
Alana menelan ludahnya. Alana tidak heran jika Caterine mempunyai niat seperti itu. Dari sikap licik dan penuh sandiwaranya saja Alana sudah bisa mengerti. Caterine tidak pernah bisa dengan tulus menyayangi Rayan sebagai anak kandungnya.
“Apa yang harus aku lakukan jika aku mau merangkap status itu?” Tanya Alana sambil mengusap kembali air mata Rayan.
“Tolong sayangi aku dengan tulus. Tak apa jika kamu mengaturku untuk ini itu, asal aku bisa merasakan kasih sayang seorang ibu aku tidak keberatan Alana..”
Ucapan Rayan langsung menusuk kedalam relung hati Alana. Alana ikut merasakan sakit itu. Rayan sangat merindukan kasih sayang tulus seorang ibu yang tidak pernah Rayan dapatkan dari Caterine, ibu kandungnya sendiri.
Rayan langsung membenamkan kembali wajahnya kedada Alana mencari kembali kenyamanan disana. Rayan tidak akan lagi berharap kasih sayang pada Caterine yang jelas jelas tidak pernah bisa menyayanginya selama ini.
Alana memejamkan kedua matanya. Hidupnya jauh lebih beruntung dari Rayan yang meskipun hidup bergelimang harta tetapi tidak pernah mendapat kasih sayang dari ibu kandungnya sendiri. Sedang Alana, dia dibesarkan oleh istri pertama dari ayahnya yang dengan besar hati mau menerima dan menyayanginya sebagaimana anak sendiri. Alana tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang meski tidak pernah melihat sendiri secara langsung sosok wanita yang melahirkan-nya.
“Istirahatlah.. Pejamkan mata dan tenangkan pikiranmu. Aku akan selalu menyayangimu Rayan.” Bisik Alana sambil membelai lembut kepala bagian belakang Rayan.
Ucapan Alana seperti menghipnotis Rayan karna perlahan Rayan memejamkan kedua matanya hingga akhirnya terlelap dengan tenang.
Setelah Rayan benar benar terlelap, Alana pelan pelan memindahkan kepala Rayan diatas bantal. Alana meneteskan air matanya melihat wajah tampan suaminya yang begitu malang. Rayan hanya dimanfaatkan oleh ibu kandungnya sendiri.
__ADS_1
Ketika hendak turun dari ranjang Alana mencium bau anyir darah. Alana mengedarkan pandangan-nya dan terkejut saat mendapati kedua tangan Rayan terluka dan mengeluarkan banyak darah. Darah Rayan bahkan sampai mengotori dress yang dikenakan Alana juga seprei putih bersih yang melapisi kasur empuk mereka.
Tidak tega melihatnya Alana pun segera mengambil kotak P3K. Alana segera membersihkan darah yang mulai mengering ditangan Rayan kemudian segera mengobati dan membalutnya dengan kain kasa. Alana terus meneteskan air matanya saat membalut luka ditangan Rayan mengingat nasib suaminya yang begitu malang karna tidak bisa mendapatkan kasih sayang yang tulus dari ibu yang melahirkan-nya.
---------
Setelah mengetahui semua yang Caterine rencanakan, Rayan menjadi begitu dingin pada ibu kandungnya itu. Rayan bahkan seperti enggan menatap Caterine yang terus saja mencoba mencari muka didepanya.
“Bagaimana tangan kamu bisa terluka seperti ini Rayan? ya tuhan..” Caterine pura pura perhatian pada Rayan yang sedang diganti perban-nya oleh Alana. Wanita itu mendekat pada Rayan dan Alana yang duduk dikursi taman belakang rumah mewahnya.
Rayan melengos. Rayan berusaha menguatkan hatinya untuk tidak perduli pada Caterine. Rayan merasa sangat kecewa pada Caterine yang sedang berusaha menguasai hartanya.
“Pelan pelan Alana.. Itu pasti sangat sakit..” Titah Caterine pada Alana.
Alana hanya tersenyum saja. Alana tidak menyangka ada wanita seperti Caterine yang lebih mementingkan harta dari pada perasaan anaknya sendiri.
“Lain kali hati hati nak..” Caterine menyentuh lembut bahu tegap Rayan namun segera di tepis oleh Rayan.
“Ya mom.. Aku memang harus sangat berhati hati sekarang.” Balas Rayan tanpa menoleh pada Caterine yang ada disamping kanan-nya.
Setelah Alana selesai mengganti perban yang membalut luka ditangan-nya, Rayan mengajak Alana untuk masuk kedalam rumah tanpa sedikitpun menganggap Caterine yang ada disebelah kanan-nya. Pengorbanan dan perjuangan Caterine memang sangat besar untuk Rayan, tapi luka yang Caterine goreskan dihati Rayan sejak Rayan kecil sampai dewasa seperti sekarang juga tidak kalah besarnya.
“Rayan apa kamu ok?” Tanya Alana saat mereka hendak masuk kedalam lift.
“Tentu saja. Aku sangat baik Alana selama kamu selalu ada disampingku.” Senyum Rayan menjawab.
__ADS_1
Alana mengangguk mengerti. Mereka kemudian masuk kedalam lift untuk sama sama beristirahat siang. Kebetulan hari ini Rayan tidak berangkat kekantor karna Alana yang melarangnya.
“Nanti malam, dandan yang cantik ya. Kita temani Sechil bertemu dengan Ramon.”