Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 124


__ADS_3

Kabar perusahaan Dion yang ludes dilalap sijago merah langsung tersebar luas bahkan sampai kepelosok daerah. Kabar itu juga langsung sampai pada Sari, ibu Alana. Sari yang merasa kasihan melihat Dion yang sangat frustasi hanya bisa bergumam mendo'akan yang terbaik karna bagaimanapun juga Dion pernah membuat Alana bahagia meski berakhir dengan luka.


Sari menghela napas. Alana belum menelpon-nya beberapa hari ini. Dan Sari menebak mungkin Alana juga belum tau tentang musibah yang menimpa Dion, mantan kekasihnya.


Sari meraih hp miliknya kemudian mencoba menghubungi Alana. Satu bahkan sampai beberapa kali namun tetap tidak mendapat jawaban. Sari yang tidak mau mengganggu pun akhirnya memutuskan untuk berhenti menelpon Alana. Mungkin Alana sedang tidak memegang hp nya, begitu pikir Sari.


Sari kembali menatap layar TV nya. Disana Dion tampak menangis frustasi dengan Agatha yang terus mencoba menguatkan. Agatha memeluk dan menciumi wajah tampan putranya berusaha meyakinkan bahwa dirinya selalu ada untuk Dion. Namun sepertinya kehadiran Agatha sama sekali tidak berpengaruh. Dion terus saja menangis meraung seperti orang gila. Dari situ Sari dapat menyimpulkan bahwa Dion adalah pria lemah pecinta harta yang hanya memikirkan kebahagiaan sesaat saja.


“Kasihan kamu Dion.. Semoga kamu bisa menerima semua kenyataan ini. Harta itu hanya titipan dari tuhan.” Gumam Sari dengan helaan napas pelan.


Sari teringat kembali saat Alana mengenalkan Dion pertama kali padanya. Saat itu dengan kedua pipi merona Alana mengatakan bahwa Dion adalah kekasihnya. Yang membuat Sari sempat khawatir saat Rayan menikahi Alana adalah karna Alana sudah merencanakan masa depan bersama Dion. Tapi tidak lama kemudian Dion datang dan memberikan undangan pernikahan pada Sari dengan alasan yang menurut Sari adalah alasan yang tidak bisa diterima oleh logika. Dion menikah dengan Michelle yang Sari sendiri juga tau Michelle adalah sahabat Alana dan Dion.


Sari tersenyum. Pertemuan Alana dan Rayan mungkin adalah petunjuk dari tuhan agar Alana bisa hidup lebih baik.


“Alana.. Meski kamu tidak lahir dari rahim ibu tapi kamu adalah anak kandung ayah kamu.. Pria yang sangat ibu cintai. Kamu adalah amanah terbesar dari tuhan juga mendiang ayah kamu untuk ibu.. Ibu akan terus memastikan kamu bahagia nak.. Ibu menyayangimu..”


------


“Apa nyonya belum tau kabar tentang tuan Dion?” Alana mengeryit ketika mendengar pertanyaan Fina. Alana tidak tau menau juga tidak ingin tau tentang Dion.


“Memangnya ada kabar apa?” Tanya Alana bingung.


“Gedung perusahaan tuan Dion kebakaran nyonya. Dan beritanya mengatakan bahwa pelakunya tidak lain adalah satpam pekerja diperusahaan tuan sendiri.” Jawab Fina yang memang sudah menonton berita yang sedang hangat di TV.


Alana menganggukkan kepalanya. Apapun yang terjadi pada Dion bukan lagi urusan-nya sekarang. Namun mendengar berita kebakaran itu Alana turut berduka. Bukan pada Dion, tapi pada para karyawan yang harus kehilangan pekerjaan-nya karna sudah bisa dipastikan bahwa Dion pasti bangkrut.


“Tuan Rayan juga pasti sudah tau nyonya. Apa tuan tidak memberitahu nyonya?” Fina kembali bertanya.

__ADS_1


Alana menggelengkan kepala dengan senyuman dibibirnya.


“Saya tidak ingin tau apapun tentang dia Fina. Itu bukan lagi urusan saya.” Jawab Alana menatap Fina yang berada disampingnya.


Fina mengangguk. Dion bukan siapa siapa bagi Alana maupun Rayan. Pria itu justru adalah musuh bagi keduanya karna mempunyai rencana tidak baik pada hubungan keduanya sejak lama dengan Caterine.


“Mungkin itu teguran dari tuhan nyonya karna tuan Dion terlalu jahat selama ini.”


Alana tertawa mendengarnya. Wanita itu kemudian meraih botol minuman yang dibawakan Fina untuknya. Alana meminumnya sedikit kemudian menutup kembali botol tersebut.


“Sudahlah biarkan saja. Tidak penting juga. Lebih baik sekarang kita pulang. Saya sudah keringetan sekali ingin mandi.”


“Baiklah baiklah...” Angguk Fina kemudian mengikuti Alana yang bangkit dari duduknya dikursi taman.


Keduanya memang hampir setiap pagi jalan kaki keliling kompleks. Fina selalu dengan setia menemani Alana yang memang rajin bangun pagi untuk membantu menyiapkan sarapan kemudian olahraga ringan dengan jalan kaki pelan keliling kompleks.


“Ibu...” Gumam Alana ketika mendapati banyak panggilan tidak terjawab dari ibunya Sari. Yang membuat Alana bingung adalah Sari sama sekali tidak mengirim pesan padanya.


“Ada apa ya?”


Merasa khawatir Alana pun balik menghubungi Sari. Satu kali panggilan langsung mendapat jawaban dari ibu tercintanya.


“Halo bu.. ibu lagi apa? Ibu baik baik saja kan?”


Sari tertawa diseberang telpon mendengar pertanyaan Alana. Sari tau Alana pasti sedang mengkhawatirkan-nya.


“Ibu baru saja bersih bersih taman sama si mbak. Ibu baik baik saja sayang. Kamu lagi apa?”

__ADS_1


Alana meraih sepotong buah mangga yang sebelumnya memang sudah disiapkan oleh bibi.


“Aku lagi duduk ditaman sambil menikmati buah bu.. Ibu tadi telpon sampai berkali kali ada apa?”


Hening. Sari diam sesaat. Niatnya menelpon adalah untuk memberitahu tentang musibah yang menimpa Dion. Tapi setelah Sari berpikir ulang Alana tau atau tidak itu sudah tidak lagi penting. Apapun yang terjadi pada Dion bukan lagi urusan Alana.


“Tidak ada apa apa nak. Ibu cuma merasa sangat merindukan kamu. Ibu bahkan tadi berencana untuk datang kerumah Rayan.”


Alana menelan buah yang sudah dikunyahnya. Rayan dan Alana tidak sempat memberitahu tentang kepindahan-nya pada Sari.


“Eemm.. Bu, aku dan Rayan sudah tidak lagi tinggal dirumah yang lama. Kami sudah pindah kerumah baru.”


“Oh ya? Kapan nak? kenapa tidak memberitahu ibu dulu? padahal ibu bisa membantu kalau kalian butuh bantuan.”


Alana tersenyum.


“Tidak perlu membantu bu.. Nanti aku akan minta tolong pada Rayan untuk menjemput ibu.”


“Baiklah kalau begitu. Kamu jaga kesehatan selalu ya nak. Jangan terlalu kecapek'an. Kabari ibu jika Rayan mau menjemput. Ibu akan buatkan rujak spesial untuk kamu.”


Alana tersenyum lebar mendengarnya.


“Buatkan yang super pedas ya bu sambalnya. Ya sudah ibu juga jaga kesehatan selalu. Alana sayang ibu..”


Alana menyudahi telpon-nya setelah itu. Wanita itu tersenyum bahagia mendengarnya. Jika istri pertama mendiang ayahnya bukanlah Sari mungkin Alana tidak akan mendapatkan kasih sayang tulus yang begitu besar. Alana juga mungkin tidak akan hidup dengan bahagia dan berlimpah cinta. Alana sudah tau sejak kecil bahwa Sari bukanlah ibu kandungnya. Itu tentu saja karna Sari yang memberitahu. Tapi Sari juga mengatakan bahwa Sari menyayanginya layaknya Sari menyayangi anak kandungnya sendiri. Alana merasa sangat beruntung karna memiliki Sari dalam hidupnya. Wanita yang meski tidak melahirkan-nya namun sangat menyayanginya. Sari rela banting tulang bermandikan keringat demi bisa menghidupi dan menyekolahkan-nya.


“Tuhan... lindungi ibu hamba. Sehatkan dan bahagiakan dia selalu.. Hamba sangat menyayangi ibu tuhan..”

__ADS_1


__ADS_2