
Suara ketukan pintu membuat Rayan mengalihkan perhatian-nya dari laptop miliknya pada pintu. Pria tampan itu tersenyum karna tau siapa yang ada dibalik pintu ruangan-nya. Siapa lagi kalau bukan Luky dan Bastian. Mereka bertiga memang sudah sepakat untuk bertemu diruangan Rayan.
“Masuk !!” Seru Rayan.
Sedetik kemudian Luky dan Bastian masuk. Tidak ada penampilan samaran seperti saat mereka pertama bertemu. Bastian terang terangan dengan penampilan cool nya.
“Selamat siang tuan..” Sapa Bastian.
Rayan mengangguk kemudian bangkit dari duduknya. Pria itu melangkah lebih dulu menuju sofa yang berada tidak jauh dari meja kerjanya.
Ketiganya duduk saling berhadapan dimasing masing sofa yang berbeda. Rayan disofa tunggal, sedang Bastian dan Luky mereka duduk disofa panjang yang saling berhadapan.
“Jadi bagaimana?” Tanya Rayan bertanya pada Bastian yang duduk disebelah kanan-nya.
Bastian menghela napas. Pria itu membuka tas yang dibawanya mengeluarkan beberapa map yang sempat Bastian ambil sebelum peristiwa kebakaran itu terjadi.
“Silahkan tuan baca sendiri saja.” Ujar Bastian menyodorkan berkas tersebut pada Rayan.
Rayan menatap berkas itu kemudian melirik pada Luky yang hanya mengedikkan kedua bahunya seolah berkata bahwa dirinya belum tau apa apa.
Rayan kemudian menerima berkas tersebut dan membukanya. Rayan benar benar terkejut begitu tau isi dari berkas berkas tersebut.
“Ini pelanggaran negara.” Katanya.
“Ya tuan, maka dari itu saya membawanya dan memberikan-nya pada tuan. Itu bisa menjadi bukti jika sampai pihak kepolisian menyangka kita yang membakar gedung itu.” Jelas Bastian.
Luky mengeryit bingung. Pria itu juga taunya Bastian yang membakar habis perusahaan Dion.
“Apa maksud kamu Bastian?” Tanya Luky yang tidak mengerti apa apa. Kali ini memang Bastian tidak memberitahu siapa siapa selain Rayan.
__ADS_1
Bastian menatap Luky sebentar kemudian menghela napas lagi.
“Yang membakar gedung perusahaan tuan Dion adalah satpam penjaga gedung itu sendiri. Saya memergokinya saat dia menyiram bensin kemudian melempar korek api. Mungkin jika saya lengah sedikit saya juga akan ikut terpanggang dalam gedung itu.” Jawab Bastian.
“Satpam penjaga gedung? Tapi bagaimana mungkin? apa alasan-nya?”
Pertanyaan Luky mendapat anggukan setuju dari Rayan. Pria itu juga belum diberitahu secara jelas oleh Bastian.
“Namanya pak Amin. Saya sempat menyeretnya keluar untuk menyelamatkan-nya. Saya juga menanyakan kenapa sampai dia melakukan hal senekat itu. Dan dengan menangis dia menjawab. Dia merasa sangat kesal dan dendam pada Dion yang tidak memberinya gaji selama 3 bulan. Istrinya sampai meninggal karna telat berobat saat sakit. Sedang anaknya, anaknya sampai dikeluarkan dari sekolah tempatnya menimba ilmu.”
Rayan mengangguk anggukan kepalanya mendengar penjelasan panjang lebar Bastian. Rayan merasa sangat kasihan pada satpam tersebut yang harus kehilangan pendamping hidupnya karna kekejaman Dion. Dan lagi, anaknya sampai putus sekolah karna gajinya yang tertahan.
“Apa kamu tau alamat satpam itu?” Tanya Rayan kemudian.
“Pak Amin ada dirumah saya. Saya mempekerjakan dirumah saya dengan anaknya.” Jawab Bastian yang memang langsung tidak tega begitu mendengar penjelasan penuh air mata dari pak Amin.
“Baguslah kalau begitu. Kapan kapan ajak mereka menemui saya.” Senyum Rayan.
Luky yang sedari tadi memang hanya menjadi pendengar saja tersenyum. Luky sudah menduga Bastian memang orang yang baik. Namun mengingat apa yang terjadi malam itu dengan Sechil, Luky merasa tetap harus menanyakan secara langsung pada Bastian.
“Oke kalau begitu, berkas ini biar saya yang menyimpan. Terimakasih atas kerja samanya. Dan ini bayaran untuk kamu.”
Bastian menerima dengan senang hati hasil dari kerja kerasnya selama hampir 2 bulan ini. Menjadi orang dalam diperusahaan Dion memang tidak gampang. Bastian sering menyaksikan perbuatan tidak terpuji Dion yang berbuat seenaknya pada asisten-nya yang sexy.
Setelah pembicaraan itu selesai dan Bastian sudah menerima upah atas kerjaan-nya, Bastian pun pamit untuk pergi. Sedang Luky, pria itu tetap duduk ditempatnya dalam diam. Luky juga merasa harus mengatakan apa yang dirasanya pada Bastian dan Sechil pada Rayan.
“Luky, apa ada masalah?” Tanya Rayan yang merasa penasaran dengan kediaman asisten kepercayaan-nya itu.
“Eem.. tentang Bastian dan nona Sechil tuan.”
__ADS_1
Rayan mengeryit.
“Kenapa dengan mereka berdua?” Tanya Rayan lagi. Entah kenapa Rayan merasa mungkin firasat Luky juga sama seperti dirinya.
“Sebelumnya saya minta maaf tuan. Saya bukan menuduh yang tidak baik pada nona Sechil tapi melihat apa yang malam itu nona inginkan untuk memeluk Bastian saya sedikit merasa curiga.”
Rayan hanya diam mendengarkan. Benar saja, Luky juga merasakan apa yang Rayan rasakan pada Bastian dan Sechil.
“Yang saya tau tentang Bastian adalah dia laki laki yang tidak menetap pada satu hati tuan. Bastian sering gonta ganti pasangan. Bahkan saya bertemu pertama kali dengan Bastian saat membuntuti nona Sechil ke klub malam. Kami bertemu disana kemudian ngobrol sebentar hingga akhirnya hubungan kami menjadi hubungan teman yang bisa dibilang akrab.”
“Saya juga merasa begitu Luky. Saya bahkan berniat menyelidiki semua ini sendiri. Tapi ternyata bukan hanya saya yang tidak menganggap keinginan Sechil itu sederhana.” Balas Rayan sependapat dengan apa yang Luky katakan.
“Apa saya harus menyelidiki semuanya tuan?” Tanya Luky kemudian.
Rayan menoleh menatap Luky. Selama ini memang hanya Luky orang yang bisa Rayan andalkan. Namun jika kali ini Rayan juga menyerahkan penyelidikan atas Bastian itu pasti akan menimbulkan kesalah pahaman dan merusak hubungan pertemanan baik antara Luky dan Bastian.
“Saya rasa untuk kali ini biarkan tugas ini menjadi tugas yang lain Luky. Saya tidak mau kamu dan Bastian mempunyai kesalah pahaman.” Jawab Rayan.
Luky menganggukan kepalanya mengerti. Bastian mungkin memang akan marah jika Luky menyelidikinya secara diam diam. Bagaimanapun juga Bastian adalah teman baiknya. Dan Luky tidak ingin merusak hubungan baik itu.
“Ya sudah kalau begitu saya permisi mau kembali bekerja tuan.” Ujar Luky tersenyum.
“Oke, silahkan.” Angguk Rayan.
Setelah Luky keluar dari ruangan-nya Rayan menghela napas. Masalah Dion sudah teratasi. Rayan yakin setelah ini Dion pasti tidak akan lagi mengganggu Alana. Dion juga tidak mungkin ada waktu untuk memikirkan Alana karna sibuk memikirkan perusahaan-nya yang bangkrut mendadak.
Ketika hendak bangkit dari duduknya hp yang sebelumnya Rayan letakan diatas meja didepan-nya berdering. Rayan berdecak saat mendapati kontak Caterine tertera dilayar benda pipih tersebut. Rayan benar benar malas jika harus berpura pura tidak tau dengan rencana jahat Caterine padanya dan Alana.
Malas mengangkat telpon dari Caterine, Rayan pun langsung menonaktifkan hp nya kemudian kembali menyibukkan dirinya dengan pekerjaan-nya yang memang belum selesai.
__ADS_1
“Maafkan aku mom.. Tapi apa yang mommy lakukan dengan berpura pura baik itu sudah sangat keterlaluan. Aku tidak bisa diam saja...”