
Malamnya Rayan menceritakan aktivitas kebersamaan-nya bersama Sechil pada Alana. Dan diluar dugaan. Alana merajuk dan mengatakan Rayan pilih kasih karna tidak mengajaknya serta saat jalan jalan bersama Sechil sore tadi.
“Aku kan nggak tau kalau kamu bakal begini Alana. Aku cuma merasa sudah lama sekali tidak meluangkan waktu untuk Sechil.”
Alana menyipitkan kedua matanya mendengar apa yang Rayan katakan.
“Aku cuma kasihan sama dia karna dirumah sendirian. Itu aja.” Sambung Rayan.
Alana mengerucutkan bibirnya. Alana paham dengan penjelasan Rayan. Tapi Alana tetap merasa Rayan pilih kasih karna tidak mengajaknya jalan jalan bersama.
“Pokonya aku mau jalan jalan sama sama.” Tegas Alana yang tidak ingin kemauan-nya dibantah oleh Rayan.
Rayan tersenyum tipis. Pria itu kemudian menarik Alana yang berdiri didepan ranjang yang diduduki Rayan dengan lembut.
“Aku akan atur waktu nanti ya.. Jangan marah marah.” Ujar Rayan pelan.
Alana menghela napas kemudian menganggukan kepalanya. Ketika Rayan hendak meraih bibirnya Alana menutup bibir Rayan yang hampir menempel dibibirnya.
“Aku mau cerita sesuatu sama kamu.” Katanya.
Rayan mengerang kesal. Alana membuyarkan suasana romantis yang baru saja ingin Rayan ciptakan.
“Ini tentang Michelle dan tante Cindy. Mamahnya Michelle.”
Rayan mengeryit.
“Memangnya kenapa dengan mereka berdua? Mereka ganggu kamu?”
Alana menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Rayan.
__ADS_1
“Mereka berdua datang kesini dan Michelle tiba tiba minta maaf sama aku dan ingin kembali berteman baik.” Ujar Alana.
Rayan diam. Tiba tiba Rayan teringat akan kondisi Caterine yang Rayan niat sembunyikan dari Alana. Bukan tidak ingin jujur atau terbuka, Rayan hanya tidak mau jika Alana merasa terus disalahkan oleh Caterine. Tapi sekarang Alana bahkan menceritakan sesuatu yang bisa saja Alana enggan menceritakan-nya. Sesuatu yang menurut Rayan tidak terlalu penting mungkin juga bagi Alana.
“Michelle juga menceritakan semuanya tentang apa yang mereka berdua lakukan dibelakang aku dulu. Michelle jujur bahwa mereka berdua menyembunyikan hubungan yang bahkan sudah terjalin sebelum aku hadir ditengah tengah mereka.”
Rayan tersenyum. Pria itu menatap Alana penuh perhatian, mendengarkan dengan seksama apa yang sedang Alana ceritakan padanya.
“Tapi kamu tau Rayan? Ternyata Michelle itu hanya dimanfaatkan. Michelle diperbudak oleh perasaan-nya sendiri. Perasaan yang bisa dikatakan salah.” Sambung Alana.
Rayan tertawa pelan.
“Tidak ada perasaan yang salah Alana..” Ujar Rayan menanggapi cerita Alana.
“Maksud kamu?” Tanya Alana tidak mengerti dengan apa yang Rayan katakan.
“Setiap manusia memilik titik jenuh Alana bahkan pada perasaan mereka sendiri. Apa yang dulu Michelle rasakan mungkin sangat indah sampai melupakan ada kamu diantara mereka berdua. Tapi mereka berdua juga tidak menyadari bahwa lambat laun perasaan itu mulai menemui titik jenuh. Dan titik jenuh itu muncul ketika kamu hadir ditengah tengah mereka. Tapi mereka tidak sadar dan terus melanjutkan-nya, memaksa agar mereka tetap bersama yang berujung petaka seperti apa yang mereka berdua rasakan sekarang.”
Alana menatap wajah tampan Rayan yang begitu dekat dengan wajahnya. Jambul Rayan yang biasanya rapi tersisir kebelakang kini terlihat berantakan dan sedikit memanjang hingga hampir menyentuh kening Alana.
“Mereka berdua?” Tanya Alana karna Rayan menirukan sebutan mereka berdua untuk Dion dan Michelle.
“Apa aku perlu menyebutnya mantan kekasihmu sayang?” Ledek Rayan bertanya membuat Alana mengerucutkan bibirnya kembali.
“Kamu menyebalkan.” Sebal Alana.
Rayan tersenyum kemudian mendaratkan ciuman-nya dibibir Alana. Rayan mengecupnya dengan mesra, mencecap rasa manis yang membuat Rayan selalu merasa candu dan enggan melepaskan bibir kenyal Alana.
Rayan melepaskan ciuman-nya karna tidak ingin Alana kehabisan napas karna ciuman-nya. Rayan kemudian membaringkan tubuhnya disamping Alana. Pandangan-nya menatap lurus kearah langit langit kamar mereka.
__ADS_1
“Aku juga ingin menceritakan sesuatu sama kamu Alana. Ini tentang mommy..” Ujar Rayan pelan.
Alana mengeryit. Alana memiringkan tubuhnya menatap Rayan yang berada disampingnya.
“Mommy kenapa?” Tanya Alana mulai penasaran.
Rayan menghela napas. Rayan yakin Alana bukan wanita yang gampang pesimis meskipun Rayan mengatakan semuanya tentang Caterine yang selalu menyalahkan-nya.
Pelan pelan Rayan mulai menceritakan semuanya pada Alana. Tentang gelagat aneh Caterine bahkan sampai apa yang Caterine katakan tentang Alana dan Sari yang dianggap mengincar harta milik Rayan. Padahal pada kenyataan-nya itu justru terbalik. Caterine yang mengincar semua harta milik Rayan dan berniat menguasainya sendiri.
Alana yang mendengar itu hanya diam saja. Apapun yang Caterine katakan tentangnya dan Sari, Alana tidak perduli. Karna kenyataan-nya Alana dan Sari tidak seperti itu. Mereka tidak memanfaatkan Rayan. Mereka hanya mensyukuri nikmat yang tuhan berikan dengan berusaha menjaganya dengan baik.
“Aku minta maaf karna menempatkan kamu dalam posisi serba salah seperti ini sayang. Tapi aku tidak pernah berhenti berharap mommy akan berubah dan bisa menerima kamu dan bu Sari dengan baik.” Rayan menatap Alana dengan tatapan bersalah.
Rayan merasa mungkin itu terjadi karna kesalahan-nya yang dari awal kurang tegas pada Caterine sehingga Caterine terus bersikap tidak baik pada Alana, istrinya sendiri. Tidak tanggung tanggung Caterine bahkan berniat menyingkirkan Alana juga janin dalam kandungan-nya dengan mengirim makanan beracun yang membuatnya harus mendekam didalam penjara seperti sekarang.
“Kamu nggak salah kok. Mungkin memang ini cara tuhan mengajariku agar aku tidak besar kepala apa lagi sombong. Tuhan memberikan aku nikmat dan aku harus berusaha menjaganya sebagai bentuk rasa syukur itu.” Senyum Alana manis.
Rayan ikut tersenyum. Meskipun kadang keras kepala tapi Alana memiliki hati yang bijak. Alana mampu berpikir jernih meski keadaan terus menyudutkan-nya. Rayan tau itu adalah sikap yang tidak semua orang punya. Tidak semua orang bisa tenang jika berada diposisi Alana yang selalu di kambing hitamkan oleh Caterine, mertuanya sendiri.
“Kamu tidak merasa dendam dengan apa yang sudah mommy lakukan?” Tanya Rayan membelai penuh cinta pipi Alana.
“Ibu dan guru sekolah bahkan dosen yang mengajar di kampusku dulu tidak pernah mengajarkan teori balas dendam padaku.” Jawab Alana membuat Rayan tertawa. Balas dendam memang tidak ada di pelajaran sikap dan tatakrama. Balas dendam muncul karna amarah dan hati yang merasa tersakiti. Balas dendam juga dapat dilakukan tanpa harus diajari. Dan kata balas dendam hanya bisa dihindari dengan hati yang tenang dan pikiran yang positif pada takdir yang sudah ditetapkan tuhan.
“Tapi sepertinya kamu pernah meminta padaku untuk membantu membalaskan rasa sakit pada mantan kekasihmu itu sayang..” Kata Rayan mengingatkan Alana pada niatnya dulu.
“Oh oke.. Anggap saja aku khilaf dulu. Aku tidak akan seperti itu lagi. Aku tidak mau anakku menirukan sikap tidak baik itu.” Balas Alana membuat Rayan kembali tertawa.
“Yah.. Mari kita menjadi cermin yang baik untuk anak anak kita.” Senyum Rayan kemudian menarik Alana dan kembali meraih bibir Alana, menciumnya dengan mesra.
__ADS_1