Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 47


__ADS_3

Paginya.


Aroma wangi masakan yang menyeruak masuk kedalam indra penciuman Rayan berhasil membuat pria itu terbangun dari tidur lelapnya. Perlahan Rayan membuka kedua matanya. Rayan menoleh kesampingnya dan Alana sudah tidak lagi berada disana.


“Kemana dia?” Rayan bergumam kemudian bangkit dari berbaringnya.


Pria itu menghela napas menatap keseluruh sudut kamarnya dan Alana. Hari ini adalah hari dimana Rayan akan terbebas dari segala urusan pekerjaan. Rayan sudah menyerahkan semua tugasnya untuk sementara digantikan oleh Luky.


Setelah merasa seluruh nyawanya terkumpul Rayan menyibak selimut yang menutupi kaki hingga perutnya. Pria itu turun dari ranjang kemudian melangkah pelan menuju kamar mandi.


Selesai membersihkan dirinya Rayan turun kelantai 1 villa barunya. Tidak ada siapapun disana. Sepertinya para pelayan yang bekerja divilla itu sudah membubarkan diri sambil menikmati bonus dan libur cuti yang diberikan Rayan.


“Alana..” Rayan memanggil Alana karna tidak menemukan wanita itu dimanapun.


Rayan menghela napas. Dipulau kecil itu hanya ada dirinya dan Alana sekarang. Rayan takut sesuatu yang buruk terjadi jika sampai Alana keluar tanpa sepengetahuan darinya.


“Alana !!” Rayan kembali memanggil namun dengan suara yang sedikit meninggi.


Hening


Tidak ada sautan dari Alana membuat Rayan semakin merasa khawatir.


“Ya tuhan..”


Saat Rayan hendak berlalu suara gaduh dari arah dapur berhasil menarik perhatianya. Rayan mengeryit mendengar suara itu kemudian segera melangkah menuju dapur untuk mengeceknya.


Rayan menghela napas merasa sangat lega. Alana sedang berkutat didapur dengan bersenandung pelan.


Rayan melipat kedua tanganya didepan dada. Pria itu menatap penampilan Alana yang membuatnya merasa tergoda. Alana mengenakan hotpans hitam yang dipadukan dengan tanktop warna putih. Sedangkan rambut panjangnya Alana cepol tinggi memperlihatkan leher jenjang putihnya yang berhasil membuat jakun Rayan naik turun.


Pelan pelan Rayan melangkah mendekat pada Alana yang belum menyadari kehadiran-nya.


“Masak apa?” Tanya Rayan membuat Alana langsung menoleh padanya.


“Rayan.. Kamu sudah bangun..” Alana tersenyum kemudian kembali mengaduk masakan-nya didalam wajan.


“Aku masak ikan asam manis. Tidak ada udang dikulkas makanya aku bikin saja ikan ini asam manis. Siapa tau kamu suka.” Katanya.


Rayan tersenyum. Pemandangan pagi ini berhasil membuatnya terpesona. Melihat istrinya sibuk didapur menyiapkan sarapan untuknya. Itu sangat manis.

__ADS_1


“Mau aku bantu?”


Alana mengeryit kemudian mematikan kompor gas karna memang ikan asam manis buatanya sudah matang.


“Boleh.” Senyumnya menatap Rayan.


Alana meraih piring saji kemudian segera memindahkan ikan asam manis buatanya diatas piring saji tersebut.


“Bantu aku habiskan ikan asam manis ini.” Alana menyodorkan hasil masakanya pada Rayan yang malah diam.


Rayan menatap ikan asam manis itu. Dari tampilan-nya ikan asam manis buatan istrinya tampak sangat menggoda.


“Ayoo..”


Alana meraih tangan besar Rayan dan menariknya menuju meja makan. Alana meletakan hasil masakanya diatas meja kemudian mempersilahkan Rayan untuk duduk. Dengan telaten Alana melayani Rayan yang hanya diam saja.


“Apa ini?” Rayan membatin. Rayan tidak pernah menginginkan Alana seperti saat ini. Rayan selalu berpikir dirinya harus bisa membuat Alana bahagia dengan segala apa yang dia miliki. Rayan ingin selalu memperlakukan Alana seperti ratu yang harus dilayani. Bukan melayaninya seperti ini.


“Kamu kenapa menatapku seperti itu?”


Rayan tersadar. Pria itu menghela napas kemudian menggelengkan kepalanya. Alana seharusnya dilayani dengan baik, bukan melayani seperti pelayan.


“Rayan..”


Pertanyaan Rayan membuat Alana mengeryit bingung. Alana merasa apa yang dilakukanya tidaklah salah.


“Apa?”


“Kamu memasak dan melayaniku seperti ini. Kenapa melakukanya?”


Alana semakin bingung. Yang Alana tau melayani suami adalah tugas istri. Tapi Rayan, sepertinya tidak suka dengan apa yang dilakukanya.


“Memangnya kenapa? Apakah salah?”


Rayan bangkit dari duduknya. Pria itu menatap Alana yang berdiri disamping kursi yang sempat didudukinya dengan tatapan serius.


“Kamu istriku Alana. Kamu tidak pantas melakukan pekerjaan seperti ini. Kamu seharusnya dilayani bukan melayani.”


Alana menggelengkan kepalanya. Pandanganya dan Rayan tentang hidup berumah tangga mungkin memang berbeda. Tapi itu bukan berarti Alana tidak boleh melakukan apa yang memang seharusnya Alana lakukan.

__ADS_1


“Jangan berlebihan Rayan. Aku ini orang biasa. Aku bukan konglomerat seperti kamu atau seperti Sakura. Bagiku melayani seorang suami adalah tugasku sebagai seorang istri. Aku bahagia dengan apa yang aku lakukan sekarang.”


Rayan tidak membalas. Dari kecil Rayan tidak pernah melihat mommy-nya melayani daddy-nya. Apa yang daddy-nya inginkan selalu pelayan yang menyediakan. Dan Rayan melihat mommy-nya sangat bahagia karna hal itu. Mommy-nya tidak pernah repot menyiapkan ini itu untuk daddy-nya. Rayan berpikir mungkin jika dirinya juga melakukan seperti yang daddy-nya lakukan istrinya akan sangat bahagia dan mencintainya.


“Aku mempekerjakan pelayan bukan hanya untuk melayaniku Alana. Tapi juga untuk melayani kamu. Supaya kamu tidak repot melakukan ini itu.”


Alana tersenyum mendengarnya. Alana meraih kedua bahu tegap Rayan menariknya pelan agar Rayan berdiri menghadapnya.


“Lihat aku Rayan, Aku Alana. Aku bukan wanita lain. Aku ingin menjadi istri yang baik untuk kamu. Aku juga ingin menjadi ibu yang baik untuk anak anak kamu kelak. Jadi tolong, biarkan aku menunaikan tugasku.”


“Alana tapi..”


“Aku melakukan ini tulus dari hatiku Rayan. Kamu ingin istri yang baik bukan? Biarkan aku melakukanya.” Sela Alana lembut.


Rayan menatap Alana yang begitu cantik tanpa polesan make up diwajahnya. Rayan benar benar tidak menyangka jika ada wanita seperti Alana. Wanita yang suka repot menyiapkan ini itu sendiri.


“Apa ini alasan kamu ingin semua pelayan diliburkan?” Tanya Rayan pelan.


Alana menganggukan kepalanya.


“Karna hanya dengan begini aku bisa melayani kamu dengan baik suamiku.”


Rayan menyentuh pipi chuby Alana membelainya dengan sangat lembut membuat Alana memejamkan kedua matanya menikmati belaian lembut tangan besar Rayan.


“Aku tidak tau jika tugas wanita harus seperti ini setelah menjadi istri Alana. Jika kamu merasa lelah katakan padaku. Aku sendiri yang akan memijit kakimu, tanganmu, juga punggungmu.” Lirih Rayan.


Alana tertawa pelan. Dibalik sikap Rayan yang seperti Beast ternyata Rayan memiliki sisi manis yang begitu lembut.


Rayan perlahan mendekatkan wajahnya pada Alana. Saat bibirnya bertemu dengan bibir Alana, tanganya yang semula membelai pipi Alana langsung berpindah memeluk pinggang Alana. Rayan mencium Alana sangat dalam, lembut, dan mesra. Pria itu merasa sangat bahagia. Alana rela melakukan sesuatu untuknya.


Alana melepaskan ciumanya. Dengan napas tersengal Rayan menempelkan keningnya pada kening Alana. Ujung hidung keduanya bersentuhan membuat napas hangat mereka saling menerpa wajah masing masing.


“Kita belum sarapan Rayan..” Bisik Alana dengan dada naik turun karna napasnya yang tersengal akibat ciuman Rayan.


Rayan tertawa pelan. Perutnya sudah tidak lagi merasa lapar. Tapi hasratnya mulai menggebu gebu sekarang. Bukan lagi sarapan yang Rayan inginkan sekarang.


“Aku menginginkanmu Alana.” Katanya.


“Tapi..”

__ADS_1


Rayan mengangkat tubuh Alana mendudukkan-nya diatas meja. Pria itu kembali meraih bibir Alana menciumnya dengan gairah yang sudah tidak bisa lagi dia tahan.


Dan Rayan benar benar membuktikan ucapanya dengan melakukanya disofa yang berada tidak jauh dari meja makan. Rayan membuat Alana tidak bisa menolak pesonanya hingga tidak sadar dimana mereka bergumul.


__ADS_2