Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 25


__ADS_3

Alana langsung mengatakan tentang kedatangan Michelle pada Rayan. Alana juga mengatakan dengan jujur bahwa dirinya berbohong dan mengatakan sedang hamil pada Michelle. Rayan sangat terkejut namun mampu menguasai diri juga ekspresinya.


“Kamu tidak tanya kenapa aku berbohong pada Michelle?” Tanya Alana pada Rayan yang sedang fokus dengan laptopnya.


Rayan menghela napas kemudian menoleh pada Alana yang duduk disampingnya di atas ranjang.


“Kamu tidak ingin kalah lagi dari Michelle. Kamu ingin menunjukan bahwa kamu kuat. Bukan begitu alasan kamu hem?”


Alana terdiam. Rayan bisa langsung menebak dengan benar alasan kenapa dirinya berbohong pada Michelle.


“Tapi Alana, alasan apapun berbohong tetaplah berbohong. Kebohongan bukan sesuatu yang bisa dibenarkan.” Lanjut Rayan.


Ekspresi Alana langsung berubah sendu. Alana sendiri tau berbohong bukanlah alasan yang tepat.


“Tapi aku bisa maklum..”


Alana kembali menatap Rayan. Pria tampan itu tersenyum manis, bahkan sangat manis hingga ketampananya bertambah berlipat lipat.


Rayan menutup laptopnya kemudian meletakanya diatas nakas samping tempat tidur mereka. Setelah itu Rayan merangkul mesra pinggang Alana yang masih duduk diam disampingnya.


“Aku nggak keberatan kamu hamil.” Katanya.


Alana mengeryit. Usapan lembut tangan besar Rayan di pinggangnya membuat bulu roma Alana langsung berdiri. Apa lagi tangan Rayan menyelusup masuk kedalam piyama maroon yang dikenakan oleh Alana membuat kulit mereka langsung bersentuhan.


“Mendengar tangisan bayi yang membahana dirumah kita sepertinya akan sangat menyenangkan.”


Alana tersenyum. Tanganya menyentuh tangan bebas Rayan dan mengusapnya pelan.


“Jadi kamu setuju kalau aku hamil?”


“Why not? You are my wife. Wajarkan kalau hamil.”


“Oke, kalau begitu tunggu sebentar.”


Alana turun dari ranjang membuat Rayan bertanya tanya. Alana meraih plastik putih yang terletak dimeja kecil yang berada tepat didepan rembok kaca kamarnya. Alana membawanya mendekat pada Rayan dengan senyuman yang terukir di bibir merah alaminya.


“Itu apa?” Tanya Rayan bingung.


Alana tersenyum geli. Rayan terlihat sekali penasaran dengan apa yang Alana bawa.


Saat hendak mengeluarkan 2 botol madu itu, Alana menghela napas.


“Sendok, aku perlu sendok. Bisa tolong ambilkan tuan?”

__ADS_1


Rayan berdecak. Seumur umur baru kali ada yang berani memerintah Rayan dan itu adalah Alana, istrinya sendiri.


Rayan turun dari ranjang meskipun dengan hati dongkol. Alana sangat keterlaluan karna berani menyuruhnya untuk mengambil sendok. Saat itu juga Rayan sadar bahwa ternyata lift sangat penting di rumahnya jika dalam keadaan malas menuruni anak tangga atau sedang buru buru.


“Besok akan aku bangun 2 lift sekaligus dirumah ini.” Dumelnya sambil meraih sendok ditempatnya didapur.


2 Pelayan yang tidak sengaja melihat dan mendengar dumelan Rayan tertawa geli. Tuan mudanya terlihat sangat konyol kali ini.


“Ini.” Rayan menyodorkan sendok pada Alana begitu sampai dikamar. Pria itu kemudian kembali mendudukan dirinya diatas ranjang disamping Alana.


“Terimakasih..” Senyum Alana senang.


Alana mengambil madu penambah stamina untuk Rayan menuangnya sedikit disendok kemudian menyodorkanya tepat di depan mulut Rayan.


“Apa?” Tanya Rayan bingung.


“Buka mulutmu. Kata dokter ini bagus untuk suami.”


Rayan mengangkat sebelah alisnya.


“Kata dokter? maksudmu?”


“Ayolah Rayan buka dulu mulutmu dan minum madu ini. Akan aku jelaskan nanti.”


Setelah menyuapi Rayan, Alana mengambil satu botol lagi membuka dan menuangnya sedikit di sendok yang Alana gunakan untuk menyuapi Rayan tadi. Alana juga meminumnya sama seperti Rayan.


Merasa penasaran, Rayan meraih sebotol madu tersebut dan membacanya. Pria itu mendelik begitu tau manfaat madu yang baru saja ditelanya.


“Apa apaan kamu Alana. Kamu pikir aku tidak cukup kuat diatas ranjang sampai harus meminum madu tidak berguna ini?” Marah Rayan merasa tersinggung. Rayan merasa Alana meremehkan staminanya yang bahkan melebihi stamina kuda liar.


Alana berdecak. Maksudnya bukan meremehkan Rayan. Maksudnya baik agar dirinya cepat hamil.


“Ini bukan hanya untuk stamina tapi juga untuk kesehatan dan kesuburan.” Jelasnya.


“Jadi maksudmu aku tidak sehat dan tidak subur begitu?”


Alana diam. Rayan sudah terlanjur marah dan Alana tidak bisa menjelaskan apa apa.


“Asal kamu tau Alana, aku bahkan bisa membuatmu hamil setiap tahun. Selusin benihpun bisa aku tanam dirahim-mu.” Tekan Rayan.


Alana menelan ludahnya. Tatapan Rayan begitu tajam dan sedikit membuat nyali Alana ciut. Padahal Alana pikir ekspresi Rayan akan sangat menggelikan bukan menakutkan seperti sekarang.


“Aku hanya..”

__ADS_1


Belum sempat Alana menyelesaikan ucapanya, Rayan sudah meraih kedua pundaknya dan menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Dengan tatapan tajam Rayan terus menatap Alana yang merasa sudah tidak punya lagi alasan untuk menjelaskan.


“Akan aku buktikan sama kamu Alana, Aku laki laki yang kuat dan sehat.” Kata Rayan sambil melepas kaos pendek hitam yang melekat di tubuhnya.


Alana menelan ludahnya. Selama menikah Rayan hanya sekali menyentuhnya, itupun sebagai bayaran atas apa yang Rayan lakukan untuknya pada Dion dulu.


“Jangan menyesal Alana.” Lirih Rayan kemudian memulai aksinya menjamah tubuh Alana.


Alana dibuat tidak berdaya dan hanya bisa pasrah berada dibawah kendali Rayan. Alana tidak menolak apalagi memberontak. Alana sudah bisa menerima semuanya. Mungkin Rayan-lah pria yang tepat sebagai jodohnya, bukan Dion atau pria lain-nya. Dan Alana sudah merasa sangat siap untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama pria yang dengan paksa menikahinya itu.


-------


“Dion sepertinya aku sedang ingin makan siomay.”


Dion melirik sekilas pada Michelle yang duduk bersila disampingnya diatas tempat tidur. Entah kenapa wanita itu masih saja manja padanya padahal Dion sudah dengan keras menolak keberadaanya juga janin dalam kandunganya.


“Itu bukan urusanku.” Balas Dion tidak perduli.


Michelle menggigit bibir bawahnya. Sakit, bahkan sangat sakit. Tapi Michelle harus bisa bertahan dan membuktikan bahwa janin yang sedang dikandungnya adalah darah daging Dion.


“Aku akan menelpon mamah untuk meminta tolong membelikan dan mengantar kesini. Orang bilang wanita hamil tidak boleh keluar malam malam. Pamali.” Michelle berusaha terlihat biasa. Biarlah Dion menganggapnya apa, asal dirinya bisa membuktikan bahwa janin yang di kandungnya adalah anak Dion itu bukanlah masalah untuknya. Menjatuhkan harga diri demi pengakuan Dion atas janin dalam perutnya mungkin bisa dimaklumi.


Saat Michelle hendak menempelkan hp ketelinga, Dion langsung merebutnya. Dion mematikan telpon yang sudah tersambung pada mamahnya.


“Jangan memancing emosiku.” Tekanya menatap Michelle tajam.


Michelle diam. Sekarang Michelle tau bagaimana cara menghadapi Dion. Mamahnya adalah orang yang paling disayangi Dion didunia ini.


“Aku hanya..”


“Jangan membuat mamahku repot Michelle.” Sela Dion penuh rasa kesal pada Michelle.


Michelle mengangguk. Saat itu juga hp nya yang berada di tangan Dion berdering. Dion segera mengangkat dengan tatapan benci yang terus mengarah pada Michelle.


“Ah, tidak ada apa apa mah. Hanya merasa sangat merindukan mamah saja.” Bohong Dion.


Michelle yakin mamah mertuanya pasti sedang menanyakan kenapa dirinya menelpon.


“Ya mah baik. Besok Dion dan Michelle kesana.”


Dion menutup sambungan telponya setelah berkata. Pria itu melempar hp milik Michelle dengan kesal tepat didepan kaki Michelle.


“Aku yang akan belikan.”

__ADS_1


__ADS_2