Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 101


__ADS_3

Caterine tidak turun saat sarapan. Rayan yang menyadari ketidak hadiran sang mommy sempat bertanya namun baik Sechil bahkan sampai Fina tidak bisa menjawab.


“Alana, kita langsung pergi setelah ini.” Ujar Rayan.


Alana mengangguk pelan. Alana tidak ingin menolak apapun yang menjadi keputusan suaminya. Hari ini Rayan mengajaknya untuk melihat lihat rumah yang akan mereka tempati.


Sedang Ramon dan Sechil, mereka berdua hanya bisa diam dan saling menatap sesaat. Ramon sebenarnya merasa sedikit tidak enak dengan penolakan-nya. Tapi Ramon juga tidak ingin dianggap memanfaatkan Rayan demi kepentingan-nya sendiri.


Setelah menyelesaikan sarapan-nya, Rayan dan Alana segera pergi. Sementara Ramon dan Sechil mereka memilih untuk bersantai ditaman belakang rumah mewah berlantai 3 itu.


“Boleh aku tanya sesuatu?” Tanya Sechil pelan.


Ramon menolehkan kepalanya membalas tatapan Sechil. Pria itu tersenyum dan menganggukan kepalanya.


“Ayah dan ibu kamu.. Apa mereka tidak terkejut dengan pernikahan kita?”


Dengan senyuman yang masih terukir dibibir tipisnya Ramon menghela napas. Jika Sechil tau kedua orang tuanya tidak tau tentang kehamilan-nya, Sechil pasti akan langsung menghindarinya.


“Sebentar lagi usia kehamilanku menginjak bulan ke 4. Itu artinya anakku juga tidak lama lagi akan lahir. Menurut kamu apa pendapat mereka nanti? 5 bulan menikah tiba tiba melahirkan.”


Ramon menelan ludahnya. Jika mereka menyalahkan-nya Ramon tidak mempermasalahkan. Tapi jika sampai Sechil yang disalahkan, Ramon tidak tau harus bagaimana menghadapinya nanti. Bagaimanapun juga Ramon menjelaskan jika itu jujur kedua orang tuanya pasti akan marah dan menganggap Sechil bukan istri yang tepat untuknya.


Ramon tetap memperlihatkan senyuman dibibirnya. Ramon tidak ingin Sechil kecewa karna kedua orang tuanya yang tidak bisa menerima kekurangan Sechil. Ramon berusaha untuk tenang. Ramon tidak ingin membuat Sechil memikirkan apa yang bisa membuat Sechil merasa kembali bersalah karna masa lalu tidak baiknya.


“Yang penting sekarang kamu sehat dulu ya.. Jangan berpikir macam macam. Semuanya akan baik baik saja.”


Sechil tersenyum tipis. Sechil tidak yakin. Sechil juga tidak percaya. Keluarga Ramon adalah keluarga baik baik. Sedangkan Sechil, dirinya mempunyai masa lalu yang sangat buruk. Hamil diluar nikah adalah aib.

__ADS_1


“Oh iya Chil, mungkin mulai besok aku akan kembali kuliah lagi. Aku juga akan mencari pekerjaan supaya bisa membelikan apa yang kamu mau. Walaupun hanya rujak dan susu.” Ujar Ramon yang diakhiri tawa kecilnya.


Sechil ikut tertawa. Sechil tidak mau Ramon tau kegundahan hatinya sekarang. Ramon sudah mau bertanggung jawab dan berusaha membahagiakan-nya saja Sechil sudah merasa sangat bersyukur. Masih ada pria berhati baik selain kakaknya Rayan. Dan itu adalah Ramon, suaminya sendiri.


Ramon bangkit dari duduknya melangkah menuju bunga bunga yang sedang bermekaran. Ramon memetik setangkai bunga mawar kemudian kembali mendekat pada Sechil. Ramon menyodorkan setangkai mawar tersebut pada Sechil membuat Sechil bingung.


“Apa?” Tanya Sechil.


“Untuk calon ibu dari anak anakku.” Jawab Ramon yang malah membuat Sechil merasa tersindir. Entahlah, mendengar ucapan manis Ramon justru membuat Sechil merasa sedang digali sisi buruknya.


Sechil menghela napas kemudian menundukan kepalanya menatap mawar yang masih Ramon sodorkan padanya. Sechil merasa tidak berhak menerima setangkai mawar tersebut.


“Mawarnya terlalu bagus. Aku terlalu buruk untuk mendapatkan-nya Ramon. Maaf, aku nggak bisa menerimanya.”


Wajah Ramon langsung berubah. Kekecewaan terlihat jelas dari ekspresi wajahnya karna Sechil menolak pemberian darinya.


Ramon hanya bisa diam menatap punggung Sechil yang menjauh darinya. Ramon tidak suka dengan apa yang Sechil katakan tadi. Tapi Ramon juga tidak mungkin protes. Ramon tidak ingin membuat Sechil tersinggung. Namun sepertinya apa yang Ramon lakukan kali ini salah dan membuat Sechil merasa tidak nyaman. Meski sebenarnya Ramon bingung juga karna Ramon merasa tidak sedikitpun menyinggung Sechil. Ramon berkata manis dan romantis agar Sechil merasa diistimewakan.


“Apa aku salah?” Gumam Ramon bertanya tanya dalam hati.


Ramon menghela napas menatap setangkai mawar merah yang masih dipegangnya. Mawar itu terlihat sangat indah dan masih segar. Mungkin karna baru mekar dan baru Ramon petik. Tapi Ramon sadar, mawar itu tidak akan terus indah jika terpisah dari pohon-nya. Dia akan layu hingga kemudian kering.


-------


“Bagaimana? Apa kamu suka?” Tanya Rayan saat dirinya dan Alana sedang menatap pemandangan indah dari balkon kamar rumah baru yang akan mereka tempati nanti jika keluar dari kediaman yang saat ini masih mereka tempati.


“Pemandangan-nya bagus dari sini. Udaranya juga sejuk. Aku suka.” Senyum Alana menatap Rayan yang juga sedang menatapnya.

__ADS_1


Rayan tersenyum. Rayan memang sengaja mencari tempat yang sedikit jauh dari hingar bingar kota. Dan wilayah itu masuk dalam wilayah puncak.


Rayan menghela napas. Semuanya sudah Rayan pikirkan matang matang. Mungkin memang semuanya tidak akan sesuai seperti pemikiran-nya. Tapi Rayan yakin selama dirinya berusaha tidak ada yang tidak mungkin.


“Kapan kita akan mulai menempati rumah ini Rayan?” Tanya Alana sambil menghirup udara segar dengan kedua mata terpejam.


“Secepatnya.” Jawab Rayan. Rayan tersenyum lagi membayangkan kehidupan tenangnya bersama Alana setelah ini. Tanpa gangguan dari Caterine maupun Dion.


“Oke..” Angguk Alana.


Alana sebenarnya bingung. Mengikuti Rayan untuk tinggal dirumah berlantai 2 itu artinya Alana akan sangat jauh dengan Sari ibunya. Namun, menolak juga rasanya tidak mungkin. Rayan melakukan semuanya demi kebaikan-nya juga janin dalam kandungan-nya.


“Sudah sore.. Sepertinya kita harus segera mencari penginapan Alana.” Ujar Rayan.


Lagi, Alana menganggukan kepalanya. Rumah itu memang masih kosong. Belum ada perabotan rumah tangga disana. Kamar yang akan mereka tempati pun belum ada ranjangnya.


Rayan segera mengajak Alana untuk mencari penginapan. Setelah menemukan hotel yang dirasa cocok, Rayan pun mengajak Alana untuk makan malam. Tidak disangka saat makan malam mereka tidak sengaja bertemu dengan Sandi disana. Rayan yang tau Sandi kecewa karna dirinya menikahi Alana hanya diam dan enggan menyapa meski sebenarnya mereka sama sama menyadari kehadiran masing masing. Rayan tidak bermaksud tidak sopan. Hanya Rayan tidak ingin Sandi selalu menyalahkan-nya dan mengatakan Rayan tidak setia pada mendiang Sakura, kekasih dan cinta pertamanya dulu.


“Bukankah tadi ada tuan Sandi? Kenapa tidak menyapanya?” Tanya Alana saat mereka berjalan dilorong hotel hendak menuju kamar yang akan mereka berdua tempati.


Rayan tersenyum tipis.


“Aku hanya menuruti kemauan-nya Alana.”


Alana mengeryit.


“Kemauan apa?” Alana menatap penasaran pada Rayan yang berjalan sambil menggandeng tangan-nya.

__ADS_1


“Kemauan untuk menganggapnya orang lain dimanapun kami bertemu.” Jawab Rayan.


__ADS_2