Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 184


__ADS_3

Pagi ini Rayan dan Alana datang ke kontrakan Ramon dan Sechil. Keduanya bermaksud untuk mengajak Sechil dan Ramon untuk mengantar Caterine memeriksakan kondisi jiwanya.


“Kak, jujur aku nggak yakin kalau kak Alana dan Ramon bisa ikut sama kita. Kakak tau sendiri bagaimana mommy kan?”


Rayan terdiam begitu juga dengan Alana. Mungkin Caterine memang akan semakin histeris jika melihat Alana dan Ramon yang masih dianggap sebagai penyebab perpisahan-nya dengan Rayan juga Sechil. Tapi Rayan juga tidak mungkin melarang Alana untuk ikut.


“Kak Alana aku minta maaf. Bukan-nya aku ngelarang kakak buat ikut. Tapi kan kakak tau sendiri mommy..”


“Yah.. Aku tau. Aku cuma pengen liat keadaan mommy saja. Aku nggak akan keluar dari mobil. Dan untuk berjaga jaga supaya mommy nggak histeris nanti biar aku semobil sama Ramon. Kamu mau kan Ramon?”


Ramon tersenyum dan langsung menganggukan kepalanya setuju. Mungkin memang hanya itu jalan keluar satu satunya. Karna Ramon juga sebenarnya ingin tau dan memastikan sendiri bahwa Caterine baik baik saja. Walaupun Caterine selalu bersikap tidak baik padanya, tapi sebagai menantu yang baik Ramon harus tetap menyayangi dan menghormati Caterine.


“Ya sudah kalau begitu, aku telpon pak Lim dulu supaya membawakan mobil kesini.” Kata Rayan yang diangguki oleh Alana, Sechil, juga Ramon.


Setelah Rayan menghubungi pak Lim, tidak lama pak Lim datang dengan Roky yang mengikuti dari belakang dengan sepeda motor gedenya.


Setelah sepakat, mereka semua berangkat untuk mengunjungi sekaligus mengantar Caterine yang akan di periksa kejiwaan-nya. Rayan satu mobil dengan Sechil. Sedang Alana bersama Ramon menggunakan mobil yang tadi diantarkan oleh pak Lim juga Roky.


“Kak..” Panggil Alana pelan.


“Hemm..” Saut Rayan yang memang saat itu sedang fokus dengan kemudinya.


Sechil menghela napas. Pada dasarnya Sechil ingin mencurahkan isi hatinya pada sang kakak. Sechil yakin Rayan pasti punya solusi yang bagus. Apa lagi sekarang memang hanya Rayan dan Alana tempat Sechil mengadu.


“Pernah tidak ada seseorang yang mencintai kak Alana dan berniat merebutnya dari kakak?”


Rayan mengeryit. Pria itu kemudian mengingat kembali saat Caterine dan Sechil berniat bekerja sama dengan Dion dulu.


“Tentu saja. Kakak yakin kamu pasti tau siapa orangnya.” Jawab Rayan santai.


Sechil menganggukkan kepalanya.


“Selain dia, siapa lagi kak?”


Rayan menggelengkan kepalanya.


“Kakak rasa siapapun orang yang mencintai milik orang lain dan berniat merebutnya dari sipemilik itu hanya orang tidak waras yang bisa melakukan-nya.”

__ADS_1


“Memangnya kenapa? Ada yang mengganggu hubungan kamu dan Ramon?” Tanya Rayan kemudian.


Sechil ingin sekali menggelengkan kepala tapi pada akhirnya malah Sechil menganggukan kepala. Sechil merasa tidak harus menyembunyikan apapun dari kakaknya.


“Namanya Claudia. Dia memang mencintai Ramon dari dulu dan semalam dia datang untuk merayakan ulang tahun Ramon. Mungkin ingin memberikan kejutan.” Jawab Sechil pelan.


Rayan menyipitkan kedua matanya.


“Kamu tidak sedang meminta bantuan kakak untuk menyingkirkan Claudia itu kan?”


Sechil tertawa pelan mendengarnya.


“Aku hanya ingin bercerita saja kak. Meringankan sedikit beban pikiran dan berbagi masalah dengan kakak tertampan. Tidak apa apa kan?”


Rayan tersenyum dan mengangguk anggukan kepalanya.


“Tentu saja. Tapi kalau kakak boleh kasih saran, usahakan untuk kalian berdua selalu saling percaya satu sama lain. Karna hanya dengan begitu celah untuk orang lain masuk kedalam hubungan kalian itu akan sulit.” Nasehat Rayan.


“Iya kak..”Angguk Sechil dengan senyuman manis menatap Rayan.


Sechil tertawa. Sekarang Sechil benar benar baru merasakan bagaimana sayangnya Rayan padanya. Rayan yang selalu Sechil anggap tidak lagi perduli padanya dulu. Rayan yang bahkan pernah Sechil dan Caterine berniat untuk menguasai hartanya.


“Kak..”


“Apa lagi hem?”


“Daddy Richard apakah dia juga seperti kakak dulu?” Tanya Sechil yang kali ini berhasil membuat Rayan bertanya tanya.


“Memangnya kenapa?” Tanya Rayan bingung.


“Enggak, aku hanya penasaran saja.” Jawab Sechil tersenyum.


Rayan ikut tersenyum. Baginya sosok Richard adalah segalanya. Sosok hebat yang setiap detiknya hanya memikirkan bagaimana masa depan Rayan kedepan-nya. Sosok yang tidak egois dan selalu mengutamakan kebahagiaan anaknya sebelum kebahagiaan-nya sendiri.


“Kakak tidak bisa menggambarkan-nya. Tapi bagi kakak daddy adalah sosok terhebat.” Jawab Rayan.


Sechil menganggukan kepalanya. Sechil percaya itu. Karna buktinya Rayan meskipun kadang keras tapi hatinya begitu lembut dan penuh dengan kasih sayang. Sechil yakin itu pasti adalah hasil dari didikan Richard pada Rayan.

__ADS_1


10 Menit kemudian mobil mewah Rayan sampai didepan kantor polisi tempat dimana Caterine mendekam dibalik jeruji besi. Rayan dan Sechil melangkah beriringan masuk kedalam. Sedangkan Ramon dan Alana, keduanya hanya bisa mengawasi dari dalam mobil saja karna Caterine masih belum bisa menerima keduanya dengan tangan terbuka. Caterine masih membenci dan terus menyalahkan kedua menantunya itu.


Tidak lama Rayan dan Sechil keluar dengan Caterine yang mereka posisikan ditengah tengah mereka. Dari kejauhan Alana dan Ramon dapat melihat wajah bahagia Caterine karna kedua anaknya yaitu Rayan dan Sechil menjenguknya.


“Andai saja mommy juga bisa tersenyum seperti itu saat ada kita berdua..”


Ramon tersenyum mendengar gumaman Alana. Caterine memang tidak menyukainya dan Alana dan itu karna mereka berdua berasal dari keluarga yang tidak mampu.


“Mommy Caterine pasti bisa menerima kita berdua kak suatu saat nanti.” Kata Ramon yang memang selalu berpikir positif dalam menyikapi berbagai hal.


Alana tersenyum dengan menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang Ramon katakan. Tidak heran jika Sechil yang begitu keras hati bisa berubah lunak. Ramon memang pria dengan segala pemikiran-nya yang positif.


“Mereka sudah jalan kak. Kita susul sekarang yah..”


“Oke...” Angguk Alana lagi.


Setibanya dirumah sakit yang memang khusus untuk memeriksa kejiwaan, lagi lagi Ramon dan Alana hanya bisa melihat dari kejauhan saja. Mereka bahkan tidak bisa mendengar apa yang dokter katakan pada Rayan dan Sechil setelah memeriksa keadaan Caterine.


“Aku harap mommy baik baik saja.” Gumam Alana yang masih bisa didengar oleh Ramon yang berdiri disampingnya.


 -------


“Bagaimana keadaan mommy saya dokter?” Tanya Sechil pada dokter yang baru saja memeriksa keadaan Caterine. Dokter tersebut bernama Klara, dokter yang memang direkomendasikan oleh dokter Frans pada Rayan.


Dokter Klara menghela napas.


“Gejala itu memang ada nona.” Jawabnya tenang.


Sechil merasakan hatinya hancur saat itu juga. Keyakinan-nya mulai meluruh tentang Caterine yang akan baik baik saja.


“Gejala ini muncul karna tekanan batin juga depresi yang kuat. Mungkin karna permasalahan yang anda berdua tidak tau dan pasien tidak mengatakan-nya. Sebenarnya ini masih bisa dicegah dengan cara mengajak Pasien banyak mengobrol yang mungkin itu bisa membuat pasien perlahan mulai terbuka dan mau menceritakan segala beban yang ada di pikiran-nya.”


Rayan yang mendengar itu hanya bisa diam. Rayan tau persis apa yang membuat Caterine merasakan tekanan itu. Dan itu masih karna kebencian mendalamnya pada Alana juga Ramon.


“Selain itu apa yang harus kami lakukan dok?” Tanya Sechil lagi.


“Melihat dari kondisinya mungkin hanya itu saja nona saran dari saya. Lakukan pendekatan agar pasien mau terbuka.” Jawab dokter Klara tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2