
Alana mengajak Rayan pulang sebelum pesta pertunangan Bastian dan Cleo selesai. Alana merasa mengantuk karna terlalu banyak memakan hidangan yang ada. Namun saat mereka berjalan dihalaman rumah Bastian, mereka berdua bertemu dengan Sandi yang memang juga diundang oleh Gery, ayah Bastian.
Rayan dan Alana berhenti melangkah dan menatap Sandi yang juga berhenti dan menatap keduanya bergantian.
Rayan menghela napas pelan. Setiap bertemu dengan Sandi, Rayan merasa emosinya mulai naik keubun ubun dan seakan membludak. Apa lagi jika mengingat apa yang Sandi tuduhkan padanya.
Enggan menyapa Sandi, Rayan pun meraih pinggang Alana dan menggiring Alana untuk melangkah cepat melewati Sandi yang berdiri didepan gerbang.
Sandi yang melihat sikap dingin Rayan padanya mengepalkan kedua tangan-nya. Rahangnya pun mengeras merasa emosi karna Sandi merasa Rayan sama sekali sudah tidak menghormatinya lagi.
Sementara Rayan dan Alana, mereka berdua memasuki mobil dalam diam. Tidak mau membuat Alana menunggu lama, Rayan pun segera menghidupkan mesin mobilnya kemudian berlalu dengan kecepatan sedang.
“Apa kalian masih marahan?” Tanya Alana hati hati.
Rayan tidak langsung menjawab. Dirinya memang masih marah pada Sandi karna ucapan Sandi yang menuduhnya mengubah wajah seseorang hanya demi kepuasan dan kepentingan dirinya sendiri. Rayan tidak bisa menerima tuduhan itu apa lagi tuduhan tersebut menyangkut tentang Alana.
“Dia menuduhku mengubah wajah seorang agar bisa mirip dengan Sakura. Aku tidak bisa menerima itu.”
Alana mengeryit. Tanpa bertanya lagi Alana tau siapa orang yang dimaksud.
“Kenapa tidak kita buktikan saja?”
“Untuk apa? Kita tidak salah Alana. Lagian apa untungnya untuk dia tau tentangku? Toh kita adalah orang lain sekarang.” Balas Rayan cepat bahkan terkesan menyela pertanyaan Alana.
Alana menghela napas. Tuduhan Sandi memang cukup keterlaluan.
“Rayan...” Panggil Alana pelan.
“Dia bersikap seperti itu karna dia sangat menyayangi putrinya. Alangkah baiknya kita menghargai itu. Mungkin dengan mengetahui bahwa wajahku ini asli rasa bencinya padamu akan hilang Rayan.. Dia akan paham dan menyadari semuanya.” Ujar Alana mencoba untuk memberikan pengertian pada suami tercintanya.
Rayan tidak menyaut tapi tetap mendengarkan saran Alana. Pria itu menambah kecepatan laju mobilnya agar segera sampai dirumah dan Alana bisa secepatnya beristirahat.
Begitu sampai dirumah, Rayan juga Alana disambut hangat oleh bibi dan pak Lim yabg membukakan pintu untuk Alana.
“Terimakasih pak..” Senyum Alana pada pak Lim.
__ADS_1
“Sama sama nyonya..” Balas pak Lim menganggukan kepalanya hormat pada Alana.
Alana melangkah pelan menghampiri Rayan yang masih berdiri disamping mobilnya. Melihat ekspresi suaminya yang tampak dingin Alana langsung bisa mengerti. Rayan mungkin tidak bisa menerima saran darinya.
“Aku istirahat dulu.” Senyum Alana sebelum berlalu dengan bibi yang menuntun-nya.
Rayan hanya diam saja ditempatnya. Rayan bukan tidak mau menerima saran dari Alana. Rayan hanya merasa dirinya tidak bersalah dan tidak seharusnya Rayan memberikan bukti pada Sandi yang pada dasarnya memang bukanlah siapa siapa. Sandi hanya ayah dari wanita yang pernah membuat Rayan bahagia. Sandi tidak berhak ikut campur masalah apapun dalam hidup Rayan.
“Permisi tuan..”
Rayan menoleh saat mendengar suara Roky yang entah sejak kapan sudah berada didepan mobilnya.
“Roky. Ada apa?” Tanya Rayan langsung.
Roky menghela napas dan memejamkan sesaat kedua matanya sebelum berbicara pada Rayan.
“Ada yang mau saya bicarakan tuan. Ini tentang nyonya Caterine.”
Rayan mengeryit mendengar Roky menyebut nama mommy-nya.
“Kenapa dengan mommy saya?” Rayan benar benar sangat penasaran sekarang. Caterine sudah berada ditempat yang seharusnya.
Rayan berdecak dan memejamkan kedua matanya. Caterine selalu saja berulah. Caterine tidak pernah sekalipun membuat Rayan tenang dalam menjalani harinya.
“Bawa mobil saya, kita kesana sekarang.” Ujar Rayan melempar kunci mobilnya pada Roky yang langsung dengan sigap bisa menangkapnya.
“Siap tuan.”
Rayan dan Luky kemudian masuk kedalam mobil Rayan. Dan mobil Rayan kembali meninggalkan kediaman-nya dengan kecepatan sedang dengan Roky yang mengemudikan.
Alana yang sedari tadi memperhatikan dibalkon kamarnya hanya bisa diam saja. Wanita itu masih mengenakan gaun putihnya. Rasa kantuk yang sempat menguasainya kini sirna begitu saja setelah memasuki kamarnya.
“Nyonya, air hangatnya sudah siapa.”
Alana membalikan tubuhnya dan menganggukkan kepala tersenyum pada bibi yang berdiri diambang pintu balkon-nya.
__ADS_1
“Terimakasih ya bi..”
“Sama sama nyonya.” Angguk bibi dengan senyuman manis dibibirnya.
Sepanjang membersihkan dirinya sampai selesai bahkan sampai berbaring diatas tempat tidur Alana terus memikirkan Rayan dan berbagai masalah yang Rayan hadapi. Masalah Rayan selalu datang dan silih berganti. Mulai dari Dion, Caterine, kemudian Sandi.
Alana meraih hp-nya menilik waktu. Helaan napas kembali keluar dari bibir merah alaminya.
3 Jam sudah Rayan keluar dan sampai sekarang belum kunjung kembali. Alana ingin menelepon tapi merasa ragu. Alana tidak mau Rayan menganggap dirinya tidak percaya padanya lagi. Apa lagi sekarang Rayan sedang sangat sensitif dalam hal sekecil apapun.
---------
“Keluarkan mommy dari sini Rayan, mommy mohon..” Caterine menggenggam erat tangan Rayan yang mengunjunginya malam ini. Wanita itu berurai air mata dan menatap Rayan dengan penuh harapan agar Rayan mau melepaskan-nya.
“Mommy minta maaf.. Mommy tau mommy salah Rayan. Mommy minta maaf.. Tolong keluarkan mommy dari sini..”
Rayan tersenyum sinis. Caterine sama sekali tidak bisa berpikir dengan baik sepertinya. Caterine tidak bisa menyadari semua kesalahan yang diperbuatnya.
“Mom..” Rayan mengusap lembut tangan Caterine yang menggenggam erat tangan-nya. Rayan tidak ingin menghilangkan rasa hormatnya pada Caterine, mommy nya sendiri. Tapi Rayan juga tidak bisa terus memaklumi apa lagi menutupi apa yang sudah Caterine lakukan baik dimasa lalu ataupun dimasa sekarang.
“Sampai kapan mommy akan terus seperti ini? Apa mommy pikir harta adalah segalanya? Mommy bahkan sampai mengirim berbagai makanan dimana didalamnya mengandung zat yang mommy sendiri tau itu sangat berbahaya untuk Alana dan anakku yang sedang Alana kandung.”
Caterine menggelengkan kepalanya. Wanita itu masih merasa benar dengan apa yang sudah diperbuatnya.
“Alana dan Sari hanya memanfaatkan kamu Rayan. Mereka juga mengincar harta kamu. Kamu harus tau itu. Mommy hanya berusaha melindungi kamu dan harta kamu..” Caterine terus merasa apa yang dilakukan-nya benar dengan menyingkirkan Alana dan janin dalam kandungan-nya.
Rayan tertawa mendengarnya. Rayan melepaskan genggaman tangan Caterine pada tangan-nya dengan paksa.
“Aku masih menghormati mommy karna mommy adalah wanita yang melahirkan aku. Tapi aku juga tidak bisa mengikuti semua kemauan mommy. Aku sudah dewasa. Aku tau apa yang terbaik untukku sekarang. Tolong mommy jaga sikap disini. Karna kalau sampai mommy kembali melakukan kekerasan pada yang lain hukuman mommy akan semakin berat.”
Caterine menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Rayan sama sekali sudah tidak bisa Caterine luluhkan.
“Enggak Rayan. Keluarkan mommy dari sini. Mommy mohon..” Caterine menangis sesenggukan. Tanganya hendak meraih tangan Rayan namun Rayan dengan cepat berdiri dari duduknya menghindari Caterine.
Rayan kemudian menatap petugas yang berjaga dipenjara tempat Caterine sekarang ditempatkan.
__ADS_1
“Tolong pindahkan mommy saya ke sel yang lain. Jangan campur mommy saya dengan tahanan lain-nya.” Katanya.
Setelah berkata seperti itu pada petugas penjaga sel tersebut, Rayan berlalu. Rayan menulikan pendengaran-nya dari teriakan dan tangisan pilu Caterine yang terus memohon dan memanggil namanya. Caterine memang ibu kandungnya. Tapi bagaimanapun juga hukum tetaplah hukum. Caterine harus mempertanggung jawabkan perbuatan-nya.