
Tepat pukul 11 Michelle datang dengan Cindy yang menemani. Keduanya mendapat sambutan hangat dari para pelayan karna memang sebelumnya Alana sudah memberitahu bahwa teman-nya akan datang berkunjung.
“Silahkan minumnya nyonya..”
“Terimakasih.. Oh iya Alana-nya mana?” Tanya Michelle pada Fina yang saat itu menyuguhkan minuman untuknya dan Cindy.
“Aku disini..”
Michelle dan Cindy langsung menoleh ke sumber suara Alana dimana Alana muncul dari dalam rumah.
Fina yang merasa tidak harus menjawab pertanyaan Michelle langsung pamit untuk kembali kedapur.
Michelle dan Cindy saling menatap kemudian menatap kembali pada Alana dan tersenyum. Keduanya bangkit dari duduknya menyambut Alana yang menghampiri mereka.
“Alana...” Gumam Michelle menatap Alana yang berdiri didepan-nya. Sampai sekarang Michelle masih berharap agar bisa kembali menjalin hubungan pertemanan yang baik lagi dekat dengan Alana seperti dulu.
Alana menatap Michelle kemudian tersenyum tipis. Tidak lupa Alana menyalimi Cindy yang selalu begitu ramah padanya sejak dulu. Alana bahkan juga bercipika cipiki dengan Cindy namun tidak dengan Michelle. Alana sudah tidak merasa benci. Hanya merasa sedikit canggung saja karna sudah lama mereka tidak pernah lagi bertegur sapa.
“Kamu apa kabar nak?” Tanya Cindy mengusap lembut bahu Alana.
“Kabar saya baik tante. Tante sendiri bagaimana kabarnya?” Jawab Alana kemudian bertanya balik pada Cindy.
“Seperti yang kamu lihat, I'm fine..” Jawab Cindy.
Alana mengangguk dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.
“Syukurlah kalau begitu tante..”
Sedangkan Michelle, dia hanya bisa tersenyum melihat kedekatan Alana dan mamahnya. Michelle tidak merasa tersinggung meskipun Alana tidak bersikap seperti pada Cindy padanya. Michelle masih sadar dengan apa yang dilakukan-nya dulu. Alana sudah mengizinkan-nya untuk berkunjung saja Michelle sudah sangat senang.
“Duduk tante, Michelle...” Ujar Alana mempersilahkan.
Michelle dan Cindy menganggukkan kepalanya kemudian kembali duduk disofa panjang diruang tamu.
“Ah ya nak, kita tadi beli makan siang. Karna Michelle bilang kamu nggak mau makan siang diluar, jadi tante belikan saja.” Kata Cindy meletakan 3 paperbag berukuran sedang yang dibawanya dan meletakan-nya diatas meja kaca didepan-nya.
Alana yang melihat itu tertawa. Cindy selalu baik padanya. Tidak seperti Agatha yang selalu sinis dan menentang hubungan-nya dengan Dion dulu. Agatha bahkan sering menghina Alana bahkan didepan Sari juga.
__ADS_1
“Tante tidak perlu serepot itu seharusnya. Terimakasih banyak loh tante..” Senyum Alana.
Alana kemudian memanggil pelayan dan meminta tolong pada pelayan-nya itu agar menata apa yang dibawakan Cindy dan Michelle dimeja makan.
Cindy melirik Michelle yang hanya diam dan tersenyum disampingnya. Tanpa bertanya pun Cindy tau hubungan putrinya dan Alana tidak sedekat dulu lagi. Semua itu tentu saja karna kesalahan Michelle dulu.
“Tante nggak nyangka banget loh Na, suami kamu ternyata tuan Rayanza. Pengusaha tampan yang hebat dan digilai banyak wanita. Kamu benar benar sangat beruntung.”
Alana tersenyum menanggapi apa yang Cindy ucapkan. Dirinya memang sangat beruntung. Tuhan sangat menyayanginya.
Tidak lama kemudian pelayan yang tadi dimintai tolong oleh Alana kembali mendekat.
“Nyonya, makanan-nya sudah saya tata dimeja makan.” Katanya.
“Ah ya.. Terimakasih yah..” Saut Alana tersenyum.
“Sama sama nyonya. Saya permisi kebelakang lagi.”
“Ya...” Angguk Alana.
Alana kemudian segera mengajak Cindy dan Michelle kemeja makan untuk menyantap makanan yang Cindy dan Michelle bawa. Dan lagi lagi Alana asik mengajak Cindy mengobrol tapi seperti mendiamkan dan tidak perduli pada Michelle.
Setelah makan siang selesai, Alana mengajak Michelle dan Cindy ke taman untuk menikmati pemandangan indah bunga bunga yang bermekaran karna pelayan yang begitu rajin merawat bunga bunga itu.
Kali ini Michelle tidak mau diam lagi. Michelle akan mengatakan semuanya pada Alana. Michelle juga akan meminta maaf pada Alana karna sudah mengkhianati pertemanan kental mereka dulu.
“Alana, aku mau jujur sama kamu..” Ujar Michelle membuat Alana menatapnya.
Sedang Cindy, wanita itu diam diam memilih untuk menyingkir. Cindy tau maksud Michelle mengajaknya menemui Alana karna Michelle ingin jujur dan mengatakan semuanya untuk kemudian meminta maaf pada Alana.
“Jujur tentang apa?” Tanya Alana menundukan kepalanya. Alana membelai lembut perut besarnya.
Michelle menghela napas.
“Tentang aku dan Dion dulu..” Lirih Michelle.
“Aku tidak ingin membahas apapun tentang masa lalu Michelle..” Balas Alana tenang.
__ADS_1
“Enggak. Kamu harus mendengarkan-nya lebih dulu Alana..”
Alana tersenyum. Semua yang sudah berlalu bagi Alana sudah tidak perlu lagi diungkit. Apa lagi jika itu menyangkut tentang Dion.
Michelle mulai menceritakan semuanya pada Alana. Michelle juga menceritakan tentang perlakuan manis Dion yang memang tidak gratis.
“Sudahlah Michelle.. Apa yang terjadi itu sudah berlalu. Dan aku harap baik kamu maupun Dion bisa mengambil pelajaran dari masa masa itu. Aku sudah bahagia sekarang. Dan aku merasa sudah tidak perlu lagi menengok kebelakang. Aku hanya ingin menatap kedepan berusaha melakukan yang terbaik untuk masa mendatang.”
Michelle mengangguk mengerti dengan apa yang Alana katakan. Semuanya memang sudah berlalu dan tidak perlu lagi diungkit. Toh Dion pun juga sudah mendapatkan karma atas apa yang diperbuatnya. Baik pada Alana maupun padanya.
“Jadi apa kamu mau memaafkan aku? Bisakah kita menjalin hubungan pertemanan yang baik seperti dulu Alana?”
Alana tidak langsung menyaut. Alana tau Michelle pasti akan kembali mengatakan sesuatu setelah ini.
“Jujur Alana, setelah kita putus hubungan aku benar benar merasa sendiri. Apa lagi dengan apa yang Dion lakukan sama aku selama kami menikah. Aku merasa sendiri dan tidak punya teman untuk bicara..”
Alana tersenyum mendengarnya.
“Semuanya sudah impas Michelle.. Kamu mendapat balasan atas apa yang kamu lakukan. Tuhan itu maha adil juga maha baik. Buktinya kamu bisa lolos kan dari cengkraman Dion?”
Michelle menundukan kepalanya menatap perut besarnya yang mungkin tidak akan lama lagi akan kembali ramping. Ya, usia kandungan-nya memang sudah hampir menuju waktu lahiran.
“Jadi bagaimana Alana? Apa kita masih bisa berteman lagi seperti dulu?” Michelle kembali mengulang pertanyaan-nya meminta kepastian dari Alana.
Alana menghela napas. Michelle pada dasarnya memang teman yang sangat baik. Bahkan sekarang Alana merasa bahwa kehadiran-nya lah yang salah ditengah antara Dion dan Michelle. Karna memang Dion dan Michelle sudah dekat bahkan sejak mereka masih duduk dibangku sekolah.
“Aku bukan tuhan yang bisa menghakimi seseorang atas kesalahan-nya. Tapi aku juga tidak bisa munafik, aku hanya manusia biasa yang mempunyai rasa benci.” Jeda sejenak. Alana menghela napas kemudian menoleh menatap Michelle yang terus menatap perutnya sendiri.
“Kamu enggak perlu minta maaf Michelle. Kita masih berteman meskipun sempat putus hubungan.” Lanjut Alana.
Michelle langsung mengangkat kepalanya dan menoleh membalas tatapan Alana.
“Kamu serius? kita tetap teman?” Tanya Michelle tidak percaya.
“Ya. Kita tetap teman.” Angguk Alana tersenyum.
Michelle ikut tersenyum kemudian segera berhambur memeluk Alana. Michelle meneteskan air mata harunya dibalik punggung Alana. Michelle merasa sangat lega juga terharu karna Alana masih mau menganggapnya teman setelah apa yang Michelle lakukan dulu.
__ADS_1
“Makasih Alana.. Makasiih banget.”