
Luky mengeryit bingung melihatnya. Pria itu bergegas keluar dari mobilnya dan mendekat pada Alana, Rayan, juga Bastian.
“Apa yang anda lakukan itu sangat berbahaya nyonya. Anda sengaja melakukan itu supaya saya dipenjara begitu?!”
Bastian tanpa sedikitpun merasa takut pada Rayan menegur Alana. Bastian kesal karna Alana membuatnya hampir saja melukainya.
“Adikku. Dia mengenal kamu.” Ujar Alana menatap Bastian yakin.
Bastian mengeryit. Bastian tidak pernah mengenal keluarga Rayan sebelumnya. Bastian juga tidak mengenal Alana apa lagi adiknya.
“Namanya Sechil. Kamu pasti juga mengenalnya.” Tambah Alana.
Sementara Rayan, pria itu dibuat kebingungan oleh tingkah berani istrinya. Rayan tidak marah saat Bastian menegur Alana dengan nada sedikit tinggi. Karna Rayan sendiri tau pasti rasanya jika berada diposisi Bastian yang hampir saja menabrak orang karna faktor sengaja dari orang tersebut.
“Dia disana.” Alana menunjuk Sechil membuat Bastian langsung menoleh. Bastian mengeryit bingung menatap Sechil yang menangis sesunggukan.
“Dia menangis karna takut suaminya salah paham karna ingin bertemu dengan kamu.” Lanjut Alana.
Rayan menyipitkan kedua matanya. Rayan yakin Sechil dan Bastian sama sekali tidak saling mengenal. Sechil bahkan tidak pernah bertemu dengan Bastian setahu Rayan.
Penasaran, Bastian pun melangkahkan kakinya mendekat pada Sechil yang berjarak hanya beberapa meter dari mobilnya. Entah apa yang Alana maksud sehingga tiba tiba Sechil ingin bertemu dengan-nya namun takut suaminya salah paham.
“Alana.. Apa maksudnya ini?” Tanya Rayan tidak mengerti. Tidak mungkin Sechil sampai menangis jika hanya ingin bertemu atau bertatap muka langsung dengan Bastian.
Alana mengedikkan kedua bahunya. Alana tidak tau jelas apa yang Sechil inginkan. Alana hanya menebak saja mungkin Sechil mengenal Bastian dan ingin bertemu.
“Dimana Ramon?” Tanya Rayan kemudian.
“Ramon sedang membeli susu untukku. Bibi dan Fina lupa membawanya. Dan Ramon sendiri yang tiba tiba ingin membelikan.” Jawab Alana.
Rayan menganggukan kepalanya mengerti. Ramon memang tidak sungkan jika membantu sesama.
Rayan kembali memusatkan perhatian-nya pada Sechil dan Bastian yang kini sudah saling berhadapan. Sekali lagi Rayan yakin Sechil dan Bastian memang tidak saling mengenal.
“Apa mungkin mereka itu teman lama?” Gumam Alana bertanya pada Rayan namun dengan tatapan yang terus tertuju pada Sechil dan Bastian.
__ADS_1
“Aku yakin mereka tidak saling mengenal.”
Alana mengeryit.
“Jangan sok tau Rayan.” Tegurnya.
Rayan hanya diam saja. Rayan mulai merasa ada yang janggal dengan Sechil.
“Maaf, apa anda mengenal saya?” Tanya Bastian pada Sechil yang terus saja menangis didepan-nya.
Sechil menggelengkan kepalanya. Keinginan-nya semakin kuat. Sechil bahkan merasa tubuhnya seperti terdorong kedepan dan Sechil berusaha untuk menahan-nya.
Bastian mengangkat sebelah alisnya. Sechil benar benar aneh.
“Nyonya Alana mengatakan anda mengenal saya dan ingin bertemu dengan saya. Sekarang saya sudah ada didepan anda, tolong bicara sesuatu. Jangan hanya menangis.” Bastian berkata dengan tegas pada Sechil yang terus saja menangis.
Sechil semakin kencang menangis. Dadanya terasa sesak mendengar suara meninggi Bastian padanya.
“Maaf.. Huhuhuhu...”
Bastian mendelik. Sechil sangat cengeng.
Alana dan Rayan yang merasa tidak tega karna Sechil terus menangis sesunggukan pun perlahan mendekat. Rayan berdiri disamping kiri Sechil sedang Alana disamping kanan-nya.
“Sechil.. Katakan pelan pelan. Ada apa?” Rayan bertanya dengan suara lirih pada Sechil.
Sechil menatap Rayan dengan wajah basah dan merah.
“Kak.. Aku...” Ucapan-nya terpotong oleh isak tangisnya.
“Kenapa? Katakan saja. Semuanya akan baik baik saja Sechil.” Alana ikut merayu Sechil yang bertingkah seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu namun tidak berani untuk mengatakan-nya secara terus terang.
Sechil menggeleng. Keinginan-nya kali ini pasti membuat semua orang bertanya tanya.
“Aku.. Aku ingin sekali memeluk orang itu..” Sechil akhirnya mengutarakan keinginan-nya meski dengan terus menangis.
__ADS_1
Alana dan Rayan mendelik begitu juga dengan Luky yang mendekat pada mereka. Semuanya terkejut dengan apa yang diinginkan oleh Sechil malam itu. Bastian bukanlah siapa siapa namun tiba tiba Sechil ingin memeluknya.
“Apa ini? Sechil, kamu jangan bercanda. Ramon pasti akan salah mengerti jika kamu memeluk Bastian.” Rayan menegur Sechil mengingatkan. Pria itu menganggap Sechil sangat konyol karna tiba tiba ingin memeluk pria yang bukan siapa siapanya.
Sementara Bastian dan Luky, keduanya saling bertatapan sesaat. Luky menatap Bastian dan perut Sechil bergantian.
“Ya tuhan.. Apa mungkin Bastian adalah ayah dari anak yang sedang dikandung nona Sechil?” Luky bertanya tanya dalam hati.
“Bastian, maaf. Kamu boleh pergi sekarang.” Rayan meminta maaf kemudian memerintah dengan sangat tegas. Rayan memikirkan Ramon yang pasti tidak akan terima jika melihat istrinya memeluk pria lain apapun alasan-nya.
“Tidak. Jangan dulu pergi.” Alana bersuara mencegah agar Bastian tidak langsung pergi.
Sedang Bastian, pria itu hanya diam dengan segala kebingungan-nya. Dari sekian banyaknya wanita yang berhubungan dengan-nya Sechil bukanlah salah satunya.
“Rayan, Sechil ini sedang hamil. Keinginan-nya harus dipenuhi. Mungkin dia sedang ngidam.” Alana menatap Rayan meminta pengertian dari Rayan yang jelas sekali terlihat marah.
“Enggak Alana. Ini salah. Yang harusnya Sechil peluk bukan Bastian, tapi Ramon suaminya. Jangan gila.” Rayan tetap merasa tidak setuju apapun alasan-nya. Dan perdebatan Rayan juga Alana membuat Sechil semakin kencang menangis. Sechil juga menyadari keinginan-nya salah. Tapi tekanan diperutnya semakin terasa begitu berhadapan dengan Bastian langsung.
“Sudah cukup.. Tolong jangan berdebat. Aku hanya ingin memeluknya sebentar. Itu saja. Tolong mengerti..”
Rayan dan Alana langsung diam. Keduanya menatap Sechil dengan ekspresi yang berbeda. Rayan yang tidak menyangka, sedang Alana merasa kasihan.
“Hanya sebentar saja.. Aku akan menjelaskan nanti pada Ramon...” Kali ini Sechil menatap iba pada Bastian membuat Bastian semakin bingung.
“Bastian tolong turuti saja. Jangan sampai anak dalam kandungan adik saya nanti ileran lahirnya.” Dorong Alana meyakinkan Bastian.
Rayan mendelik. Saat Rayan ingin membuka mulut untuk bersuara Alana langsung menutupinya dengan tangan. Alana hanya bermaksud baik dengan menuruti kemauan Sechil yang mungkin sedang ngidam.
“Baiklah kalau begitu. Sebelumnya saya minta maaf tuan dan nyonya. Saya hanya menuruti kemauan nona ini saja.” Kata Bastian.
-----
“Sechil pasti suka dengan cimol pedas ini..” Ramon melangkah dengan senyuman dibibirnya menenteng beberapa dus susu hamil untuk Alana yang didalam kresek putih juga cimol pedas yang mungkin akan disuka oleh Sechil.
Ramon memang sengaja berjalan kaki karna lokasi indomaret memang tidak jauh dari kompleks perumahan tempat Rayan dan Alana akan menetap nanti.
__ADS_1
Ketika sampai didepan gerbang dan hendak membukanya Ramon tertegun melihat Sechil yang sedang memeluk seorang pria. Ramon refleks menjatuhkan semua yang dibawanya termasuk cimol yang dibelinya untuk Sechil.
“Sechil...” Lirih Ramon tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pasalnya disana juga ada Rayan, Alana, dan Luky.