Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 206


__ADS_3

Mamah Bastian dan Luna akhirnya memutuskan ikut dengan Sechil juga Ramon kerumah sakit untuk menjenguk Alana yang beru saja melahirkan. Meski sebenarnya Sechil juga Ramon merasa was was bercampur bingung karna ada Luna yang sedang menagih penjelasan darinya.


“Oh iya Ramon, Sechil bayi tuan Rayan laki laki atau perempuan?” Tanya mamah Bastian pada Sechil dan Ramon yang sedang fokus mengemudikan mobil miliknya.


Ya, Mamah Bastian memang mengajak mereka untuk sekalian menaiki mobilnya saja.


“Eemm.. Kami berdua lupa tidak menanyakan itu mah tadi.” Jawab Sechil meringis malu. Ramon memang tidak memberitahunya karna Ramon juga tidak menanyakan tentang hal itu saat Rayan menelepon-nya saat sarapan tadi.


“Oohh.. Begitu. Terus enaknya kita bawa apa kesana?”


Ramon melirik dari kaca mobil pada Sechil yang kebingungan. Sechil merasa tidak enak hati jika harus menyinggung tentang apa yang akan mereka bawa.


“Eemm.. Kayanya nggak usah deh mah.. nggak usah repot repot.” Jawab Sechil.


Mamah Bastian mengeryit mendengarnya.


“Hey kalian berdua jangan membuat mamah malu. Tuan Rayan itu bukan orang sembarangan. Kita harus membawa buah tangan kesana.” Protes mamah Bastian.


Sementara Luna yang duduk disamping kemudi hanya diam saja. Luna tidak mengerti kenapa Sechil dan Ramon memanggil wanita disamping Sechil dengan sebutan mamah. Sedang Luna sendiri tau wanita itu bukan siapa siapa Ramon maupun Sechil.


Sechil hanya diam saja begitu juga dengan Ramon karna protesan dari mamah Bastian.


“Ramon, kita mampir ke mall sebentar.” Perintah mamah Bastian.


“Ya mah..” Angguk Ramon menurut saja.


Ramon menghentikan mobilnya didepan mall karna mamah Bastian yang memintanya. Mamah Bastian kemudian mengajak Sechil turun tapi tidak dengan Ramon dan Luna yang disuruh menunggu didalam mobil saja.


“Sekarang hanya tinggal kita berdua disini. Kamu bisa jelaskan sama aku Ramon.” Ujar Luna menatap Ramon serius.


Ramon menghela napas. Entah darimana taunya Luna tentang hubungan-nya dan Sechil. Padahal jika bertemu dikampus Luna tidak pernah menyinggung tentang itu.


“Aku buntutin kamu diam diam semalam Ramon. Dan aku tau dari tetangga kontrakan kamu tentang kamu dan Sechil yang memang adalah suami istri.” Jelas Luna yang mengerti dengan kediaman Ramon.


Ramon melirik sekilas pada Luna kemudian mulai menceritakan awal mula dirinya menikahi Sechil. Ramon juga tidak bisa memungkiri dan berkata jujur pada Luna bahwa dirinya masih sangat mencintai Sechil saat itu sehingga Ramon memutuskan untuk bertanggung jawab meskipun bukan dirinya ayah biologis janin yang dikandung Sechil.

__ADS_1


“Terus tadi orang yang kamu dan Sechil panggil mamah itu siapa?” Tanya Luna penasaran.


“Itu mamah aliya. Mamahnya Bastian, laki laki yang menghamili Sechil.” Jawab Ramon.


Luna ternganga tidak percaya. Tapi itu Ramon yang menjelaskan. Dan Luna tau siapa Ramon yang tidak mungkin berbohong padanya.


Tidak lama kemudian Sechil dan mamah Bastian datang dengan membawa beberapa paperbag berukuran sedang. Mereka berdua masuk kedalam mobil dengan mamah Bastian yang membantu Sechil agar masuk lebih dulu kedalam mobilnya.


“Sudah.. Ayo kita jalan.” Perintah mamah Bastian yang diangguki Ramon.


------


“Aku pikir anak kita laki laki..” Kata Alana sambil mengusap pelan dan lembut pipi gembul putrinya yang sedang kuat menyusu padanya.


Rayan tertawa mendengarnya. Rayan juga sempat berpikir begitu karna saat didalam perut Alana gerakan-nya sangat aktif dan kencang.


“Tapi nggak papa sih.. yang penting kamu sehat sayang..” Tambah Alana.


“Iya dong.. Mau anak kita laki laki ataupun perempuan itu nggak masalah. Yang penting kamu juga anak cantik daddy ini sehat.” Senyum Rayan mengimbuhi.


Alana mengeryit mendengarnya.


“Iya.. Aku kan Daddy nya.” Jawab Rayan.


“Tapi aku mau dipanggil mamah, bukan mommy..” Protes Alana.


“Ya sudah nggak papa. Dia panggil kamu mamah tapi tetep panggil aku daddy.” Senyum Rayan.


Alana ingin kembali protes tapi kemudian berpikir lagi. Rayan tidak akan mengubah panggilan daddy nya meskipun Alana protes. Dan juga panggilan apapun asalkan baik tidak masalah manurut Alana.


“Ya sudah nggak papa. Daddy sama mamah bukan panggilan yang buruk kok. Yang jadi pertanyaan ibu akan kalian beri nama siapa cucu cantik ibu ini?”


Rayan dan Alana dengan kompak menoleh pada Sari mendengarnya. Mereka saling menatap kemudian tersenyum.


“Untuk ibu kami masih harus memilih beberapa nama bu.. Kan kasih nama juga tidak sembarangan.” Jawab Rayan pelan.

__ADS_1


“Iya sih.. Kamu benar, nama itu harus bagus artinya. Karna nama juga bisa membawa kebaikan untuk anak kalian nantinya.”


Alana menganggukan kepalanya setuju. 8 Bulan satu hari mengandung putrinya dan hampir 15 jam berjuang melahirkan-nya benar benar sangat berkesan bagi Alana. Dan Alana ingin usahanya tidak sia sia. Putrinya tumbuh menjadi anak yang berbudi pekerti yang baik.


“Ini sayang buahnya..” Sari mendekat pada Alana dengan sepiring buah apel yang sudah dikupas dan dipotongi.


Rayan yang mengerti langsung mengambil alih putrinya dari gendongan Alana. Meski putrinya sempat protes karna dipaksa berhenti menyusu pada Alana oleh Rayan.


“Cup cup anak cantik daddy...”


Alana dan Sari tertawa geli melihat Rayan yang mengayun ayun dengan pelan putrinya yang akhirnya kembali tertidur dalam gendongan-nya. Mereka berdua benar benar merasa sangat kagum pada sosok Rayan yang bisa memposisikan dirinya dalam keadaan apapun.


Tidak lama dokter yang membantu persalinan Alana masuk. Dokter itu mengecek keadaan Alana yang memang tidak mengeluhkan suatu apapun setelah perjuangan hidup dan matinya melahirkan putri cantiknya.


“Kondisi nyonya Alana semakin membaik dan nanti sore sudah bisa pulang.” Kata dokter cantik itu tersenyum pada Alana dan Sari.


“Terimakasih dokter.” Balas Alana.


“Sama sama nyonya. Anda benar benar sangat luar biasa nyonya.”


Rayan yang sedang mengayun ayun putri kecilnya tersenyum. Rayan setuju dengan apa yang dikatakan dokter tersebut. Alana memang sangat luar biasa.


“Kalau begitu saya permisi nyonya, tuan.”


“Ah ya dokter, silahkan. Sekali lagi saya sangat berterimakasih.” Kali ini Rayan yang menyaut.


“Sama sama tuan.” Angguk si dokter sebelum berlalu keluar dari ruang rawat Alana.


Tidak lama setelah dokter itu keluar, pintu ruang rawat Alana diketuk dari luar. Namun belum sempat Rayan maupun Alana menyaut, pintu itu sudah terbuka memunculkan Sechil, Ramon, Luna juga mamah Bastian yang masuk paling akhir.


Rayan dan Alana tertawa melihat kedatangan mereka meski sedikit terkejut karna ada mamah Bastian diantara mereka.


“Nyonya Alana, tuan Rayanza, selamat atas kelahiran anak pertamanya. Semoga kelak anak anda berdua tumbuh menjadi anak yang baik dan bermanfaat bagi semua orang disekitarnya.” Ujar Mamah Bastian mendekat pada Alana yang duduk bersender bantal diatas brankarnya.


“Aamiin..Terimakasih atas do'a dan kedatangan-nya nyonya..” Senyum Alana ramah.

__ADS_1


Alana, Sari, dan Mamah Bastian mengobrol dengan hangat. Sedangkan Sechil dan Ramon, mereka sibuk mengganggu Rayan yang sedang mengayun putri pertamanya. Sechil bahkan sampai memohon pada kakaknya itu untuk menggendong bayi cantik Rayan dan Alana, namun sepertinya Rayan enggan memberikan-nya. Rayan tetap mengayun putri cantiknya mengabaikan Sechil dan Ramon yang terus membujuknya.


Luna yang melihat sifat kekanak kanakan ketiganya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Luna baru tau bahwa seorang Rayanza Gilbert yang terkenal dingin juga punya sisi kekanak kanakan yang mirip dengan sikap Sechil.


__ADS_2