Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 179


__ADS_3

Rayan menatap Caterine yang terduduk disudut ruangan selnya. Wanita itu sepertinya belum menyadari kehadiran Rayan disekitarnya. Caterine terus memainkan jari jari tangan-nya sembari terus bergumam kemudian tersenyum bahkan tertawa sendiri.


Rayan tidak bisa bohong. Hatinya terasa teriris melihat kondisi Caterine sekarang. Andai saja harta bisa membuat Caterine puas, Caterine pasti tidak akan dipenjarakan seperti sekarang. Tapi sayangnya bukan cuma harta yang Caterine inginkan. Tapi juga kehancuran anak anaknya.


“Sejak kapan mommy seperti ini?” Tanya Rayan pada Robin dengan suara pelan. Tatapan Rayan terus tertuju pada Caterine yang masih belum juga menyadari keberadaan Rayan disekitarnya.


“Saya juga tidak tau persisnya kapan tuan. Saya pun baru tau dan memperhatikan setelah dokter yang menangani nyonya Caterine datang dan memberitahu saya. Saya kemudian mengecek CCTV dan melihat gelagat aneh nyonya Caterine.” Jawab Robin yang memang tidak lagi berjaga full 24 jam disekitar Caterine.


Rayan menghela napas dengan anggukan pelan kepalanya. Rayan tau apapun yang terjadi pada Caterine itu adalah akibat dari kesalahan-nya sendiri, bukan kelalaian orang lain. Rayan tau bagaimana kinerja Robin.


“Mana kuncinya?” Tanya Rayan lagi.


Robin segera merogoh saku celana jins hitamnya mengeluarkan kunci sel tempat Caterine ditahan. Petugas memang sudah menyerahkan tanggung jawab pada Robin tentang Caterine seperti yang diinginkan Rayan. Bagi petugas yang paling penting adalah Caterine tetap mendapat hukuman atas apa yang diperbuatnya.


“Ini tuan..” Ujar Robin memberikan kunci tersebut pada Rayan.


Rayan menerimanya kemudian mendekat pada pintu Sel. Saat Rayan membuka pintu sel itu dengan kunci, saat itu juga Caterine menyadari kehadiran Rayan. Caterine langsung bangkit dari duduknya menatap Rayan dengan wajah sumringah.


“Rayan.. Anakku..” Katanya.


Rayan tersenyum mendengarnya. Andai saja Caterine mengatakan itu dengan sadar dan dari lubuk hatinya yang terdalam, Rayan pasti akan sangat bahagia sekali.


Sebelum masuk kedalam sel tahanan Caterine, Rayan menyuruh agar Robin tidak lengah. Rayan khawatir Caterine akan memberontak tiba tiba dan berlari keluar dari sel untuk membebaskan diri.


Rayan mendekat pada Caterine yang langsung mencegat dan berhambur memeluknya dengan erat. Caterine juga langsung tertawa begitu Rayan membalas pelukan-nya.


“Akhirnya kamu datang juga Rayan.. Mommy bosan disini. Mommy kesepian..”


Rayan menghela napas kemudian melepaskan pelukan Caterine. Tanpa Caterine mengatakan-nya pun Rayan tau, tidak ada seorangpun yang betah dan mau tinggal didalam sel.


“Kamu kesini pasti mau ajak mommy pulang kan? Ya kan? Kamu juga pasti kangen kan sama mommy?”


Rayan hanya diam menatap Caterine yang memang terlihat aneh. Tatapan-nya terlihat sedih dan kosong namun bibirnya terus menyunggingkan senyuman lebar.


“Rayan mommy disini mau makan kok.. Mommy selalu teratur sarapan, makan siang, juga makan malam. Mommy sudah pintar sekarang. Jadi kamu ajak mommy pulang yah.. Mommy nggak mau disini terus terusan sama Robin. Mommy kesepian..”

__ADS_1


Rayan menghela napas. Celotehan Caterine mulai tidak jelas seperti anak kecil yang sedang merengek meminta sesuatu.


“Ayo kita pulang sekarang. Mommy juga nggak sabar mau ketemu sama Sechil..”


“Bagaimana dengan Alana mom, apa mommy juga ingin bertemu dengan Alana?” Sela Rayan bertanya dengan tatapan terus terarag tepat pada kedua mata Caterine.


Ekspresi Caterine langsung berubah. Senyuman lebar dibibirnya memudar begitu mendengar pertanyaan yang dilontarkan Rayan tentang Alana.


“Alana?” Tanya Caterine menatap Rayan dengan ekspresi datar.


Rayan menganggukan kepalanya. Sorot mata kosong dan sedih Caterine langsung berubah menjadi sorot penuh kebencian dan dendam.


“Alana itu jahat, dia tidak pantas hidup Rayan. Dia mengambil semuanya dari mommy.. Alana harus disingkirkan. Dia itu penghancur keluarga kita. Dia membuat kamu dan Sechil meninggalkan mommy..”


Rayan tersenyum miris mendengarnya. Sepertinya memang ada sedikit gangguan dipikiran Caterine. Meskipun memang Caterine masih menyimpan dendam pada Alana yang tidak tau apa apa.


“Alana orang baik mom.. Dia istriku.” Ujar Rayan.


Caterine menggelengkan kepalanya menolak apa yang Rayan katakan.


“Enggak, Alana itu orang jahat. Alana munafik. Dia hanya mengincar harta kita Rayan. Dia juga ibunya, mantan pelayan itu hanya sedang berusaha menguasai harta kita.” Ujar Caterine membuat Rayan tidak percaya. Caterine memutar balikan fakta. Caterine menuduh Alana dan menyamakan niatnya dengan Alana juga Sari, ibunya.


Caterine menatap Rayan dengan keryitan dikeningnya.


“Kamu mau tinggalin Alana dan pilih mommy?” Tanya nya balik.


Rayan menggelengkan kepalanya.


“Aku tetap akan bersama Alana. Tapi aku akan memberikan semua yang aku miliki pada mommy. Bagaimana? Mommy mau?”


Caterine menggelengkan kepalanya lagi.


“Enggak Rayan, kamu harus memilih mommy. Kamu harus sama Juita. Tinggalkan wanita tidak jelas itu.”


“Tuan, maaf. Dokter yang menangani nyonya Caterine sudah datang dan sedang menunggu anda diluar.” Ujar Robin mendekat membuat Rayan menolehkan kepalanya.

__ADS_1


“Ya. Saya akan segera keluar.” Saut Rayan.


Robin menganggukan kepala kemudian kembali menjauh dari Rayan dan Caterine kembali berdiri didepan pintu sel tempat Caterine ditahan.


Rayan menghela napas. Pria itu membelai pipi tirus Caterine. Tatapan penuh bencinya kembali berubah menjadi tatapan kosong campur kesedihan.


“Rayan keluar dulu sebentar mom..” Ucap Rayan.


“Mommy ikut..” Tahan Caterine menggenggam tangan besar Rayan.


Rayan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak akan lama..”


Rayan melepaskan genggaman tangan Caterine kemudian melangkah keluar meninggalkan Caterine yang langsung menjerit jerit memanggil nama Rayan. Robin yang memang selalu sigap segera menutup pintu sel Caterine mencegah agar Caterine tidak berlari keluar mengejar Rayan.


Rayan tidak tuli, Rayan mendengar teriakan bercampur tangis Caterine. Tapi Rayan juga tidak mungkin membebaskan Caterine apa lagi setelah mendengar apa yang Caterine katakan tentang istrinya Alana.


Rayan melangkah keluar dari ruangan tempat Caterine ditahan. Saat itu juga suara teriakan bercampur tangisan Caterine sudah tidak lagi terdengar ditelinganya.


Rayan menghela napas. Semuanya harus selalu baik baik saja terutama hubungan-nya dengan Alana.


Rayan melangkah mendekat pada seorang dokter yang duduk dikursi tidak jauh dari ruangan tempat Caterine ditahan.


“Selamat siang dokter..” Sapa Rayan membuat dokter baya yang sedang fokus dengan hp nya langsung menoleh.


Dokter itu langsung berdiri dari duduknya menyambut kedatangan Rayan.


“Tuan Rayan, selamat siang..” Angguk dokter itu sopan pada Rayan.


Rayan tersenyum. Rayan merasa sedikit tidak enak sebenarnya jika ada orang yang jauh lebih tua darinya sangat hormat padanya.


“Ah ya silahkan duduk tuan..” Dokter itu mempersilahkan untuk Rayan duduk. Dia menyingkirkan tas kerjanya yang awalnya berada disampingnya duduk.


“Terimakasih dokter. Tapi bagaimana kalau kita membicarakan tentang mommy saya sambil kita makan siang saja.” Tolak Rayan halus kemudian menawarkan pada dokter itu untuk makan siang bersama.

__ADS_1


“Itu tidak buruk tuan. Mari..” Saut dokter baya itu tersenyum.


Rayan mengangguk kemudian mempersilahkan untuk pria baya berjas putih berjalan lebih dulu didepan-nya.


__ADS_2