Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 64


__ADS_3

Sechil dengan susah payah melepas celana jins panjang yang sudah digunting dibagian belakangnya yang dia kenakan didalam kamar mandi dilantai bawah dengan bantuan Caterine. Gadis itu terus saja mengumpat dan menyumpahi Alana yang mengerjainya pagi ini.


“Lihat saja nanti, aku akan membuatnya menyesal telah melakukan ini padaku.” Sechil berkata dengan rahang mengatup keras. Alana membuatnya benar benar marah pagi ini. Selain mengerjainya dengan segelas susu yang super asin, Alana juga memberi lem pada kursi yang diduduki Sechil hingga akhirnya Sechil harus bersusah payah menggunting celana kesayangan-nya itu.


“Sechil sepertinya Alana memang bukan wanita yang lemah. Dia tidak seperti Sakura.” Caterine memberikan handuk untuk dipakai oleh Sechil.


Sechil mengambil handuk putih itu dari tangan Caterine kemudian segera memakainya. Tidak mungkin rasanya jika dirinya keluar hanya dengan mengenakan daleman saja.


“Aku tidak perduli. Lemah atau tidak dia tetap harus kita kasih pelajaran bila perlu kita singkirkan.”


Caterine berdecak. Wanita itu kemudian menghela napas pelan.


“Jangan gegabah Sechil. Jangan ulangi kebodohanmu untuk yang kedua kalinya.” Ucap Caterine pelan.


Sechil berdecak. Bibirnya mngerucut sebal mendengar ucapan Caterine.


“Mom..”


“Rayan akan mengusir kita jika kamu nekat. Rencana kita akan berantakan dan kita tidak akan mendapat apapun disini.” Sela Caterine tegas.


Enggan mendengarkan Caterine, Sechil pun keluar dari kamar mandi meninggalkan Caterine tanpa memperdulikan-nya. Gadis itu melangkah menuju lift berniat menuju kamarnya untuk mengambil celana ganti.


“Aku tidak perduli. Alana harus tau akibat dari membuatku kesal.” Gumam Sechil tersenyum miring.


Begitu sampai dilantai 2 dimana kamar yang ditempatinya berada, Sechil segera melangkah cepat. Deringan hp membuatnya berdecak, itu sedikit mengganggunya. Sechil memang sudah ada janji dengan kekasihnya untuk bertemu hari ini.


“Sayang.. Aku akan tiba tidak sampai 20 menit lagi.” Katanya begitu mengangkat telpon tersebut.


Sechil buru buru mengambil celana ganti dan mengenakan-nya. Sechil tidak ingin terlambat menemui pujaan hatinya itu. Baginya pria itu adalah segalanya sekarang.


Selesai mengenakan celana-nya Sechil kembali turun kelantai 1. Disana Caterine mencegatnya didepan lift dengan kedua tangan dilipat dibawah dada.


“Mom...”


“Mau kemana kamu Sechil?”

__ADS_1


Sechil memutar jengah kedua bola matanya. Caterine memang bisa sangat over jika tentangnya.


“Mom.. Aku ada kelas pagi hari ini.” Jawab Sechil berbohong. Gadis itu melangkah keluar dari lift dan melewati Caterine begitu saja.


“Jangan bohong kamu Sechil. Mommy tau kamu tidak pernah berangkat ke kampus. Kamu hanya bersenang senang dengan pacar kamu yang tidak tau diri itu.”


Sechil berhenti melangkah kemudian berbalik menatap Caterine sama sekali tidak merasa takut dengan kemarahan Caterine padanya. Gadis mendekat kembali pada mommy-nya.


“Mom.. Jangan khawatir.. Sechil bisa jaga diri kok. Kalau begitu Sechil pergi dulu ya.. Sechil tau mommy sangat menyayangi Sechil..” Sechil tersenyum manis sambil membelai lembut pipi Caterine. Gadis itu sama sekali tidak mau mendengarkan apa yang Caterine katakan padanya.


“Sechil jalan ya mom..”


Satu kecupan lembut Sechil daratkan dipipi Caterine sebelum akhirnya berlari menjauh keluar dari dalam rumah tanpa sedikitpun mau mendengarkan Caterine yang hanya bisa menghela napas.


“Sechil.. Mommy hanya tidak mau kamu dimanfaatkan oleh orang diluar sana..” Caterine bergumam lirih. Caterine sangat menyayangi putri bungsunya itu. Putrinya yang tidak pernah sedikitpun mendapatkan perhatian dari pria yang adalah daddy kandungnya.


Caterine melangkah pelan menyusul Sechil. Tatapanya begitu khawatir menatap mobil yang dikendarai Sechil mulai keluar dari pekarangan luas rumah Rayan.


Caterine kembali ke indonesia bukan tanpa alasan. Disana dirinya sudah tidak lagi punya apa apa. Semuanya habis Caterine jual untuk memenuhi kebutuhan-nya dan Sechil.


“Mommy akan melakukan apa saja untuk kamu nak.. Apapun itu asal kamu berkecukupan mommy akan lakukan.” Gumamnya.


“Jadi nyonya Caterine dan Sechil datang keindonesia? Sejak kapan?”


Alana menatap penuh tanda tanya pada Sari yang terlihat terkejut juga khawatir secara bersamaan.


“Sejak aku dan Rayan mau berangkat honeymoon bu..” Jawab Alana meletakan sepotong cake buatan ibunya yang awalnya sedang dia nikmati.


“Ya tuhan..” Lirih Sari dengan ekspresi wajah yang membuat Alana semakin bertanya tanya.


“Memangnya kenapa bu?”


Sari menatap Alana. Wanita itu kemudian bangkit dari duduknya dan berpindah duduk disamping Alana. Dengan lembut Sari mengusap bahu Alana.


“Kamu harus benar benar hati sama mereka nak..”

__ADS_1


Alana diam. Mungkin ibunya juga tau bagaimana sikap keduanya. Perlahan seulas senyum terukir dibibir Alana. Alana meraih tangan Sari dan menggenggamnya lembut.


“Bu.. Jangan terlalu berlebihan. Aku bisa menghadapi mereka kok. Aku kan kuat.” Katanya.


Sari menggelengkan kepalanya. Lama bekerja dirumah Rayan membuat Sari hapal betul bagaimana Caterine juga Sechil.


“Ibu tidak mau kamu bernasib sama seperti nyonya Sakura nak. Ibu nggak mau kamu dijahati sama mereka.”


Alana tersenyum. Dari cerita Rayan yang mengatakan bahwa Sakura adalah sosok lembut yang penyabar membuat Alana yakin mungkin Caterine dan Sechil begitu sangat semena mena tanpa sedikitpun ada perlawanan dari Sakura.


“Bu.. Apa ada sesuatu yang aku tidak tau?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Alana. Entah kenapa Alana merasa ada sesuatu yang memang dirinya belum tau tentang Sakura.


Sari menghela napas. Dengan lembut Sari menyibakkan anak rambut Alana yang sedikit menutupi wajah cantik putrinya itu.


“Nyonya Caterine dan nona Sechil sangat tidak suka pada nyonya Sakura. Mereka selalu berbuat seenaknya pada nyonya Sakura setiap nyonya Sakura datang dan Rayan sedang tidak ada dirumah. Ibu tidak tau apakah Rayan tau tentang ini atau tidak. Seperti yang kamu tau, disetiap sudut rumah itu ada CCTV yang pasti bisa membuat Rayan tau semuanya.”


Alana mendengarkan dengan seksama. Alana mulai curiga pada Caterine dan Sechil. Alana bahkan sampai berpikir mungkin kematian Sakura ada hubungan-nya dengan keduanya.


“Apa bibi dan pelayan lainya juga tau bu?”


“Tentu saja. Malah ibu dan bibi yang paling tau semuanya nak. Tapi ibu dan bibi tidak mungkin mengatakan-nya pada Rayan. Kami takut Disangka mengada ngada dan mengadu domba.”


Alana mengangguk mengerti. Rayan memang sulit dipahami sebenarnya. Pria itu terlihat diam dan sangat menyayangi keduanya. Tapi Rayan tidak pernah melarang Alana membalas apa yang Sechil lakukan padanya. Rayan bahkan menyuruhnya agar tidak menjadi wanita yang lemah dan gampang ditindas.


“Pokonya ibu minta sama kamu, kamu harus waspada ya nak. Kalau sampai mereka berdua macam macam sama kamu, kamu harus langsung katakan pada Rayan.” Tatapan Sari semakin terlihat khawatir pada Alana yang malah tertawa mendengarnya.


“Ibu lucu banget sih.. Masa aku disamain sama Sakura. Akukan Alana, anak ibu. Anak dari wanita tangguh yang tidak akan mudah ditindas. Ibu nggak perlu khawatir. Kalau mereka licik aku bisa lebih licik. Mereka jahat aku bahkan bisa menjadi lebih jahat. Jangan khawatir bu..”


Sari tersenyum. Sari percaya pada putrinya meski memang tetap merasa khawatir.


“Katakan apapun yang terjadi pada ibu..” Pintanya.


Alana mengangguk kemudian segera berhambur memeluk Sari. Alana yakin dirinya akan baik baik saja dan bisa menghadapi Caterine juga Sechil.


“Do'akan aku dan Rayan ya bu..”

__ADS_1


“Itu pasti sayang. Do'a ibu akan selalu menyertai langkah kalian berdua..” Jawab Sari sambil mencium puncak kepala Alana.


Mungkin Alana memang tidak lahir dari rahimnya. Tapi Alana tetap anak kandung suaminya yang juga Sari anggap sebagai anak kandungnya sendiri. Semuanya sudah Sari curahkan pada Alana. Cinta juga kasih sayang semuanya Sari limpahkan pada Alana sejak Alana hadir dalam kehidupan-nya.


__ADS_2