
Alana menatap satu persatu para pelayan yang sedang fokus dengan pekerjaan-nya masing masing. Ada yang sedang mengelap kaca, meja, menyapu dan membersihkan pernak pernik disana. Alana kemudian menatap layar hp-nya. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore dan sebentar lagi Caterine pasti pulang dari rumah sakit. Tapi heran-nya para pekerja dirumah itu seperti tidak perduli dan terus saja fokus dengan pekerjaan mereka masing masing.
Penasaran, Alana pun melangkah mendekat pada bibi.
“Bi..” Panggil Alana membuat bibi langsung sigap berbalik mengesampingkan pekerjaan-nya.
“Saya nyonya..” Angguk bibi sopan.
“Saya mau nanya bi.. Ini kok mommy sebentar lagi pulang tapi nggak ada yang siapin kejutan? ah maksud saya sambutan kepulangan mommy..”
Bibi diam diam melirik pelayan lain. Sedikitpun mereka tidak berniat memberikan sambutan kepulangan Caterine. Mereka yakin Rayan tidak akan perduli tentang sambutan. Lagi pula, seminggu tanpa Caterine dirumah itu membuat para pekerja disitu merasa nyaman. Apa lagi Fina yang bisa sangat santai karna penjagaan atas Alana tidak terlalu ketat.
“Maaf nyonya.. Kami pikir nyonya Caterine sudah tidak perlu sambutan seperti itu..” Jawab bibi pelan.
Alana mengeryit. Sedikit keterlaluan Alana pikir karna dengan begitu para pelayan menunjukan bagaimana mereka yang tidak mengharapkan Caterine kembali kerumah itu. Dengan kata lain mereka tidak tulus menghormati Caterine sebagai nyonya dirumah itu.
“Kenapa? Bukanya mommy juga nyonya dirumah ini? Sambutan itu penting untuk membuat mommy merasa dihargai.”
Bibi hanya menundukkan kepalanya dalam diam. Bibi heran sebenarnya kenapa Alana masih perduli pada orang yang bahkan berniat mencelakainya.
“Begini saja bi.. Sebentar lagi mommy pasti sampai. Bibi dan yang lain-nya dekor saja ruangan utama dengan balon. Biar saya yang pesan makanan dari luar saja.” Ujar Alana dengan helaan napas pelan.
“Baik nyonya..” Bibi mengangguk mengiyakan perintah Alana.
“Tolong sedikit cepat ya bi..” Pinta Alana.
“Kami akan usahakan secepatnya nyonya..” Senyum bibi mengangkat kepala menatap Alana.
“Baik, terimakasih.” Balas Alana tersenyum manis kemudian berlalu menjauh dari bibi yang tersenyum menatap punggung Alana yang semakin berjarak dengan-nya.
Setelah Alana berlalu, semua pelayan yang tadi terlihat fokus dengan apa yang dikerjakan-nya langsung menghampiri bibi dan melemparkan serentet pertanyaan yang behasil membuat bibi hanya bisa garuk garuk kepala.
“Nyonya Alana mau kita mendekor ruangan depan untuk menyambut kepulangan nyonya Caterine sekarang juga.” Ujar bibi memberitahu.
Semua pelayan langsung berdecak malas. Mereka memang sengaja bersikap biasa saja dan tidak terlalu menghiraukan kepulangan Caterine. Mereka bahkan lebih merasa nyaman jika tidak ada Caterine dirumah itu.
__ADS_1
“Aku ingin protes sekarang juga.” Kata Susi, salah satu pelayan muda diantara mereka.
“Oh ya? memangnya kamu berani susi?” Tanya rekan-nya.
Susi memonyongkan bibir dengan kepala menggeleng. Sayangnya Susi tidak punya keberanian untuk protes pada Alana langsung.
“Ya sudah lebih baik kita kerjakan sekarang. Tuan pasti sudah dalam perjalanan pulang sekarang. Jangan sampai kita semua membuat orang sebaik nyonya Alana marah.”
Meski tidak semangat namun para pelayan itu tetap menuruti apa yang bibi katakan. Mereka langsung melangkah menuju ruang utama rumah itu meninggalkan pekerjaan yang belum selesai mereka kerjakan.
“Kalian mau kemana?” Fina yang berpapasan dengan mereka semua terlihat bingung. Tidak biasanya para pelayan itu melangkah berbondong bondong bersama didalam rumah.
“Kita mau kedepan, mau mendekor ruang depan. Nyonya Alana yang menyuruh.” Susi menjawab dengan sangat tidak bersemangat.
Fina semakin merasa bingung juga penasaran mendengar apa yang Susi katakan.
“Memangnya mau ada acara apa?” Tanya Fina lagi.
“Sebentar lagi nyonya Caterine pulang. Nyonya Alana meminta untuk kita semua mendekor ruang utama sebagai sambutan kepulangan-nya dari rumah sakit.” Kali ini bibi yang bersuara dengan sangat pelan dan lembut.
Fina menganggukan kepalanya mengerti. Alana memang terlewat baik. Padahal menurut Fina juga tidak perlu rasanya memberikan sambutan pada orang jahat seperti Caterine.
“Tentu saja. Aku bagian dari kalian. Sebentar, aku taruh ini dikamar dulu.” Senyum Fina menunjukan tentengan-nya kemudian berlalu.
Bibi tersenyum kemudian mengajak semua pelayan untuk segera mendekor ruangan utama rumah mewah itu.
Para pelayan sibuk mendekor ruangan utama hingga akhirnya satu jam kemudian semua selesai. Makanan yang dipesan oleh Alana pun sudah datang dan tertata dimeja makan.
“Akhirnya selesai juga..” Senyum Fina menatap hidangan lezat diatas meja.
Alana tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Alana merasa sangat berterimakasih pada semua pelayan termasuk Fina yang sudah mau repot repot membantunya menyiapkan sambutan kepulangan Caterine.
“Nyonya..” Panggil Fina membuat Alana menoleh.
“Ya..” Saut Alana.
__ADS_1
Fina diam sesaat. Gadis itu tampak berpikir sesaat sebelum melontarkan pertanyaan pada Alana.
“Tentang nyonya Caterine, bibi bilang nyonya Caterine sudah berubah ramah dan baik. Apa itu betul?” Dengan berani Fina melontarkan pertanyaan tentang Caterine pada Alana.
Alana tersenyum mendengar pertanyaan itu. Alana belum bisa mengatakan Caterine benar benar berubah baik karna terkadang ucapan-nya masih terasa mencubit hati. Apa lagi pada Ramon yang hampir setiap saat mendapat wejangan untuk membahagiakan Sechil.
“Jujur saya tidak percaya nyonya.” Kata Fina lagi.
“Kenapa begitu? Bukan-nya bagus kalau mommy berubah baik?” Tanya Alana penasaran.
Fina menghela napas.
“Rasanya aneh saja nyonya.” Jawab Fina jujur apa adanya.
Alana tertawa mendengarnya. Dengan pelan Alana menepuk bahu Fina.
“Sudahlah Fina, kita do'akan saja semoga mommy memang sudah terketuk pintu hatinya dan benar benar menjadi orang baik.”
Fina mengangguk pelan. Jika Caterine berubah menjadi orang baik, itu artinya kehadiran-nya tidak akan lagi dibutuhkan disamping Alana. Bukan tidak mungkin juga Fina akan kehilangan pekerjaan-nya. Rayan akan memecatnya sebagai pengawal pribadi Alana ditambah diperusahaan Rayan sudah ada satpam baru yang menggantikan-nya.
Alana mengeryit melihat ekspresi sendu Fina.
“Kamu kenapa?” Tanya Alana menatap Fina penasaran.
“Enggak papa nyonya. Saya permisi mau kebelakang sebentar.”
“Oh,oke...” Angguk Alana tersenyum manis.
Tidak lama setelah semua selesai dipersiapkan, mobil Rayan sampai tepat didepan rumah. Caterine keluar dari mobil Rayan dengan pak Lim yang membukakan pintu. Dan tidak seperti biasanya Caterine mengucapkan terimakasih yang berhasil membuat pak Lim bingung dan bertanya tanya.
Caterine memasuki rumah dengan Rayan dan Sechil yang menuntun disamping kanan dan kirinya. Sedang Ramon, pria itu melangkah dibelakang dengan membawakan tas berisi baju baju Caterine.
Caterine tersenyum melihat para pelayan yang berbaris menyambut kedatangan-nya. Terlebih saat memasuki rumah, Caterine merasa terkejut melihat ruang utama yang dipenuhi balon warna warni.
“Selamat datang kembali kerumah mommy..” Ujar Alana tersenyum pada Caterine.
__ADS_1
Caterine tertawa pelan.
“Sambutan yang sangat mengejutkan. Mommy suka. Terimakasih Alana.”