
Pagi ini Rayan mengajak Alana untuk mengunjungi Sechil dirumah kontrakan-nya. Kebetulan hari ini hari minggu sehingga Rayan libur bekerja.
“Bagaimana kalau kita juga sekalian ajak Sechil untuk menjenguk mommy?” Alana bertanya dengan senyuman manis yang terukir dibibirnya. Sebenarnya Alana juga penasaran dan ingin tau lebih jelas tentang apa yang terjadi pada Caterine semalam. Ingin bertanya langsung tapi Alana ragu. Alana takut membuka luka yang kembali ditorehkan oleh Caterine pada hati Rayan.
Rayan tersenyum dan menatap sekilas pada Alana.
“Untuk sekarang kayanya nggak usah deh. Mommy juga lagi kurang sehat sekarang. Biar aku saja nanti yang kesana. Kamu dan Sechil nggak perlu ikut.” Jawab Rayan.
“Mommy lagi nggak sehat?”
“Ya, mommy kembali berulah dengan melukai dirinya sendiri. Aku tau itu adalah cara mommy mengambil simpati kita.” Jawab Rayan santai.
“Aku tau ini keterlaluan. Tapi aku pikir mungkin memang sekarang adalah waktunya untuk mommy berpikir sendiri mana yang baik dan tidak baik untuknya.” Lanjut Rayan menatap sekilas lagi pada Alana yang menatapnya tidak mengerti.
“Apa itu artinya kamu akan bebasin mommy?”
Rayan tertawa pelan.
“Mommy harus mempertanggung jawabkan perbuatan-nya Alana. Apa lagi tahanan yang dulu mommy lukai keluarganya tidak terima dan menuntut agar hukuman mommy ditambah. Aku nggak mungkin bela mommy kan? Dia salah dan tindakan-nya menyakiti orang lain tidak bisa dibenarkan. Apapun alasan-nya.”
Alana diam. Bersikap tegas pada Caterine memang sangat diperlukan sekarang. Alana juga setuju dengan apa yang Rayan katakan karna bagaimanapun juga apa yang Caterine lakukan memang sudah melebihi batas. Caterine mencoba membunuh janin dalam kandungan Alana yang notabene nya adalah cucunya sendiri. Caterine juga melukai teman satu selnya yang tidak tau apa apa hanya karna dirinya frustasi tidak bisa keluar dari tahanan tersebut.
“Tapi kamu nggak papa kan?” Alana bertanya dengan suara yang sangat pelan. Alana takut suaminya kembali merasakan luka yang amat sangat perih dihatinya seperti waktu itu.
“Tentu saja. Aku sudah dewasa bahkan sudah akan menjadi seorang ayah sekarang Alana. Begitu juga dengan mommy yang sudah tua. Harusnya dia sudah tau konsekuensi dari setiap apa yang diperbuatnya.” Senyum Rayan menjawab dengan tenang.
Alana ikut tersenyum. Alana merasa lega sekarang. Suaminya bisa dengan tenang menyikapi setiap permasalahan yang dilakukan oleh Caterine, mommy nya.
__ADS_1
“Kamu tidak perlu khawatir sekarang. Aku bisa menghadapi semuanya dengan tenang.” Tambah Rayan.
Alana menghela napas kemudian menyenderkan kepalanya dibahu Rayan. Alana mengelus lembut perut besarnya menggunakan kedua tangan-nya. Alana berharap dirinya juga Rayan bisa memberikan contoh yang baik untuk anak anaknya nanti. Karna Alana tidak mau jika sampai apa yang Rayan rasakan juga dirasakan oleh anaknya.
“Aku janji Alana, aku akan menjadi suami dan ayah yang baik.”
“Ya.. Aku percaya itu Rayan. Mari kita sama sama berusaha menjadi yang terbaik untuk keluarga kita.” Angguk Alana dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya.
Rayan menoleh sebentar mengecup puncak kepala Alana yang bersender dibahunya. Rayan yakin bahwa apapun yang terjadi kedepan-nya tuhan akan terus menjaga hubungan-nya dan Alana.
Tidak lama kemudian mobil Rayan sampai tepat dijalan dekat kontrakan Sechil dan Ramon. Rayan menepikan mobilnya kemudian turun dari mobil yang diikuti Alana.
“Kakak !!”
Rayan dan Alana kompak menoleh keseberang jalan dan menemukan Sechil yang sedang berusaha untuk menyeberang dengan menenteng belajaan diplastik warna hitam.
“Makasih ya kak..” Senyum Sechil pada Rayan.
Rayan mengangguk dengan senyuman tipis dibibirnya. Rayan sebenarnya sangat terkejut melihat adiknya yang sekarang jauh sangat berbeda dari yang dulu. Sechil bahkan bisa betah hidup dirumah tiga petak yang begitu pengap dan panas. Benar benar sesuatu yang sedikitpun Rayan tidak pernah menyangka. Dan semua itu karna cintanya pada Ramon. Cinta yang mampu membuat Sechil berubah menjadi jauh lebih baik bahkan menurut Rayan sangat baik.
“Kamu dari mana? Ramon mana?” Tanya Alana pada Sechil.
“Aku abis beli bumbu dapur kak. Dari tadi aku tungguin abang sayurnya nggak lewat lewat jadi aku beli saja kewarung yang ada diujung sana.” Jawab Sechil tersenyum manis.
Alana ikut tersenyum mendengarnya. Sama seperti Rayan, Alana juga sempat terkejut melihat Sechil yang menenteng belanjaan dengan perut besar serta dress rumahan warna hijau toska yang terlihat begitu pas ditubuh berisinya.
“Ah ya ayo masuk yuk.. Ramon lagi kerja kak, karna hari ini hari minggu jadi Ramon masuk pagi terus nanti pulangnya setelah makan siang.”
__ADS_1
Sechil menggandeng tangan Alana mengajaknya melangkah menuju tempat tinggal sederhananya bersama Ramon. Sedangkan Rayan, pria itu masih berdiri ditempatnya tidak percaya dengan kehidupan adiknya yang benar benar jauh dari kata mewah sekarang. Tapi hebatnya Sechil bisa begitu cepat menyesuaikan dirinya dengan keadaan. Sechil bisa mandiri dan melakukan semuanya sendiri.
“Kakak ayo !!” Seruan Sechil berhasil membuyarkan lamunan Rayan. Pria dengan berkemeja biru itu tersenyum dan segera melangkah menyusul istri juga adiknya.
Sechil mengajak Rayan dan Alana untuk masuk. Sechil juga mempersilahkan keduanya untuk duduk dan menyuguhkan teh hangat lengkap dengan cemilan dalam toples berukuran sedang.
“Bagaimana kabar kamu Sechil?”
Pertanyaan Rayan membuat Sechil tertawa. Sejak mengantar Sechil pindah, Rayan memang jarang sekali bisa bertemu dengan Sechil. Semua itu karna kesibukan Rayan yang memang selalu menyita waktunya.
“Kakak yang apa kabar? Aku sih baik baik saja bahkan sangat baik dan mungkin jauh lebih baik. Kakak jangan terlalu sibuk dong, jangan kecapek an juga.”
Rayan tertawa. Kesibukan memang selalu menjadi alasan-nya. Mungkin hanya satu yang bisa membuat Rayan mengabaikan kesibukan Rayan, yaitu Alana.
“Kakak biasa saja sih sibuknya. Oh ya, kita ada rencana mau pindah lagi kerumah yang lama. Kamu mau ikut?”
Dengan senyuman manis yang terukir dibibirnya Sechil menggelengkan kepalanya.
“Aku disini saja sama Ramon kak. Bukanya istri yang baik itu istri yang mau mengikuti kemanapun suami mengajaknya? Aku ingin bisa menjadi istri yang baik untuk Ramon kak.”
Rayan dan Alana saling menatap mendengar penolakan halus Sechil.
“Kamu yakin?” Tanya Alana menatap Sechil memastikan bahwa Sechil tidak sedikitpun merasa ragu.
“Tentu saja. Aku merasa nyaman disini. Aku bisa melakukan ini itu sendiri. Aku juga bisa belajar banyak hal kak. Kalian berdua tidak perlu khawatir. Aku akan selalu baik baik saja.” Jawab Sechil terus mempertahankan senyuman dibibirnya.
Sekali lagi Alana dan Rayan saling menatap kemudian saling melempar senyuman. Mereka semakin yakin bahwa Ramon memang pria yang tepat untuk menjadi pemimpin Sechil.
__ADS_1