Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 151


__ADS_3

Seperti hari hari biasanya, Ramon bersiap siap pagi pagi sekali. Hanya bedanya kali ini Ramon berada dikontrakan-nya sendiri dan hanya berdua bersama Sechil. Karna hal itu Ramon merasa lebih bebas dan mempunyai hak. Ramon merasa lebih leluasa bergerak meski tempat tinggalnya dan Sechil tidak semewah rumah Rayan yang lama maupun yang baru.


Ramon menatap nasi goreng buatan-nya yang masih mengepulkan asap diatasnya dengan senyuman bangga. Ini kali pertama Ramon membuat sarapan setelah mereka pindah.


“Sekarang waktunya bangunin Sechil..” Gumamnya kemudian berlalu dari dapur dan masuk kedalam kamar mereka.


Ramon menghela napas menatap Sechil yang sepertinya memang masih memerlukan banyak waktu tidur karna mereka memang tidur saat pagi menjelang.


Suara ketukan pintu membuat Ramon yang sudah akan mendekat kearah ranjang dimana Sechil berbaring menoleh. Ramon mengeryit mengingat hari masih sangat pagi. Tidak mungkin jika itu adalah tetangga kontrakan-nya.


Merasa penasaran Ramon pun kembali keluar dari kamar dan melangkah cepat menuju pintu utama kontrakan 3 petak mereka berdua. Ramon mengeryit ketika mendapati seorang tukang ojek online sudah berdiri di depan pintu dengan dus berukuran cukup besar yang dibawanya.


“Pagi pak..” Sapanya ramah pada Ramon.


“Emm.. pagi mas.” Balas Ramon yang kebingungan.


“Ini ada paket pak dari tuan Bastian.” Ujar tukang ojek online tersebut sambil menyerahkan dus yang dibawanya pada Ramon.


Ramon kemudian mengangguk paham. Sejak tau anak yang dikandung Sechil adalah darah dagingnya Bastian memang sudah 2 kali ini mengirimkan paket untuknya. Bastian bahkan merombak seluruh isi kontrakan-nya mulai dari mengganti kursi diruang tamu menjadi sofa yang nyaman bahkan sampai tempat tidur tipis Ramon yang diganti dengan springbad mahal agar Sechil bisa lebih nyaman dan tidak gampang masuk angin jika tidur.


Ramon tidak merasa berkecil hati apa lagi tersinggung dengan apa yang Bastian lakukan. Toh itu juga Bastian lakukan sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai ayah kandung dari anak yang dikandung Sechil.


“Ah ya mas. Terimakasih ya..” Ramon menerima dus tersebut kemudian menanda tangani surat keteringan terimanya.


Setelah menerima dus tersebut Ramon kemudian masuk dan membawanya masuk kedalam. Ramon menaruhnya diatas meja kaca kecil yang juga dibelikan oleh Bastian.


Ramon sebenarnya sangat penasaran dengan isi dari dus yang menurutnya lumayan berat itu tapi Ramon tau itu bukan haknya. Apa yang ada di dus itu adalah milik Sechil dan juga janin dalam kandungan Sechil.


Deringan hp dalam kamar membuat Ramon segera melangkah masuk kedalam kamarnya. Ramon takut suara keras yang berasal dari hp nya itu mengganggu tidur Sechil. Dan benar saja begitu Ramon masuk, Sechil sudah terbangun dan sudah duduk diatas tempat tidur.


“Kamu kebangun karna suara hp aku ya?” Tanya Ramon menatap Sechil sendu.


Sechil tertawa kemudian menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Wanita itu meraih hp Ramon yang terus berdering dan menilik siapa yang menelpon suaminya itu pagi pagi.


“Bastian yang menelepon.” Katanya memberitahu Ramon sambil menyodorkan benda pipih tersebut pada Ramon.


Ramon mendekat dan menerimanya.

__ADS_1


“Kalau begitu aku angkat dulu ya..”


Sechil menganggukan kepalanya. Sechil bangkit dan turun dari ranjang kemudian melangkah meninggalkan Ramon yang sedang menerima telepon dari Bastian.


“Halo...”


“Ya Ramon.. Apa paketnya sudah sampai?” Tanya Bastian langsung.


“Ya.. Saya baru saja menerimanya. Terimakasih Bastian.”


Bastian tertawa mendengarnya.


“Jangan begitu Ramon. Saya hanya sedang menjalankan kewajiban saya saja. Oh iya bagaimana kandungan Sechil? Kapan dia cek kedokter?”


Ramon terdiam sesaat. Pertanyaan Bastian sedikit membuatnya was was. Bagaimana jika Bastian meminta ikut saat cek atau bahkan melarang untuk Ramon ikut saat Sechil cek kehamilan kedokter.


“Emm.. Minggu depan kami akan kedokter.” Jawab Ramon dengan menelan ludahnya.


“Kabari saya kalau mau kedokter ya Ramon. Saya dan Cleo berencana untuk ikut. Saya ingin tau dan mendengar sendiri bagaimana penjelasan dokter tentang anak saya.” Ujar Bastian membuat Ramon tersenyum.


“Ya, saya akan kabari nanti.” Jawab Ramon pelan.


“Ya Bastian. Sekali terimakasih untuk semuanya.”


Sambungan telepon berakhir setelah Ramon menjawab. Ramon tiba tiba merasa was was. Bukan karna Bastian, tapi karna Cleo. Ramon takut tiba tiba Cleo meminta agar setelah lahir nanti anak Sechil mereka yang merawat. Sechil pasti tidak bisa menerima itu.


“Ramon, kamu masak ya?”


Semua yang ada dipikiran Ramon buyar seketika saat pertanyaan itu terlontar dari mulut Sechil. Ramon membalikan tubuhnya tersenyum menatap Sechil yang berdiri diambang pintu kamar mereka dan menatapnya dengan tatapan serius.


“Maju lagi sedikit sayang. Ibu hamil tidak boleh berdiri diambang pintu. Pamali.” Katanya memberitahu Sechil.


Sechil menurut. Sechil melangkah maju sehingga posisinya sekarang berada tepat didepan Ramon.


“Kenapa kamu kerjakan semua pekerjaan yang seharusnya menjadi pekerjaanku?” Todong Sechil.


Ramon tersenyum mendengarnya. Pria itu mengecup kening Sechil sekilas.

__ADS_1


“Aku terbangun sebelum subuh dan tidak tau harus apa. Tugas kuliahku semua sudah kuselesaikan. Jadi lebih baik aku kerjakan semuanya dari pada aku bengong kan? nanti aku kesurupan gimana?” Jawab Ramon yang diakhiri dengan pertanyaan candaan pada Sechil.


Sechil berdecak tapi kemudian tersenyum. Sechil tau Ramon melakukan semua pekerjaan rumah bukan hanya karna tidak ada pekerjaan lain, tapi karna tidak mau Sechil kelelahan mengerjakan semuanya sendiri.


“Oh iya tadi ada paket dari Bastian. Aku yang menerimanya.”


Sechil mengeryit.


“Paket apa?” Tanya Sechil bingung.


Ramon mengedikkan bahu pertanda tidak tau. Bastian memang tidak mengatakan apa isi dari dus yang dikirimkan-nya untuk Sechil pada Ramon.


“Bastian juga bilang dia ingin ikut kalau kamu cek ke dokter nanti. Sama Cleo juga.” Ujar Ramon memberitahu apa yang Bastian katakan pada Sechil.


Sechil tampak terkejut mendengarnya. Sechil menelan ludahnya membayangkan jika dirinya terlalu lama bersama dengan Cleo pastilah Sechil akan merasa sangat bosan bahkan berkecil hati.


“Apa kamu mengizinkan?” Tanya Sechil serius menatap Ramon.


Ramon tersenyum dan membelai lembut pipi chuby Sechil.


“Aku tidak punya alasan untuk melarang Sechil. Bagaimanapun juga Bastian punya hak atas anak ini..”


Sechil menghela napas. Terkadang Sechil juga merasa jengah dengan kebaikan suaminya. Ramon sepertinya memang tidak pernah punya prasangka buruk pada orang lain.


“Ah iya sayang, aku jujur nih.. Aku penasaran banget sama isi dari paket yang Bastian kirim. Pengen buka tadi tapi itu kan punya kamu sama anak kita. Emm.. Kita buka yuk?” Ajak Ramon menaik turunkan alisnya menatap Sechil yang terlihat sama sekali tidak berminat dengan apa yang Bastian kirimkan untuknya.


“Kamu aja yang buka. Aku mau mandi.”


Ketika Sechil hendak berlalu Ramon langsung mencekal pergelangan tangan-nya.


“Jangan begitu dong sayang.. Kita kan harus menghargai apa yang orang lain berikan pada kita, apa lagi niat Bastian itu baik sama kamu..” Ujar Ramon menasehati Sechil.


Sechil menghela napas. Sechil bukan tidak menghargai apa yang Bastian berikan. Sechil hanya merasa sedikit malas jika mengingat apa yang Cleo katakan padanya saat menghadiri pesta pertunangan itu.


“Jangan cemberut dong. Kasihan anak kita kalau kamu begini. Ingat, bagaimanapun juga Bastian juga mempunyai hak untuk bertanggung jawab.”


Sechil tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ramon memang pria yang paling baik dan bijak yang pernah Sechil temui.

__ADS_1


“Ayo..” Ramon menggiring Sechil keluar dari kamarnya dengan mendorong lembut pinggang Sechil. Mereka melangkah menuju ruang tamu dan membuka dus berukuran cukup besar yang dikirim Bastian.


Isi dari dus itu adalah beberapa dus susu hamil, cemilan sehat untuk Sechil, serta berbagai kebutuhan lain-nya yang memang pasti sangat dibutuhkan oleh Sechil.


__ADS_2