
Setelah Sechil siuman, Rayan segera mengajak adiknya itu ke dokter kandungan. Rayan sengaja tidak mengajak Alana ikut serta. Rayan tidak mau kehadiran Alana menjadi alasan untuk Sechil dan Caterine melimpahkan semua kesalahan itu.
“Usia kandungan nona Sechil baru menginjak 4 minggu. Dan kandungan nona Sechil sedikit melemah. Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan sebaiknya kurangi minuman beralkohol dan juga perbanyak istirahat.”
Kedua tangan Caterine mengepal mendengarnya. Wanita itu tidak pernah membayangkan hal buruk itu akan terjadi pada putrinya sendiri.
“Baik dokter..” Dengan suara seret Caterine menjawab.
Sedang Sechil, dia terus menundukan kepalanya disamping Caterine yang duduk didepan dokter kandungan itu.
“Saya akan tuliskan resep vitamin dan obat penambah darah yang perlu nona Sechil konsumsi. Sebentar.”
Caterine hanya mengangguk pelan. Caterine tidak tau harus bagaimana sekarang. Mereka selalu memandang rendah pada Alana bahkan menyebutnya wanita murahan. Tapi Sechil sendiri malah hamil diluar nikah.
Setelah mendapatkan resep obatnya, Caterine segera mengajak Sechil keluar dari ruangan dokter itu dengan Rayan yang mengikuti dari belakang. Rayan juga mendengar dengan jelas penjelasan dokter tentang kehamilan Sechil.
“Mom.. Biar aku aja yang tebus resep obat dan vitamin-nya. Mommy sama Sechil tunggu saja disini.” Kata Rayan meminta secarik kertas yang dipegang Caterine.
Dalam diam Caterine memberikan resep tersebut pada Rayan kemudian duduk dikursi tunggu dengan Sechil yang terus membisu disampingnya.
Sekitar 15 menit menunggu, akhirnya Rayan kembali dengan membawa obat dan vitamin yang dibungkus plastik putih kecil ditangan-nya.
“Ayo kita pulang.” Ajak Rayan.
Lagi lagi Caterine hanya menganggukan kepalanya saja. Wanita itu menurut saat Rayan menuntunya keluar dari rumah sakit.
Suasana hening menyelimuti saat dalam perjalanan menuju pulang. Sechil, gadis itu terus saja menundukan kepala duduk dikursi belakang seorang diri.
”Gugurkan kandungan kamu Sechil. Mommy tidak sudi memiliki cucu haram.”
Rayan refleks menghentikan mobilnya. Beruntung mereka sedang berada dijalanan yang cukup sepi sehingga tidak terjadi suatu apapun.
“Ya tuhan... Mom..” Lirih Rayan menoleh menatap tidak menyangka pada Caterine yang berada disampingnya.
Sementara Sechil hanya bisa menangis sambil menundukan kepalanya. Menyesal pun sudah tidak ada lagi gunanya. Nasi sudah menjadi bubur. Hasil pergaulan Sechil sudah terlihat nyata.
__ADS_1
“Mommy malu Rayan.. Selama ini mommy selalu percaya sama adik kamu. Dia bilang dia ada tugas dirumah teman-nya. Kuliah pagi sore mommy percaya. Mommy bahkan mengantarnya sendiri sejak kamu ambil semua fasilitasnya. Tapi lihat apa yang terjadi? Sechil hamil.. Dia hamil Rayan..” Tangis Caterine kembali pecah. Wanita itu benar benar sangat frustasi sekarang karna Sechil.
Rayan menelan ludahnya.
“Sechil sudah berbuat salah mom.. Jangan membuatnya kembali melakukan kesalahan yang kedua kalinya.”
“Jadi maksud kamu Sechil harus merawat kandungan-nya begitu? Rayan.. Kamu pikir dong.. Kita akan sangat malu jika sampai orang orang diluar sana tau. Mau kita taruh dimana muka kita Rayan..”
Rayan menggelengkan kepalanya. Caterine tetap saja egois dan memikirkan pandangan orang lain sementara putrinya sendiri sedang sangat membutuhkan dukungan darinya.
Rayan kemudian menoleh pada Sechil yang menangis terisak dengan kepala terus menunduk. Gadis itu terlihat sangat ketakutan sekarang.
“Siapa laki laki itu Sechil?” Tanya Rayan pelan menatap iba pada Sechil yang tidak berani mengangkat kepalanya.
Sechil menggelengkan kepalanya, tangisan-nya semakin hebat membuat Rayan tidak tega untuk kembali menanyakan siapa ayah dari janin yang sedang dikandung Sechil.
“Pokonya mommy nggak mau tau. Gugurkan kandungan kamu Sechil.” Caterine berkata dengan nada sedikit meninggi karna emosinya.
“Mom.. Tolong.. Jangan bersikap seperti mommy bukan seorang ibu..” Rayan berusaha untuk memberi pengertian pada Caterine.
“Aku akan cari siapa laki laki itu mom.. Jangan membuat Sechil semakin rapuh.” Sela Rayan.
Caterine melengos. Air matanya menetes namun dengan cepat Caterine menghapusnya. Caterine benar benar kecewa pada Sechil sekarang. Putri bungsunya yang sangat dia banggakan hamil tanpa status bahkan diusianya yang bahkan belum genap 20 tahun.
Rayan menatap sebentar pada Sechil yang masih saja menangis kemudian menghela napas. Rayan kemudian menghidupkan kembali mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang untuk pulang.
Ketika sampai dirumah Caterine keluar dari mobil lebih dulu. Caterine berjalan tanpa sedikitpun memperdulikan Sechil yang terus menangis dibelakangnya.
Rayan yang tidak tega segera menyusul langkah Sechil dan menuntun-nya.
“Kak aku..”
“Ssstt.. Sudah tidak apa apa.. Jangan menangis lagi ya..” Lirih Rayan menenangkan Sechil yang terus saja terisak.
Sechil menggelengkan kepalanya. Bukanya berhenti menangis Sechil malah semakin hebat menangis. Hal itu membuat Rayan semakin tidak tega. Rayan merengkuh tubuh bergetar Sechil dan memeluknya erat.
__ADS_1
“Kakak akan cari siapa laki laki itu. Kamu jaga baik baik ya kandungan kamu.. Jangan dengarkan apa yang mommy katakan. Mommy hanya sedang emosi.” Ujar Rayan mengusap usap punggung Sechil.
Sechil tidak menjawab. Gadis itu terus menangis dalam pelukan Rayan.
Rayan menggendong Sechil yang tidak kunjung berhenti menangis. Pria itu membawanya memasuki lift untuk menuju lantai 2. Rayan mengantar Sechil sampai kamarnya membaringkan tubuh adiknya diatas ranjang.
“Jangan menangis terus. Istirahatlah. Kamu harus selalu sehat demi janin dalam kandungan kamu.” Kata Rayan sebelum berlalu keluar dari kamar Sechil.
Rayan langsung menuju lantai 3 untuk menemui Alana. Rayan tau Alana pasti sedang menunggunya.
Suara pintu yang terbuka membuat Alana bangkit dari duduknya ditepi ranjang. Dengan wajah penuh kekhawatiran Alana mencegat langkah Rayan yang hendak mendekat padanya.
“Rayan.. Bagaimana Sechil? Apa dia baik baik saja?”
Rayan menatap tepat pada kedua mata Alana. Dari tatapan itu Rayan bisa melihat kekhawatiran yang begitu jelas.
“Kamu tidak dendam pada Sechil?” Tanya Rayan pelan.
Alana mengeryit kemudian mengerucutkan bibirnya. Dengan kesal Alana memukul dada bidang Rayan menggunakan tinjunya.
“Aku sudah bilang aku bukan orang jahat Rayan. Meski Sechil memang sangat menyebalkan tapi aku khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi padanya. Jangan menganggap salah padaku.”
Rayan tersenyum mendengarnya. Ekspresi Alana yang mengerucutkan bibirnya membuat Rayan merasa gemas. Rayan meraih pinggang Alana dan memeluknya mesra.
“Mommy menyuruh Sechil menggugurkan kandungan-nya dan Sechil hanya menangis. Dia terlihat sangat rapuh sekarang.” Ujar Rayan memberitahu.
Alana menghela napas. Alana yakin semua ini tidak mudah bagi Sechil. Meski memang semua yang terjadi adalah hasil dari perbuatanya sendiri tapi tetap saja Alana merasa iba.
“Lalu bagaimana sebaiknya?” Tanya Alana yang ikut merasa bingung.
“Aku akan mencari tau siapa laki laki itu.” Jawab Rayan.
Alana menganggukan kepalanya setuju. Alana membalas pelukan Rayan dan menyenderkan kepalanya didada bidang Rayan.
“Aku do'akan yang terbaik.” Senyum Alana sembari memejamkan kedua matanya menikmati rasa nyaman-nya dalam pelukan Rayan.
__ADS_1
Rayan memejamkan kedua matanya. Rayan bersyukur karna tidak salah memilih Alana menjadi istrinya. Tuhan sangat baik dengan mempertemukan-nya dengan Alana yang meskipun kadang membuatnya kesal tapi sangat baik hatinya.