
Semalaman Rayan terus merenung di ruang kerjanya. Untuk menghindari Alana Rayan bahkan sampai mengunci pintu ruang kerjanya agar bisa lebih leluasa sendiri tanpa gangguan dari istrinya itu. Bukan enggan untuk bertemu, Rayan hanya ingin sendiri dulu tanpa siapapun disampingnya sekarang.
Pagi ini Rayan berangkat lebih awal dari biasanya. Dan lagi lagi Rayan sengaja melakukan itu demi menghindari Alana. Jika boleh jujur Rayan sebenarnya kecewa, tapi tidak tau harus kecewa pada siapa. Pada Alana yang belum kunjung bisa mencintainya atau pada dirinya sendiri yang memaksakan kehendaknya atas Alana.
“Tuan, apa perlu saya belikan anda sarapan dulu?”
Rayan melirik Luky yang berdiri disamping meja kerjanya. Tidak sempat sarapan saat hendak berangkat membuat Rayan merasa sedikit lapar.
“Boleh.” Angguk Rayan.
“Kalau begitu saya permisi untuk membelinya tuan.” Pamit Luky.
Rayan mengangguk lagi menerima pamitan sopan dari orang kepercayaanya itu.
Rayan menghela napas. Pria itu melirik hp nya berharap Alana menghubunginya dan menanyakan kenapa Rayan berangkat begitu pagi. Tapi sayangnya sudah hampir 30 menit Rayan berada di ruang kerjanya Alana sama sekali tidak menghubunginya bahkan sekedar mengirim pesan saja tidak.
“Apa dia memang tidak bisa mencintaiku?”
Rayan galau bahkan bimbang. Rayan tidak ingin menikah dua kali dalam hidupnya. Rayan ingin selamanya bersama wanita pertama yang di sentuhnya. Dan itu adalah Alana. Awalnya memang salah. Tapi perlahan Rayan mulai menyadari kesalahan itu dan bertekad untuk memperbaikinya. Sayangnya saat proses pembaikan itu mulai berjalan semuanya terkendala oleh jawaban “Tidak tau” yang dilontarkan Alana semalam.
“Bagaimana mungkin tidak cinta tapi ingin hamil anakku..”
Rayan tampak berpikir. Rasanya sangat mustahil ada wanita yang berharap hamil anak suaminya jika wanita itu saja tidak memiliki rasa apapun dihatinya untuk si suami.
“Apa mungkin sudah cinta tapi tidak sadar?”
Suara pintu yang terbuka membuat Rayan tersadar dari lamunanya. Luky cepat sekali kembali dengan bingkisan makanan di tanganya.
“Ini tuan, silahkan.”
Rayan menatap makanan yang baru saja di letakan Luky diatas mejanya.
“Kamu beli dimana?”
__ADS_1
Luky sedikit bingung namun tetap menjawab.
“Direstoran biasa saya membeli makanan untuk tuan.” Jawabnya.
Rayan mengeryit.
“Cepat sekali.”
Luky hanya tersenyum tipis. Jarak perusahaan dari restoran langganan Rayan sangatlah jauh dan memerlukan waktu yang cukup lama menurutnya. Tapi kali ini Rayan yang biasanya tidak sabaran mengatakan cepat sekali. Benar benar lucu bagi Luky.
“Tuan, saya pamit mau melanjutkan pekerjaan saya lagi.”
“Ya..” Saut Rayan singkat.
Luky berlalu keluar dari ruangan Rayan meninggalkan Rayan yang masih merasa enggan menatap menu kesukaanya, udang asam manis.
Rayan menghela napas. Pria tampan itu kemudian meraih hp nya untuk menghubungi Luky lagi. Rayan berniat menyuruh asistenya itu untuk membelikan sebuket bunga mawar merah yang akan Rayan berikan pada Alana saat pulang nanti.
Rayan sadar setelah memikirkan semuanya. Disini dirinya yang memulai. Itu artinya Rayan juga yang harus berjuang agar bisa meluluhkan hati Alana hingga akhirnya Alana benar benar bisa membuka hati dan mencintainya.
Dirumah tidak jauh berbeda dengan Rayan, Alana pun terlihat galau sendiri ditaman belakang rumah. Wanita itu menatap tidak semangat bunga warna warni yang bermekaran dengan kupu kupu cantik yang hinggap silih berganti diatasnya. Alana masih memikirkan pertanyaan Rayan. Alana tidak tau apakah cinta itu sudah tumbuh dihatinya untuk Rayan atau belum. Tapi Alana tidak bisa memungkiri, Alana merasa sangat nyaman saat berada disamping Rayan. Rayan memang pria pemaksa. Tapi Alana juga tidak bisa memungkiri dirinya suka dengan sikap Rayan sekarang. Sedikit menyebalkan tapi juga menyenangkan.
Alana menghela napas. Alana pernah sangat mencintai Dion. Alana bahkan sudah merancang semuanya dengan Dion untuk masa depan mereka. Tentang pernikahan bahkan hidup bersama sampai tua. Tapi sayangnya Dion tidaklah setia. Dion menghianatinya dan menikah dengan Michelle. Alana tau apa yang terjadi sekarang adalah rencana tuhan. Mungkin penghianatan Dion dan Muchelle adalah cara tuhan mengingatkanya juga menyadarkanya bahwa Dion bukanlah pria yang baik. Dion tidak pantas untuknya. Tapi Rayan, Alana tidak tau apakah pria itu adalah jodoh terbaik untuknya atau mungkin setelah bersama Rayan nanti, tuhan juga akan kembali menunjukan sesuatu padanya. Entahlah, itu adalah kebingungan yang sepertinya tidak akan ada jawabanya.
“Nyonya.”
Alana sedikit tersentak saat bibi memanggilnya dengan pelan. Alana menoleh dan tersenyum tipis begitu melihat bibi sudah berdiri disamping kursi panjang yang didudukinya.
“Bibi.. Ada apa?”
“Anda belum makan siang nyonya.” Kata bibi mengingatkan.
Alana terdiam sesaat kemudian kembali menatap lurus kedepan menikmati pemandangan indah bunga dan kupu kupu yang hinggap diatasnya.
__ADS_1
“Saya nggak lapar bi. Nanti saja.” Sautnya.
Bibi menghela napas. Tanpa bertanya, bibi juga tau Alana dan Rayan sedang ada masalah. Buktinya Rayan berangkat begitu pagi sebelum Alana bangun tanpa mengatakan pesan apapun untuk Alana pada bibi. Dan lagi, bibi memergoki Rayan keluar dari ruang kerjanya saat subuh tadi. Itu juga menjadi satu bukti lagi bahwa mereka berdua tidak bersama semalam.
“Nyonya kalau anda tidak makan nanti tuan bisa marah.”
Alana kembali menghela napas. Rayan sedang tidak perduli padanya. Tidak mungkin juga Rayan akan menanyakan dirinya sudah makan atau belum.
“Bibi tenang saja, Rayan tidak akan marah kali ini.” Senyumnya miris.
Bibi tersenyum. Rayan sangat perhatian pada Alana meski memang Rayan melakukanya secara diam diam. Rayan tidak pernah memperlihatkanya langsung pada Alana. Rayan bahkan menggunakan caranya sendiri yang tentu tidak bisa dianggap sebagai sebuah perhatian oleh Alana. Rayan selalu menggunakan cara paksaan yang sebenarnya romantis menurut bibi.
“Nyonya tau beauty and the beast tidak?”
Alana mengeryit kemudian menoleh pada bibi.
“Tentu saja saya tau. Belle adalah princess yang cantik dan baik hati. Dari kecil saya suka menontonya.”
Bibi tersenyum mendengar sautan antusias Alana.
“Bagaimana dengan beast-nya nyonya?” Tanyanya lagi.
Alana diam beberapa detik.
“Dia juga laki laki yang baik meskipun memang ketampananya harus tertutupi karna kutukanya. Apa lagi pembawaanya yang selalu penuh paksaan dan membuat belle seringkali takut.”
“Lalu tuan, menurut nyonya tuan bagaimana?”
Alana menoleh lagi pada bibi.
“Apa maksudnya?” Tanya Alana tidak mengerti.
Dengan bibir yang terus melengkung tersenyum bibi membalas tatapan Alana.
__ADS_1
“Nyonya, saya rasa tuan tidak jauh berbeda dengan tokoh beast. Dia kaku dan penuh paksaan. Bahkan terkesan kejam. Tapi nyonya, selama saya bekerja disini saya melihat tuan adalah orang yang baik. Tuan hanya bukan pria yang lebay dan terlalu mengekspos perhatianya secara langsung.”
Alana menelan ludahnya. Ucapan bibi membuat otak pintarnya langsung bekerja memikirkanya. Rayan memang pria pemaksa tapi terkadang juga baik.