Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 86


__ADS_3

Setelah Caterine dan Sechil keluar dari ruangan Rayan, Alana tersenyum manis pada Rayan. Alana sangat yakin Rayan percaya padanya.


“Jadi bener kamu menguping pembicaraan aku sama Sechil tadi?”


Senyuman Alana langsung memudar. Ekspresi Rayan sangat tidak terduga. Pria itu menatap Alana yang ada didepan-nya dengan tatapan datar.


“Kamu percaya sama mommy?” Tanya Alana tidak menyangka.


“Bukanya kamu yang mengangguk tadi? itu artinya iya bukan?” Tanya Rayan balik.


Alana menggelengkan kepalanya. Rayan terlihat marah padanya kali ini.


Alana menelan ludahnya kemudian mengangkat dagunya membalas tatapan datar Rayan.


“Kalau iya kenapa Rayan? Aku mendengar semuanya tadi. Aku menguping pembicaraan kamu dengan Sechil. Apa kamu keberatan? Kamu marah?”


Rayan terdiam. Tatapan-nya terus saja datar pada Alana yang berdiri didepan-nya. Rayan maju selangkah mendekat pada Alana yang kembali menantangnya. Rayan ingin sekali tertawa sebenarnya. Pikiran-nya tidak apa mengerjai istrinya sekali kali.


“Lalu hukuman apa yang pantas untuk orang yang suka menguping pembicaraan orang lain?” Tanya Rayan tenang.


Alana semakin tidak percaya. Rayan mempercayai Caterine yang jelas jelas Rayan sendiri tau wanita itu tidak pernah menyukainya. Tapi Alana tidak mau terlihat lemah.


“Hukuman apapun bisa aku lakukan Rayan. Tapi perlu kamu tau, aku tidak bersalah. Mommy kamu yang sedang mencari cari kesalahanku.” Tegas Alana.


“Kamu menyalahkan mommy?” Rayan mengangkat sebelah alisnya menatap Alana agar semakin meyakinkan Alana bahwa Rayan benar benar marah padanya.


“Kalau iya kenapa?” Tanya balik Alana tidak terlihat gentar sekalipun. Keteguhan Alana membuat Rayan merasa sangat takjub. Wanita itu benar benar kuat dan tangguh.


“Baik kalau begitu. Jadi sekarang kamu harus terima hukuman atas apa yang kamu lakukan.”


Alana melengos. Jika sampai Rayan benar benar menghukumnya, Alana akan langsung pergi dari rumah itu.


“Alana..” Panggil Rayan pelan.


Alana enggan menoleh hingga akhirnya sentuhan tangan besar Rayan dipinggangnya membuat Alana terkejut. Alana mendongak menatap wajah tampan Rayan yang begitu sangat dekat dengan-nya.


“Lepaskan aku Rayan..” Tekan Alana dengan kedua mata berkaca kaca. Alana merasa sakit bahkan kecewa karna Rayan lebih percaya pada Caterine yang notabenenya memang tidak pernah menyukai Alana dari awal.

__ADS_1


Rayan menghela napas.


“Ayolah Alana.. Kenapa serius sekali? Kamu tau kan aku selalu percaya sama kamu?”


Alana mengeryit membuat air mata yang menggenangi kelopak matanya jatuh menetes membasahi pipinya.


“Apa maksud kamu?” Tanyanya tidak mengerti.


“Aku menghukum-mu Alana. Cium aku dan serahkan dirimu padaku sekarang.” Bisik Rayan.


Alana menelan ludahnya. Tangan-nya mengepal erat merasa sangat kesal karna Rayan mengerjainya dengan berpura pura marah dan percaya pada Caterine.


“Kamu..”


Ucapan Alana tersela oleh ciuman tiba tiba Rayan. Pria itu bahkan memeluk erat pinggang Alana berjaga jaga agar Alana tidak bisa lepas darinya.


--------- 


Caterine merasa heran kenapa Rayan justru semakin terlihat romantis pada Alana. Rayan tidak terlihat marah pada Alana bahkan setelah keluar dari ruangan-nya. Padahal harapan Caterine Rayan marah besar dan akhirnya mereka bertengkar.


“Sechil, Apa yang kalian bicarakan sebenarnya? Kenapa Rayan tidak terlihat marah sedikitpun pada Alana yang sudah menguping.” Tanya Caterine melirik kesal pada Sechil yang berada disampingnya.


Sechil terdiam. Sechil kemudian menatap pada Alana dan Rayan yang tampak sedang santai bersama ditaman belakang dengan bercanda begitu mesra. Sechil merasa heran sebenarnya, kakaknya yang begitu dingin dan arogan bisa sangat lembut menyikapi Alana.


“Aku setuju menikah dengan Ramon mom, ini semua demi kebaikan anak aku.”


“Apa?!”


Caterine benar benar sangat terkejut. Putrinya mengambil keputusan tanpa bertanya lebih dulu padanya. Parahnya lagi Caterine sudah terang terangan mengatakan tidak setuju pada Sechil saat itu dengan alasan yang sangat logis menurutnya. Ramon tidak punya apa apa.


“Mom.. Aku mohon ngertiin aku.. Aku nggak mungkin membesarkan anak ini sendiri nanti. Dia butuh figur seorang ayah mom.. Anakku..”


“Tapi tidak dengan Ramon Sechil.” Sela Caterine cepat.


Sechil diam. Ramon adalah pria yang baik yang bahkan Rayan saja percaya padanya.


“Mommy bisa carikan pengusaha sukses untuk menikahi kamu Sechil. Kenapa harus Ramon yang tidak punya apa apa?!” Nada bicara Caterine mulai meninggi membuat Sechil menelan ludah merasa sedikit bersalah. Tapi keputusan-nya sudah bulat. Terlebih ada Rayan dan Alana dibelakangnya yang siap mendukung keputusan-nya kali ini.

__ADS_1


“Ramon orang yang baik mom..” Lirih Sechil.


Caterine melengos. Kecewa kembali Caterine rasakan karna perubahan sikap Sechil yang sangat tidak Caterine harapkan itu.


“Apa kamu pikir hidup dengan orang baik tidak perlu biaya Sechil? Tidak perlu uang?” Tanya Caterine enggan menatap Sechil.


“Aku masih mencintai Ramon mom.. Aku yakin aku akan bahagia bersama Ramon..”


“Cukup !!” Tegas Caterine mengangkat tanganya keudara menyuruh agar Sechil berhenti berbicara.


“Dengar Sechil, sampai kapanpun mommy tidak akan setuju kamu menikah dengan Ramon. Mengerti?” Caterine menatap tajam pada Sechil yang hanya bisa menatap sendu padanya. Setelah itu Caterine berlalu dari balkon kamar Sechil dengan penuh amarah. Keputusan Sechil benar benar tidak seperti yang Caterine harapkan. Menikah dengan Ramon itu artinya akan membuat Rayan merasa lepas dari tanggung jawab akan Sechil dan anaknya. Itu tentu saja akan mempersulit Caterine mencapai tujuan-nya.


Sechil hanya bisa menghela napas. Bagaimanapun juga Caterine sangat menyayanginya. Sechil selalu meyakini itu.


 --------


Ditempat lain tempatnya diruangan kerja Dion, pria itu tampak sangat frustasi dengan meremas rambutnya yang mulai memanjang. Perusahaan-nya kembali mengalami krisis keuangan. Ditambah beberapa hari ini Dion tidak bisa melihat Alana karna sibuk mencoba mencari cara agar perusahaan-nya tidak gulung tikar.


“Alana..Aku sangat merindukan kamu.. Apa kamu tau itu...” Lirih Dion memejamkan kedua matanya. Sampai saat ini Alana tetap menjadi penguasa dihatinya. Meski Alana terus menolak keberadaan-nya tapi Dion selalu yakin Alana pasti akan kembali padanya.


Suara ketukan pintu membuat Dion menoleh. Pria itu berseru menyuruh seorang yang mengetuk pintu ruangan-nya untuk masuk.


“Permisi tuan..”


“Ada apa?” Tanya Dion menatap datar sekertaris cantiknya. Hana namanya.


Hana terdiam sesaat. Ekspresi Dion membuat bulu kuduknya berdiri.


“Jangan menguji kesabaran saya Hana.” Tegas Dion penuh penekanan disetiap katanya.


Hana menggigit bibir bawahnya dengan kedua mata terpejam. Semua karyawan diperusahaan itu sedang ribut berdemo diluar ruangan Dion karna gaji mereka belum juga turun.


“Tuan, diluar semua karyawan sedang menuntut gaji mereka agar segera diturunkan.” Ujar Hana dengan suara pelan. Hana takut ucapan-nya akan membuat Dion semakin murka.


Dion memejamkan kedua matanya. Perusahaanya terancam bangkrut sekarang. Tidak ingin berlarut larut Dion akhirnya menghela napas. Dion mencoba untuk berpikir dengan tenang.


“Saya akan keluar sekarang menemui mereka.”

__ADS_1


__ADS_2