
Sepanjang berjalan keliling kompleks Alana terus saja diam. Alana tidak bisa memungkiri dirinya merasa takut. Caterine sudah tau dirinya hamil dan bukan tidak mungkin Caterine akan melakukan sesuatu yang membahayakan janin dalam kandungan Alana.
“Nyonya Alana...”
Alana sama sekali tidak menghiraukan panggilan Fina. Alana bahkan sama sekali tidak mendengar suara Fina yang memanggil namanya.
Fina yang merasa penasaran dengan kediaman Alana segera melongokkan kepalanya menatap wajah cantik Alana.
“Nyonya..” Ulang Fina memanggil Alana kali ini dengan disertai sentuhan lembut di bahu Alana. Dan cara itu berhasil membuyarkan lamunan Alana.
“Iya.. Kenapa?” Saut Alana langsung bertanya.
Fina tertawa pelan.
“Nyonya melamun tadi. Maaf kalau saya mengejutkan nyonya.”
Alana tersenyum kemudian menganggukan kepalanya.
“Nyonya, saya belum lama kerja sama tuan. Tapi saya tau bagaimana nyonya besar dan nona Sechil karna bibi yang memberitahu saya.”
Alana langsung menoleh. Alana merasa tidak pernah melihat Fina sebelumnya. Tapi entah kenapa tiba tiba Fina hadir sebagai pelayan dirumah itu. Fina bahkan bisa langsung akrab dengan bibi dan pelayan lain-nya seperti sudah lama saling mengenal.
“Sebelumnya saya bekerja di perusahaan tuan nyonya. Saya adalah sekuriti disana.”
“Apa?!” Alana benar benar sangat terkejut. Gadis secantik Fina berprofesi sebagai sekuriti.
Fina tertawa melihat ekspresi terkejut Alana. Bukan hanya Alana saja yang terkejut. Bahkan saat orang tuanya tau pun mereka juga terkejut dan melarangnya untuk menekuni pekerjaan tersebut. Namun karna gaji yang memang cukup untuk membantu kebutuhan ekonomi keluarganya, Fina tidak mempermasalahkan-nya. Apa lagi Fina juga mempunyai kemampuan yang cukup hebat untuk membela diri. Itu membuat Fina merasa yakin dirinya bisa.
“Bagaimana mungkin bisa kamu jadi sekuriti Fina, kamu itu wanita.” Alana menatap tidak menyangka pada Fina yang hanya tertawa. Fina memang bertubuh tinggi dan tegap. Sikapnya sangat tegas dan seperti tidak takut pada siapapun termasuk Caterine.
“Profesi apapun akan saya tekuni nyonya, asal bisa membantu membiayai hidup keluarga saya pasti akan saya lakukan.” Balas Fina tersenyum.
Alana terdiam. Kisah Fina hampir sama dengan kisahnya. Alana juga dulu bekerja sambil kuliah demi bisa membantu membiayai hidup juga membiayai kuliahnya sendiri.
“Selain bekerja apa kamu kuliah juga?”
Fina menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Saya lebih suka bekerja nyonya. Karna hanya dengan bekerja saya bisa membantu orang tua saya.” Jawab Fina.
Alana menghela napas. Cerita Fina cukup menyentuh hati Alana. Gadis semuda Fina tidak bisa melanjutkan pendidikan-nya karna faktor biaya. Memang cukup banyak yang seperti itu dan sebagian besar dari mereka memilih bekerja untuk meringankan beban keluarga.
“Kamu hebat.” Puji Alana tersenyum.
Fina ikut tersenyum. Gadis itu kemudian kembali mengajak Alana untuk melangkahkan kakinya.
“Kamu kenapa bisa menjadi pelayan sekarang?” Alana kembali bertanya pada Fina yang melangkah disampingnya.
“Tuan yang menyuruh saya nyonya. Sebenarnya saya disini ditugaskan untuk menjaga nyonya.”
Alana mengeryit. Rayan benar benar sangat ekstra menjaganya. Sudah ada bibi dan para pekerja lain termasuk duo bodyguard Roky dan Robin yang menjaganya dan Rayan kembali menambah Fina untuk berada disamping Alana.
“Begitu ya?”
“Ya nyonya. Mari nyonya, hari sudah semakin siang.”
Alana menganggukan kepalanya. Mereka berdua mempercepat langkahnya agar cepat sampai dikediaman mewah Rayan.
Selesai membersihkan dirinya, Alana memilih untuk bersantai di balkon kamarnya sambil menikmati biscuit dan segelas coklat hangat yang sudah disiapkan sebelumnya oleh bibi diatas meja didalam kamar saat Alana sedang mandi.
Alana bingung kenapa banyak sekali penjaganya dirumah itu. Alana sudah merasa berlebihan dengan kehadiran Roky dan Robin sekarang bertambah Fina yang berperan seperti baby siter untuknya. Namun disamping itu Alana juga sedikit khawatir tentang Caterine. Wanita itu pasti akan melakukan sesuatu yang mengancam keselamatan janin dalam kandungan-nya.
“Alana..”
Alana langsung menoleh dengan cepat mendengar suara berat Rayan. Dengan cepat Alana bangkit dari duduknya dan menubruk tubuh kekar Rayan. Alana merasa sedang membutuhkan ketenangan dalam kegelisahan-nya. Dan Alana yakin bisa menemukan-nya dalam pelukan Rayan.
Rayan tersenyum mendapat pelukan tiba tiba dari Alana. Pria itu membalas dengan lembut pelukan Alana.
“Jangan khawatir, semuanya akan baik baik saja.” Bisik Rayan.
Alana menganggukan kepalanya dengan kedua mata terpejam. Rayan pasti sudah tau tentang Caterine yang mengetahui tentang kehamilan Alana. Tentu saja, disetiap sudut rumah itu ada CCTV termasuk kamar mereka. Rayan pasti tau Caterine memergoki Alana saat sedang berbicara dengan-nya pagi tadi.
“Fina sudah menceritakan semuanya. Aku juga melihat sendiri mommy berada didepan pintu kamar mandi saat kita bicara lewat telpon. Itu sebabnya aku mengakhiri pembicaraan kita.”
Alana menghela napas kemudian melepaskan pelukan-nya. Wanita cantik itu mendongak menatap Rayan yang sedikit menunduk menatapnya.
__ADS_1
“Jujur kali ini aku sedikit khawatir Rayan..” Lirih Alana.
Rayan mengangguk pelan. Rayan mengerti bagaimana perasaan istrinya sekarang. Caterine sangat tidak menyukainya dan selalu saja mencari masalah pada Alana.
“Aku mengerti. Aku janji semuanya akan baik baik saja.” Balas Rayan.
Alana mengangguk lagi. Percaya pada Rayan adalah pilihan satu satunya. Alana juga yakin Rayan bisa melindunginya juga janin dalam kandungan-nya.
“Kenapa kamu pulang?” Tanya Alana kemudian.
Rayan menangkup kedua pipi Alana yang semakin chuby. Pria itu kemudian mengecup singkat kening Alana.
“Aku kangen kamu..” Jawab Rayan. Jawaban yang sangat tidak konsisten dengan hatinya karna sebenarnya Rayan sedang sangat mengkhawatirkan Alana.
Suara ketukan pintu yang cukup keras berhasil mengalihkan perhatian Rayan. Pria itu menghela napas sebelum akhirnya berlalu dari balkon meninggalkan Alana yang langsung bisa menebak siapa orang yang berada dibalik pintu kamarnya dan Rayan sekarang. Siapa lagi kalau bukan Caterine yang akan beraksi mencari muka pada Rayan.
Ketika Rayan membuka pintu Caterine sudah berdiri dengan senyuman manis dibibirnya.
“Mommy, kenapa keras sekali mengetuk pintu?” Tanya Rayan.
“Ah ya tuhan memang sangat keras ya? Mommy minta maaf kalau begitu. Mommy mungkin terlalu semangat nak.” Jawab Caterine dengan senyuman manis yang terukir dibibirnya.
Rayan mengeryit.
“Terlalu semangat?” Tanya Rayan tidak mengerti.
Caterine menghela napas kemudian memasang ekspresi sendunya menatap Rayan.
“Jujur mommy kecewa sebenarnya Rayan. Mommy sudah tau Alana hamil. Kamu dan Alana sepertinya memang sengaja menyembunyikan kabar bahagia itu dari mommy. Tapi nggak papa, mommy tetap sangat bahagia dengan kabar itu. Mommy akan segera memiliki cucu dari kamu..”
Rayan hanya diam. Rayan tidak bodoh. Apa yang Caterine katakan tentu hanya akting saja.
“Ya mom..” Saut Rayan pelan.
“Ternyata mommy sudah tua bahkan akan segera memiliki 2 cucu.” Tawa Caterine yang hanya ditanggapi dengan senyuman kecil oleh Rayan.
“Tuhan.. Kenapa sepertinya mommy sedikitpun tidak pernah menyayangiku?” Rayan membatin dengan sedih.
__ADS_1