Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 152


__ADS_3

Hari ini Alana mengajak Rayan untuk mengunjungi Caterine dipenjara. Tidak hanya mengajak Rayan saja, Alana juga sudah menghubungi Sechil dan membuat janji akan bertemu disana.


“Rayan..” Panggil Alana pada Rayan yang hanya diam saja sambil mengemudikan mobilnya.


“Hemm..” Saut Rayan menoleh sesaat dan melempar senyum tipis dibibirnya pada Alana.


Alana berdecak pelan. Suaminya seperti tidak niat mengunjungi Caterine. Rayan memang tidak menolak apa lagi marah tapi gelagatnya seperti orang yang sedang sangat malas.


“Kamu niatnya nggak sih mau jengukin mommy?!”


Nada pertanyaan Alana sedikit tegas membuat Rayan terperanjat. Pria itu terlihat salah tingkah kemudian tersenyum pada Alana yang menatap kesal kearahnya.


“Ya aku niat sayang.. Cuma aku sedikit malas saja. Aku bingung harus bagaimana kalau berhadapan dengan mommy yang menangis sesenggukan dan minta dibebaskan. Sedangkan kamu tau sendirikan apa yang mommy lakukan? Mommy bahkan melukai teman satu selnya yang membuat hukuman mommy harus bertambah.” Ekspresi Rayan langsung berubah sendu mengingat apa yang dilakukan mommy nya.


Alana memejamkan kedua matanya sesaat. Tangan-nya terulur dan menyentuh kemudian mengusap lembut bahu tegap suaminya. Alana juga mungkin akan seperti itu jika berada diposisi Rayan sekarang. Bingung dan bimbang.


“Aku tau, aku juga pahan bagaimana perasaan kamu Rayan. Tapi.. Bagaimanapun juga mommy tetap orang tua kita. Sejahat apapun dia kita tidak boleh menghilangkan rasa sayang dan hormat kita. Mungkin saat ini memang pintu hati mommy belum terbuka Rayan..”


Rayan langsung menepikan mobilnya. Pria itu meraih tangan Alana yang berada dibahunya kemudian mencium punggung tangan-nya lama. Dalam hati Rayan sangat bersyukur karna mempunyai istri seperti Alana yang selalu bisa mengimbangi sikapnya. Alana yang pengertian dan selalu bisa menenangkan hati dan pikiran-nya dengan ucapan ucapan-nya.


Setelah mencium punggung tangan Alana, Rayan merasakan ketenangan dihatinya. Rayan tersenyum manis menatap Alana yang juga tersenyum padanya.


“Aku tidak tau apa jadinya aku tanpa kamu Alana. Kamu segalanya buat aku..” Ujar Rayan pelan.


Alana tertawa pelan. Wanita itu menarik tangan-nya yang terus digenggam Rayan kemudian menghela napas.


“Aku tidak sebaik yang kamu pikir Rayan. Aku penuh dengan kekurangan. Mungkin itu juga yang membuat mommy sampai sekarang tidak bisa menyukaiku..” Lirih Alana dengan pandangan lurus kedepan kejalanan yang memang masih lenggang pagi itu.


Rayan tersenyum manis mendengarnya. Dengan lembut Rayan menangkup kedua pipi Alana menuntun-nya agar Alana menatapnya.


“Hey, kenapa jadi berkecil hati seperti ini sayang.. Kamu tau sendirikan kenapa mommy tidak mau kita terus bersama?”


Alana menatap tepat pada kedua bola mata Rayan yang menatapnya dengan sangat lembut.

__ADS_1


“Alana, tidak ada manusia yang sempurna didunia ini. Begitu juga kamu, aku dan semuanya. Kita hanya harus bersama untuk saling melengkapi satu sama lain. Oke?”


Alana tersenyum dan menganggukan kepalanya hingga akhirnya deringan hp didalam saku dalam jas hitam Rayan membuat suasana romantis antara Rayan dan Alana harus buyar saat itu juga.


Rayan menghela napas dan melepaskan tangkupan tangan-nya di wajah Alana. Pria itu merogoh saku dalam jas yang dikenakan-nya meraih benda pipih yang seakan terus menjerit tidak tahan dengan ketidak sabaran si penelepon diseberang sana.


“Sechil..” Gumam Rayan membuat Alana tertawa pelan karna ekspresi kesal Rayan.


“Ada apa?” Tanya Rayan dengan nada kesal begitu mengangkat telepon Sechil.


Sedang Alana, wanita itu memusatkan perhatian-nya kedepan menatap berbagai kendaraan yang berlalu lalang dijalanan tersebut.


“Kak, aku dan Ramon sudah mau sampai. Kalian berdua dimana? Apa masih dirumah?”


Rayan melirik Alana yang berada disampingnya sebelum menjawab pertanyaan Sechil. Posisi mereka saat ini memang sudah dekat dengan lapas dimana Caterine ditahan.


“Kami juga sudah dekat.” Jawab Rayan singkat.


“Ya sudah kalau begitu, kita ketemu disana ya kak. Kakak jangan lama lama.”


Rayan memutuskan sambungan telepon-nya begitu saja. Pria itu kemudian melajukan kembali mobilnya mempersingkat waktu agar segera sampai ditempat dimana Caterine berada semestinya.


Mobil Rayan dan motor Ramon memasuki area tempat Caterine ditahan secara beriringan. Motor Ramon yang berada didepan dan mobil Rayan dibelakangnya. Mereka dengan kompak turun secara bersamaan namun tidak dengan Alana yang terlihat ragu dengan tatapan terus mengarah pada rantang makanan yang dipegangnya.


Rayan yang membukakan pintu menghela napas melihatnya. Padahal saat dirumah tadi Alana yang sangat bersemangat. Alana juga sempat ngomel padanya dan menganggap Rayan tidak berniat menjenguk Caterine.


“Sayang...” Panggil Rayan pelan dan lembut.


Alana menghela napas dan menoleh pada Rayan dengan tatapan penuh keraguan.


“Ayo turun.. Sechil dan Ramon sudah menunggu. Kasihan loh, Ramon kan mau ada kelas pagi setelah ini.” Senyum Rayan menatap penuh perhatian pada Alana.


“Rantang ini.. Apa tidak perlu aku bawa masuk kedalam? Aku takut mommy tidak mau menerimanya dan malah salah paham dengan apa yang aku bawa ini..” Ujar Alana dengan nada sangat pelan.

__ADS_1


Rayan menatap rantang yang dipegang Alana kemudian meraihnya.


“Biar aku yang bawa. Aku tau kamu sudah sangat berniat memberikan ini pada mommy..” Katanya.


Alana terdiam sesaat namun akhirnya menganggukan kepala dan turun dari mobil Rayan. Mereka ber empat kemudian masuk beriringan untuk mengunjungi Caterine, mommy nya.


“Rayan.. Sechil..”


Raut kebahagiaan terpancar jelas diwajah Caterine begitu melihat Rayan dan Sechil. Wanita itu bahkan melepas begitu saja tuntunan petugas kemudian berlari memeluk Rayan dan Sechil secara bersamaan.


Sedang Alana dan Ramon. Keduanya memilih diam dibelakang karna tau Caterine tidak mungkin mengharapkan kedatangan-nya.


“Kalian berdua kesini mau bawa mommy pulang kan? ayo ayo sayang.. Mommy juga sudah tidak betah disini..”


Rayan dan Sechil saling menatap sesaat. Keduanya merasa sangat kasihan melihat Caterine. Wajahnya tampak pucat dengan lingkaran hitam dimatanya yang menandakan Caterine tidak bisa tertidur dengan nyenyak diselnya.


“Mom.. Kita duduk dulu.. Aku bawakan sesuatu untuk mommy.. Ini khusus Alana buat untuk mommy..”


Mendengar ucapan lembut Rayan, pandangan Caterine langsung mengarah pada Alana yang berdiri dengan posisi berdampingan.


“Alana..” Gumamnya. Kedua tangan Caterine mengepal erat menatap Alana yang tersenyum manis padanya.


“Kamu.. Gara gara kamu saya jadi dipenjara. Gara gara kamu juga Rayan tidak perduli sama saya..” Geram Caterine membuat semua yang ada disitu terkejut. Caterine hampir saja menubruk Alana jika saja Ramon tidak dengan sigap menghalangi dengan berdiri didepan Alana.


Caterine terus saja berteriak merasa sangat geram pada Alana yang tetap terlihat tenang. Apapun yang Caterine katakan padanya Alana tidak sedikitpun merasa bersalah. Alana tau apa yang Caterine dapat sekarang adalah akibat ulahnya sendiri.


Melihat Caterine yang bertindak anarkis, para petugas dengan sigap langsung menahan Caterine. Mereka menyeret Caterine untuk kembali ke lapasnya dan sementara melarang siapapun untuk menjenguknya.


“Kak rantangnya buat aku saja boleh tidak, aku kebetulan belum sempat beli makanan.”


Rayan tersenyum dan segera memberikan rantang berisi makanan itu pada Sechil. Rayan tau apa maksud Sechil. Sechil tidak ingin Alana kecewa karna makanan buatan-nya terbuang sia sia.


“Eemm.. Ini pasti sangat enak.” Senyum Sechil senang.

__ADS_1


Alana yang melihat itu tertawa. Melihat bagaimana sikap Caterine tadi, Alana semakin merasa yakin bahwa tidak ada kesalahan apapun dalam dirinya. Apa yang Rayan katakan memang benar. Caterine tidak suka padanya karna Caterine merasa Alana adalah penghalang untuknya menguasai semua harta milik Rayan.


__ADS_2