Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 23


__ADS_3

Rayan mengajak Alana berbaring diatas karpet berbulu di depan sofa tunggal yang tadi menjadi tempat duduknya.


“Asal kamu tau Rayan, aku sama sekali sudah tidak ada rasa apapun pada Dion. Aku hanya membencinya.”


“Lalu?” Tanya Rayan yang menjadikan tangan sebagai penyangga kepalanya.


Alana berdecak. Malam ini Rayan berhasil membuatnya menangis saking kesalnya.


“Kamu masih tidak percaya? Kamu masih cemburu?”


“Ahem.” Angguk Rayan menatap Alana.


Alana berdecak. Rayan benar benar membuatnya gemas juga muak.


“Ya sudah kalau begitu aku tidur saja.”


Saat Alana hendak bangkit, Rayan meraih pinggangnya menahan agar Alana tetap berbaring disampingnya.


“Kamu akan tau konsekuensinya kalau bangun sekarang Alana.”


Alana menatap Rayan kesal. Pria itu selalu saja mengancam dan memaksanya.


“Jadi apa maumu sebenarnya tuan?” Tanya Alana dengan nada kesal.


Rayan memainkan ujung rambut panjang terurai Alana kemudian menciumnya dengan kedua mata terpejam.


“Lanjutkan.” Katanya.


Alana menatap tidak mengerti pada Rayan.


“Apanya yang harus di lanjutkan? cemburumu itu? Jangan konyol Rayan.”


Rayan tertawa pelan mendengarnya.


“Ceritakan semua tentang Dion dan kamu dimasa lalu.”


“Apa?”


“Kenapa terkejut seperti itu? Kamu tidak mau?” Tanya Rayan mengangkat sebelah alisnya menatap Alana.


“Eemm.. Bukan begitu. Aku hanya.. Merasa tidak perlu mengungkit tentang masa lalu.”


Rayan meraih pinggang Alana lagi menariknya pelan membuat Alana berbaring miring menghadapnya.

__ADS_1


“Ini bukan tentang mengungkit. Tapi tentang keterbukaan terhadap pasangan.”


Alana menghela napas sendu. Kalau sudah begitu Alana sudah tidak punya lagi alasan untuk menolak. Alana menatap Rayan kemudian menunduk menatap dada bidang pria itu. Tangan Alana menyentuh dan memainkan kain halus kaos polos warna putih yang di kenakan Rayan di bagian dada. Alana memulai menceritakan kisahnya dimasa lalu bersama Dion dan Michelle. Mulai dari perkenalan mereka sampai akhirnya mereka berdua menjalin cinta.


-------


“Dion..”


Dion melirik sekilas pada Michelle yang masuk ke dalam ruang kerjanya. Michelle membawakan secangkir kopi panas yang di atasnya mengepul asap dengan aroma yang sangat khas. Kopi memang adalah salah satu minuman favorit Dion.


“Aku positif.” Kata Michelle sambil mendudukan dirinya di kursi depan meja kerja Dion.


Dion terdiam. Tanganya yang sedari tadi menari diatas keyboard langsung berhenti. Dion mengangkat kepalanya menatap Michelle yang menatapnya dengan tatapan berbinar.


“Sudah 2 bulan. Aku ke dokter siang tadi.”


Dion menutup laptopnya kemudian meraih secangkir kopi panas buatan Michelle menyeruputnya sedikit.


“Dokter juga bilang aku harus mengurangi aktivitas beratku. Aku nggak boleh terlalu banyak pikiran mungkin juga marah marah termasuk.” Lanjut Michelle dengan senyuman manisnya.


Dion menatap Michelle. Wajahnya begitu datar tidak ada guratan kebahagiaan sama sekali.


“Dion aku..”


Seketika Michelle diam. Hatinya begitu sakit mendengar pertanyaan yang di lontarkan Dion padanya.


“Apa maksud kamu Dion?”


Kedua mata Michelle mulai terasa memanas. Hatinya terasa seperti di sayat sayat menggunakan pisau yang tumpul. Pertanyaan Dion benar benar sangat menyakitinya.


“Aku tanya itu anak siapa?” Ulang Dion menyenderkan punggungnya di sandaran kursi kebesaranya.


Michelle menelan ludahnya, napasnya mulai memburu dengan kedua tangan mengepal erat. Dion bertanya seolah Michelle adalah wanita gampangan yang bisa tidur dengan sembarang pria.


“Kamu keterlaluan Dion.”


Dion berdecak. Wajahnya terlihat sangat malas menatap Michelle yang mulai bercucuran air mata.


“Aku hanya bertanya, apa susahnya kamu jawab jujur Michelle?”


Michelle menggelengkan kepalanya. Entah kenapa Dion sangat berubah setelah mereka menikah. Dion seperti menyesal karna lebih memilihnya dari pada Alana.


“Kamu masih mencintai Alana?” Tanya Michelle dengan suara bergetar.

__ADS_1


Dion melipat kedua tanganya dibawah dada menatap Michelle dengan tatapan yang terus saja datar.


“Dari dulu Michelle. Kamu tau aku sangat mencintai Alana.”


Michelle mulai terisak. Kepalanya menunduk menatap perutnya yang masih rata. Michelle sangat yakin bahwa janin yang di kandungnya sekarang adalah buah cintanya dengan Dion. Hanya Dion yang menyentuhnya. Dari mereka mulai masuk sekolah menengah atas sampai sekarang. Dion yang tau luar dalamnya meskipun memang Dion tidak pernah memberi kepastian padanya. Dion bahkan berpacaran dengan Alana padahal hampir setiap malam mendatanginya dan bergumul panas diranjang Michelle.


“Kamu tau bukan siapa yang dari dulu sangat aku harapkan menjadi pendampingku? Bukan kamu Michelle, tapi Alana. Dan satu lagi, aku nggak pernah mencintai kamu sedalam aku mencintai Alana.”


Mendengar itu tangan Michelle semakin mengepal erat. Michelle merasa sangat sakit hati mendengar apa yang dikatakan Dion. Dion menyentuhnya penuh gairah tapi mengatakan tidak mencintainya.


“Kenapa kamu selalu mendatangiku kalau kamu mencintai Alana? Kenapa kamu selalu menghabiskan malam di kamarku kalau memang hanya Alana yang kamu harapkan menjadi pendamping kamu?” Michelle berkata dengan suara bergetar. Michelle berusaha tetap menegakkan kepalanya menatap Dion yang memang sudah dari kecil di cintainya.


“Simpelnya saja Michelle, Alana wanita baik baik.” Jawab Dion enteng.


“Aku merasa tidak ada yang di rugikan Michelle dengan apa yang kita lakukan. Kita sama sama suka melakukanya. Aku nggak marah kamu jalan dengan yang lain. Aku bahkan bermurah hati selalu mengajak kamu saat sedang bersama Alana. Itu untuk memperlihatkan pada kamu bahwa Alana memang wanita yang patut diperjuangkan. Kamu paham.”


Dada Michelle semakin kembang kempis. Dion menganggapnya wanita gampangan secara tidak langsung.


“Aku hanya melakukanya sama kamu Dion. Aku hamil anak kamu.”


“Oh ya? Lalu dengan Randy, Stefan, dan Malik? Apa selama jalan kalian tidak melakukan apa apa? Aku merasa ragu Michelle. Kamu sangat aktif jadi sepertinya tidak mungkin jika tidak melakukan itu..”


Michelle menggelengkan kepalanya. Michelle memang pernah jalan bersama nama nama yang di sebut Dion tadi. Tapi itu semua Michelle lakukan untuk membuat Dion cemburu. Michelle tidak pernah melakukan apapun dengan mereka bahkan sekedar saling menggenggam tangan saja tidak.


“Aku bukan wanita seperti itu Dion. Aku hanya melakukanya sama kamu.”


“Kalau begitu kenapa baru sekarang kamu hamil? kenapa tidak dari kita SMA? kenapa tidak dari sebelum aku bertemu dan berpacaran dengan Alana?”


Michelle semakin tidak mengerti dengan apa yang Dion katakan. Jelas jelas Dion pernah mengatakan cinta padanya. Bahkan bisa dibilang Alana lah yang menjadi orang ketiga diantara keduanya. Alana hadir saat mereka memasuki bangku kuliah.


“Aku selalu mengkonsumsi obat Dion. Tapi hari itu aku sengaja tidak mengkonsumsinya. Aku..”


“Kamu sengaja ingin menghancurkan hubunganku dengan Alana bukan? Atau jangan jangan kehamilan kamu ini juga hanya akal akalan kamu saja.”


BRAKKK !!


“Cukup Dion.”


Michelle bangkit dari duduknya sembari menggebrak meja kerja Dion karna tidak bisa lagi menahan emosinya. Dengan wajah memerah dan basah oleh air mata Michelle menatap tajam pada Dion yang tetap terlihat santai duduk dikursinya.


“Aku akan buktikan sama kamu Dion bahwa janin yang aku kandung adalah darah daging kamu. Dia anak kamu.”


Michelle berlalu setelah berkata. Namun ketika sampai diambang pintu Michelle berhenti.

__ADS_1


“Asal kamu tau Dion, tuhan sangat baik karna menjauhkan Alana dari laki laki brengsek seperti kamu.” Katanya.


__ADS_2