
Setelah tau Alana mabuk jika menaiki pesawat, Rayan berusaha mencari cara lain agar bisa mengajak istrinya itu honeymoon. Rayan bahkan sampai menanyakan pada Luky tempat yang bagus dan cocok untuk honeymoon namun masih berada didalam negeri.
“Mungkin ke pulau tuan.”
Rayan tampak berpikir. Pria itu mengusap usap pelan dagu tak berjenggotnya mencoba menimang saran dari Luky.
“Ke pulau?”
Luky hanya mengangguk pelan. Mengatasi mabuk udara memang tidak gampang apa lagi perjalananya jauh. Rayan pasti akan ketar ketir sendiri jika sampai Alana mabuk dalam pesawat.
“Kalau begitu carikan yang bagus dan nyaman untuk saya dan Alana kesana.” Perintah Rayan.
“Baik tuan. Apa ada lagi tuan?”
“Hemm.. Tidak ada. Kamu boleh kembali bekerja.” Geleng Rayan menatap Luky.
“Saya permisi tuan.”
“Hmm..” Saut Rayan disertai anggukan kepala.
Setelah Luky keluar dari ruanganya, Rayan meraih laptopnya. Pria itu menghidupkanya berniat mengawasi Alana yang sekarang entah sedang apa dirumah.
Senyum Rayan langsung mengembang begitu melihat Alana yang sedang membaca majalah diruang keluarga. Rayan tidak bisa lagi mengelak, meski memang Alana cukup menyebalkan tapi tidak melihat Alana sebentar saja Rayan merasa ada yang kurang. Alana, wanita itu seperti menjungkir balikan dunia Rayan. Rayan bahkan bisa mengalah jika sudah berdebat denganya. Padahal Rayan bukanlah pria yang bisa mengalah pada siapapun.
Rayan terus menatap Alana memperhatikanya dengan sangat detail. Bahkan gerakan jari tanganyapun Rayan bisa dengan jeli melihatnya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Rayan berdecak. Konsentrasinya memperhatikan gerak gerik menggemaskan Alana seketika sirna. Dan Rayan merasa sangat terganggu karna suara ketukan pintu itu.
“Masuk !” Serunya menahan amarah.
Pintu terbuka dan Luky kembali muncul dari balik pintu. Rayan mengangkat sebelah alisnya, Luky belum ada 5 menit keluar dari ruanganya dan sekarang sudah kembali lagi.
“Ada apa?” Tanya Rayan begitu Luky mendekat padanya.
“Maaf kalau saya mengganggu tuan. Ini tentang berita yang sedang beredar itu.”
Rayan mengeryit.
__ADS_1
“Berita yang sedang beredar?”
“Ya, tentang nyonya Alana yang dikabarkan operasi plastik agar bisa menyerupai wajah nyonya Sakura. Dan juga video saat anda dan nyonya bertemu dengan tuan Sandi direstoran malam itu.”
Rayan mendesis dengan kedua mata terpejam. Rayan hampir saja melupakan tentang berita itu. Beruntung Alana bukan wanita yang betah berada didepan TV lama lama sehingga tidak tau dengan kabar yang sedang berhembus itu.
“Datangi kantor penyebar berita itu. Cari siapa saja yang merekam dan menyebarkan videonya. Hentikan beritanya atau mereka akan berurusan langsung dengan saya.” Tegas Rayan.
Luky terdiam sesaat. Tuan-nya tampak sangat marah mendengarnya. Dari situ Luky bisa langsung menebak bahwa Rayan memang sudah benar benar bisa melupakan Sakura dan mencintai Alana.
“Baik tuan.”
“Ingat Luky, hari ini juga berita tentang Alana harus berhenti. Kalau tidak kamu juga yang akan menanggung akibatnya.”
Luky tersenyum tipis. Rayan selalu saja menggunakan cara seperti itu. Mengancamnya agar bisa dengan cepat membereskan tugas yang dia berikan. Padahal pada kenyataanya meski Luky kadang gagal Rayan tidak melakukan apa apa. Menegur mungkin iya. Tapi bertindak lebih rasanya tidak pernah.
“Saya akan melakukanya dengan baik tuan.” Kata Luky yakin.
“Bagus, pergi sekarang juga.”
“Baik tuan.”
Rayan menghela napas kasar. Entah kenapa bisa muncul asumsi seperti itu. Alana melakukan operasi demi bisa menyerupai wajah Sakura. Kesan-nya seperti Alana wanita yang menghalalkan segala cara demi bisa mencapai tujuanya. Dan Rayan merasa sangat keberatan juga marah karna hal itu.
Rayan kembali menoleh pada laptopnya namun Alana sudah tidak ada diruang keluarga.
“Kemana dia?” Gumam Rayan bertanya tanya.
Rayan kemudian mencari keseluruh ruangan yang memang diawasi oleh CCTV. Tapi sayang, Alana sama sekali tidak terlihat dimanapun.
“Sial !” Umpatnya.
------
Sementara itu, Alana ternyata sedang berada dikamar para pelayan. Alana sengaja berpindah tempat agar Rayan tidak bisa terus mengawasinya. Alana yakin Rayan pasti selalu mengawasinya dari kejauhan. Buktinya pria itu selalu tau dan bisa menebak aktivitas apa yang Alana lakukan setiap harinya.
“Nyonya..”
Alana menoleh saat mendengar suara bibi yang baru keluar dari kamar mandi. Alana meringis sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal itu.
__ADS_1
“Maaf bi saya lancang masuk. Saya sudah panggil bibi dan yang lainya dari tadi tapi tidak ada sautan. Makanya saya masuk saja.”
Sesaat bibi terdiam. Alana terlalu rendah hati untuk seorang nyonya.
“Nggak papa nyonya.” Senyum bibi mengerti.
“Pelayan yang lainya sedang belanja bulanan untuk keperluan mereka sendiri sendiri nyonya. Mereka sudah izin pada saya dan tuan pun sudah tau.”
Alana mengangguk anggukan kepalanya. Wanita itu kemudian mengedarkan pandanganya keseluruh sudut kamar para pelayan dirumahnya. Tiba tiba Alana teringat akan ibunya. Dulu ibunya juga pasti tidur dan bercanda bersama bibi dan pelayan lainya dikamar itu.
“Bi..”
“Ya nyonya.” Saut bibi yang masih berdiri didepan pintu kamar mandi.
“Dulu Rayan suka marah marah sama ibu saya tidak?”
Pertanyaan Alana membuat bibi terdiam. Rayan adalah orang yang sangat tegas, pemarah, tapi tidak jahat. Rayan memang akan marah jika ada kesalahan tetapi tidak sampai menyakiti hati para pekerjanya.
“Emm.. Tuan orang yang baik nyonya. Beliau tidak akan marah tanpa sebab.” Jawab bibi jujur.
“Apa ibu saya pernah membuat kesalahan dan membuat Rayan marah?” Tanya Alana lagi semakin penasaran.
Bibi bingung sekarang. Sari memang sering melakukan kesalahan. Sari juga sering terkena marah Rayan. Tapi marahnya Rayan tidak sampai memberikan hukuman apapun. Rayan hanya akan menggertak saja itupun dengan kata yang masih bisa diterima oleh hati.
“Rayan itu sangat gampang sekali marah bi. Saya yakin kalian juga sering dimarahi kan? termasuk ibu saya.” Alana mulai berasumsi sendiri sembari membayangkan wajah penuh amarah Rayan.
Bibi tersenyum. Tingkah nyonya mudanya yang sekarang sangat berbeda dengan calon nyonya muda yang dulu yaitu Sakura. Jika Sakura begitu elegan dan lembut namun tidak dengan Alana. Alana begitu sangat supel dan mudah bergaul dengan siapa saja. Alana juga tidak sungkan mengajak bibi mengobrol jika sedang jenuh, seperti sekarang ini misalnya.
“Mungkin saya juga harus sering marah marah sama Rayan untuk membalas. Benar tidak bi?” Alana menatap bibi meminta pendapat dari wanita tua itu.
“Memangnya kamu sudah punya alasan untuk memarahiku?”
Alana mengeryit karna yang menyaut bukanlah bibi melainkan suara berat suaminya, Rayan.
Sementara bibi, wanita tua itu hanya bisa diam dan langsung menundukan kepalanya. Alana ketahuan sedang menghibahi suaminya sendiri.
Alana menoleh kearah pintu dan terkejut mendapati Rayan yang sudah berdiri disana dengan tampang garangnya.
“Mati aku..”
__ADS_1