
Hari yang dinanti oleh Bastian dan Cleo akhirnya tiba. Hari dimana Sechil akan mengecek kandungan-nya kedokter.
“Ayo dong sayang kamu yang semangat, hari ini kan kita mau kedokter mau cek kehamilan kamu. Masa nggak semangat gitu..” Kata Ramon menyemangati Sechil yang terlihat ogah ogahan menyantap sarapan paginya.
Sechil mencebikkan bibirnya. Membayangkan dirinya bertemu dengan Cleo saja Sechil merasa malas.
“Jujur aku malas kalau Cleo juga harus ikut Ramon. Kalau hanya Bastian saja itu bukan masalah.” Ujar Sechil.
Ramon menghela napas pelan dan tersenyum. Pria itu meraih tangan Sechil membuat Sechil menatapnya.
“Kan ada aku yang akan selalu ada disamping kamu Sechil.”
Sechil diam. Entah kata apa yang pantas untuk menggambarkan sosok Ramon. Ramon begitu baik, sabar, dan bisa menerima semua kekurangan-nya.
“Bagaimana jika tiba tiba Cleo meminta anak ini dan Bastian menyetujuinya Ramon?” Tanya Sechil mulai berpikir berlebihan.
Ramon tertawa pelan.
“Itu nggak mungkin sayang.. Cleo itu bukan tipe wanita yang mau repot ngurusin anak menurutku. Apa lagi kalau bukan anaknya sendiri. Ya kan? Lagi pula status Bastian dan Cleo itu hanya sebatas tunangan belum menjadi suami istri. Mana mau Cleo mengurus anak tanpa status pernikahan dengan Bastian.”
Sechil tampak berpikir. Apa yang dikatakan Ramon memang masuk akal. Tapi jika dipikir kembali, bisa saja Cleo menyewa baby siter untuk mengurus anak yang sedang dikandung Sechil nanti. Apa lagi uang yang mereka miliki tidak terhingga jumlahnya.
“Tapi kan...”
Suara deringan hp miliknya membuat ucapan Sechil terpotong. Sechil melepaskan tangan-nya dari genggaman Ramon kemudan meraih benda pipih itu dimana nama Luna terpampang nyata disana.
“Luna?” Gumam Sechil bingung. Tidak biasanya Luna menghubunginya. Pasalnya pertemanan mereka juga sepertinya sudah selesai setelah Sechil memutuskan untuk berhenti kuliah karna hamil.
“Luna telepon aku, ada apa ya?” Tanya Sechil pada Ramon.
Ramon menggeleng tidak mengerti. Mereka tidak saling dekat sehingga Ramon merasa tidak tau apa apa tentang Luna.
“Aku angkat aja kali ya..”
“Ya.. Itu bagus.” Setuju Ramon.
Sechil mengangkat telepon dari Luna.
__ADS_1
“Ya Lun, kenapa?” Tanya Sechil tanpa basa basi. Sechil melirik sekilas pada Ramon yang masih menikmati bubur ayam yang dibelinya tadi dipinggir jalan tidak jauh dari kontrakan-nya.
“Hy Chil, apa kabar?” Sapa dan tanya Luna dengan suara ceria diseberang telepon.
“Kabar aku baik. Ada apa tiba tiba nelepon?”
Sechil bukan tidak mau lagi menjalin pertemanan dengan Luna. Sechil hanya merasa kecewa karna Luna meninggalkan dan menjauhinya begitu saja disaat Sechil sendiri sedang membutuhkan dukungan dari orang orang terdekatnya.
“Enggak apa apa sih. Oya Chil, kamu masih ingat sama mantan terindah kamu kan? si Ramon itu..”
Sechil mengeryit mendengar Luna menyeret nama Ramon. Sechil kembali melirik Ramon namun hanya sesaat.
“Memangnya kenapa dengan dia?”
“Hahaha.. Cie yang masih perduli. Tapi wajar sih, secara Ramon itu baik dan pintar. Tidak heran kalau kamu juga masih menyimpan rasa. Tapi Sechil, sayangnya sekarang Ramon sudah dekat dengan Claudia. Hampir setiap hari mereka ngobrol terus sharing tentang tugas berdua.”
Kedua tangan Sechil mengepal mendengarnya. Claudia memang dari dulu menyukai Ramon. Claudia bahkan pernah mendapat cakaran dari Sechil karna berani menyisipkan surat cinta di loker milik Ramon saat itu.
“Ramon-nya sih terlihat biasa saja. Tapi Claudia-nya itu loh Chil.. Ngejar mulu tiap hari..”
Sechil menatap kesal pada Ramon yang masih belum menyadari tatapan kesal Sechil padanya. Pria dengan jaket warna biru tua itu menikmati semangkuk bubur ayam miliknya dengan santai.
“Ada hubungan apa kamu dengan Claudia?” Tanya Sechil tidak mau berbasa basi.
Ramon yang bingung hanya bisa mengeryit. Ramon merasa tidak memiliki hubungan apapun dengan Claudia. Ramon hanya menjalin pertemanan yang baik dengan Claudia seperti pada yang lain-nya.
“Kok tiba tiba nanya begitu?” Bingung Ramon menatap Sechil yang terlihat sangat kesal.
“Luna tadi nelepon aku dan mengatakan kamu hampir tiap hari berduaan dengan Claudia. Jadi dikampus karna nggak ada aku kamu begitu Ramon? Kamu ketawa tawa, ngobrol mesra dengan Claudia. Begitu?”
Ramon menggeleng tidak mengerti dengan apa yang Sechil katakan. Tapi Ramon kemudian paham. Mungkin Luna yang mengadukan tentang dirinya dan Claudia pada Sechil tadi. Luna juga mungkin salah mengartikan kedekatan-nya dengan Claudia.
“Jangan salah paham dulu dong.. Dari dulu kan aku sama dia memang udah temenan. Kamu kan juga tau itu. Lagian masa iya aku ada hubungan sama Claudia sedangkan istri aku dirumah lagi hamil dan terus nungguin kepulangan aku..” Senyum Ramon menjelaskan dengan tenang.
“Tapi kata Luna..”
“Kamu percaya sama aku atau Luna?” Tanya Ramon menyela dengan lembut membuat Sechil langsung diam.
__ADS_1
Sechil menelan ludahnya kemudian meraih segelas air putih dan meminumnya sampai habis tak tersisa.
“Sechil.. Aku nggak mungkin dong ada hubungan sama Claudia. Adapun kami punya hubungan itu hanya sebatas teman biasa saja. Kami mengobrol biasa saja. Dekat juga nggak terlalu..”
Sechil menghela napas. Dari dulu memang Claudia selalu berusaha mendekati Ramon. Dan Ramon, pria itu memang baik pada semua orang.
Suara ketukan pintu membuat Ramon menoleh. Sudah bisa dipastikan itu adalah Bastian dan Cleo. Bastian mengatakan akan datang untuk mengajak mereka berdua sama sama kedokter menggunakan mobilnya.
“Aku buka pintu dulu. Kamu abisin buburnya. Dan ingat jangan mudah percaya pada orang lain sekalipun itu adalah Luna.” Ujar Ramon kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari dapur untuk membukakan pintu.
Sechil berdecak setelah Ramon keluar. Apa yang Ramon katakan memang benar. Tidak seharusnya Sechil percaya pada orang lain sementara Sechil sendiri dari dulu tau bagaimana Ramon yang sebenarnya.
“Oke, mungkin Luna mengatakan-nya karna tidak tau aku dan Ramon adalah suami istri. Luna tidak mungkin bermaksud buruk.” Gumam Sechil tidak ingin berprasangka buruk pada Luna.
Sechil kemudian bangkit dari duduknya dan masuk kedalam kamar untuk bersiap. Sechil tidak menuruti apa kata Ramon untuk menghabiskan sarapan buburnya. Sechil tidak mau membuat Ramon, juga Bastian bahkan Cleo menunggunya terlalu lama. Cleo pasti akan berkata sangat tidak enak jika Sechil terlalu lama.
“Bagaimana kalau kita pergi dengan mobil Bastian saja, itu akan lebih nyaman untuk kamu Sechil.” Cleo memberi saran saat Ramon hendak mengambil sepeda motornya.
Sechil tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.
“Terimakasih. Tapi saya pikir lebih baik saya dan Ramon menaiki motor saja.” Tolak Sechil halus.
“Tapi kan..”
Bastian meraih tangan Cleo memberi isyarat akan Cleo tidak meneruskan ucapan-nya. Bastian tidak ingin membuat Ramon dan Sechil merasa tidak nyaman karna Cleo.
“Hh.. Oke kalau memang mau kamu begitu.” Dengan kesal Cleo melangkah lebih dulu menuju mobil Bastian. Cleo masuk dan membanting pintu dengan keras membuat Bastian hanya bisa menghela napas. Sedangkan Ramon dan Sechil mereka hanya tersenyum melihat tingkah Cleo.
“Maaf kalau sikap Cleo sedikit keterlaluan.” Ucap Bastian merasa tidak enak hati pada Sechil dan Ramon.
“Tidak papa Bastian. Kami tau maksud Cleo baik.” Senyum Sechil membalas.
Bastian ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Bastian berharap semuanya akan berjalan semestinya tanpa masalah apapun yang menghambat.
“Em lebih baik kita pergi sekarang. Bukankah Ramon juga harus kuliah?”
Ramon dan Sechil mengangguk kompak. keduanya kemudian menaiki motor metik Ramon dan berlalu lebih dulu yang diikuti oleh mobil Bastian dibelakangnya.
__ADS_1