Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 84


__ADS_3

Lagi lagi Rayan tidak bisa memejamkan kedua matanya. Ucapan Ramon ditengah waktu makan malam tadi terus menguasai pikiran Rayan. Itu semua membuat rasa kantuk tidak kunjung Rayan rasakan.


Rayan menghela napas pelan. Selain ucapan Ramon, Rayan juga memikirkan sikap Caterine yang benar benar sangat keras kepala. Caterine menolak niat baik Ramon yang akan menikahi Sechil.


“Masih memikirkan Ramon?”


Rayan menoleh. Rayan mengeryit menatap Alana yang sedang menatapnya.


“Kenapa kamu bangun?” Tanya balik Rayan pada Alana.


Alana beringsut memeluk tubuh kekar Rayan.


“Aku juga tidak bisa tidur dengan nyenyak.” Jawabnya.


Rayan tersenyum. Pria itu mengecup singkat puncak kepala Alana yang menyender didadanya.


“Ramon, bagaimana dia menurut kamu?”


Alana mengeryit. Alana tidak bisa memahami sikap seseorang hanya dari luarnya saja. Ramon memang terlihat baik juga sopan. Tapi Alana tidak bisa menjamin bahwa Ramon memang pria yang baik.


“Aku tidak tau. Tapi kalau memang Ramon mau bertanggung jawab itu bagus. Apa lagi kalau alasan-nya adalah cinta. Ada baiknya kamu bicarakan dulu saja pada Sechil tentang keniatan Ramon.”


Rayan mengangguk setuju dengan apa yang Alana katakan. Persetujuan Sechil lebih penting karna Sechil sendiri yang akan menjalani jika memang mau menikah dengan Ramon.


“Kamu tidak akan menantang jika Sechil mau bukan? Mungkin karna Ramon bukan orang kaya?”


Rayan tertawa pelan mendengarnya. Pria itu kemudian melepaskan pelukan Alana. Rayan menatap Alana lembut tepat pada kedua bola mata indah wanitanya.


“Aku bukan orang yang gila akan harta Alana. Bahkan jika aku harus memilih antara kamu dan semua yang aku miliki sekarang, aku akan lebih memilih kamu.”


Alana mengeryit.


“Tapi manusia tidak bisa hidup jika tidak memiliki harta Rayan. Untuk bertahan hidup.”


Rayan menggeleng menolak apa yang Alana katakan.

__ADS_1


“Kamu salah Alana. Manusia tidak akan bisa hidup bukan karna harta. Tapi karna pikiran, hati, juga tenaga.”


“Kenapa bisa begitu?” Tanya Alana penasaran. Yah, Alana adalah salah satu orang yang menganggap bahwa harta adalah segalanya untuk bertahan hidup dikota yang begitu keras itu.


“Begini, kalau kamu hidup bergelimang harta tapi tidak punya pikiran untuk maju dan mengembangkan apa yang kamu miliki perlahan semua yang kamu miliki juga akan habis. Disitu pikiran kita harus bekerja.” Jawab Rayan.


“Lalu bagaimana dengan hati?” Tanya Alana semakin merasa ingin tau apa yang Rayan katakan padanya.


“Tentu saja semua yang kita lakukan harus benar banar tulus dari hati. Jangan hanya memikirkan tentang hasilnya saja. Tapi kemakmuran bersama.”


Alana tersenyum. Suaminya benar benar pria yang bijak. Dan kebijakan-nya itu tertutup oleh kedinginan yang membuatnya terlihat sedikit menakutkan bagi siapa saja yang belum benar benar mengenalnya.


“Oke, aku mengerti. Bagaimana dengan tenaga?”


“Apa kamu sedang bercanda Alana. Bagaimana mungkin kamu tidak tau, sedangkan untuk seseorang melangkah saja memerlukan tenaga. Apa lagi berjuang mengarungi kerasnya kehidupan didunia.”


Alana tertawa pelan. Wanita itu melepaskan pelukan-nya mendongak menatap Rayan yang juga menatapnya.


“Tapi selain kehidupan didunia, kita juga harus memikirkan kehidupan dunia yang abadi Rayan. Dunia setelah kematian kita nanti.”


“Ya Alana. Itu adalah tugas hati kita sebagai seorang manusia. Kita lakukan yang terbaik untuk bisa hidup bersama kelak didunia yang abadi. Di surga milik tuhan.” Bisik Rayan.


Alana tersenyum dan mengangguk setuju. Semua yang Rayan katakan benar. Harta bukan segalanya. Harta tidak akan dibawa mati. Harta juga tidak akan bisa membuat hidup manusia selalu makmur.


“Sudah malam. Kita tidur.” Ujar Alana.


“Hem..” Senyum Rayan kemudian menjauhkan wajahnya dan kembali merengkuh tubuh Alana kedalam pelukan-nya.


------


Berbeda dengan Rayan dan Alana yang akhirnya bisa sama sama memejamkan kedua matanya terlelap dalam mimpi indah, Sechil justru terus berdiri dibalkon kamarnya. Sechil termenung mengingat kembali apa yang Ramon katakan. Sechil memang mendengarnya secara langsung karna Sechil diam diam mengintip dari balik tembok.


Sechil menghela napas. Kesalahan-nya pada Ramon terlalu besar. Sechil sudah menghianatinya bahkan berciuman dengan senior didalam kelas didepan Ramon. Sechil malu bahkan merasa tidak pantas untuk sekedar bertemu kembali dengan Ramon apa lagi jika harus menikah dengan-nya. Ramon terlalu baik untuknya.


“Ramon.. Aku juga masih sangat mengharapkan kamu sebenarnya.. Tapi aku bukan wanita yang baik. Aku sudah tidak suci lagi.. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik segalanya dari aku..” Gumam Sechil dengan rasa sesak yang memenuhi dadanya.

__ADS_1


Sechil tidak bisa menampik rasa indahnya yang masih bersemayam dan terus tumbuh subur dihatinya untuk Ramon. Ramon pria yang sangat baik juga sangat menjaganya. Ramon bahkan menolak menyentuhnya saat Sechil mabuk dan meminta untuk bercinta.


Sechil memejamkan kedua matanya merasakan semilir angin malam yang menerpa wajah cantiknya.


“Kamu belum tidur Sechil?”


Suara Caterine membuat Sechil membuka kembali kedua matanya. Sechil menoleh dan mendapati Caterine sudah berdiri dengan menyenderkan punggungnya santai di daun pintu kaca tersebut. Caterine juga melipat kedua tangan-nya dibawah dada dengan gaya angkuh seperti biasanya.


“Aku lagi nggak bisa tidur mom.. Mungkin karna tadi siang terlalu lama tidur siang.” Sechil beralasan.


Caterine menghela napas kemudian melangkah mendekat pada Sechil dan berdiri tepat disamping Sechil.


“Mommy kenapa belum tidur?” Tanya Sechil pelan.


Caterine langsung menatap pada Sechil begitu Sechil bertanya. Dan tatapan itu tepat mengarah pada bola mata Sechil. Begitu fokus seperti sedang mencoba menyelami apa yang Sechil pikirkan.


“Itu yang harus kamu tau Sechil. Mommy tidak bisa tidur karna mommy merasa kehilangan kamu.” Jawabnya.


Sechil mengeryit. Sechil selalu berada dirumah dan tidak pernah sekalipun keluar rumah sejak hamil. Sechil bahkan tidak lagi perduli dengan kuliahnya. Sechil merasa malu jika harus bertemu dengan orang lain selain keluarganya sendiri juga penghuni rumah Rayan yang lain. Para pekerja misalnya.


“Apa maksud mommy?” Tanya Sechil tidak mengerti.


Caterine melengos. Tatapanya mengarah lurus kedepan. Wanita berdress malam coklat tua itu menghela napas kasar.


“Kedatangan kita kesini bukan untuk menumpang hidup Sechil. Kita kesini untuk memperjuangkan apa yang memang seharusnya menjadi milik kita. Tapi sepertinya kamu sudah lupa dengan semua itu. Kamu sekarang lemah.”


Sechil menundukkan kepalanya. Sechil sudah menyadari semuanya. Akan sangat jahat sekali rasanya jika masih saja mempunyai niat seperti itu setelah apa yang Rayan lakukan untuknya.


“Mommy nggak pernah kehilangan Sechil. Sechil selalu disini bersama mommy..” Lirih Sechil.


Caterine tersenyum sinis. Putrinya yang dulu begitu sangat pintar dan nakal kini terlihat begitu lembek dan lemah dimatanya.


“Sudahlah, toh mommy yakin kamu pasti akan selalu bantu mommy. Oh iya, tadi Ramon mengatakan akan menikahi kamu Sechil. Kamu jangan mau. Kamu akan sengsara hidup sama pria tidak punya apa apa seperti dia.”


Sechil hanya diam saja. Sechil ingin sekali menerima tapi Sechil merasa tidak pantas dan terlalu buruk untuk pria baik seperti Ramon.

__ADS_1


__ADS_2