
Alana melenguh saat merasakan sesuatu yang panas dan kenyal menempel dikulit lehernya. Merasa terganggu Alana pun membalikan tubuhnya namun masih dengan mata tertutup. Memakan begitu banyak lauk membuat rasa kantuk langsung menyerangnya sampai Alana tidak mengganti dress yang dikenakanya dan langsung tertidur dengan begitu pulas.
Sedang Rayan yang berhasil dibuat sangat kesal oleh tingkah ajaib Alana hanya tersenyum menatapnya. Alana sangat susah bangun jika sudah tertidur. Apa lagi semalam Alana menghabiskan semua makanan dimeja makan kecuali nasi. Rayan tau mungkin semua itu Alana lakukan karna kesal terlalu lama menunggunya. Ditambah lagi nomor Rayan yang tidak aktif. Rayan tau Alana terus menghubunginya karna begitu baterai hp nya mulai terisi dan diaktifkan banyak notifikasi masuk yang sebagian besar adalah dari Alana yang menelpon dan mengiriminya pesan singkat.
Rayan menghela napas pelan. Melihat Alana yang begitu lelap rasanya Rayan enggan untuk bangun dan turun dari ranjang mereka. Alana, dia tetap terlihat cantik meski dalam keadaan terlelap.
Rayan kembali mendekatkan diri pada Alana. Rayan meniup daun telinga Alana membuat wanita itu kembali terusik.
“Hhmmmhh.. Ganggu banget iih..” Alana mengeliat dengan kedua mata terus terpejam. Satu tanganya mencengkram kerah piyama yang dikenakan oleh Rayan.
“Menurut kamu hukuman apa yang pantas untuk istri yang membuat suaminya kelaparan sampai hampir sakit perut?”
Sontak kedua mata Alana langsung terbuka. Kesadaranya pun langsung pulih 100% mendengar pertanyaan Rayan.
Alana menoleh menatap Rayan yang berbaring disampingnya.
“Kamu..”
Rayan menatap Alana dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Pria itu menyangga kepalanya menggunakan tangan dengan siku sebagai tumpuanya.
“Aku males sama kamu.” Ketus Alana kemudian membalikan tubuhnya memunggungi Rayan lagi.
Rayan tersenyum geli. Tanganya yang bebas menyentuh bahu terbuka Alana dengan kepala yang juga mendekat pada kepala Alana.
“Kamu tau kan konsekuesnsi jika mengabaikanku?”
Alana berdecak sebal. Rayan selalu saja mengancamnya. Alana merubah posisinya menjadi terlentang.
“Kenapa? Kenapa jadi aku yang diancam? kamu yang salah Rayan. Kapan kamu menyadari kalau kamu adalah orang yang selalu bersalah dalam setiap masalah kita.” Alana merasa kesal dan mengeluarkan unek unek dihatinya.
Rayan mengeryit. Meninggalkan Alana kemarin sore tanpa kabar memang adalah kesalahanya. Rayan menyadari itu. Tapi Rayan tidak mungkin mengakuinya secara langsung. Alana pasti akan berbuat seenaknya nanti jika Rayan mengakui.
“Kamu pergi dengan Luky. Nomor kamu tidak aktif. Aku tungguin kamu buat makan malam. Lama banget. Salah kalau aku abisin semua makanan karna kesal kamu tidak juga pulang? Kamu egois banget tau nggak?”
Rayan menatap penuh perhatian pada Alana yang mulai mengeluarkan semua kekesalan dihatinya. Alana terlihat sangat menggemaskan jika sedang marah dimata Rayan.
“Kapan sih kamu sadar kalau kamu itu bukan laki laki sempurna. Kamu memang kaya, kamu tampan, tapi kamu suka memaksa dan mengancam.”
“Kamu egois.” Sambung Alana menatap Rayan sebentar kemudian kembali menatap langit langit kamar mereka.
Rayan meraih rambut Alana memainkanya pelan. Mendengar curahan hati Alana membuatnya merasa sangat bersalah.
__ADS_1
“Semalam.. Aku telat makan.” Rayan berusaha mengalihkan amarah yang sedang menguasai hati Alana.
“Semua makanan dimeja habis hanya tinggal nasinya saja. Terus semua bahan bahan makanan juga ternyata habis. Beruntung lambungku tidak kambuh.”
Alana langsung menoleh dengan cepat. Alana tidak pernah tau jika Rayan mempunyai riwayat penyakit lambung.
“Lalu, kamu makan apa?”
Rayan menatap tepat pada kedua mata Alana. Senyumnya perlahan mengembang lagi. Alana sedang mengkhawatirkan-nya.
“Hanya nasi dan telur ceplok.” Jawab Rayan dengan wajah dibuat buat agar Alana semakin kasihan padanya.
Memang Rayan semalam hanya memakan nasi dan telur ceplok saja. Itu tentu saja karna Rayan yang sudah tidak bisa lagi menahan rasa laparnya. Ditambah bahan bahan makanan yang memang sudah habis.
“Ya tuhan...” Alana menatap Rayan penuh rasa menyesal. Alana tidak menyangka jika ulahnya menghabiskan semua lauk membuat Rayan menderita.
“Kamu tau Rayan, aku bukan orang jahat. Aku juga tidak akan melakukan sesuatu tanpa sebab.”
Rayan mengeryit. Sepertinya Alana bermaksud mengungkit tentang kesalahanya lagi.
“Aku menghabiskan semua lauknya karna kesal. Kamu pergi dan tidak bisa dihubungi. Aku lapar dan marah sama kamu. Kamu pikir apa lagi yang akan aku lakukan selain menghabiskan semua makanan?”
Rayan menghela napas. Jurus pura pura teraniayanya sudah mulai tidak mempan.
“Teruskan saja marah marahmu.” Katanya berakting merajuk.
Alana mengerucutkan bibirnya. Dengan gerakan pelan Alana mendekat dan melingkarkan satu tanganya ditubuh Rayan dengan kepala bertumpu di bahu Rayan.
“Memangnya semalam kamu kemana? Kenapa hanya mengajak Luky dan bukan aku. Memangnya Luky dan aku lebih penting mana?”
Rayan tersenyum diam diam mendengar pertanyaan pelan Alana. Lucu sekali jika Alana merasa tersaingi oleh Luky.
“Jangan diam saja, ayo jawab Rayan..” Alana memaksa dengan menggoyangkan pelan tubuh Rayan.
“Apa bayaran untukku jika aku menjawabnya.”
Alana mengeryit.
“Apa harus dibayar hanya untuk menjawab pertanyaan seperti itu?”
“Hem..” Saut Rayan tanpa mengubah posisinya.
__ADS_1
Alana menghela napas.
“Baiklah kalau begitu aku buatkan udang asam manis.”
“Nggak mau.” Tolak Rayan.
Alana mengerjapkan kedua matanya. Langka sekali rasanya jika Rayan menolak dimasakkan menu kesukaan-nya itu.
“Aku mau yang lain.” Katanya.
“Apa?”
Rayan menoleh menatap Alana yang berada dibahunya. Pria itu kemudian bergerak pelan mengubah posisinya menjadi menghadap pada Alana.
“Aku mau kamu. Bagaimana?”
Alana sedikit terkejut. Rayan sedang menginginkanya.
“Aku?”
Rayan menganggukkan kepalanya. Tanganya meraih tangan Alana dan mengusap lembut punggung tangan Alana yang menjadi sangat kecil jika berada digenggamanya.
Alana terdiam. Rayan menginginkanya itu berarti Rayan benar benar sudah tidak lagi menganggapnya sebagai pengganti Sakura. Perlahan Alana tersenyum. Hatinya sangat berbunga bunga sekarang. Alana kemudian menyelusup masuk kedalam dekapan hangat Rayan. Alana menghirup dalam dalam aroma khas parfum Rayan yang selalu membuatnya merasa betah berada lama lama dalam dekapan tubuh kekar pria itu.
“Ceritakan semuanya.” Katanya memerintah.
Rayan tersenyum. Dengan mengusap usap lembut bahu Alana Rayan mulai menceritakan semua yang dilakukanya semalam. Rayan juga menceritakan pertemuanya dengan para pemilik perusahaan yang menyebar berita tidak benar tentang Alana termasuk memberikan sanksi pada perekam video dan orang yang berkomentar pedas tentang berita itu.
“Kenapa aku tidak tau ada berita seperti itu?” Tanya Alana bingung.
“Ya, lebih baik kamu tidak tau saja.”
“Tapi..”
Ucapan Alana tergantung karna tiba tiba Rayan menggulingkan tubuhnya sehingga Rayan berada diatasnya sekarang.
“Semuanya sudah selesai. Aku sudah menjawab dan menjelaskan apa yang ingin kamu tau.” Lirih Rayan menatap Alana tepat pada kedua bola matanya.
“Sekarang kamu turuti kemaunku Alana.” Lanjutnya.
Rayan perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Alana. Ketika bibir mereka bertemu Alana perlahan memejamkan kedua matanya. Alana tidak sedikitpun merasa keberatan dengan apa yang Rayan inginkan atas dirinya.
__ADS_1
“Aku mau kamu sekarang juga.” Bisik Rayan disela ciuman-nya.