Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 109


__ADS_3

Rayan terus berkutat serius pada laptopnya. Tatapanya begitu sangat jelly pada layar yang sedang menampilkan setiap apa yang yang sedang Caterine lakukan. Kali ini Rayan tidak sedang memantau istrinya melainkan mommy nya, Caterine. Rayan tidak bisa percaya 100% pada Caterine. Apa lagi setelah mendengar pertanyaan Caterine yang menjurus pada penghinaan pada Ramon tadi pagi. Benar benar membuat Rayan merasa ragu dengan perubahan-nya.


Hampir setengah jam Rayan mengawasi Caterine lewat rekaman CCTV namun tidak ada tanda tanda Caterine berbuat aneh. Wanita itu bersikap wajar baik saat didalam kamarnya saat sedang sendiri maupun diruangan yang lain. Saat berpapasan dengan Alana pun Caterine tetap bersikap baik meski tidak ada Rayan disana.


Rayan menghela napas kemudian mematikan tampilan rekaman CCTV dirumahnya. Caterine membuatnya ragu tapi juga terlihat tulus.


“Apa mungkin aku yang terlalu khawatir? atau memang mommy hanya pura pura baik?” Gumam Rayan bertanya tanya. Rayan tidak tau harus bagaimana sekarang. Jika bersikap terlalu tegas pada Caterine juga pasti akan terlihat sekali dirinya jahat.


Rayan berdecak. Karena perubahan sikap Caterine sekarang, Rayan menjadi sedikit ragu untuk pindah.


Suara ketukan pintu membuat Rayan menoleh. Pria itu berkata dengan suara tegas menyuruh agar siapapun yang berada dibalik pintu ruangan-nya masuk.


“Silahkan tuan...”


Rayan mengeryit ketika melihat Luky yang membukakan pintu untuk Sandi. Entah ada maksud dan tujuan apa pria itu tiba tiba datang ke perusahaan-nya.


Rayan berdiri dari duduknya bermaksud menyambut kedatangan Sandi. Bagaimanapun juga Rayan pernah punya hubungan baik dengan pria itu.


“Tuan sandi mengatakan ingin bertemu dengan anda tuan.” Ujar Luky ketika sampai didepan meja Rayan.


Rayan menganggukan kepalanya mengerti. Meskipun sebenarnya Rayan merasa bingung karna tiba tiba Sandi datang tanpa lebih dulu memberitahunya.


“Kalau begitu saya permisi tuan.”


Sekali lagi Rayan menganggukkan kepalanya mengiyakan saat Luky pamit untuk keluar dari ruanganya dan kembali dengan pekerjaan-nya sendiri.


Suasana hening langsung menyelimuti keduanya begitu Luky keluar dari ruangan Rayan.


Sandi, pria baya dengan setelan jas abu abu itu terus menatap Rayan yang belum bersuara untuk mempersilahkan-nya duduk.

__ADS_1


“Apa begini cara anda memperlakukan tamu tuan Rayan?”


Rayan langsung terkesiap. Rayan bukan tidak menghormati tamu. Rayan hanya masih bingung dengan kedatangan tiba tiba Sandi yang jelas jelas sudah tidak mau lagi mengenalnya saat itu.


“Ah ya tuhan.. Maaf tuan. Mari silahkan duduk.” Kata Rayan.


Sandi berdecak pelan. Entah kemana hilangnya rasa hormat Rayan padanya.


Sandi mendudukkan dirinya dikursi yang ada didepan meja kerja Rayan. Keduanya duduk berhadapan kemudian kembali terdiam.


“Sebelumnya bagaimana kabar anda tuan?” Tanya Rayan mulai membuka obrolan.


Sandi tidak langsung menjawab. Pria itu merasa sangat asing sebenarnya dengan panggilan tuan yang Rayan lontarkan. Namun rasa kecewanya pada Rayan masih sangat terasa. Rayan menghianati kesetiaan-nya sendiri pada Sakura. Namun yang membuat Sandi kecewa bukan karna Rayan menikah dengan wanita lain. Sandi sadar putrinya sudah tiada dan pantas jika Rayan memilih pendamping lain. Yang membuat Sandi merasa sangat kecewa bahkan marah adalah rupa Alana yang begitu mirip dengan Sakura putrinya. Sandi masih berpikir Rayan sengaja mengubah wajah wanita lain agar menyerupai Sakura.


“Seperti yang anda lihat. Saya sangat baik.” Jawab Sandi.


Rayan mengangguk pelan. Obrolan-nya dan Sandi terasa sangat kaku. Tidak seperti dulu dimana Rayan tidak memanggil Sandi dengan sebutan tuan, tapi om.


Keduanya kembali diam lagi. Rayan sebenarnya juga sedang menunggu Sandi mengutarakan maksud kedatangan-nya ke perusahaan miliknya. Rayan yakin Sandi pasti tidak mungkin datang tanpa sebab.


Sandi menghela napas.


“Saya datang kesini bukan berniat untuk berkunjung tuan. Ada yang ingin saya bicarakan. Ini tentang anak saya Sakura dan istri anda, nyonya Alana.”


Rayan mengeryit mendengarnya. Entah ada hubungan apa antara Sakura yang sudah tiada dengan Alana yang berstatus sebagai istrinya.


“Memangnya kenapa dengan istri saya tuan?” Tanya Rayan serius.


Sandi tersenyum tipis. Dulu dirinya sangat bangga saat Rayan masih menjalin hubungan dengan Sakura putri satu satunya dan putri yang sangat dicintainya.

__ADS_1


“Saya masih tidak bisa terima dengan apa yang anda lakukan tuan.”


Rayan menatap tidak mengerti pada Sandi. Rayan tidak melakukan apapun yang merugikan Sandi selama ini.


“Anda mengubah wajah nyonya Alana agar menyerupai putri saya. Saya sangat keberatan dengan hal itu. Saya mau anda mengubah lagi wajah istri anda agar tidak menyerupai putri saya.”


Mendengar apa yang Sandi katakan rahang Rayan langsung mengeras. Tanganya mengepal erat dengan wajah merah karna amarah yang mulai menguasai hati juga pikiran-nya. Rayan tidak bisa terima dengan tuduhan yang Sandi tujukan padanya. Rayan tidak pernah mengubah wajah Alana agar menyerupai wajah Sakura. Wajah Alana memang alami dan mirip dengan Sakura tanpa sentuhan tangan dokter bedah.


“Saya tau mungkin anda sangat mencintai putri saya. Tapi apa yang anda lakukan itu sangat salah tuan. Anda egois dan hanya memikirkan perasaan anda sendiri.” Lanjut Sandi lagi.


“Cukup tuan. Anda tidak bisa menuduh saya tanpa sebab. Saya tidak pernah merubah wajah siapapun agar mirip dengan Sakura.” Tekan Rayan mencoba untuk menahan amarahnya.


Sandi tertawa pelan mendengarnya.


“Jadi maksud anda mereka itu kembar begitu tuan? Sakura putri saya dan nyonya Alana istri anda? Lucu sekali..”


Kepalan tangan Rayan semakin mengerat sampai kuku jarinya terlihat memutih saking eratnya. Sandi benar benar menguji kesabaran-nya kali ini.


“Cukup tuan. Sekali lagi saya tegaskan saya tidak pernah mengubah wajah siapapun demi kepentingan saya sendiri. Saya mencintai istri saya dengan tulus bukan karna istri saya mirip dengan putri anda.”


Ekspresi Sandi langsung berubah mendengar Rayan menyebut Sakura dengan kata “Putri anda”. Rayan seperti benar benar melupakan Sakura dan segala kebaikan-nya dulu.


“Mungkin dulu memang saya sangat mencintai putri anda tuan tapi sekarang saya sudah melupakan-nya. Sakura hanya masa lalu bagi saya. Masa depan saya adalah Alana, istri saya.” Lanjut Rayan dengan penuh penekanan disetiap katanya.


“Anda benar benar seperti kacang yang lupa dengan kulit tuan.”


Rayan tertawa merasa lucu dengan apa yang Sandi katakan. Rayan tidak pernah merasa berhutang budi pada siapapun. Sakura mencintainya begitu juga sebaliknya. Dan itu tidak merugikan atau menguntungkan pihak manapun. Rayan sama sekali tidak berhutang jasa baik pada Sandi maupun Sakura.


“Apa itu tidak kebalik tuan? Bukankah daddy saya yang sejak dulu membantu anda merintis perusahaan anda sekarang? Dan sekarang anda mencaci saya menuduh yang tidak tidak. Bukankah yang seperti kacang lupa pada kulit itu adalah anda sendiri?”

__ADS_1


Sekarang berganti Sandi yang dikuasai oleh amarah mendengar ucapan Rayan. Sandi juga merasa malu dengan kalimat terakhir yang Rayan lontarkan dan tanpa sepatah katapun Sandi langsung bangkit dari duduknya meninggalkan Rayan yang tersenyum merasa puas karna berhasil membalikan tuduhan Sandi.


__ADS_2