
Alana mendongak menatap langit yang semula biru cerah kini mendadak diselimuti awan hitam. Sudah dapat dipastikan hujan pasti akan turun sore itu.
“Sebentar lagi akan turun hujan... Rayan.. Ya tuhan..”
Alana semakin merasa khawatir. Ombak dilautan pasti akan besar bahkan bukan tidak mungkin juga akan ada badai jika hujan benar benar turun.
Alana menatap kearah Rayan dan pelayan itu menghilang. Alana berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Rayan juga nelayan itu.
“Ya tuhan.. Jangan dulu hujan.. Tunggu sampai Rayan kembali..” Alana terus saja bergumam berharap hujan tidak benar benar turun sebelum Rayan kembali.
Suara gelegar petir membuat Alana terkejut. Alana semakin merasa tidak tenang sekarang. Hujan benar benar akan turun. Dan benar saja guyuran hujan besar langsung membasahi bumi saat itu juga.
Alana menggelengkan kepalanya. Rayan dan nelayan itu belum juga terlihat padahal hujan sudah sangat lebat bahkan ombakpun semakin terlihat besar dan membumbung tinggi.
“Tuhan.. Lindungi suami hamba..”
Alana tidak perduli dengan tubuhnya yang basah oleh guyuran hujan lebat. Kedua kakinya yang hampir saja tumbang saat ombak mengenainya. Alana akan tetap menunggu sampai Rayan datang dengan selamat. Tidak perduli Rayan membawa ikan segar untuknya atau tidak.
“Rayan.. Aku akan tetap disini menunggu kamu sampai kamu kembali..” Alana berucap lirih dengan bibirnya yang bergetar.
Air mata Alana menetes membasahi kedua pipinya namun tersamarkan oleh guyuran air hujan yang juga membasahi wajah cantiknya.
Hujan semakin lebat. Ombak juga semakin kuat dan kali berhasil menumbangkan tubuh Alana. Tapi Alana tetap tidak perduli. Alana terus menunggu Rayan yang sedang mencari ikan segar demi mengabulkan keinginan-nya.
“Huhuhu.. Rayan.. Aku nggak papa nggak makan ikan bakar.. Ayo kembali..” Alana tidak kuat menangis dalam diam. Isakanya keluar dari bibir beegtarnya yang terus menyebut nama suaminya, Rayan.
Hujan terus mengguyur dengan sangat lebat. Alana terus berada dibibir pantai tanpa mengenal rasa takut pada ombak yang begitu besar membumbung tinggi yang pasti juga bisa menyeret apa saja yang dikenainya.
------
Tidak jauh berbeda dengan Alana, Rayan pun melakukan hal yang sama. Ditengah guncangan ombak besar Rayan terus mencoba bertahan dengan nelayan itu. Tidak banyak ikan yang Rayan dan nelayan itu dapatkan. Mereka hanya mendapatkan satu ekor, itupu ikan yang hanya seukuran telapak tangan orang dewasa. Takut ikan itu terlepas, Rayan pun memasukan ikan itu kedalam saku celana pendek selutut warna putihnya. Rayan tidak perduli walaupun nanti tubuhnya akan berbau amis. Yang terpenting adalah Rayan bisa kembali dan membawakan hasil tangkapanya untuk Alana yang sedang menunggunya.
“Hati hati tuan. Ikat kuat kuat pinggang tuan kebadan perahu !!” Nelayan itu memberi saran agar tubuh Rayan tidak terpental saat ombak besar menerpa perahu kayu itu.
Rayan menurut saja. Jala yang tadi mereka gunakan untuk menangkap ikan Rayan jadikan tali.
__ADS_1
“Bapak juga harus hati hati. Kita harus bisa kembali dengan selamat pak !” Rayan berseru ditengah deburan besar ombak juga guyuran hujan lebat ditengah air.
“Tuan jangan khawatirkan saya !! Saya sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini !!”
Hentakan dari ombak besar menghantam perahu kayu yang Rayan dan nelayan itu tumpangi dan hampir membuat perahu itu terbalik.
Rayan mengeratkan pegangan kedua tanganya dimasing masing sisi perahu. Rayan yakin tuhan akan terus melindunginya. Rayan yakin dirinya akan kembali bersama dengan Alana dan menikmati waktu berduanya. Karna masih banyak yang ingin Rayan lakukan berdua dengan Alana.
“Alana.. Tunggu aku kembali.. Aku bawakan ikan ini untuk kamu..”
Sampai hari mulai gelap hujan baru reda. Alana yang sudah berada divilla terus saja mondar mandir didepan pintu utama. Alana terus menangis karna takut sesuatu yang buruk terjadi pada Rayan yang sampai menjelang malam belum juga kembali.
“Ya tuhan Rayan.. Kenapa kamu belum kembali juga..”
Pikiran pikiran buruk terus menguasai hati Alana membuat Alana tidak berhenti meneteskan air matanya. Kisah indahnya dan Rayan baru saja dimulai. Dan Alana tidak ingin semua keindahan itu berakhir hanya karna Alana menginginkan ikan segar untuk dibakar.
“Rayan..”
Tidak kuat akhirnya tubuh Alana meluruh kelantai. Alana benar benar sangat takut kehilangan Rayan.
Dan tanpa Alana tau Rayan sedang melangkah mendekat kearahnya. Baju yang dikenakanya sangat kotor sampai sampai celana putih selutut yang dikenakan Rayan sudah berganti warna menjadi sedikit kecoklatan.
“Mari pak.. Ini villa saya.” Rayan mengajak nelayan itu ke villanya. Bagaimanapun juga nelayan itu sudah berjasa besar padanya.
“Ah ya tuan..”
Rayan tersenyum saat melihat Alana yang duduk didepan pintu utama villa mereka dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya. Rayan merasa sangat lega melihat istrinya baik baik saja.
“Aku mencintai kamu Rayan.. Huhuhu..”
Rayan tersenyum. Alana menangis sembari mengatakan mencintainya.
Rayan menghela napas pelan kemudian mendudukan dirinya tepat didepan Alana. Rayan menatap Alana yang menangis terisak dan terus menyembunyikan wajahnya. Rayan tau Alana pasti sedang sangat mengkhawatirkanya.
“Aku juga mencintai kamu Alana, bahkan sangat.”
__ADS_1
Alana langsung berhenti menangis mendengar suara berat Rayan. Kedua tangan yang menutupi wajahnya langsung Alana turunkan. Alana menelan ludahnya menatap Rayan yang sudah duduk dan tersenyum manis padanya.
“Rayan kamu.. Ini kamu?”
Rayan menganggukan kepalanya. Pria itu kemudian merogoh saku celananya yang sudah sangat kotor itu mengeluarkan satu ekor ikan yang berhasil nyangkut dijala yang Rayan dan nelayan turunkan sebelum hujan lebat itu turun dan menghambatnya bahkan hampir merenggut keselamatanya juga pelayan itu. Rayan kemudian menunjukan ikan itu dengan sangat bangga pada Alana.
“Lihat, aku mendapatkan ikan-nya.” Senyumnya.
Air mata Alana kembali menetes begitu deras membasahi kedua pipinya. Rayan rela terjebak ditengah hujan lebat dilaut demi bisa menangkap ikan untuknya.
“Ya tuhan..” Alana menggelengkan kepalanya pelan. Apa yang Rayan lakukan untuknya sudah sangat membahayakan nyawa Rayan sendiri.
“Hey.. Kenapa malah nangis lagi?”
Alana tidak menjawab pertanyaan Rayan dan memilih menubruk tubuh Rayan yang begitu dingin. Kaosnya basah dan kotor olih pasir. Wajah tampan juga rambutnya pun sama, penuh dengan pasir.
“Aku takut.. Huhuhu.. Aku takut kamu kenapa napa..” Tangis Alana dibalik punggung lebar Rayan. Kedua tanganya begitu erat memeluk tubuh kekar Rayan membuat sang mpunya tidak bisa untuk tidak menyunggingkan senyuman dibibir tipisnya.
“Aku akan selalu baik baik saja Alana, untuk kamu.” Balas Rayan.
Rayan membalas pelukan Alana dengan sangat lembut. Meski bau amis yang menguar dari tubuhnya sendiri membuat Rayan merasa tidak nyaman, tapi setidaknya Rayan sudah bisa memenuhi keinginan Alana.
Cukup lama mereka berpelukan Rayan akhirnya melepaskan-nya. Rayan bahkan hampir melupakan nelayan yang berdiri tidak jauh darinya dan Alana.
Keduanya mempersilahkan nelayan itu masuk dan memberikan baju ganti. Nelayan itu juga disuruh menginap karna tidak mungkin akan menyebrangi lautan dengan perahu kayunya saat hari sudah malam.
“Saya sangat berterimakasih atas jasa bapak. Bapak sudah mau menemani saya mencari ikan untuk istri saya. Kalau boleh tau siapa nama bapak?”
Saat ini mereka berdua sudah berada diruang tengah dan menikmati secangkir teh hangat juga kue yang dibuat sendiri oleh Alana. Sedang Alana, wanita itu sedang berkutat didapur untuk menyiapkan makan malam juga membakar ikan hasil tangkapan Rayan dan nelayan itu.
“Sama sama tuan. Saya akan membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan saya. Nama saya Slamet.”
Rayan menganggukan kepalanya pelan. Uang yang diberikan-nya sore tadi pada pak Slamet mungkin sudah basah karna air atau bahkan hilang karna ombak. Tapi Rayan akan menggantinya nanti.
“Makan malam sudah siap..”
__ADS_1