
Setibanya dirumah, Sechil langsung menanyakan tentang semua yang Rayan katakan padanya. Keduanya sempat berdebat bahkan sama sama menangis. Tapi Akhirnya mereka berdua saling berpelukan dan semakin merasa berhak atas apa yang Rayan miliki.
“Bagaimana kaki dan lututmu?”
Alana tersenyum mendengar pertanyaan itu. Rayan pasti melihatnya.
“Kamu tenang saja. Aku kan bukan wanita lemah. Aku akan membalasnya nanti.”
Rayan tertawa pelan mendengar itu. Alana bahkan sama sekali tidak terlihat marah setelah apa yang Sechil lakukan. Meski memang bertekad untuk membalas namun Alana mengatakan-nya dengan santai bahkan sambil tertawa.
“Biarku lihat.”
Alana menurut. Wanita itu memperlihatkan siku dan lututnya yang terlihat membiru.
“Aku sudah mengolesinya dengan salep tadi. Jangan dipegang.” Alana memberitahu.
Rayan mengangguk mengerti. Tanpa sepengetahuan Alana rahangnya mengetat. Sechil berhasil melukai miliknya lagi.
“Oh iya Rayan, besok aku ada rencana mau kerumah ibu. Boleh tidak?”
Rayan menatap Alana yang sedang meminta izin untuk mengunjungi Sari padanya. Dan tatapan Rayan tepat mengenai kedua bola mata indah Alana yang juga sedang menatap Rayan.
Sesaat keduanya terdiam. Mereka saling menatap dengan pemikiran masing masing. Alana yang mengagumi sosok Rayan dan Rayan yang semakin percaya dengan ketangguhan Alana.
“Baik, kita mengunjungi ibu sama sama besok.”
Alana sedikit terkejut mendengar kata “Ibu” Terlontar dari mulut Rayan. Rasanya sangat asing bagi Alana.
“Kenapa?” Rayan bertanya tanya melihat ekspresi Alana. Wanita itu jelas sekali terkejut mendengar penuturan-nya.
“Kamu memanggil ibuku dengan sebutan ibu?” Tanya balik Alana dengan tatapan tidak percaya.
Melihat itu Rayan tertawa.
“Jangan konyol Alana. Bukankah ibumu juga ibuku sekarang?”
Alana ikut tertawa kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Mendengar Rayan menyebut Sari dengan sebutan yang sama dengan-nya membuat Alana merasa ada sesuatu yang beda. Sesuatu yang membuatnya terkejut namun akhirnya juga membuat bibir Alana tidak bisa untuk tidak tersenyum.
Suara ketukan pintu terdengar membuat Alana dan Rayan menoleh. Mereka tertawa bersama. Itu pasti bibi yang akan memberitahu tentang makan malam yang sudah siap.
__ADS_1
Benar saja, saat Alana dan Rayan sama sama mengecek ternyata memang bibi yang berdiri diambang pintu memberitahu bahwa makan malam untuk keduanya sudah tertata rapi dimeja makan.
“Mereka berdua kemana?” Alana bertanya tanya begitu sampai dimeja makan. Tidak ada Caterine dan Sechil disana.
Rayan hanya menghela napas. Mungkin Sechil langsung menanyakan perihal tentang ucapan Rayan tadi siang. Mungkin juga keduanya marah sehingga mereka berdua pergi makan diluar demi bisa menghindar dari Rayan.
“Mungkin mereka sedang tidak ingin makan dirumah.” Jawab Rayan sekenanya.
Alana terdiam sesaat kemudian mengangguk pelan. Merasa sedikit aneh sebenarnya tapi Alana tidak ingin memikirkan apa yang memang tidak harus dia pikirkan.
------
Lagi lagi Dion menghentikan mobilnya tidak jauh dari kediaman mewah Rayan. Pria itu benar benar masih sangat berharap pada Alana yang jelas jelas tidak mau lagi dengan-nya.
Dion menghela napas kemudian turun dari mobilnya. Kedua matanya menatap lurus kearah kediaman Rayan berharap bisa melihat sosok cantik Alana disana.
Suara deringan hp dalam saku celana hitamnya membuat Dion berdecak. Pria itu segera merogoh saku celananya meraih benda pipih yang terus berdering dan bergetar itu.
“Mamah..” Dion mendesis pelan, Agatha menelpon-nya. Mamahnya itu pasti akan menanyakan tentang Michelle.
Dion bingung sekarang antara mengangkat atau menolak telpon itu. Jika diangkat Agatha pasti akan menanyakan Michelle yang jelas jelas sedang tidak bersama Dion. Tapi jika ditolak atau didiamkan Agatha pasti akan marah padanya. Dion tidak ingin membuat mamahnya marah. Dion sangat menyayanginya dan ingin tetap membuatnya tersenyum bahagia.
“Halo mah..”
“Dion, kenapa lama sekali mengangkat telpon dari mamah. Kamu dimana sekarang? Apa sudah pulang?”
Dion memejamkan kedua matanya benar benar merasa frustasi. Dion ingin bersama Alana sekarang bukan Michelle.
“Eemm.. Ya mah. Aku sudah pulang.” Dion akhirnya berbohong.
“Kalau begitu dimana Michelle?”
Mendengar pertanyaan yang memang sudah Dion duga, Dion memukul tangan-nya ke udara. Agatha dari dulu memang tidak terlalu suka pada Alana. Agatha hanya mau Dion bersama Michelle, maka saat kedua orang tua Michelle meminta Dion menikahi Michelle, Agatha langsung menyetujuinya.
“Eemm.. Mah.. Ini kan sudah malam. Michelle kan lagi hamil.. Jadi dia sudah tidur.. Mungkin dia capek.” Jawab Dion kembali berbohong pada Agatha.
“Michelle sudah tidur?” Dari nada pertanyaan Agatha, Dion tau wanita itu merasa ragu.
“Ya mah.. Aku yang suruh. Kasian kan seharian beraktivitas. Michelle kan juga harus benar benar menjaga kesehatan dan kondisi tubuhnya mah..” Dion kembali beralasan agar Agatha mempercayainya. Dion tau berbohong pada orang tua bukanlah hal baik. Tapi Dion juga tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya sedang berada disekitar kediaman Rayan dan Alana.
__ADS_1
“Oke kalau begitu. Emm.. Dion, bisa kamu keluar sebentar, ada yang mau mamah bicarakan sama kamu.”
Dion mengeryit. Agatha meminta bertemu diluar.
“Apa mah..”
“Ini penting. Mamah tunggu kamu direstoran biasa.”
Agatha langsung memutuskan sambungan telpon-nya setelah itu. Wanita itu sepertinya tidak menerima Alasan apapun dari Dion untuk menolak bertemu dengan-nya.
Dion berdecak. Dengan wajah kesal pria itu masuk kedalam mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang tanpa tau ada Sechil dan Caterine yang memperhatikan-nya sedari tadi dari kejauhan.
“Kenapa gelagat orang itu sedikit mencurigakan mom?” Tanya Sechil pada Caterine yang duduk disamping kemudinya.
Caterine menyipitkan kedua matanya menatap mobil Dion yang melaju menjauh dari kediaman Rayan. Caterine merasa Dion memang sengaja datang untuk memperhatikan kediaman mewah putra sulungnya.
“Sepertinya dia memang sengaja datang untuk melihat lihat.”
Sechil mengeryit kemudian menoleh pada Caterine yang ada disampingnya.
“Apa maksud mommy?” Tanyanya bingung.
Caterine menatap putri bungsunya kemudian tersenyum penuh arti.
“Sepertinya kita harus mencari tau. Siapa tau dia bisa membantu kita.” Jawab Caterine.
Sechil masih terlihat bingung. Gadis itu menatap mommy-nya dengan sebelah alis terangkat tidak mengerti.
“Aku tidak mengerti apa yang mommy bicarakan.”
“Mommy sudah hapal plat mobilnya. Kita cari tau siapa dia besok.” Caterine terus saja tersenyum membuat Sechil yang tidak paham dengan ucapan-nya merasa sedikit jengah.
“Sudah, ayo kita masuk. Sudah malam.” Ujar Caterine kemudian.
Sechil menurut. Gadis itu kembali melajukan mobil mewah yang dikendarainya. Ketika sampai didepan gerbang Sechil segera membunyikan klakson agar pintu gerbang lekas dibuka oleh pak satpam. Mereka berdua memang baru pulang setelah membeli sesuatu yang sedang sangat di inginkan. Selain itu, mereka juga sengaja menghindar dari Rayan.
“Bagaimana jika kakak bertanya mom?”
Caterine yang hendak turun dari mobil kembali menoleh pada Sechil. Wanita itu menghela napas kemudian tersenyum pada putrinya yang tampak ragu setelah tau semuanya.
__ADS_1
“Kamu tidak perlu takut sayang. Disini kita satu. Kita harus bisa mendapatkan apa yang kita mau.”