Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 108


__ADS_3

Paginya semua tampak tenang menyantap sarapan dimeja makan. Dan pagi itu adalah kali pertama Caterine duduk kembali dikursinya semenjak Ramon dan Sechil menikah.


“Ramon..” Panggil Caterine membuat Ramon menatapnya.


“Ya mom..” Sautnya.


Caterine meraih segelas air putih yang berada disamping piringnya kemudian meminumnya sedikit. Caterine melirik semua yang ada dimeja makan kemudian kembali memusatkan perhatian-nya pada Ramon.


“Mommy lupa belum tanya sama kamu, Apa pekerjaan kamu sekarang? Terus berapa gaji kamu?”


Rayan berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya mendengar pertanyaan yang Caterine lontarkan pada Ramon. Bertanya tentang pekerjaan memang tidak masalah, tapi bertanya tentang gaji rasanya itu sangat menghina. Apa lagi status Ramon yang masih mahasiswa yang pasti hanya mendapat pekerjaan sampingan dengan gaji yang menurut Rayan tidaklah seberapa.


Tidak hanya Rayan yang merasa keberatan dengan pertanyaan Caterine, Sechil juga merasakan hal yang sama. Bagi Sechil apapun pekerjaan Ramon dan berapapun gajinya itu tidaklah masalah untuknya. Yang terpenting baginya Ramon benar benar menyanggupi tanggung jawab atas dirinya juga calon anaknya.


“Mom.. Masa nanya nya gitu sih.. Yang penting kan Ramon kerja buat nafkahi aku.. Masalah gaji, aku pikir mommy enggak perlu nanya lah..” Ujar Sechil yang merasa sangat tidak enak hati pada Ramon.


Caterine tersenyum mendengarnya. Wanita itu menganggukan kepalanya pelan.


“Sayang, mommy hanya ingin tau saja. Mommy sama sekali tidak bermaksud buruk kok. Mommy mau tau apa pekerjaan menantu mommy dan berapa gajinya. Itu saja kok.”


“Mom tapi...” Sechil berhenti berbicara saat Ramon menyentuh lengan tangan-nya yang terbuka. Sechil menoleh menatap Ramon yang malah tersenyum manis padanya.


“Enggak apa apa..” Lirih Ramon.


Ramon menghela napas kemudian mulai membalas tatapan Caterine.


“Saya bekerja dibengkel mom.. Dan untuk gajinya..”


“Cukup !! Jangan diteruskan.” Sela Rayan dengan suara lantang dan tegas.


Alana yang sedari tetap tenang dalam diamnya langsung menoleh. Wanita itu terkejut dengan nada tinggi dari cara bicara suaminya.


Tidak hanya Alana saja, Sechil, Caterine bahkan sampai Ramon juga sangat terkejut.

__ADS_1


“Mommy.. Apa pantas mommy bertanya seperti itu pada Ramon?” Tanya Rayan menatap Caterine marah. Rayan masih tidak habis pikir dengan cara pikir Caterine tentang harta. Wanita itu masih saja menganggap bahwa harta adalah sumber dari kebahagiaan.


Caterine menghela napas mencoba untuk tetap tenang. Wanita itu menganggukan kepala dengan senyuman yang terukir dibibirnya.


“Baiklah, maaf. Maafkan mommy Ramon. Mommy sama sekali tidak bermaksud menghina kamu. Mungkin mommy harus banyak belajar dari Alana agar menjadi lebih baik.” Ujar Caterine menatap satu persatu semua yang ada dimeja makan.


Alana mengeryit. Entah apa maksud Caterine menyebut namanya.


“Oke, kita lanjutkan sarapan-nya.” Senyum Caterine tanpa sedikitpun merasa bersalah karna sudah membuat Rayan emosi dengan pertanyaan yang dilontarkan-nya pada Ramon tadi.


Sechil memejamkan kedua matanya. Sechil yakin mommy nya memang sudah berubah. Mommy nya hanya terlalu mengkhawatirkan-nya. Sechil juga yakin Caterine hanya terbawa oleh kebiasaan-nya dalam berbicara tadi.


“Ramon sekali lagi mommy bener bener minta maaf..” Tatap Caterine pada Ramon menyesal.


Ramon tersenyum dengan menganggukan kepalanya.


“Enggak papa mom..” Balasnya memaklumi.


Setelah menyelesaikan sarapan, semuanya membubarkan diri. Rayan yang berangkat kekantor, dan Ramon yang berangkat kekampus.


“Nyonya, boleh saya jujur?”


Alana yang baru saja mendudukkan dirinya dikursi panjang ditaman kompleks langsung menoleh. Wanita itu menatap bingung pada Fina yang memang sudah Alana anggap seperti adiknya sendiri.


“Tentu saja..” Jawabnya pelan.


Fina menghela napas kemudian memposisikan dirinya disamping Alana.


“Ini masih tentang nyonya Caterine nyonya.”


Alana tersenyum. Mungkin perasaan-nya dengan Fina sama. Yaitu merasa tidak yakin dengan Caterine yang tiba tiba berubah menjadi baik setelah mencoba mengakhiri hidupnya.


“Nyonya Caterine tiba tiba melakukan percobaan bunuh diri dan setelah berhasil diselamatkan kemudian sadar tiba tiba menjadi berubah baik. Apa nyonya tidak merasa aneh?”

__ADS_1


Alana menghela napas. Caterine memang sangat licik sampai menghalalkan segala cara agar mendapat simpati dari Rayan dan Sechil.


“Saya merasa semua itu sudah direncanakan nyonya. Buktinya nyonya Alana mencoba bunuh diri tepat saat bibi datang mengantarkan makanan untuknya. Kalau memang nyonya Caterine sudah bosan hidup bisa saja kan nyonya Caterine bunuh diri saat tengah malam saat semua orang terlelap agar bisa benar benar mati tanpa ada yang menghalangi?”


Alana menganggukan kepala membenarkan apa yang Fina katakan. Rencana Caterine memang gampang sekali terbaca.


“Kamu benar. Tapi kita tidak bisa berbuat apa apa sekarang.” Ujar Alana.


Fina menghela napas. Membeberkan langsung apa yang sedang Caterine rencanakan tanpa bukti hanya akan membuat kesalah pahaman saja.


“Lalu apa yang harus kita lakukan nyonya?” Tanya Fina kembali menatap Alana yang terus menatap lurus kedepan.


“Tetap tenang tapi harus selalu waspada. Mungkin cukup seperti itu..” Jawab Alana membalas tatapan sendu Fina.


“Tapi nyonya, kalau tuan sudah merasa yakin dengan perubahan nyonya Caterine tuan tidak akan membutuhkan jasa saya lagi untuk selalu berada disamping nyonya. Tuan pasti berpikir nyonya sudah tidak lagi perlu dijaga. Tuan akan memecat saya nyonya. Saya akan kehilangan pekerjaan ini. Itu artinya saya akan menjadi pengangguran dan tidak bisa membantu perekonomian keluarga saya.”


“Kamu kan bisa mencari pekerjaan ditempat lain Fina. Kamu pintar dan hebat. Saya yakin akan sangat mudah untuk kamu mendapat pekerjaan.”


Fina tertawa mendengarnya.


“Tidak begitu nyonya. Orang orang diluar sana tidak memandang saya baik seperti nyonya. Mereka menilai penampilan saya tidak pantas untuk bekerja. Tidak tau kenapa. Makanya saya bingung kalau sampai tuan memecat saya, saya mau kerja dimana?”


Alana tersenyum. Penampilan Fina memang jauh dari kata feminim. Gadis itu juga sedikit arogan dan terlihat slengean jika sedang mengunyah permen karet. Siapapun yang belum mengenalnya pasti berpikir bahwa Fina adalah gadis kasar dan urakan. Tidak heran jika saat bekerja diperusahaan Rayan Fina ditempatkan dengan posisi yang seharusnya menjadi posisi seorang pria.


“Fina, Rayan lebih tau bagaimana mommy dari pada kita. Saya yakin Rayan tidak akan secepat itu berpikir kamu tidak lagi dibutuhkan setelah melihat mommy yang tiba tiba berubah baik.”


Fina mengeryit.


“Apa maksud nyonya?” Tanya Fina bingung. Fina berpikir Rayan sudah sangat percaya pada Caterine sekarang.


“Sudahlah jangan terlalu banyak berpikir. Intinya kamu harus selalu tenang supaya kamu juga bisa fokus menjaga saya. Saya yakin Rayan akan terus membiarkan kita bersama. Saya merasa cocok ngobrol sama kamu Fina.” Senyum Alana menepuk pelan bahu Fina.


Perlahan seulas senyum terukir dibibir Fina. Fina kemudian menganggukan kepalanya setuju dengan apa yang Alana katakan. Karna sebenarnya Fina juga merasa nyaman bekerja pada Alana yang tidak sombong dan selalu rendah hati.

__ADS_1


“Saya berjanji akan selalu berada disamping nyonya selama nyonya masih membutuhkan tenaga saya.” Katanya.


__ADS_2