
Setelah gagal mengunjungi Caterine, Rayan langsung mengantar Alana pulang kerumah. Sementara dirinya langsung menuju perusahaan karna pekerjaan-nya yang menumpuk dan harus segera diselesaikan.
“Permisi tuan..”
Rayan menegakkan kepalanya. Seulas senyum Rayan ukir untuk Luky yang selalu rajin dan rapi dalam mengatasi semua pekerjaan-nya.
“Ya Luky, ada apa?” Saut Rayan kemudian bertanya.
“Siang ini tuan Robert tidak bisa terbang ke jakarta tuan. Itu artinya pertemuan tuan dan tuan Robert harus di undur.” Ujar Luky.
Rayan mengangguk anggukan kepalanya.
“Baiklah kalau begitu, tidak apa apa.” Balas Rayan.
“Oh iya Luky, tentang Dion. Bagaimana?” Tanya Rayan lagi.
Luky terdiam sesaat. Orang kepercayaan-nya memang sengaja Luky tempatkan dirumah sakit jiwa dan secara langsung menangani Dion agar bisa sekaligus mengawasi pria gila itu.
“Kondisinya semakin parah tuan. Bahkan nyonya Agatha orang tua dari Dion sampai terlihat frustasi. Dan parahnya lagi nyonya Agatha sampai menjual semua aset yang dimiliknya demi bisa membiayai pengobatan tuan Dion.” Jawab Luky membuat Rayan mengeryit.
“Bagaimana dengan istrinya?” Rayan tau Dion mempunyai Michelle sebagai istrinya.
“Nona Michelle, dia tidak pernah terlihat mengunjungi tuan Dion. Saya sendiri tidak tau kenapa tuan. Apa perlu saya selidiki juga tentang nona Michelle tuan?”
Rayan menghela napas dan tampak berpikir sesaat. Michelle dan Dion adalah orang yang mengukir luka dihati Alana karna penghianatan yang mereka berdua lakukan. Dan sejauh ini Rayan tidak melihat tanda kejahatan apapun dari Michelle seperti apa yang Dion lakukan. Tapi Rayan juga harus tetap waspada demi keselamatan istri dan calon anaknya.
“Lakukan bila memang itu perlu.” Jawabnya.
“Baik tuan. Ada lagi yang bisa saya bantu tuan?”
Rayan menggelengkan pelan kepalanya.
“Tidak, itu saja. Kamu boleh kembali bekerja.” Jawab Rayan.
__ADS_1
“Saya permisi tuan..”
“Ya, silahkan.”
Setelah Luky keluar dari ruangan-nya, Rayan meraih satu berkas dan membacanya. Rayan yakin asal dirinya tetap menerapkan rasa sabar semua masalahnya perlahan pasti akan selesai.
Tidak terasa sehari berlalu, Rayan pulang sebelum hari mulai petang. Namun saat dalam perjalanan menuju pulang dan hampir dekat dengan kompleks perumahan-nya, Rayan melihat seorang penjual koran. Penasaran, Rayan pun berhenti dan membeli satu koran dari pedagang yang adalah sorang anak kecil yang mungkin baru berusia sekitar 8 atau 9 tahun.
Rayan menaruh koran itu dikursi samping kemudi dan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Rayan sebenarnya bukan tipe orang yang suka membaca koran. Namun entah kenapa tiba tiba Rayan merasa penasaran dengan berita dikoran hari ini.
Tidak sampai 15 menit Rayan sudah sampai didepan gerbang rumahnya. Rayan langsung membunyikan klakson membuat pak satpam buru buru membukakan pintu gerbang tersebut.
Alana yang melihat kepulangan Rayan dari balkon kamarnya langsung buru buru berlalu dari balkon. Alana melangkah cepat keluar dari kamarnya bermaksud untuk turun kelantai dasar guna menyambut kepulangan suami tercintanya.
“Ya tuhan, Alana.. Pelan pelan..”
Alana berhenti melangkah ketika sampai diujung tangga. Alana menoleh kesumber suara dimana Sari berdiri.
Alana tertawa. Saking semangatnya ingin menyambut kepulangan Rayan, Alana sampai lupa dengan petuah paten Rayan.
“Ayo ibu bantu..” Ajaknya dengan penuh perhatian.
“Terimakasih ibu..” Senyum Alana bahagia. Alana bersyukur karna bisa kembali merasakan perhatian penuh dari Sari.
“Eemm.. Nak, bagaimana tadi saat kalian mengunjungi nyonya Caterine?”
Pertanyaan Sari membuat Alana menghela napas. Alana tidak perduli lagi sekarang mau Caterine suka atau tidak padanya. Bagi Alana yang terpenting dirinya tidak salah dan sudah melakukan yang terbaik untuk Rayan.
“Masih seperti itu bu.. Mommy Caterine tetap melimpahkan kesalahan padaku. Bahkan dia menuduh aku yang membuat Rayan tidak perduli lagi padanya. Dia benar benar sangat lucu. Melimpahkan kesalahan yang dia buat sendiri pada orang lain hanya karna harta.” Ujar Alana bercerita.
Sari tertawa pelan. Sari tidak heran lagi jika memang Caterine seperti itu. Sari mengenalnya sejak lama bahkan sejak Rayan baru dilahirkan.
“Ya sudah biarkan saja. Yang terpenting kamu tidak salah dan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk Rayan.”
__ADS_1
“Eemm.. Aku tau itu bu..” Angguk Alana tersenyum kemudian melepaskan lembut pegangan tangan Sari dilengan-nya karna mereka memang sudah sampai tepat dianak tangga terakhir dilantai dasar rumah mewah itu.
“Ibu.. Aku harus ke Rayan sekarang.” Katanya.
Sari ikut tersenyum. Putrinya terlihat sangat bahagia sejak mengatakan mulai mencintai Rayan. Meski memang Alana sempat marah padanya namun pada akhirnya cinta itu tumbuh dihati Alana untuk Rayan. Begitu besar juga subur sehingga mereka berdua selalu kompak, saling mendukung, juga saling melengkapi satu sama lain.
“Pelan pelan saja jalan-nya sayang.” Titahnya lembut.
Lagi Alana menganggukan kepalanya. Alana kemudian melangkah menjauh dari Sari. Senyuman manis terus terukir dibibirnya. Alana tidak sabar ingin segera memeluk tubuh kekar suaminya itu.
Sari melangkah pelan menuju jendela yang terbuat dari kaca dari ruang utama. Senyuman dibibirnya semakin lebar ketika mendapati Alana yang menghampiri Rayan yang baru keluar dari mobil dan langsung memeluknya.
“Ya tuhan.. Hanya padamu hamba meminta. Tolong jaga dan sayangi putri hamba seperti hamba menyayangi dan menjaganya selama ini tuhan.. Jangan biarkan kejahatan sedikitpun menggores luka dihatinya.” Gumamnya.
------
“Kamu sudah makan?” Tanya Rayan sambil mengusap lembut punggung Alana yang memeluknya.
Alana melepaskan pelukan-nya kemudian mendongak.
“Belum. Aku menunggu kamu pulang.” Jawabnya.
Rayan tertawa. Satu kecupan singkat Rayan daratkan dibibir Alana tanpa sedikitpun merasa malu meskipun disana ada pak satpam, pak Lim, bahkan Roky yang menatap keduanya. Rayan seperti sedang menunjukan pada semuanya bahwa Alana hanya miliknya seorang.
“Memangnya ada menu apa malam ini untuk makan malam?” Tanya Rayan menggesekkan ujung hidung mancungnya dengan ujung hidung milik Alana.
“Eemm.. Seperti biasa, ada udang asam manis yang khusus aku buat untuk kamu. Terus ayam goreng, ayam rica, ayam geprek, terus ayam gulai.” Jawab Alana membuat Rayan melongo.
“Kenapa banyak sekali ayam?” Tanya Rayan bingung. Tidak biasanya Alana membuat banyak sekali makanan dengan bahan yang sama.
Alana tertawa. Entah kenapa dirinya juga tidak tau. Tapi melihat banyak ayam di lemari pendingin membuat Alana ingin sekali membuat berbagai menu makanan yang terbuat dari ayam. Aneh memang, tapi Alana tidak perduli dan ingin tetap membuatnya.
“Hmm.. Mungkin besok kamu harus coba membuat ayam asam manis. Aku penasaran dengan rasanya.” Kata Rayan yang membuat tawa Alana semakin tergelak.
__ADS_1
“Ya sudah ayo kita masuk. Sudah mau gelap.” Ajak Rayan kemudian.
Rayan memeluk pinggang Alana mengajak istrinya masuk kedalam rumah mengingat hari sudah mulai gelap. Dan ketika sampai didalam rumah Rayan tidak lupa menyalami Sari yang berada diruangan utama sebelum akhirnya Rayan memutuskan untuk membersihkan diri lebih dulu sebelum mereka makan bersama dimeja makan.