Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 169


__ADS_3

Siang ini Alana meminta pada Rayan agar mereka mengantar Juita sampai kebandara. Dan permintaan itu tentu saja tidak bisa ditolak oleh Rayan. Rayan menuruti kemauan Alana untuk mengantar Juita.


“Aku balik dulu.. Sampai jumpa kalian semua.” Senyum Juita menatap satu persatu pada Alana, Rayan, juga Luky yang dengan setia mengantar dan jemput kemanapun Juita mau selama 3 hari berada di indonesia.


Juita menatap lama pada Luky yang hanya tersenyum tipis menatapnya.


“Terimakasih untuk semuanya Luky. Kamu sangat baik.” Ujar Juita.


Luky menganggukan pelan kepalanya.


“Saya hanya menjalankan tugas saya nona.” Balasnya.


Juita mengangguk mengerti. Juita ingin lebih lama tinggal dijakarta sebenarnya. Apa lagi hubungan-nya dan Alana yang sudah mulai akrab.


Suara pengumuman pemberitahuan untuk semua calon penumpang dari dalam bandara membuat Juita menghela napas. Berat rasanya untuk pulang kembali kenegerinya sendiri.


“Baiklah, aku pamit.” Katanya.


“Hati hati Juita.” Senyum Alana.


Juita menganggukan kepalanya. Juita kemudian membalikan pelan tubuhnya dan mulai melangkah menjauh dari Rayan, Alana, juga Luky yang hanya bisa diam menatap punggungnya. Entahlah, Juita sendiri tidak tau ada apa dengan dirinya. 2 Hari mengenal sosok Alana membuat Juita merasa menemukan teman baru yang satu frekuensi dengan-nya. Alana begitu tenang, jujur, juga apa adanya. Dan Juita sangat menyukai hal itu.


“Alana.. Aku harap ini bukan perjumpaan terakhir kita..” Gumam Juita menoleh kembali pada Alana yang melambai padanya sebelum akhirnya masuk kedalam bandara.


Tidak jauh berbeda dengan Juita, Alana pun merasakan hal yang sama. Alana merasa kehilangan sosok Juita yang baru dikenalnya.


“Tuan, maaf. Saya harus segera kembali keperusahaan. Ada pekerjaan yang kebetulan belum selesai saya kerjakan siang ini..” Ujar Luky.


Rayan menganggukan kepalanya.


“Ya, pergilah.”


“Saya permisi tuan, Nyonya.”


Luky berlalu dengan langkah cepat setelah itu. Pria dengan setelan jas hitamnya itu masuk kedalam mobil dan melaju dengan kecepatan sedang berlalu dari bandara.

__ADS_1


“Sudah?” Tanya Rayan membuat Alana tersenyum tipis. Alana menganggukan kepalanya. Sedih rasanya karna disaat Alana kembali merasa mempunyai teman saat itu juga Alana harus kembali merasa sendiri.


“Hey... Tidak perlu begitu sedih. Kamu baru 2 hari mengenal Juita.”


Alana menghadap pada Rayan kemudian mendongak menatap Rayan yang berdiri menjulang didepan-nya.


“Juita mengingatkan aku pada seseorang.” Ujar Alana pelan. Alana tidak bisa munafik, Alana mengingat kembali sosok Michelle yang pernah dekat dengan-nya saat masih kuliah dulu.


Rayan mengeryit. Alana terlihat sangat mellow sekarang.


Alana memejamkan sesaat kedua matanya. Alana menghela napas kemudian melangkah menuju mobil mengabaikan Rayan yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.


“Lupakan Michelle Alana..” Batin Alana enggan mengingat Michelle yang sudah menghianatinya dulu.


Rayan menggelengkan pelan kepalanya. Mood Alana benar benar sangat gampang sekali berubah ubah akhir akhir ini. Rayan kemudian melangkah cepat menyusul Alana masuk kedalam mobil mewahnya.


“Kita pulang sekarang..” Ujar Rayan memakai sabuk pengaman-nya.


“Oke...” Angguk Alana pelan.


Begitu sampai dirumahnya, Rayan langsung mengajak Alana untuk istirahat siang. Rayan bahkan rela menunda pertemuan-nya dengan rekan bisnisnya demi bisa menemani dan menenangkan istri tercintanya siang ini.


“Tidurlah.. Kamu cukup menguras tenagamu hari ini Alana..” Bisik Rayan sambil mengusap lembut lengan Alana. Saat ini mereka sudah berbaring diatas tempat tidur dengan Rayan yang mendekap lembut Alana.


“Apa aku tidak pantas mempunyai teman?” Tanya lirih Alana.


Rayan memejamkan sesaat kedua matanya.


“Kamu tidak pernah sendiri Alana. Ada aku, Ibu, Sechil, Fina dan yang lain-nya. Kami semua adalah teman untuk kamu.”


Alana menghela napas. Alana hampir saja melupakan itu semua hanya karna kepulangan Juita ke amerika juga memori indahnya bersama Michelle dulu.


“Alana yang aku cintai bukan wanita yang lemah. Alana yang aku cintai adalah wanita yang bahkan mampu menundukan Beast yang begitu kejam dan tidak berperasaan.” Bisik Rayan membuat Alana tersenyum.


Alana mendongak menatap wajah tampan Rayan yang sebenarnya sangat jauh dari kata buruk. Rayan adalah pria dengan penampilan yang sempurna dengan tinggi badan diatas rata rata yaitu 190 cm.

__ADS_1


“Pejamkan matamu dan serahkan semuanya pada tuhan sayang... Aku akan selalu ada disamping kamu.”


Rayan menutup kedua mata Alana menggunakan satu tangan besar menyuruh agar Alana segera memejamkan mata dan menyelami mimpi indahnya siang ini.


Alana menuruti kata Rayan dengan memejamkan kedua matanya dan menyerahkan segala urusan-nya pada sang pencipta untuk kemudian mengistirahatkan tubuh juga pikiran-nya. Dan Alana perlahan mulai tertidur dengan tenang juga pulas dalam dekapan hangat Rayan.


Setelah Alana benar benar terlelap, Rayan pun melepaskan dekapan-nya dan bangkit dengan sangat pelan dan hati hati dari berbaringnya. Rayan turun dari ranjang dan kembali mengenakan jas hitam miliknya. Rayan merapikan penampilan-nya yang sedikit berantakan karna berbaring diatas tempat tidur tadi. Saat hendak keluar dari kamarnya Rayan menoleh kembali pada Alana yang terlihat sangat damai memejamkan kedua matanya. Rayan tertawa pelan kemudian kembali mendekat pada Alana untuk mencium kening wanita itu sebelum akhirnya benar benar berlalu keluar dari kamar mereka.


Saat sampai dianak tangga terakhir dilantai dasar Rayan berpapasan dengan Sari yang membawa sepiring buah mangga yang sudah dipotong dadu.


“Loh, Alana mana nak?” Tanya Sari pada Rayan.


Rayan tersenyum.


“Alana tidur bu.. Sepertinya dia sangat kelelahan hari ini.” Jawabnya.


“Ya sudah kalau begitu. Tadinya ibu mau kasih buah ini buat Alana. Kamu mau balik lagi keperusahaan?”


“Ya bu.. Ada pekerjaan yang tidak bisa aku tunda siang ini.”


Sari menganggukan kepalanya mengerti. Melakoni peran-nya sebagai CEO diperusahaan miliknya sendiri adalah aktivitas wajib Rayan setiap hari. Sari paham dan tau itu.


“Kamu tidak makan siang dulu?” Tanya Sari.


Rayan menggelengkan kepalanya.


“Nanti saja saya makan diluar bu..”


“Ya sudah kalau begitu, kamu hati hati dijalan. Jangan lupa makan siang ya..”


“Ya bu.. Saya pergi dan titip Alana ya bu..”


“Ya nak...”


Rayan berlalu menjauh setelah menyalimi Sari. Pria itu ingin sekali tinggal dirumah siang ini untuk menemani istri tercintanya, tapi Rayan juga tidak mungkin mengabaikan tanggung jawabnya di perusahaan.

__ADS_1


Rayan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang keluar dari pekarangan rumahnya. Sejak pindah Rayan memang lebih suka mengendarai mobil sendiri dari pada harus di supiri oleh pak Lim. Adapun kehadiran pak Lim dirumah itu adalah untuk mengantar kemanapun para penghuni dirumahnya jika ingin pergi. Terutama istri dan ibu mertuanya, Sari.


__ADS_2