Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 187


__ADS_3

Mendengar berita buruk yang menimpa Sechil dan Ramon, Rayan langsung bergegas menuju kontrakan adiknya itu. Meski Rayan sempat memarahi Alana yang terus bersikeras ingin ikut namun akhirnya Rayan mengalah dan mengajak Alana untuk ikut serta dengan-nya.


“Apa yang terjadi sebenarnya Sechil? Kenapa Ramon sampai bisa ditahan sama polisi?” Tanya Rayan pada Sechil.


Sechil menggelengkan kepalanya menangis. Sechil tidak tau bagaimana kronologinya. Sechil juga tidak kuat jika harus menceritakan apa yang terjadi semalam meskipun Sechil sudah tau dari cerita warga setempat yang ditanya nya. Tapi membayangkan apa yang Claudia alami Sechil merasa teriris sendiri.


“Udah kamu tenang yah.. Aku yakin ini hanya salah paham saja.. Ramon pasti akan pulang..” Alana mencoba untuk menenangkan Sechil dengan memeluknya. Ketika dibalik punggung Sechil Alana mendelik pada Rayan merasa kesal karna Rayan bertanya dengan tidak memikirkan lebih dulu perasaan adiknya itu.


Rayan berdecak kemudian melengos. Rayan malas sebenarnya jika harus berurusan dengan polisi. Tapi Rayan juga tidak mungkin membiarkan Ramon ditahan jika memang Ramon tidak bersalah.


Rayan bangkit dari duduknya dikursi. Pria itu kemudian keluar dari kontrakan Sechil dan Ramon berniat menyusul Ramon langsung kekantor polisi.


Sedangkan Alana, dia menemani Sechil. Alana tidak berhenti berucap lembut agar Sechil tenang. Alana percaya pada Ramon. Ramon orang baik yang tidak mungkin melakukan perbuatan yang melanggar hukum apa lagi sampai menghilangkan nyawa seorang wanita yang nota bene nya adalah teman-nya sendiri.


“Kamu nggak perlu takut Sechil. Kita semua tau bagaimana dan seperti apa Ramon. Tuhan pasti akan menunjukan keadilan-nya pada manusia yang mau bersabar..”


Sechil menganggukkan kepalanya dibalik punggung Alana. Sechil sudah berusaha untuk sabar. Tapi air matanya tidak bisa bertahan dan terus saja menetes membasahi kedua pipi chuby nya. Sechil percaya Ramon tidak bersalah, tapi ketakutan itu tetap berhasil menyesakkan dadanya.


Setelah Sechil berhenti terisak, Alana melepaskan pelukan-nya. Alana tersenyum menatap Sechil dengan satu tangan menghapus air mata yang membasahi pipi Sechil.


“Sekarang kamu bisa ceritakan pelan pelan kenapa Ramon tiba tiba dituduh seperti itu?” Alana berusaha mengorek informasi dari mulut Sechil langsung.


Sechil menahan napasnya sejenak kemudian menghembuskan-nya perlahan.


“Semalam Claudia kesini kak. Dia mungkin berniat memberikan kejutan pada Ramon yang sedang ulang tahun. Padahal aku saja yang sebagai istrinya tidak mengingatnya.”


Jeda sejenak. Air mata Sechil kembali menetes namun dengan cepat Sechil menghapusnya.


“Claudia mengetuk pintu dan aku yang membukanya. Claudia terlihat terkejut kemudian menuntut penjelasan dari Ramon. Aku menyuruh Ramon untuk menjelaskan pada Claudia tapi tidak didepanku. Setelah itu aku tidak tau lagi kak. Tapi aku yakin Ramon tidak mungkin berbuat bejat dan keji seperti itu pada Claudia ataupun orang lain.”


Alana mengeryit.


“Memangnya se-mengerikan apa kondisi Claudia?” Tanya Alana semakin penasaran.


Sechil menghela napas dan lagi lagi air matanya menetes yang langsung Sechil hapus.

__ADS_1


“Menurut cerita warga disekitar sini Claudia ditemukan dengan kondisi tanpa busana dibawah pohon besar didalam taman kak.” Jawab Sechil lirih.


“Ya tuhan...” Alana menutup mulutnya sangat terkejut mendengarnya. Itu membuat Alana semakin yakin memang bukan Ramon pelakunya.


“Sekarang jam berapa?” Tanya Alana pada Sechil.


“Sudah jam 10 kak. Memangnya kenapa?” Jawab Sechil kemudian bertanya dengan wajah bingung.


“Masih jam 10. Kita ketaman sekarang. Aku yakin ada bukti yang bisa membuat Ramon bebas dari tuduhan ini Sechil.” Ujar Alana yakin.


“Kak tapi..”


“Kita juga harus berusaha Sechil.” Sela Alana dengan penuh tekad.


Sechil terdiam. Hari sudah malam dan Alana mengajaknya ketaman untuk mencari bukti. Sechil yakin Rayan akan sangat marah jika tau.


“Tapi kak Rayan..”


Suara ketukan pintu membuat Sechil tidak melanjutkan ucapan-nya. Kedua wanita berperut besar itu menoleh dengan kompak kearah pintu yang memang terbuka lebar.


Alana tersenyum ketika mendapati Bastian berdiri disana dengan buah tangan yang memang tidak pernah telat dia bawa untuk Sechil juga anaknya yang berada dikandungan Sechil.


Sedang Alana, dia bangkit dari duduknya dan langsung mengutarakan niatnya agar Bastian menemani mereka berdua ketaman untuk mencari bukti yang bisa membebaskan Ramon.


Bastian yang memang tidak tau apa apa sempat kebingungan. Tapi Bastian juga merasa tidak tega jika membiarkan dua wanita hamil itu keluar malam malam tanpa penjagaan. Bastian akhirnya mengiyakan. Pria itu mengawal dan menjaga Alana juga Sechil yang bergegas pergi ketaman tempat kejadian perkara.


-------


Sementara itu dijalanan yang sangat ramai Rayan mengendarai mobilnya seperti orang kesetanan. Rayan bahkan hampir saja menyerempet pejalan kaki dan beberapa kendaraan yang membuatnya mendapat umpatan dari pejalan kaki dan para pengendara itu.


Dalam waktu singkat Rayan sampai didepan kantor polisi tempat Ramon ditahan. Namun sebelum turun dari mobilnya Ramon lebih dulu menghubungi Luky, sang asisten andalan-nya.


“Luky, sekarang juga kamu cek semua berita baik di TV maupun di media online. Jika ada berita tentang Ramon segera hentikan beritanya bagaimanapun caranya.” Perintah Rayan pada Luky lewat sambungan telpon-nya.


“Baik tuan.” Jawab Luky.

__ADS_1


“Ya, maaf sudah mengganggu waktu istirahatmu Luky. Dan terimakasih.” Ujar Rayan kemudian segera menyudahi telepon-nya dengan Luky.


Rayan menghela napas. Memang tidak banyak yang tau tentang Ramon yang adalah adik iparnya. Namun Rayan yakin jika berita tentang pembunuhan ini menyebar luas bukan tidak mungkin keluarga Ramon akan tau dan khawatir.


Rayan keluar dari mobilnya dan berjalan cepat masuk kedalam kantor polisi itu. Kehadiran Rayan langsung disambut dengan penuh hormat dan ramah oleh para polisi disana. Tentu saja, mereka juga tau siapa Rayanza Gilbert.


“Pak, tentang adik saya. Saya yakin dia tidak bersalah. Saya bisa jamin itu pak.”


Polisi itu terlihat bingung dengan apa yang Rayan katakan. Mereka tidak tau siapa yang Rayan maksud.


“Ramon adik saya.” Ujar Rayan kemudian.


Polisi yang berada didepan Rayan kemudian mengangguk mengerti. Polisi itu mempersilahkan agar Rayan duduk lebih dulu.


“Begini tuan, untuk saat ini belum ada bukti yang bisa membuat kami yakin bahwa bukan tuan Ramon pelakunya. Dan berdasarkan keterangan saksi mereka melihat korban berboncengan dengan tuan Ramon menggunakan sepeda motor metik yang memang milik tuan Ramon pribadi ketaman. Banyak saksi juga yang mengatakan tuan Ramon dan korban sempat terlihat bersitegang tuan.” Jelas polisi itu.


Rayan berdecak. Sechil tidak menjelaskan apa apa tadi.


“Tapi adik saya tidak mungkin berbuat seperti itu pak.”


“Maaf tuan, tolong patuhi peraturan hukum. Jika nanti memang ada bukti yang menunjukan bahwa tuan Ramon tidak bersalah tuan Ramon pasti akan kami bebaskan. Tolong kerja samanya tuan.” Balas polisi itu tetap bersikap ramah pada Rayan.


“Baik kalau begitu. Saya akan cari bukti itu. Sebelumnya tolong izinkan saya bertemu dengan adik saya.”


“Baik tuan. Mari saya antar.”


Polisi itu bangkit dari duduknya kemudian membawa Rayan untuk bertemu dengan Ramon yang berada dibalik sel tahanan seorang diri.


“Demi tuhan kak, saya tidak tau apa apa. Saya tidak melakukan apa apa pada Claudia..” Ramon berusaha untuk menjelaskan pada Rayan yang saat itu sudah berdiri didepan-nya.


Rayan tersenyum tipis.


“Ya, kamu tidak perlu khawatir. Aku percaya sama kamu dan aku akan cari bukti itu untuk membebaskan kamu.”


“Terimakasih kak.. Terimakasih sudah mau percaya sama saya. Dan tolong sampaikan pada Sechil saya disini baik baik saja.”

__ADS_1


Rayan menganggukan kepalanya.


“Tenang saja. Sechil aman bersamaku dan Alana.”


__ADS_2