
Rayan mengusap lembut lengan Alana yang terus bersender didadanya. Rayan tersenyum membayangkan Alana yang sampai menangis karna kesalah pahaman tadi. Dari situ Rayan bisa mengetahui bahwa Alana tidak mau Rayan melirik wanita lain selain dirinya.
Rayan semakin mengeratkan dekapan-nya. Setelah menangis terisak Alana terlihat lemas dengan kedua kelopak mata yang sedikit tebal. Rayan tidak bisa mengartikan apakah tebalnya kelopak mata Alana itu karna sembab atau memang mengantuk karna sekarang Alana tertidur pulas didekapan-nya.
Suara ketukan pintu membuat Rayan menoleh. Rayan bisa menebak yang mengetuk pintu pasti bibi atau Sari. Mereka pasti bermaksud mengajaknya dan Alana untuk makan malam bersama.
“Sayang..” Rayan bersuara pelan dan lembut mencoba untuk membangunkan Alana yang mungkin juga belum makan.
Karna tidak ada respon, akhirnya Rayan memilih untuk melepas dekapan-nya pada Alana yang tetap saja menutup kedua matanya dengan damai.
“Hh.. Apa kamu selelah ini sayang..” Gumam Rayan sambil membelai lembut kening Alana menyingkirkan anak rambut yang menutupinya.
Rayan menghela napas. Menjadi wanita memang tidak segampang yang dia kira, apa lagi jika sedang hamil. Bahkan mungkin jika dirinya yang menjadi Alana, Rayan tidak akan sanggup.
Suara ketukan pintu kembali terdengar, membuat Rayan mau tidak mau turun dari ranjang dengan gerakan yang sangat hati hati. Rayan tidak mau mengganggu tidur lelap istri tercintanya.
Ketika Rayan membuka pintu kamarnya, Sari berdiri disana dengan senyuman dibibirnya.
“Makan malamnya sudah siap nak. Ayo kita makan..” Katanya mengajak Rayan.
Rayan tersenyum. Sari benar benar sosok ibu yang mungkin menjadi idaman bagi semua anak.
“Eemm.. Bu, Alana tidur. Sepertinya dia sangat kelelahan..” Ujar Rayan memberitahu.
Sari menganggukkan kepalanya. Kedatangan Sechil memang cukup menyita waktu istirahat Alana siang tadi. Alana bahkan sampai tidak sempat tidur siang karna Sechil yang terus mengajaknya mengobrol ditaman samping rumah.
“Ya sudah kalau begitu jangan dibangunkan. Biarkan dia tidur. Kamu lebih baik mandi dulu ya.. Ibu tunggu dimeja makan.” Senyum Sari dengan penuh pengertian.
Rayan ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Baik bu..”
__ADS_1
Rayan kembali menutup pintu kamarnya kemudian bergegas untuk membersihkan dirinya. Rayan tidak mau membuat Sari menunggunya terlalu lama dimeja makan.
Selesai membersihkan dirinya, Rayan menemukan Alana masih tetap pada posisinya menghadap guling yang mungkin Alana kira adalah dirinya. Rayan tertawa pelan, Alana sangat menggemaskan jika sedang terlelap. Terlihat cantik juga polos.
Rayan keluar dari kamarnya dan menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai satu untuk makan malam bersama Sari yang sudah menunggu dimeja makan.
“Rayan ada yang mau ibu bicarakan.”
Rayan berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya. Pria itu menatap Sari menunggu apa yang ingin dibicarakan oleh ibu mertuanya itu.
“Alana, dia mengatakan kalian akan pindah kembali kerumah yang lama.”
Jeda sejenak. Sari terdiam tampak sedang memikirkan kata yang pantas untuk dilontarkan pada menantunya.
“Alana mengajak ibu.. Tapi Rayan, ibu sangat sangat minta maaf. Ibu tidak bisa ikut dengan kalian untuk tinggal dirumah yang lama.” Lanjutnya menatap Rayan yang masih diam mendengarkan.
Rayan tersenyum. Rayan tau kenapa Sari tidak mau ikut dengan-nya dan Alana untuk kembali kerumah yang lama. Alasan utamanya tidak lain pasti karena Caterine.
“Apa karna mommy bu?” Tanya Rayan pelan.
“Ibu tidak mau semakin membuat nyonya Caterine benci pada ibu juga Alana.”
Rayan menghela napas. Semua yang Rayan miliki tidak ada sedikitpun campur tangan dari Caterine. Hartanya adalah warisan dari daddy nya yang kemudian Rayan kembangkan dengan mengandalkan otak pintarnya. Sementara Caterine, dia hanya merasa memiliki saja.
“Bu, bagi saya Alana adalah segalanya. Dan alasan saya mengajak ibu untuk tinggal bersama disini juga demi membuat Alana bahagia serta nyaman tinggal disini. Saya yakin Alana akan semakin bahagia jika selalu berdekatan dengan ibu.. Karna kebahagiaan Alana adalah kebahagiaan saya juga. Saya yakin ibu juga merasakan apa yang saya rasakan.” Terang Rayan pada Sari.
Sari menghela napas. Sulit dipercaya memang, mantan majikan-nya menjadi menantunya. Wajah dingin yang dulu selalu menatapnya saat Sari membuat kesalahan kini terlihat sangat ramah dan penuh hormat padanya. Semua itu tentu saja karna Alana, putri dari madunya.
“Ibu bisa mengajarkan Alana menjadi sosok yang begitu tangguh dan berani, bahkan pada mommy. Alana tidak pernah mau disalahkan jika dia benar. Saya sangat kagum pada ibu.. Ibu adalah sosok yang bisa membuat saya percaya bahwa Alana akan selalu aman jika ada ibu disampingnya selama saya sedang berada diluar. Kita berdua sama sama mencintai dan menginginkan yang terbaik untuk Alana bu..”
Rayan terdiam sebentar. Tatapan-nya begitu penuh harap pada Sari yang terlihat mulai bimbang.
__ADS_1
“Saya mohon bu.. Ibu ikut sama saya dan Alana untuk tinggal dirumah lama.. Saya ingin berbakti pada mendiang daddy dengan menepati janji saya untuk tetap tinggal dirumah itu bersama istri juga anak anak saya. Tolong bantu saya bu.. Bantu saya agar saya bisa menjadi anak yang baik untuk daddy saya..” Lanjut Rayan lagi.
Sari semakin merasa goyah dengan keyakinan-nya. Rayan sudah begitu baik padanya juga Alana. Permintaan Rayan tidak berat untuknya. Hanya tinggal bersama demi Alana.
“Nak, tolong beri waktu untuk ibu memikirkan semuanya.” Ujar Sari kemudian.
Meski merasa kecewa tapi Rayan berusaha untuk menghargai keputusan Sari. Rayan menganggukan kepala dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya.
“Saya tetap berharap ibu mau ikut saya dan Alana untuk sama sama tinggal dirumah yang lama.” Katanya.
Sari hanya tersenyum. Wanita tua itu merasa harus memikirkan semuanya secara matang agar tidak ada kesalah pahaman lagi yang membuat putri kesayangan-nya menjadi korban.
---------
“Kamu terlihat sangat happy hari ini.”
Sechil berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya ketika mendengar ucapan Ramon. Wanita itu tersenyum semakin lebar kemudian menyinduk nasi dan lauk dipiringnya dan menyodorkan-nya pada Ramon.
Ramon yang bingung sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya menerima suapan dari istrinya.
“Aku lagi bahagia hari ini.. Eemm maksudnya harus mulai terus bahagia mulai hari ini..” Ujar Sechil.
Ramon semakin bingung.
“Memangnya selama ini kamu tidak bahagia denganku?” Tanya Ramon yang semakin tidak mengerti.
Sechil tertawa kemudian bangkit dari kursinya. Sechil mendekati kursi yang diduduki Ramon dan memeluk kedua bahu Ramon dari belakang. Wanita itu juga mengecup pipi Ramon singkat.
“Aku hanya mengenal kebahagiaan saat sedang bersama kamu Ramon. Tapi mulai hari ini dan seterusnya tidak. Aku akan terus bahagia dimanapun aku berada selama kamu adalah penguasa dihatiku begitu juga sebaliknya. Aku akan bahagia walaupun hanya saat malam seperti ini saja bersama kamu.”
Ramon tersenyum mendengarnya. Ramon bersyukur karna akhirnya Sechil bisa benar benar memahaminya.
__ADS_1
“Yah.. Aku mencintai kamu sayang.” Angguk Ramon mengungkapkan.
“Aku juga. Aku sangat membutuhkan kamu untuk selalu membimbingku.” Balas Sechil dan mengecup sekali lagi pipi Ramon.