Aku Bukan Pengganti

Aku Bukan Pengganti
Episode 11


__ADS_3

Alana masih terbayang dengan makan malam romantis bersama Rayan semalam. Alana benar benar tidak menyangka Rayan menyiapkan makan malam hanya berdua bersamanya. Apa lagi Rayan sampai membooking tempat terbuka di lantai 2 restoran itu. Benar benar membuat Alana tidak bisa lupa dengan makan malam semalam.


Deringan hp membuat Alana berdecak. Suara nyaring hp nya membuat bayangan makan malam romantis semalam bersama Rayan seketika sirna.


“Dion? untuk apa dia menelpon?”


Alana bertanya tanya sendiri. Alana pikir Dion sudah benar benar melupakanya. Enggan mengangkat telpon dari Dion, Alana pun mengabaikan hp miliknya yang terletak di ranjang tepat disamping dirinya duduk.


“Kenapa tidak di angkat?”


Suara Rayan membuat Alana menoleh. Pria itu baru selesai membersihkan diri dikamar mandi.


Alana langsung meraih hp nya dan menyembunyikanya dari Rayan. Alana tidak mau Rayan tau Dion yang menelponya.


Rayan mengeryit melihat itu.


“Eemm.. ini tidak penting. Hanya teman sekantor saja. Saya tau anda pasti tidak akan mengizinkan saya untuk bekerja.” Kata Alana beralasan.


Rayan menyipitkan kedua matanya. Merasa penasaran Rayan pun melangkah mendekat. Pria yang hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya itu menengadahkan tanganya pada Alana meminta hp itu.


“Berikan hp nya padaku. Aku ingin melihatnya. Maksudku aku ingin berbicara dengan teman kantormu itu.”


Alana gugup juga takut. Rayan sudah tidak terlalu mengusik dan memaksanya akhir akhir ini.


“Ayolah Rayan itu tidak perlu.. Terimakasih untuk perhatianya.”


“Alana.. berikan hp-mu padaku.” Rayan menatap Alana datar tidak mau di bantah.


Alana menelan ludahnya. Dalam hati Alana terus merutuki Dion yang sudah berani menghubunginya.


“Rayan tapi..”


“Aku akan berbicara dengan sopan.” Sela Rayan meyakinkan Alana.


Bukan itu yang Alana takutkan sebenarnya. Rayan seorang yang berpendidikan tinggi. Rayan juga adalah seorang CEO yang pasti bisa menjaga lisanya saat berbicara dengan seseorang. Alana takut karna dirinya berbohong. Bukan teman kerjanya yang menelpon. Tapi Dion, mantan kekasihnya yang juga sangat Alana benci.


“Rayan ini tidak penting.. Ini..”


“Apapun yang menyangkut tentang kamu penting buat aku sekarang. Kemarikan hp nya.” Sela Rayan lagi.


“Tapi..”

__ADS_1


“Alana.. Berikan hp nya.”


Alana menatap hp nya yang terus berdering. Rayan pasti akan salah mengerti nanti.


Alana menghela napas kemudian menyerahkan hp nya pada Rayan dengan menaruh benda pipih itu di telapak tangan besar Rayan.


“Istri yang pintar.” Senyum Rayan setelah memegang hp milik Alana.


Alana hanya bisa diam. Setelah ini Alana yakin Rayan pasti salah paham. Rayan akan marah dan kembali berbuat seenaknya padanya. Rayan akan memaksakan kehendaknya.


Alana menatap Rayan yang berdiri menjulang didepanya. Pria itu tampak sangat santai dan sama sekali tidak menunjukan ekspresi kesal begitu mengecek hp Alana.


“Jadi Dion itu teman sekantormu? Kalian cinlok?” Tanya Rayan mengangkat kepalanya menatap Alana.


Alana menggeleng. Dion hanya teman se-universitas yang akhirnya menjadi kekasihnya.


“Bukan begitu.. Saya..”


“Aku tau kamu bohong.” Sela Rayan.


Alana memejamkan kedua matanya. Menjawab juga tidak ada gunanya. Rayan tidak mungkin mempercayainya.


“Apa?”


“Kali ini kamu bisa memilih sendiri mana yang kamu suka.”


Rayan tersenyum menatap Alana kemudian beranjak menuju lemari baju untuk mengambil baju yang akan di kenakanya ke kantor pagi ini.


Alana terdiam. Entah kenapa Alana merasa apa yang Rayan lakukan padanya sangat manis. Pria itu tidak memaksanya dan mengatakan Alana bisa memilih hp baru yang akan di belikanya nanti.


“Apa anda serius?”


“Aku bukan pembohong Alana.” Jawab Rayan cepat.


Alana diam diam tersenyum. Ini kali pertama Alana merasa Rayan adalah pria yang baik. Alana menghela napas kemudian masuk ke dalam selimut tebal di atas ranjangnya begitu Rayan mulai melepas handuk yang melilit di pinggangnya dan memakai setelan jas yang di pilihnya sendiri.


“Apa memang apa yang ibu katakan benar? Rayan orang yang baik?” Batin Alana bertanya tanya.


Selesai memakai bajunya, Rayan mengajak Alana turun ke lantai 1. Pria itu tidak meminta bantuan apapun pada Alana. Tidak seperti pasangan suami istri pada umumnya yang dimana sang istri akan membantu si suami mengenakan dasi saat hendak pergi berangkat bekerja.


“Barang kali kamu ingin tau jelas semua tentang Sakura, kamu bisa masuk ke ruang baca. Disana banyak sesuatu yang bisa membuat kamu tau siapa dan bagaimana Sakura.”

__ADS_1


Alana mengangkat sebelah alisnya.


“Saya tidak pernah mau bersikap seperti Sakura. Saya lebih suka menjadi diri saya sendiri.”


Rayan tersenyum miring.


“Kamu pikir kamu pantas? Sakura, dia wanita lemah lembut dan penyayang. Tidak keras kepala seperti kamu.”


“Saya tidak perduli.” Balas Alana cepat.


Rayan menghela napas. Pria itu menyudahi sarapan paginya dengan meraih segelas air putih dan menenggaknya sampai habis. Tanpa berkata apapun pada Alana, Rayan bangkit dari duduknya dan berlalu dengan langkah lebar dari meja makan.


“Huh, dasar suami tidak romantis.” Umpat Alana lirih.


Ketika Alana kembali menyantap nasi goreng di piringnya tiba tiba Rayan kembali dan menghampirinya.


Cup


“Aku berangkat.” Katanya kemudian kembali melangkah berlalu meninggalkan Alana yang melongo.


Alana menyentuh keningnya yang cium Rayan. Terkejut, itu sudah pasti. Bagaimana tidak, pagi ini secara beruntun Rayan bersikap manis padanya. Pertama Rayan tidak memaksanya, mengajaknya membeli hp baru, dan sekarang mencium keningnya sebelum berangkat ke kantor. Benar benar sangat ajaib.


“Apa aku bermimpi?” Lirih Alana tidak percaya.


Alana menghela napas. Tiba tiba wajahnya terasa panas dan itu karna perlakuan manis Rayan padanya pagi ini.


“Aku pasti sudah gila sekarang.”


Sementara di depan rumahnya, Rayan juga bingung sendiri dengan apa yang dilakukanya. Rayan bisa menguasai dirinya menghadapi Alana yang keras kepala. Dan lagi, tiba tiba Rayan merasa ada yang kurang karna belum mencium kening Alana tadi.


“Apa apaan ini? Apa yang ku lakukan?”


Rayan berdecak dan menggelengkan kepalanya pelan. Pria itu kemudian masuk saat pak Lim membukakan pintu mobil untuknya. Rayan benar benar merasa tidak mengenali dirinya sendiri pagi ini.


“Apa dia menghipnotisku?” Rayan terus bertanya tanya dalam hati bahkan sampai pak Lim melajukan mobilnya dan keluar dari pekarangan luas kediamanya Rayan tidak menyadarinya.


Alana, dia memang sangat mirip dengan Sakura. Tapi Rayan tidak yakin jika dirinya bisa membuka hati untuk Alana. Cintanya terlalu dalam untuk Sakura. Terlebih Alana yang keras kepala membuat Rayan selalu terpancing emosi.


Deringan hp dalam saku dalam jas abu abunya membuat Rayan berdecak. Pria itu merogoh saku dalam jasnya meraih benda pipih itu. Keryitan muncul di keningnya ketika melihat siapa yang menelponya pagi pagi seperti ini.


“Om sandi? tumben sekali dia menelpon?”

__ADS_1


__ADS_2